Mohon tunggu...
Wise Wisdamianti
Wise Wisdamianti Mohon Tunggu... Asisten Rumah Tangga - suka nulis masak dan belajar

Ibu Rumah Tangga yang suka bercerita

Selanjutnya

Tutup

Inovasi Pilihan

Ketika Anak Menggunakan Media Sosial

17 Agustus 2017   12:01 Diperbarui: 17 Agustus 2017   17:39 1222
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
sumber: dokumen pribadi

Anak saya mulai mengunakan Media Sosial pada usia 11 dan 12 tahun. Media Sosial pertama yang digunakan anak anak adalah Media Sosial untuk anak-anak yang suka membuat game. Pada situs tersebut, anak anak dari seluruh dunia yang memiliki kesamaan minat membuat game dengan program komputer dapat berkumpul lewat Internet dan menyampaikan pendapat dalam forum diskusi secara on-line. Masing masing anak dengan izin orang tua diperbolehkan membuat 1 akun. Situs ini memiliki banyak aturan yang harus dipatuhi seperti: tidak boleh memberi komentar negatif atau menjatuhkan anggota lain, tidak memberi informasi pribadi seperti alamat, nama asli dan nomer telepon, tidak menyebar isu atau menipu, tidak memberi komentar berbau SARA, dan lain lain. Kalau ada pelanggaran, akun pengguna bisa non-aktifkan oleh Admin dalam beberapa waktu tertentu.

Pada tahap awal menggunakan Media Sosial tersebut, tentu saja ada banyak hal yang dialami anak anak. Mereka bercerita tentang kejadian yang dialami di Media Sosial kepada kami pada waktu makan, belajar, atau di waktu luang lainnya. Ada rasa senang ketika mendapat komentar positif tentang karya yang dibuatnya ada rasa sedih ketika ada anggota  Media Sosial lain yang juga sedih, ada juga rasa aneh dan heran serta rasa tidak suka ketika membaca komentar anggota lainnya, yang agak melanggar aturan. Maklumlah, situs ini diikuti oleh anak anak dari seluruh dunia dengan berbagai kebudayaan yang berbeda beda, juga dengan latar belakang pendidikan dan asal usul keluarga yang berbeda pula.

Pernah suatu ketika ada seorang kawan di Media Sosial tersebut yang selalu menebarkan kata kata negatif, selalu membangga banggakan dirinya dan juga merendahkan orang lain. Karena tingkah lakunya ini, akunnya sering di non-aktifkan oleh Admin. Setelah beberapa lama berbincang bincang dengannya,  ia mulai bercerita tentang kehidupannya di dunia nyata. Ternyata kehidupannya kurang menyenangkan. Kakaknya pernah memukulnya,  Bapaknya tidak suka dengannya, dan lain lain. Dari cerita ini anak anak jadi mengerti mengapa ia berbuat seperti itu. Bahkan mereka sekarang tidak begitu perduli jika ia memberi komentar yang kurang enak didengar.  Ada juga seorang anak pendiam yang pernah bercerita tentang ibu bapaknya yang baru saja bercerai dan ia sangat sedih karenanya. Ada juga kabar gembira dari seorang kawan yang baru saja masuk ke Universitas sesuai dengan pilihannya.

Anak anak juga dapat bercerita sedikit tentang Indonesia, mengenalkan makanan, binatang dan kebudayaan Indonesia pada kawan kawannya. Beberapa kawannya ada yang tidak tahu tentang Indonesia, ada yang tertarik dengan Indonesia ada yang pernah berkunjung ke Indonesia atau mengenal Indonesia lewat kawan sekolahnya yang berkewarga negaraan Indonesia.

Hal menarik lain yang dialami anak anak adalah mereka bisa memperdalam minat yang sedang mereka tekuni. Beberapa anggota yang lebih senior dengan murah hati mau memberi saran dan perbaikan kepada game karya anak anak. Ada yang merekomendasikan beberapa situs belajar komputer on-line, ada yang memberi informasi tentang lomba membuat game, ada juga yang mau mengirimkan buku elektronik hasil karya kawannya sendiri.

Ada juga anggota yang berbicara di luar topik pembicaraan. Kalau hal ini diketahui oleh Admin, biasanya akun mereka akan ditutup sementara, tapi kadang mereka tidak kapok juga untuk melakukan hal yang sama. Ada yang suka mengirim posting foto diri, ada juga yang berbicara tentang pakaian, dandanan, aksesoris, dan lain lain, bahkan ada yang suka berbicara tentang kawan dari lawan jenis. Topik pembicaraan seperti ini sebaiknya dihindari karena sudah menyimpang dari topik yang ditentukan yaitu belajar membuat game. Untungnya anak anak di rumah sudah tahu apa yang harus diperbuat ketika mereka  mengalami kasus seperti ini. Biasanya mereka menghindar dan mengakhiri pembicaraan dengan kata kata yang halus.

Saya tidak pernah mengajar anak anak menggunakan Media Sosial karena mereka dapat mempelajarinya sendiri, bahkan lebih cepat dari saya. Kami menggunakan Media Sosial sesuai kebutuhan. Anak anak mendapat izin mengunakan Media Sosial dengan tujuan dapat bertukar pikiran dengan anak anak lain dalam membuat game. Dengan cara seperti ini anak anak mendapat banyak ilmu dan pandangan baru dari rekan rekannya.

Pada dasarnya Media Sosial adalah sebuah sarana untuk bersosialisasi atau bergaul. Saya mengambil rujukan ilmu bersosialisasi dari ajaran agama Islam. Ada banyak adab bergaul yang perlu diketahui dan diamalkan seperti: memulai pembicaraan yang baik, menghindari kemarahan dan pertengkaran, tidak membicarakan dan menjelek jelekkan orang lain, tidak membangga banggakan diri sendiri,  berusaha mendengar dan memperhatikan lawan bicara, menghibur yang sedang kesusahan, dan banyak lagi.

Bagaimana mengajarkan hal ini kepada anak anak? Ilmu bergaul ini saya sampaikan dalam pembicaraan sehari hari, ketika sedang mengulang pelajaran atau juga langsung disampaikan ketika anak sedang menemukan masalah seperti bertengkar dengan adik atau mengurus adik yang sedang rewel. Hal ini berlaku untuk anak anak berusia 7 tahun ke atas. Anak anak di bawah usia 7 tahun masih sulit diingatkan secara lisan. Mereka belajar dengan cara meniru, melihat, dalam lingkungan yang nyaman dan tenang. Jika sudah marah, jangan harap mereka akan mendengarkan kita, kita harus membuat dirinya nyaman dan kemarahannya reda sebelum dapat memberitahukan sesuatu.  Pada masa ini peran keluarga dan lingkungan sangat dibutuhkan untuk mendidik pribadi anak anak. Seluruh anggota keluarga di rumah perlu memberi contoh yang baik dan menghadirkan suasana yang tenang dan nyaman dalam keluarga.  Kemarahan dan perselisihan memang sesuatu hal yang tidak dapat dihindari, tapi kami berusaha menyelesaikannya dengan cara yang baik dan lapang dada. Anak anak yang lebih kecil memang lebih kecil toleransinya dibandingkan anak anak yang lebih besar sehingga saya selalu mengajak anak anak yang lebih besar untuk belajar mengalah atau membujuk anak kecil. Di sini anak anak yang sudah besar mendapat pelajaran penting tentang bagaimana berhadapan dengan lawan bicara yang suka mengeluh, marah atau merajuk. Kalau anak anak sudah dapat mengendalikan emosinya ketika berhadapan dengan adik yang masih kecil, kemungkinan besar ia sudah siap untuk bergaul dengan orang lain baik di dunia maya dan dunia nyata.

Dirumah, Media Sosial juga dimanfatkan untuk mempelajari kebenaran sebuah informasi.  Cara paling mudah untuk mengetahui kebenaran sebuah informasi sebenarnya cukup dengan mencari di Google kata kunci dan kata 'spam'. Tapi hal ini tidak berlaku untuk semua informasi terutama informasi yang masih baru. Dalam kasus ini, kita harus mencari tahu sendiri. Terkadang hal ini dapat diselesaikan dengan logika, terkadang membutuhkan pembuktian sederhana, bahkan terkadang membutuhkan informasi lain yang dapat memperkuat informasi yang telah diterima. Pada saat isu kerupuk yang terbuat plastik sedang meraja lela, kami pernah mencoba membakar sendiri kerupuk dan membandingkannya dengan plastik yang dibakar. Pada saat isu mengapa garam mahal padahal Indonesia memiliki banyak pantai, kami mencari informasi apakah ada hubungannya antara panjang garis pantai dan jumlah produksi garam. Dengan cara seperti ini kami berharap anak anak dapat membedakan mana informasi yang benar dan salah setelah diteliti dengan seksama tanpa terlanjur panik atau terbawa emosi.

Mohon tunggu...

Lihat Konten Inovasi Selengkapnya
Lihat Inovasi Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun