Perempuan Rusia di Bur Gayo

25 Maret 2013 13:35:22 Dibaca :

Perempuan Rusia di Bur Gayo

Aku menunggu perempuan Rusia yang berumur 25 tahun itu di ruang tunggu Bandara. Bandara di Ujung Barat Sumatera , Sultan Iskandar Muda , Aceh. Hatiku deg-degan. Apa yang akan kukatan begitu bertemu. Hi,halo, how are you.....dan sejumlah kalimat yang akan kupersiapkan untuk kukatakan.

Aku kok jadi salah tingkah. Kenapa ya, pikirku. Padahal selama ini interaksiku dengan turis atau relawan asing yang berkelamin perempuan sering kulakukan. Tapi saat akan bertemu wanita Rusia ini, kok jadi begini ya.

Aku mulai membaca perasaanku.Murike-rike. Mengkaji secara cepat dalam benakku berbagai kemungkinan yang menyebabkan aku gr sebelum bertemu. Tak ada jawaban pasti. Diantara deru pesawat dan kenderaan serta ‘tamu Aceh”. Aku menyapu semua sudut bandara yang dulu sepi dan hanya bandara regional. Perubahan ‘terpaksa’.

Begitu banyak orang asing yang datang dan pergi dari berbagai negara di dunia di Bandara itu. Meski bandara ini masih terlihat sangat sederhana, dari bentuk dan lingkungannya serta kemewahan layaknya bandara Internasional. Disini , semuanya tampak biasa. Walau relawan asing dengan berbagai bendera, berjejal.

Ada yang baru tiba. Ada yang berpisah dengan penerjemah , perempuan Aceh berjilbab yang cipika cipiki dengan lelaki asing yang menjadi relawan. Menjadi pemandangan yang biasa. Demikian perempuan asing berkulit putih coba mengenakan tudung seadanya atau melingkarkannya dilehernya. Mengingat Aceh yang bersyariat.

Interaksi dengan warga asing dunia di Aceh disisi lain telah menimbulkan berbagai dampak yang mencuat di media lokal. Seperti mesum sampai relawan yang menyebar keyakinan mereka bagi penduduk Aceh yang fanatic. Semuanya menyatu dalam rekon dan rehab Aceh, tangan dibawah.

Sebelum bertemu, Aku aku sesungguhnya sudah memiliki gambaran perempuan Rusia tamatan sebuah Universitas ternama di Zelenodolsky District, Republik Tatarstan. Kota disalah satu bagian Rusia yang berjarak sekitar 780 kilometer dari Metro Rusia kerah Barat. Dia jurusan ekonomi. Bertubuh sedang, dengan kulit putih, rambut ikal hitam dan hidung mancung. Matanya biru.

Alevtina, begitu nama wanita Rusia ini. Sudah mengirimi aku gambarnya lewat email, beberapa bulan sebelum memutuskan datang ke Aceh. Gambarannya terekam jelas dalam memori gaibku. Dan aku yakin, antara foto dan kenyataannya nanti tidak akan berbeda jauh. Feelingku biasanya kuat.

Alevtina dalam suratnya menerangkan akan menggunakan maskapai penerbangan negeri jiran Malaysia, setelah sebelumnya menumpang pesawat komersial dari Rusia hingga Malaysia.Maskapai ternama kebanggaan Malaysia.

Alevtina datang tentu saja tidak sendiri , dia bersama sejumlah personil relawan Rusia yang tergabung dalam Palang Merahnya Rusia. Aku sengaja tidak menulis nama Alevtina di kertas kartun seperti kebanyakan para penunggu tamu asing di Bandara Sultan Iskandar Muda.

Aku percaya, akan mampu mengenali Alevtina. Dengan gambaran fotonya. Setengah jam menunggu, pesawat Malaysia mendarat. Aku merapat menuju pintu keluar Bandara yang kini disesaki orang asing.

Tidak lama, dari kejauhan kulihat banyak orang asing berseragam turun dari pesawat komersial Malaysia, membawa berbagai jenis tas dan ransel. Selain lelaki, banyak juga yang perempuan dengan pakaian sama.

Wajah asing yang kini memadati Banda Aceh dan sejumlah kawasan yang terkena dampak tsunami. Kehadiran warga asing yang tadinya sangat langka, kini menjadi pemandangan yang umum, dengan berbagai warna kulit dan kebiasaan. Atas nama kemanusiaan.

Semakin lama, rombongan Palang Merah Rusia ini semakin dekat menuju pintu keluar Bandara. Lama aku mengamati wajah perempuan Rusia yang kuanggap Alevtina. Tapi sepertinya, tidak ada perempuan Rusia itu. Jumlah orang Rusia yang melewatiku sudah mencapai puluhan orang.

Satu persatu PM Rusia itu keluar menuju angkutan yang sudah disediakan. Karena sebelumnya, beberapa pesawat militer Rusia sudah terlebih dahulu tiba di Banda Aceh membawa berbagai sarana dan alat transportasi palang merah Rusia.

Ah....sepertinya tidak mungkin Alevtina berbohong perihal kedatangannya. Apalagi pengalaman bergabung dengan orang asing, janji adalah komitmen dan harga diri yang harus ditepati. Mengingkari janji, berarti harus kehilangan muka.Munafik.

Aku yang berdiri di barisan depan pintu keluar Sultan Iskandar Muda tidak melewatkan satu wajahpun penumpang asal Rusia itu. Apalagi sebelumnya, aku juga sudah mengirim beberapa foto terbaikku , untuk Alevtina. Alevtina juga tidak mungkin tidak mengenali aku. Meski kini, rambut gimbalku sudah lebih panjang dari foto yang kuberikan.

Diantara praduga dan harap-harap cemas bertemu dengan orang asing yang kukenal hanya lewat dunia maya, seorang perempuan asing berhenti didepanku. Rambut diikat kebelakang. Meski berkulit putih, tidak pucat seperti kebanyakan bule , tapi rambutnya hitam pekat, tidak pirang , memakai kacamata hitam Rayben. Mengenakan baju terusan warna hitam layaknya seorang pilot. Tas ranselnya tampak begitu besar menggantung dibelakangnya.

“Win!”, katanya bertanya seraya menjulurkan tangannya. “Ya!”, jawabku sambil menatap lurus wajah asing itu. “Are you Alevtina?”, jawabku sedikit heran. Seperti orang bengong. “Yes!”, katanya singkat seraya membuka kacamatanya dan membuka ikatan rambutnya. Mak!

Aku baru yakin kalau yang dihadapanku adalah perempuan Rusia itu. Cantiknya, bathinku. Kami bersalaman saling menggenggam tangan. Seolah mengikrarkan pertemuan ini nyata, saling memandang dan tersenyum. “Kamu berbeda jauh dengan fotomu. Dan kamu terlihat lebih kurus”, kataku, dalam bahasa Inggris.

“Yes, but it long story..”, jawab Alevtina . “Glad to meet you. I hope this is not dream”, ujarku tersenyum masih memegang tangan Alevtina. Aku, tentu saja sangat senang bisa bertemu Alevtina.

Apalagi antara foto dan aslinya berubah. Di fotonya sedikit gemuk , kini lebih kurus. Malah menurutku aslinya lebih cantik.Sumpah. Beberapa orang yang melihat kami di Bandara tampak sedikit heran karena kami tampak sudah akrab, meski baru bertemu.

Aku membantunya membawa tas jinjingnya menuju angkutan yang telah siap mengantarkan mereka ke Banda Aceh. Tinggi kami hampir sama . Berjalan sambil bertatapan. Pura-pura kukucek mataku agar bisa memandangnya lebih lama dan berkali-kali. Dia hanya tersenyum.

Sambil bercanda aku bertanya, ‘apakah aku sudah kukatakan, kamu cantik?”, tanyaku. “Not yet “, katanya singkat . “Kamu cantik. Swear”,ucapku kataku sambil mengangkat tangan kananku keatas terus berjalan ke parkiran.

Alevtina terbahak. Terima kasih, katanya lagi. Waktu kami di bandara tak banyak. Karena Alevtina bersama rombongannya harus segera menuju Banda Aceh sesuai jadwal dan diterima pemerintah setempat. Alevtina masuk mobil dobel gardan. Dia sengaja duduk didekat pintu.Sebelum berangkat aku mendengar untuk pertama kalinya bahasa Rusia diantara mereka. Terdengar asing.

Aku melambaikan tangan. Demikian Alevtina hingga mobilnya ditelan lalu lintas Blang Bintang yang sibuk dan padat ditengah teriknya matahari. Kamipun berpisah dan berjanji akan bertemu lagi setelah saling tukar nomor telepon. Aceh menjadi kota Internasional dengan jumlah ekspat atau relawan mengisi penduduk Aceh baru, setelah sebelumnya 200 ribu penduduk asli Aceh, meninggal atau hilang karena bencana,tsunami.

Aku pulang ke Banda Aceh menggunakan kereta (sepeda motor). Aku masih tidak yakin bertemu dengan Alevtina yang selama ini hanya kukenal lewat dunia maya. Dunia memang sempit. Antara Rusia dan Aceh ternyata begitu dekat. Melewati Lambaro, ingatanku mundur, membayangkan ratusan mayat manusia yang diangkut dengan beko dan dipindahkan kedalam truk setelah tsunami. Kala itu, air mata sudah kering, karena gambaran kesedihan dan kehancuran menyatu dalam satu provinsi. Bukan lagi derita perorangan atau kelompok.

Karena sepanjang mata memandang, hanya ada jasad kaku disisa lumpur dibakar terik surya dengan latar bangunan yang hancur, design Sang Maha design. Mungkin peringatan atas kesombongan dan kealfaan Aceh yang berseteru, mengedepankan nafsu. Dengan asap mesiu, api dan cara mati yang mudah ‘ala’ Aceh dalam bahasa konplik.

Bahasa politik lokal Aceh yang menggadai nyawa dan bertaruh nasib lebih sejahtera kala itu , diredam bahasa kematian berjamaah. Hanya menggunakan satu bahasa alam yang merupakan “hiden army” Nya. Air asin menyalami daratan. Bahasa kematian yang tak diperhitungkan. Air asin yang pergi jauh melebihi batas toleransi paling akhirnya, pantai . Itu pulalah salah satu alasan Alevtina bisa hadir disini . Akupun menuju Ulhee Kareng, tempat menikmati kopi.Bertemu berbagai jenis manusia , dengan satu alasan. Secangkir kopi made in Atjeh.Mengepulkan tembakau, merancang , memutuskan atau sekedar membunuh waktu.

-----

Sehari setelah tiba di Banda Aceh, Alevtina meneleponku. Bahasa Inggrisku yang seridhonya, membuat banyak kalimatnya yang tak kupahami . Tapi mau apa lagi. Menurutnya, dia akan melakukan berbagai program kesehatan bagi penduduk Aceh yang terkena dampak Tsunami. Mereka tinggal disebuah barak khusus relawan Rusia di Lampineung.

Alevtina bertugas di bagian pendataan di tim itu. Bekerja dari pagi hari hingga petang pukul 17.00Wib setiap harinya. Selain itu, PM Rusia ini juga menyediakan kebutuhan air bersih yang telah mereka olah menjadi air minum. Karena paska tsunami, kebutuhan air bersih menjadi sulit akibat tercemarnya sumber air, oleh lumpur, bahkan mayat manusia.

Sementara aku bekerja sebagai pekerja media alias kuli tinta dari sebuah koran ternama di Jawa Timur yang menerbitkan harian di Aceh paska tsunami. Koran ini memiliki jaringan Koran seantero Indonesia.

Seminggu pertama di Banda Aceh, Alevtina praktis bekerja penuh, terkadang lembur. Hingga kami tak bisa bertemu, kecuali saling sms tentang pekerjaan yang dilakukannya serta kisahnya tentang dampak tsunami yang demikian parah.

Tepat pada Minggu, Alevtina mendapat jatah libur dan memintaku datang ke Lampineung untuk meminta izin dari ketua PM Rusia.Karena kalau liburan, relawan Rusia ini disarankan selalu bersama. Tidak bisa liburan sendiri. Begitu aturannya ,sms dari Alevtina.

Akupun meluncur kesana dengan kenderaan roda dua. Stadion Lampinenung kini dipenuhi berbagai jenis mobil Rusia serta tenda-tenda tempat mereka tinggal selama berada di Aceh.Stadion kebanggaan warga Aceh dimana kerap digelar pertandiingan bola disini.

Alevtina kudapati menungguku di pintu gerbang stadion yang berubah pungsi itu. Kemudian bersamanya menuju sebuah tenda besar yang terbuka tempat ketua palang merah Rusia. Orangnya tinggi besar dengan kulit merah khas wajah orang Rusia yang sedikit berbeda dengan orang Erofa.

Aku membayangkan orang Rusia sangat kaku seperti digambarkan film-film buatan Paman Sam. Tapi gambaran itu buyar setelah mendapati ketua palang merah Rusia ini begitu ramah. Dalam hatiku mengutuk , kampret tu Amerika,gara-gara filmnya , penilaianku menjadi salah . Semua lawan Amerika dicitrakan negative. Aku jadi pingin menonton film Rusia yang menggambarkan Amerika dimata Rusia. Ada ngak ya.

Dia mantan veteran perang Afganistan, berpangkat Letnan. Tersenyum ramah padaku ditemani Alevtina. “Saya sudah mendengar dari Alevtina bahwa dia punya seorang teman disini. Tapi sesuai prosedur, saya harus melihat identitas anda”, kata Michael Sinise , sang ketua palang merah Rusia.Kami duduk berhadapan dengan meja besar yang memisahkan kami dengan kursi plastik.

Aku mengeluarkan id card. Meski sesungguhnya aku sangat jarang mengeluarkan id card. Walau dimasa Darurat Militer Aceh dulu yang ketat dan semuanya berbau militeristik. Sebagai jurnalis aktip , aku tentu saja mengenal para pembuat keputusan saat konplik . Orang atas atau orang bawah.

Michael kemudian membolak-balikkannya. Kemudian mengembalikannya, seraya berucap, “so you work for daily news?”, tanyanya, “Yes”, jawabku singkat. Aku menceriterakan pada Michael bagaimana kacaunya Aceh sebelum gempa dan tsunami yang kemudian menjadi titik awal kesepakatan damai.

Sesungguhnya kehadiran Michael ke Aceh karena kedua peristiwa ini. Konplik dan tsunami. Michael bertanya, mana diantara kedua peristiwa buruk ini yang lebih mempengaruhi MoU. Aku tak menjawabnya , kami bertatapan.

Kemudian aku mengembalikan pertanyaan yang sama padanya. Michael menjawab karena tsunami. Excactly!. Konplik Aceh berlangsung hampir 30 tahun terakhir. 30 tahun tidak membuat negeri ini berinisiatif untuk damai.

Bisa dibayangkan bagaimana rakyat Aceh bertahan ditengah konplik berkepanjangan ini. Menahan perasaan sakit diantara dua. Keduanya bersenjata dan bisa memenggal kepala. Tsunamilah yang lebih membuat para pihak duduk dalam satu meja. Karena tsunami juga mengulung banyak keluarga par petikai.

Tsunami pula yang menghadirkan simpati kemanusiaan rakyat dunia karena berasal dari bencana alam. Sementara konplik Aceh dianggap masalah dalam negeri yang tidak bisa dicampuri asing. Bagiku,tsunami adalah bahasa Sang Khaliq. Karena melihat bahasa politik di Aceh sudah demikian parah dan rakus. Tak lagi peduli penderitaan rakyat Aceh yang sudah disumpahi untuk disejahterakan. Dan Tuhan menunjukkan kekuasaanNya.

Kukatakan pada Michael, ada upaya di Aceh dimana ada orang- orang yang merasa mewakili keinginan rakyat, entah rakyat mana “ memaksa” agar memberikan amanah kepada “mereka”. Amanah paksaan untuk menjadi pemimpin “diberikan” kepada mereka. Meski caranya tak lagi halal. Jadilah perang saudara. Bahkan perang antar suku.

Perang saudara ini telah banyak menumpahkan darah, air mata dan asap serta debu dari bangunan yang terbakar . Belum lagi kesepakatan jahat jual beli senjata dan peluru diantara para pihak yang bertikai. Mencari keuntungan pribadi dan kelompok demi rupiah ditengah perang.

Jika rakyat jelata ketahuan memberi pada separatis, dipastikan, menjadi jasad kaku yang dibuang di keramaian sebagai shock therapy, sebuah bahasa diam menebar arogansi kekuatan dengan pelaku tak kesatria, otk.

Sementara jika ditelisik secara cermat dan administratif, boleh diperiksa rekening para pejabat atau pengusaha Aceh, mengalir jauh kemana dan milik siapa?. Tak ada yang bertindak profesional seperti itu, semuanya hanya karna mukerna. Selamatkan nyawa dengan beking dan uang karena kematian dan sepatu lars atau bekas tapak kaki, bisa muncul kapan saja. Memakai mandat “ilegal “ Izrail atas nama negara atau kelompok. Menghentikan napas belum yang belum saatnya, dengan timah panas, digorok, atau dihanguskan bersama hunian.

Ekonomi hancur, termasuk sarana dan prasarana umum yang dibakar atau digergaji. Sesama ethnis yang hidup di Aceh penuh kecurigaan dan saling menunggu aksi sebelum bereaksi. Keluarga yang memiliki riwayat salah seorang anggota keluarganya menjadi pemberontak diintai dan dimata-matai.

Demikian juga Kampung-kampung yang banyak melahirkan pemberontak dianaktirikan pembangunan dan terus terisolir sehingga menimbulkan dendam pada negara dan melahirkan generasi baru pemberontak.

Michael,manggut –manggut . Kepadaku juga bercerita bahwa setelah Rusia Raya runtuh menjadi kepingan negara baru yang sesuai ras dan agama, kini mereka membangun kembali sistim perekonomian lebih baju dan demokratis.Bahkan menjadi Negara snediri.

Ternyata, kata Michael, politik tangan besi serta prinsip kekuasaan bagi mayoritas, tidak selamanya baik dan efektif. Kuncinya adalah keterbukaan dan demokrasi, sebut Michael. Kepada Michael juga kukatakan bahwa diantara banyak relawan asing, aku tak percaya kalau mereka relawan sejati.

Mungkin diantara mereka banyak yang merupakan intel atau mata-mata bahkan misionaris. Selama ini tidak ada jalan masuk bagi asing ke Aceh, tsunami membuka peluang itu. Apalagi potensi SDA Aceh yang masih terpendam serta wilayah Aceh yang strategis sebagai basis pertahanan militer asing. SDA bisa dijadikan kompensasi dari bantuan yang diberikan asing. Mana sih makan siang gratis.

“Bisa jadi anda adalah salah satunya”, ungkapku lepas pada letnan Rusia ini. Alevtina kaget , aku tersenyum, demikian juga Michael. “Hahahaha…..” tawa Michael begitu lepas. “Tidak, tidak Win. Saya tidak punya misi itu. Kami masih sibuk berbenah. Mungkin Negara lain”, tambahnya masih tertawa. Mau apa lagi, tangan dibawah.

Michael menawarkan wine buatan Rusia yang kadar alkoholnya mencapai 40 persen yang terbuat dari anggur. Masih dalam botol aslinya yang tampak elegan dan megah berbahasa Rusia.

Aku menolaknya dan mengatakan, minuman beralkohol haram bagi seorang Muslim. Sambil tersenyum, Michael menawarkan cerutu yang ukurannya sedikit lebih besar dari jempol. Aku tentu saja menerima tawaran kedua ini. Karena memang aku “ahlul hisab”.

Michael mengeluarkan Zippo warna putih bersih berbahan stainless dari sakunya memantik api untukku. Aku menarik kuat asap pertamanya. “hukk hukk hukk”, aku batuk dengan asap cerutu Rusia ini.

Aku menarik asap kedua. Kali ini lebih baik, tanpa batuk. “Wow, not to bad”, kataku pada Michael yang juga menikmati cerutu sambil tersenyum dan menegak beberapa kali anggur Rusianya.”Bagaimana dengan ganja Win?”, Tanya Michael. Tumbuh subur disini, diperdagangkan di black market. Bukan saja oleh oknum masyarakat ,juga oknum-oknum lainnya yang dianggap penegak hukum. “Tapi saya tidak mengisap ganja”, ucapku sambil mengangkat tangan keatas.

Setelah mendapat izin, aku dan Alevtina pergi. Sebenarnya, aku masih ragu akan membawanya kemana. Kenderaan kuarahkan ke arah Ulheelheu. Alevtina duduk mengangkang di belakangku mengenakan celana panjang, tas kecil berisi kamera digital. Rambutnya diikatnya.

Sepanjang jalan, aku coba menceriterakan gempa dan tsunami yang meluluhlantakkan Aceh hingga mendapat simpati dunia. Termasuk Alevtina dari Rusia. Karena menjelaskannya diatas kenderaan yang terus berjalan, suaraku kurang terdengar jelas.

Kerap Alevtina berucap , sorry , pardon sambil mendekatkan wajahnya kewajahku guna mendengarkan penjelasanku lebih terang.Kenderaan kuhentikan persis di bekas pelabuhan Ulheelheu.

Disini , aku seperi terpaku ke bumi , tercenung beberapa saat . Kilas memori mundur sepersekian detik . Terbayang wajah lembut seorang abangku hilang bersama tsunami dan hingga kini tak pernah ditemukan jasadnya.

Namanya bang Agus, bekerja sebagai sipil di Polda Aceh. Tak terasa , air mataku menetes. Mengenang abang yang lembut itu. Abang yang tidak banyak bicara dan hidup sederhana , tinggal disisi pantai.

Disana pulalh aku kerap datang di hari minggu. Sekedar santai menikmati kopi gayo atau menjaring ikan mujahir di air payau belakang rumahnya yang bagi masyarakat pesisir kurang disukai . Ikan yang berbau amis payau.

Bang Agus yang sebelum ke Banda Aceh setamat SMA di Gayo pernah munebuk hutan di gayo hingga kakinya patah. Kakinya patah karena berlari menghindari pohon kayu yang tumbang setelah ditebang dengan galang.

Saat berlari, cabang pohon menahan laju lari Bang Agus yang menghalangi jalan dan “krak”, kaki kanannya patah. Di Kelupak Mata kala itu. Aku masih ingat kaki Bang Agus diberi bantalan papan oleh guru Garing, ahli urut patah.

Alevtina yang mengambil beberapa momen foto menoleh kearahku. Aku tak dapat menyembunyikan air mataku yang jatuh beberapa butir. Dia kaget dan menghentikan aktipitas memotretnya.

“Ada apa Win. Apa yang terjadi”, tanyanya heran dan lebih mendekat. Dia tampak kuatir. “Tidak ada apa-apa. Saya hanya teringat pada abang yang hilang bersama tsunami. Persis di tempat kita berdiri ini adalah bekas rumahnya”, jawabku seraya membersihkan sisa air mata yang tak mampu kubendung.

Alevtina menjulurkan tangannya , coba mengusap sisa air mataku yang jatuh kepipi. Aku tadinya akan menolaknya hingga kedua tangan kami bersentuhan dibawah mata kiriku.

“I am so sorry...sudah mengingatkanmu pada peristiwa dahsyat itu,” katanya, seraya tetap membersihkansebutir air mata yang tersisa. Aku pasrah. Akhirnya aku menceriterakan kronologis kejadian tsunami itu. Alevtina mendengar dengan khusuk. Tsunami ini telah meluluhlantakkan sebuah peradaban di Aceh. Bandingannya hanya ada dalam kitab suci. Selain Bang Agus, seorang kakakku di Meulaboh juga hilang bersama anaknya. Kak Ahyarfati. Bidan yang bersuamikan lelaki Meulaboh. Namanya sama dengan nama bapak Alevtina, Ruslan. Jasad keduanya , juga tak pernah ditemukan.

Membunuh kebekuan setelah itu, kami kemudian minum air kelapa muda dibawah pohon rindang yang tersisa dari tsunami. Suasana mencair. Kami duduk berhadap-hadapan. Pada dua buah kursi plastik. “Win bolehkah saya memotomu?”, kata Alevtina seraya mengarahkan digitalnya kearahku.

‘Kenapa tidak”, balasku seraya coba bergaya dan membuat Alevtina tertawa . Kedua gigi putihnya terlihat jelas dibalik bibir tipisnya. Aku kemudian bertanya pada Alevtina, bagaimana mungkin dia yang lulusan Ekonomi kemudian menjadi relawan ke Aceh. Sementara dia sudah bekerja. Disebuah toko buku yang besar di kotanya.

Padahal di surat elektronik Alevtina sebelumnya, dia menyebutkan setamat fakultas ekonomi di Kazan, Alevtina bekerja disebuah toko buku di kotanya. “Ceritanya panjang Win. Setelah mengenalmu dan membaca semua kisah kotamu, aku tertarik datang kemari. Ada “magnet” yang membuatku ingin datang kemari. Ditambah lagi kisah kota asalmu. Yang sering kamu sebut negeri diatas awan, Nenggeri Antara , Gayo”, kata Alevtina meraih sedotan kelapa muda dan meminumnya.

Aku memang memberi sebuah alamat situs online yang kukelola sendiri setelah tsunami.www.gayolinge.com. Situs ini kemudian berhenti karena kesibukanku. Disana banyak kutampilkan keindahan lenskep dan human interstnya masyarakat gayo yang bertani dan pengembala ternak yang baik. Sehingga tidak heran kalau terlihat seorang nenek yang mengembalakan kerbau, atau anak-anak di Mendale yang menunggangi kerbau dan kuda.

Belum lagi tampilan awan dipagi hari yang menyalami bumi gayo sebelum diusir mentari. Peralihan awan yang menguap dan pergi karena cahaya matahari menghasilkan degradasi warna yang indah.

Antara putih, hijaunya alam, serta kuning jingga dan merah muda dari matahari. Lukisan alam yang membuat rasa tergetar akan sebuah kekuatan dibalik yang tampak ini. Keindahan Sang Maha Indah bagi penduduk gayo yang terpilih.

“Di Bandara sepekan lalu, aku sempat pangling. Karena foto yang kamu kirim, berbeda dengan kenyataannya. Kamu tampak lebih kurus. Padahal di fotomu tampak sedikit gemuk. Aku pangling, benar-benar pangling.”, ujarku . Tersenyum , dia menoleh padaku .

Menurut Alevtina, foto itu dikirim selepas tamat kuliah dalam sebuah pesta. Pesta ulang tahun seorang temannya. Pesta itu berlangsung hingga tengah malam. Banyak temannya yang kemudian mabuk dan melakukan perbuatan yang mereka sukai. Termasuk sek sesaat. Ada yang di sofa, di kamar mandi, dapur atau di taman. Bebas saja.

Alevtina yang hendak pulang, ditahan seorang lelaki yang dikenalnya tapi tidak akrab. Lelaki mabuk itu coba merangkul dan memeluk Alevtina untuk diajak berkencan. Tentu saja Alevtina menolak dan berusaha melepaskan diri.

“Beruntung aku tidak mabuk berat. Kalau aku mabuk, aku tentu saja akan membiarkan semua itu terjadi. Seperti yang kulihat dilakukan teman-temanku”. “Sampai seperti itukah?’, kejarku penasaran. “Iya. Itu hal yang biasa disana Win”, balas Alevtina.

Menambah menu khas Aceh selain kelapa muda, aku memesan dua piring mie Aceh. Salah satu makanan pavoritku. Aku kembali membakar rokok kretek. Mi Aceh yang kupesan ternyata terlalu pedas untuk lidah orang Rusia ini.

Lucu melihat Alevtina yang kepedasan mengipas-ngipas mulutnya dengan tangannya. “Hah...terlalu pedas Win, saya tak biasa makan pedas”, tandasnya. Segelas air putih lenyap disedotnya. Wajahnya merah dan berkeringat. Duh kasian.

Alevtina melanjutkan kisahnya . Setelah memutuskan menjadi relawan dan lolos seleksi, dia menjalani konsentari di kem pelatihan menjadi relawan selama tiga bulan sebelum diterjunkan ke Aceh. Latihannya tentang berbagai cara dan tehnik menjadi relawan palang merah standar Rusia yang ketat dan disiplin.

Selama mengikuti pelatihan itu, berat badan Alevtina turun drastis. Aku mengangguk tanda mengerti kenapa terjadi perubahan pada dirinya. Sebenarnya, banyak hal yang ingin kutanyakan. Tapi rasanya terlalu cepat dan takut membuat Alevtina tersinggung. Seperti , apakah kemanusiaan alasan utama dia hadir ke Aceh. Atau ada alasan lain yang dia sembunyikan.

Selama hampir setahun berkomunikasi dengan Alevtina, baru tiga bulan terakhir Alevtina memutuskan menjadi relawan ke Aceh dan hal itu adalah pertanyaan besar bagiku. Hampir seharian kami berada di seputaran Ulheelheu berdua. Alevtina tampak sangat senang dan puas. Aku sering mencuri-curi pandang padanya sambil beraktipitas. Sepertinya ada perasaanku yang kuletakkan pada perempuan ini. Sehingga seperti mengikat. Jatuh cintakah aku sudah?.Nanti dulu.

----

Kesibukanku menjadi jurnalis membuatku jarang bertemu Alevtina. Demikian juga Alevtina yang disiplin dengan hari kerjanya. Ditambah interaksi dengan warga asing yang menjadi jurnalis di Aceh serta memberi berbagai pelatihan membuat waktu tersita, apalagi kala mengejar deadline.

Bahkan beberapa kali aku menemani para jurnalis yang datang dari berbagai belahan dunia di berbagai kota di Aceh. Menggunakan armada darat atau coper bin helikopter. Waktu berlalu diisi kegiatan rutin menjadi pewarta

Rambutku yang jika panjang seperti mie instan kubiarkan saja tumbuh menjadi tidak terurus. Menaiki helikopter menjadi hal yang biasa saat mengantar berbagai kebutuhan pengungsi yang tidak terjangkau dengan angkutan darat. Memakai helikopter asing yang berseliweran. Kemudian membuatkan berita serta beberapa foto untuk kantor berita asing.

Ditengah mengejar deadline dan persaingan antar media guna meraih pembaca sebanyak-banyaknya . Apalagi tempatku bekerja merupakan koran baru, sebuah sms dari Alevtina sampai dan mengingatkanku bahwa Alevtina, sahabat penaku dari dunia maya ada didekatku.

Sms Alevtina memintaku menemaninya selepas jam kerja karena jenuh dan rutinitas kerja. Sama denganku. Semangat terpacu untuk bertemu kembali dengannya yang cantik. Terbayang cepat tawa dan senyumnya. Ada yang menarik dan rahasia dari wanita ini. Aku penasaran. Setelah mengiyakan keinginannya, aku mempersiapkan diri.

Tapi apa yang mesti kupersiapkan?. Bertemu pejabat penting atau petinggi militer saja aku memakai sepatu sendal yang biasa dipakai pecinta alam. Ah sabodo teing. Masalah kemudian muncul saat akan pergi.

Kemana kenderaanku?. Tidak ada ditempat parkir . Aku teringat kenderaanku sedang dipinjam seorang temanku yang meliput. Sejenak aku berpikir. Kemudian sebuah ide muncul. Kenapa aku tidak meminjam becak Bang Nurdin. Bang Nurdin adalah tetangga kantorku di Jalan Panglima Nyak Makam.

Rumah Bang Nurdin persis disamping kantor tempatku bekerja. Dia kehilangan dua orang anaknya saat tsunami. Kini dia tinggal berdua bersama istrinya. Bang Nurdin mendapat bantuan dari pemerintah berupa becak sebagai alat usaha.

Tadinya, becak Bang Nurdin sudah tua. Kini dia mendapat becak baru. Kebetulan selepas Ashar Bang Nurdin sudah pulang. Lelaki berkulit gelap ini kudapati sedang duduk diteras rumahnya sambil membuka baju. Tampak beberapa pulau berwarna putih menempel di dada dan lehernya. Panu. Mengenakan kain sarung. Setengah pahanya sudah dicium angin. Dadanya berbulu lebat. Demikian jambang dan jenggotnya, tak terurus. Ciri khas lelaki Pesisir Aceh.

“Assalamu’alikum”, sapaku sambil mengangkat tangan kanan. “Wa’alikumsalam”, sambut Bang Nurdin sangat fasih, sesuai tajwidnya, dia juga mengangkat tangannya. “Jep Kupi Win”, katanya menawarkan kopi.

“Hana sempat le Bang”, kataku seraya mendekat dan duduk disampingnya . Aku menceriterakan keinginanku meminjam becaknya membawa Alevtina keliling. “Alahai Win, meurumpok ngen awak inong Rusia e..”, kata Bang Nurdin tertawa. Aku tancap gas dengan becaknya. Kak Nong yang sedang mengangkut asam sunti yang dijemurnya sejak pagi diatas daun kelapa yang dianyam dan dijadikan alas hanya tersenyum. Kak Nong persis orang India.Kalau di Jakarta, Kak Nong bisa jadi sudah menjadi artis dengan wajah.

Mengemudikan becak ternyata tak semudah mengenderai roda dua. Kemudinya lebih keras dan kalau sedikit kencang , stang menjadi liar. Agak sulit mengendalikannya hingga kutemukan trik sambil berjalan.

Tiba dipintu gerbang stadion Lampineung, aku membunyikan klakson. Dari jauh aku sudah melihat Alevtina berdiri menunggu disana. Sengaja aku tidak membuka helem gelap yang kupakai.

Alevtina melihat kearahku. Tapi dia tidak bereaksi. Kuklakson lagi, dia menoleh. Tapi ngak ngeh juga kalau aku yang mengemudikan becak. Akhirnya aku membuka helem. “Waiting some body , madame “, candaku . “Hei Win”, katanya setengah berteriak heran.

Sore itu, Alevtina tampak sangat cantik. Memakai rok panjang , berkemeja lengan panjang warna gelap dengan rambut diikat kebelakang. Sementara bawahannya memakai sepatu kets. Dan yang tidak kalah menariknya, perempuan Rusia ini mengenakan tudung tipis, setengah rambutnya diluar tudung. Mirip perempuan arab. Sangat sopan dan bersahaja.

“You look so beautiful..”, kataku jujur kepadanya, seraya pura-pura menutup mulutku yang terbuka melihat kecantikannya. Alevtina tersenyum seraya berkata, “Thank you very much Win. Thank you...”, katanya.Aku tahu dia tersipu, kulit putihnya memerah.

Menurutnya dia sengaja memakai baju tersebut karena teringat foto yang dia kirimkan untukku lewat email sebelumnya. Hanya saja, katanya, di foto itu tanpa tudung. Akh semakin menawan saja wanita Rusia ini bathinku.

Aku menjelaskan kepada Alevtina kenapa menggunakan becak Bang Nurdin karena hondaku sedang dipakai. Dia paham, kemudian naik becak. Aku memutar lagu Rhoma Irama di becak Bang Nurdin yang full Musik. Judulnya berkelana. Aku melepas helem dan menikmati lagu Bang Oma. Alevtina hanya tertawa melihat tingkahku.Becak kuarahkan ke jalan protokol T.Nyak Arief.

Udara panas Banda Aceh seolah hilang dengan hembusan angin dari becak yang kukenderai dengan kecepatan sedang. Tudung Alevtina jatuh ke lehernya karena disepak angin. Aku mengarahkan becak kearah Blang Padang.

Menikmati es buah diseputaran Blang Padang. “Dulu, saat di madrasah aliyah aku kerap datang kemari dan menikmati es buah”, kataku . Kami menikmati es buah diatas becak. Aku mengambil beberapa foto headshoot Alevtina.Aku dan Alevtina semakin akrab.

Azan magrib terdengar dari Mesjid Raya. Aku menyatakan pada Alevtina harus shalat magrib dahulu, sebelum mengantarnya pulang. Dia mengiyakannya. Sepanjang perjalanan pulang, Alevtina mengatakan bahwa baginya Islam bukan hal yang baru.

Karena di Kazan, meski Kristen ortodok lebih dominan dari penduduk ras Rusia yang bermukim disana, tapi Islam juga berkembang dengan baik. Islam dianut oleh suku minoritas dari negara pecahan Rusia yang dominan Islam.

“Ayahku bernama Ruslan, dia asli Kazakstan. Tapi ayah sepertinya sudah lupa dengan agamanya. Ibu dari Rusia. Beragama Kristen ortodok ”, sebut Alevtina. Aku mengangguk karena Alevtina sudah pernah menceriterakan sebelumnya tentang keluarganya lewat email.

Selain tentang kehidupan keluarga di Rusia, Alevtina juga bercerita banyak tentang lelaki Rusia yang menurutnya kurang disukainya. “Banyak lelaki Rusia yang pulang kerumah dalam keadaan mabuk. Karena terlalu banyak minum dan tidak peduli apapun”, ungkapnya.

Hal itu sangat berbeda dengan yang dilihatnya di Aceh. Berkeluarga merupakan hal yang sakral dan wajib. Sehingga dimana-mana terlihat keluarga begitu akrab dengan anak-anak disekeliling mereka.

Betapa indahnya hidup seperti itu. Karena hidup memiliki tujuan dan cara tersendiri dalam aturan, papar perempuan Rusia ini. Semua yang dilakukan sangat berarti karena ada keluarga yang selalu menunggu dirumah. Sementara hidup di negerinya, tambah Alevtina, demikian sulit jika tanpa pekerjaan dengan kebutuhan hidup yang mahal.

Berkeluarga menjadi hal yang sulit meski banyak orang yang hidup bersama dan memiliki keturunan tanpa ikatan pernikahan. Hanya didasari suka sama suka. Status anak menjadi tak jelas dan bisa berpisah kapan saja jika sudah tidak lagi ada kecocokan. Anak-anak kerap menjadi terlantar dan menjadi korban kekerasan seksual. Pun begitu, banyak juga keluarga yang hidup normal dan berkeluarga seperti kebanyakan orang Asia.

Sebelum sampai ke Stadion Lampineung, aku teringat tempat yang keren menikmati kopi gayo dengan cara moderen. Hip Coffee, milik seorang sahabatku, Novaldin . Masih di Jalan Panglima Nyak Makam. Aku menwarkan pada Alevtina untuk kesana.Dia bersedia.

Kebetulan, sang Barista ada disana. Kami duduk dikursi bar yang tinggi. Alevtina kukenalkan pada Novaldin yang sebelumnya hanya menyediakan Burger dan penganan lainnya non kopi.Setelah menjalani kursus di Senayan Trade Center Jakarta, pengusaha gayo ini menambahkan menu minum kopi menggunakan mesin conti.

“Yah, sahenni pak Win. Bise ni”, kata Novaldin bercanda setelah bersalaman dengan Alevtina. “Inepunmu ari Ponok Baru”, jawabku sekenanya sambil tertawa terbahak-bahak. Aku menunjukkan menu pada Alevtina.

Aku menawarkan cappucino untuknya. Sementara aku memesan espresso. Strong Coffee. Novaldin menolak membuatnya. Dengan bahasa Inggris semampunya, Novaldin berkata pada Alevtina.

“He is a barista too. He can make you cappucino”, sebut Novaldin. “Is that right Win. You never tell me?”, balas Alevtina. Terpaksa aku masuk kedalam. Mesin conti dua grup ini tidak asing bagiku. Karena aku pernah kursus ditempat yang sama dengan Novaldin. Apalagi saat praktek, aku menggunakan conti.

Meski agak kaku, aku mulai beraksi. Pertama , aku membuat cappucino . Satu shot espresso kubuat sebagai bahan dasar cappucino. Satu shot berisi 30 mililiter kopi terbaik Sumatera. Arabika gayo.

Setelah siap, kustem susu segar guna menghasilkan foam atau busa susu dalam gayung stainless. Setelah foamnya keluar dengan suhu ideal, stem kuhentikan seraya menggoyang-goyangkan jug agar susu lebih padat dan mikro foamnya mudah dibentuk.

Hati-hati, susu ini kucampur kedalam espresso 30 ml . Sedikit kugoyangkan, tercipta sebuah bentuk bergambar hati. Love. Kusuguhkan pada Alevtina. Matanya lebar terbuka , “wow’, katanya seraya membuka tas dan mengabadikannya.

Pura-pura tak melihat aku kembali ke mesin espresso punya Novaldin , menggrinder kopi dan membuat espresso. Setelah siap aku membawanya dan duduk disamping Alevtina. “How do you thing?”. “Very nice with love picture. Are you a barista?’, “it long story”, ujarku tersenyum kearahnya.

Kepada Alevtina aku berkisah tentang sebuah cita-cita terpendamku. Membuat cafe khusus kopi di gayo.Sebelumnya aku sudah mengikuti kursus di Jakarta. Namun keinginan ini tertunda karena aku memilih menjadi jurnalis guna memberitakan kondisi Aceh setelah tsunami.

Tawaran ini kuterima mengingat urgennya berita tentang Aceh dalam rehab dan rekon. Padahal aku sudah memutuskan mundur dari tulis menulis ini. Meliput konplik Aceh sangatlah perih. Berita dan foto yang dihasilkan menggambarkan kejinya konplik bersenjata. Antara salakan senapan dan rumah yang dibakar serta mayat bergelimpangan.

Padahal sebelumnya aku sudah jenuh. Dan memutuskan berhenti. Namun kemanusiaanku muncul. Niat ini kusimpan sejenak dan memberi peran sedikit dalam berita Aceh. Semoga berguna. Sekaligus mengumpulkan uang demi membeli mesin espresso yang mahal. Karena Aceh menjadi pusat peredaran uang bak hujan. Aku ingin menangkapnya.

“Itulah salah satu keinginanku yang belum bisa kuwujudkan”, “Ya, saya mengerti”, balas Alevtina lembut sekali. Dia meneguk sisa cappucinonya. Busa susu menempel dibibir atasnya, dekat hidung.

Aku ingin membersihkannya. Tapi niat itu kutahan. Aku tersenyum sendiri. Kening Alevtina berkerut, “kenapa tertawa?’, tanyanya. Aku semakin kuat tertawa. Dia makin penasaran dan tampak bingung. Aku menunjuk dibawah hidungnya. Dia meraba dan menemukan busa susu yang sudah bercampur kopi, berwarna coklat muda. Tidak lagi putih.

“Nakal......,Win nakal......”, . Aku turun dari kursi , dia mengejarku hingga ke becak.

----

Semakin hari, aku dan Alevtina semakin akrab dan sering berjalan bersama. Tidak terasa sudah dua bulan Alevtina berada di Banda Aceh. Dia sudah sangat paham daerah-daerah yang menarik dan tempat jajanan serta makan di antero Aceh.

Dalam satu kesempatan, Alevtina mengatakan keinginannya untuk dapat berkunjung ke Takengon, sebelum pulang ke Rusia , Kebetulan, aku juga sudah dua bulan lebih tidak pulang. Meski sering telepon menanyakan kabar Ama dan Ine.

“Hanya sebulan lagi aku berada disini. Bulan depan aku harus pulang karena waktu kami disini hanya tiga bulan sebagai relawan. Aku ingin dapat mengunjungi kotamu. Apakah sesuai dengan gambar dan ceritamu”, kata Alevtina.

“Kamu tidak percaya dengan apa yang saya sudah kuceriterakan , termasuk dan foto-foto yang kukirim”, kataku bertanya mengernyitkan dahi, sedkit tersinggung. “Saya hanya ingin melihatnya langsung. Karena dari foto yang kamu kirim, gayo itu seperti negeri dongeng. Apalagi seperti katamu, pagi hari, kotamu hilang ditutupi awan”, jawabnya.

Merasa ditantang, aku menyanggupinya. Hanya saja mungkin Alevtina yang akan sulit mendapat izin dari ketua rombongannya. Mengingat jarak Banda Aceh dan Takengon, tidak kurang dari 300 kilometer. Apalagi harus menginap beberapa hari ditengah situasi Aceh yang baru saja damai.

Alevtina memintaku untuk memperoleh izin dari Michael. Michael yang coba diyakinkan Alevtina tentang kunjungannya ke Takengon bersamaku tidak langsung percaya dan memberi izin. Alevtina memintaku agar meyakinkan Michael. Aku menyanggupinya.

Kepada Michael kujelaskan situasi keamanan setelah MoU. Semua senjata telah digergaji dan terpotong-potong sehingga tidak lagi ada senjata yang tersisa, seperti jaminan dalam MoU. “Tapi saya mendengar dari beberapa kawan disini bahwa masih sering terdengar bunyi tembakan di beberap lokasi di Aceh. Apakah ini berarti senjata ilegal masih banyak diluar sana?’, tanya Michael.

“Sesuai perjanjian, senjata diluar kuota yang ditentukan dan telah dihancurkan, siapapun pelakunya akan dikenakan pasal –pasal kriminal”, jawabku. Demi meyakinkan Michael , aku menggambarkan sedikit kotaku yang di Dataran Tinggi.

Di gayo , masyarakatnya sangat heterogen , multi ethnik. Dimana setiap orang dihargai sama dan sederajat. Tamu, sangat dihargai dan dihormati. Kemuliaan dilihat dari perbuatan, bukan omongan.

Dikota ini, orang akan dihargai sesuai dengan apa yang dikatakan dan dilakukan. Berbeda ucapan dan tindakan akan dicibir dan akan dihukum sosial dengan “tipak dagu”. Kemampuan berpikir antara petani dan pejabat sama. Tingkat intelegensia berkembang sesuai geografis dan jenis makanan orang pegunungan. Sehingga untuk warga kawasan ini, pernah ada istilah, “raja yang tak punya raja”Tidak ada kemuliaan seseorang jika dia ketahuan munafik. Tak sesuai ucapan dan tindakan.

Meski begitu, Michael meminta jaminanku. Aku berdebat dengannya. “No garanti”, kataku. Aku tidak tahu apa yang akan terjadi setelah pulang dari sini, tegasku. Termasuk perihal kematian. Karena Tuhan Allah, bisa bertindak diluar rencana dan logika.

Tapi, selama Alevtina menjadi tamuku, nyawaku adalah jaminannya, kataku pada Michael. Dia mengangguk-angguk. Karena aku menjawab dengan sedikit emosi, aku baru sadar kalau Alevtina memegang tangan kananku dengan kedua tangannya menenangkanku.

“Oke, oke. I believe you” ujar Michael menepuk-nepuk bahuku dan memberi izin. Alevtina tersenyum, pun juga Michael. Aku menyalami Michael dan berterima kasih. “Aku akan mengembalikan Alevtina seperti yang kamu lihat sekarang.

Tak akan sada satu bulupun yang akan jatuh”, kataku bergurau seraya bergegas pergi. Padahal kata-kata itu kuingat dari ucapan orang gayo saat memberi jaminan. “Ike nise kulit, naku rayoh. Ike nise rayoh, naku nyawa”.

---

Menggunakan armada L300, aku dan Alevtina pulang ke Takengon. Kehadiran l300 sebagai armada angkutan telah membuat bangkrut bus berbadan lebar dan panjang. Semua angkutan antar kabupaten di Aceh, dikuasai armada ini.

Kami berangkat malam hari. Aku tidak minta izin kekantor. Karena akan sulit mendapat izin. Yang penting berita setiap hari setor ke kantor.Aku sudah mewanti-wanti rekan kerjaku untuk membagi berita.

Sejak berangkat dari Banda Aceh , Alevtina lebih banyak diam. Dia mengaku suka mabuk diperjalanan. Aku menyarankannya meminum antimo. Dia setuju. Pengaruh antimo yang diminumnya setengah jam sebelum berangkat berekasi sudah. Dia terlihat mengantuk. Kasihan juga aku melihatnya.

Alevtina duduk didekat jendela. Mengantisipasi kalau dia muntah. Sejak naik dia sudah tidur dan menyindirkan kepalanya kebahuku. Perjalanan aman hingga ke Bireuen. Tapi melewati Bireuen , perjalanan mulai berkelok dengan tebing terjal.

Udara panas berubah dingin memasuki perbatasan kilometer 35. Alevtina terbangun. Tampak kedinginan. Aku mengambil jaket Alevtina ditas ranselnya. Aku memang sudah memberi tahunya kalau udara Takengon dingin dan perlu jaket.

Setelah mengenakan jaket, Alevtina terlihat mual. Aku menyiapkan plastik. Benar saja, dia mulai muntah dan mengeluarkan semua yang telah dimakan dan diminumnya. Muntah besar. Aku membantunya dengan memijit-mijit leher belakangnya. Seperti yang dilakukan Ine kalau aku muntah saat kecil.

Alevtina tampak pucat. Aku kuatir. Kalau-kalau terjadi hal yang tidak diinginkan pada Alevtina. Apa yang akan kukatakan pada Michael. Seribu pertanyaan muncul dalam benakku. Sesekali aku memegang keningnya dengan belakang tanganku.

“Don’t worry”, kata Alevtina lemah. Ah, bagaimana ngak kuatir, kataku. Dia terlihat lemas dan pucat. Tapi aku sedikit lega karena Alevtina tertidur. Terus terang aku sangat kuatir. Apalagi Alevtina warga asing.

Subuh, kami sampai. Udara Takengon benar-benar menusuk tulang. Seharusnya dari terminal ke lorong smea, aku cukup jalan kaki saja. Tapi mengingat kondisi Alevtina, aku memanggil becak.

Tiba dirumah, aku mengetuk pintu. “Assalamu’alaikum , Ne..Ine”, panggilku. Biasanya Ine jam segini sudah bangun dan memasak. Sementara Ama, suka selepas shalat subuh tidur lagi. Aku mengapit tangin Alevtina , takut dia terjatuh.

Ngiiiiiiiiiiit, pintu terbuka. Rumah yang dibangun Belanda berbahan kayu ini terbuka. Wajah Ine muncul. “Assalamu’alikum Ne..”, ujarku. “Waalaikumsalam, koas. Inike jamune”, kata Ine. Ine sudah tahu kalau aku akan membawa seorang teman wanita yang berasal dari Rusia.

Bagi keluargaku, membawa tamu asing bukan hal yang baru. Banyak teman asing sebelumnya mampir. “Te mukune jamuni, saketen ke?”, kata Ine kuatir. “Peloahne. Meh sipanganne”, kataku. Ine membantu memegang tangan Alevtina. “No, ine Ipak, sayangmupe le.....”.

Setelah Alevtina duduk di kursi tamu, aku menyalami Ine dengan mencium tangan wanita mulia ini. Melihat hal itu, Alevtina juga meraih tangan Ine dan menciumnya. Ine memegang kepala Alevtina. “Mampatdi ge”, kata Ine tersenyum kearahku.

Alevtina memandangku seolah meminta penjelasan. “She said you are beautiful”, kataku pada Alevtina. “Thank you Ine”, jawab Alevtina lemas sambil tersenyum. Ine juga tersenyum seraya berlalu ke arah dapur.

Tak lama Ine datang membawa kopi , teh dan air putih. Aku menyuruh Alevtina minum air putih dan teh hangat agar lebih cepat sehat. Dia menuruti kata-kataku. Setelah minum, Ine menyuruh Alevtina istirahat di kamar adikku, Item. Padahal nama asli adik perempuanku ini dalah Nikmah. Karena berkulit gelap, keluarga memanggilnya dengan perasin,Item.

Sambil nonton berita di tv, kemudian semuanya gelap. Aku terlelap di kursi tamu. Aku baru terbangun ketika Alevtina membangunkanku. Waktu itu waktu sudah pukul 9.00 Wib. “Bagaimana keadaanmu?”, tanyaku. “I feel better”, ucap Alevtina.

“Maaf, sepertinya kita sudah ditinggalkan emun”, kataku pada Alevtina. Aku tahu, Alevtina sangat berharap bisa melihat langsung dan memotret emun atau awan. Seperti banyak ceritaku via email kepadanya sebelum di datang ke Aceh.

“It is oke”, katanya singkat. Aku bergegas menuju pintu depan. Melihat matahari , apakah sudah muncul. Tapi matahari sudah tinggi. “its gone”, kataku sambil mengembangkan tangan. Alevtina hanya menatapku. “Maybe tomorrow. Insya Allah ”, kataku memberi harapan. Karena siapa yang tahu apa yang terjadi esok .

----

Pagi Minggu, sebelum shubuh, Ine membangunkanku. Aku shalat bersama Ama ke Mesjid Agung Ruhama. Aku meminta Ine membangunkan Alevtina agar sepulang shalat subuh, kami bisa mencari moment foto terbaik gayo.

Sepulang subuh, kulihat Alevtina sudah siap. Mengenakan syal dilehernya lengkap dengan jaket tebal musim dinginnya. Hebatnya, dia juga memakai kerudung tipis dikepalanya. “Lho, kamu pakai jiilbab?”tanyaku.

Ama terbahak-bahak melihat Alevtina yang berkerudung. “Belangi-belangi “, kata Ama seraya menunjukkan jempolnya ke Alevtina. “Thank You Ama”, balas Alevtina tersenyum. “Let’s go !”, ajakku.

Sambil berjalan di lorong Smea hingga Lebe Kader, Alevtina mengatakan bahwa hampir semua warga asing yang masuk ke Aceh, mempersiapkan jilbab dan pakaian panjang sebelum masuk ke Aceh.

Orang asing tahu , Aceh adalah daerah yang fanatik dengan Islamnya. Namun setelah mereka tiba di Aceh, ternyata banyak kaum perempuan Aceh yang tidak memakai pakaian Islami. Atau hanya memakai penutup kepala, tapi berpakaian ketat.

Pasar pagi di jalan Peteri Ijo adalah sasaran pertamaku bersama Alevtina. Kabut benar-benar menutup penglihatan kami dan hanya mampu memandang jarak sekitar 2 meter . Aktipitas berjualan dari petani gayo, dimulai sejak sebelum shalat subuh. Perdagangan sayuran dan buah-buahan khas gayo di Dataran Tinggi. Jeruk Keprok Gayo, kul,cabe, wortel , alpukat, kacang buncis, jagung, asam kelele, empan, jepang, terong agur , tarokni jepang, hingga depik dan kentang.

“Wow, amazing , woman area”, kata Alevtina seraya mengarahkan lensa kamera digitalnya mengambil banyak foto. Diantara kabut pasar pagi, Alevtina merekam gerak hidup ekonomi pagi. Pasar tradisional ditengah kabut.

“Kebanyakan yang berjualan adalah kaum perempuan?”, tanya Alevtina sambil berjalan pelan daintara pedagang kaki lima. “Ya , kataku, untuk membantu ekonomi keluarga . Membantu suami ”, tambahku. Tak henti , banyak angle foto yang terekam dan sudah tentu sangat menarik bagi orang asing.

Sambil juga mengambil foto, ekor mataku merekam momen apa saja yang disimpan Alevtina dalam frame foto digitalnya. Ada anak yang tertidur lelap di gendongan ibunya. Ada wanita yang sedang shalat dibalik jualannya. Ada nenek yang mangas sambil menawarkan sayurnya dengan penutup kepala kelubung upuh panyang. Ada bapak yang tak henti mengepulkan asap rokok kreteknya hingga kopiahnya miring tak terurus.

Puas mengambil foto di pasar tradisional gayo itu, aku mengajak wanita muda Rusia ini makan mi serta membeli beberapa ikat Gutel yang dibungkus daun setengah terbuka. Belah rum dan lepat gadong.

“Kita harus segera menuju Bur Gayo”, kataku mengajak Alevtina beranjak menuju arah Selatan Takengon melewati Kampung Bale Bujang. Alevtina manut dibelakangku. Tak sampai satu kilometer, kami sampai di Bur Gayo.

“Masya Allah. Allahu Akbar”, teriakku menunjuk ke arah Kota Takengon. Negeri Antara ini benar –benar ditutupi awan. Waktu menunjukkan pukul 6.00Wib. Alevtina terkesiap kagum pada lukisan Ilahi ini karena pasar yang baru dijejakinya, dipayungi awan. Hanya awan. Seperti lautan.

“You right”, kata Alevtina yakin. Aku dan Alevtina mulai menjepret. Kepada Alevtina kuingatkan agar mengambil moment lebih banyak dan lebih cepat. Karena apabila matahari muncul, awan akan segera pergi. Awan sepertinya tahu bahwa waktunya sudah habis. Matahari menggantikan ruang dan waktu. Ouas mengambil foto, kami duduk memandang lembah Takengon diatas kerpe Belene Bur Gayo. Tak bicara, seolah tak ingin melepas kepergian awan yang mulai diusir cahaya matahari.

“Amazing.....”, ucap Alevtina hampir tak terdengar. Detik-detik kepergian awan karena digantikan mentari pagi, menimbulkan banyak bias cahaya yang terhalang pohon dan bangunan. Degradsi warna putih.

Cekatan , aku dan Alevtina kembali berdiri mengambil moment itu. Tak ada yang yang terlewat hingga setiap sudut kota Takengon dihias cahaya.Puas mengambil foto. Aku mengajak Alevtina menikmati penganan gutel, belah rum dan lepat gadung dibalik tulisan ‘Gayo Highlan”, tanpa hurup “D” karena diterjang angin atau karena kualitas bangunannya, entahlah.

“Win, gayo benar-benar indah. Sehingga semua sudut menjadi angle foto yang tidak pernah habis”, puji Alevtina. “Itu karunia Tuhan bagi bangsa Gayo”, jawabku. “Bangsa?”, tanya Alevtina agak heran memandangku seolah tak percaya dan meminta jawaban segera.

“Ya”, kataku lagi sambil menerangkan panjang lebar. Bangsa gayo, karena awalnya menurut kisah awan alekku, gayo memiliki bahasa dan budaya dan wilayah sendiri yang berada dalam kawasan Kerajaan Linge.

Sebagai sebuah kerajaan, Linge diatur dalam sebuah pedoman undang-undang dasar kerajaan yang terdiri dari 45 pasal. Meski berbentuk kerajaan, Kerajaan Linge, bukan sistim kerajaan, pewarisan tahta mahkota turun temurun hanya bagi keluarga raja. tapi republik mini.

Reje, dijaga dan diawasi oleh Imem, Petue dan rayat genap mupakat. Kekuasaan seorang Raja tidak bisa sekehendak nafsunya. Tapi didasari kesepekatan bersama, antara rakyat, Imam dan cerdik pantai. Musyawarah dan mupakat, dengan pertimbangan akhir seorang ulama. Didasari Alqur’an dan Hadis. Disebut dengan Sarak Opat.

“Itulah sebabnya, dari sekian banyak dan luas wilayah Aceh, gayo berbeda dengan Pesisir. Demikian halnya Alas, Aneuk Jamee dan yang lainnya”, rinciku. Alevtina mengangguk-angguk, entah mengerti atau tidak.

Akau meneguk beberapa degot kupi yang disiapkan Ine dalam termos kecil dengan tutup termos sebagai gelasnya. Aku menumpahkan sisa kopi, kemudian menuangkan segelas lagi untuk Alevtina,”minumlah kopi asli ini untuk menghangatkanmu”, kataku memberikan pada Alevtina.

Sambil minum dan berpangku pada kedua lututnya, Alevtina menatapku. “Win!”, kata Alevtina. Kata-katanya terdengar tegas dan penuh penekanan. “Ya”, jawabku menoleh padanya sambil menarik rokok kretekku.

Alevtina terus menatapku tajam. Aku agak kikuk juga. “Ada apa?”, tanyaku sedikit heran. “Something wrong.....?”, tanyaku lagi. “Sungguh aku merindukan saat –saat seperti ini . Duduk berdua bersamamu. Di tempat yang indah.

Aku seperti berada di alam mimpi, tapi ini nyata. Indah sekali”, ungkap Alevtina. Aku diam saja dan terus membiarkannya berbicara. “I feel so bluess..Win...”, ujar perempuan Rusia 25 tahun ini. Alevtina melempar pandangannya ke lembah Takengon. Di hulu sungai Pesangan dimana berdiri kota yang disebut ‘Negeri Antara”.

“Ya..inilah yang membuatku selalu rindu pulang ke tanoh tembuni ini. Aku sudah pernah hidup di berbagai kota di Jawa. Dengan berbagai pekerjaan dan posisi yang menghasilkan uang lumayan. Tapi entah kenapa aku selalu ingin pulang kemari. Ada yang menarikku selalu kemari...”, terangku.

“Disini, memang sulit soal keuangan. Tapi aku merasa hatiku ada disini. Walau hanya menjadi seorang petani kopi. Banyak dari kota ini yang menurutku masih misteri dan seperti magnet yang harus diungkap. Entah secara ilmiah atau bathiniah. Entahlah”, ujarku hampir tak terdengar.

“Win, bukan soal itu”, sergah Alevtina memegang tangan kananku. “Ini soal perasaan. Aku mencintaimu Win...” kata Alevtina mengguncang-guncang tanganku dan mnatap tajam mataku hingga ulu hati. Mak.Jantungku berdegup kencang tak menentu.

Alevtina kemudian diam tapi terus menatapku. Aku juga menatapnya. Kedua tangannya masih memagang tangan kananku . Tapi kemudian aku menunduk, pikirku menerawang entah kemana. Suara desir angin mulewasi daun pinus yang seperti jutaan jarum yang tertancap. Terdengar begitu jelas ditelingaku. Sir , desir berdeso....

“Tidakkah kamu merasakan apa yang kurasakan. Sejak berkenalan denganmu di jejaring sosial hingga saling mengirim email, perasaanku sudah jatuh kepadamu Win. Aku tidak bisa dan tidak mau mengingkari perasaanku. Aku mencintaimu Win.””, tegas Alevtina seraya melepaskan genggaman tangannya.

Aku masih tertunduk. “Itulah alasan kenapa aku mau menjadi relawan.Berharap bertemu denganmu secepat aku bisa. Aku meninggalkan Zelenodolsky , menempuh hampir delapan ratus kilometer menuju Rusia.Dari Rusia kemari, ribuan kilometer . Ikut ujian menjadi relawan, lulus kemudian berlatih tiga bulan. Semuanya demi bertemu denganmu Win. Apakah semua ini tidak cukup”, tanya Alevtina kepadaku.

Aku menatapnya. Dia juga. Akh, perasaanku terenyuh. Begitu besar pengorbanan perempuan cantik Rusia ini, aku membathin. Tudung tipis yang dililit sekadarnya di kepalanya, Syal, Jaket dan celana jins serta sepatu tingginya, membuat Alevtina begitu sempurna sebagai perempuan. Apalagi ditambah kulit putihnya serta mata biru. Seperti bayangan bidadari.

Aku menyentuh kepalanya yang dibalut tudung tipis itu. Alevtina kemudian memegang tanganku dan meletakkannya di wajahnya sambil menangis. Wah kacau, bathinku. Kubiarkan Alevtina menangis, agar perasaannya tumpah dengan bulir –bulir mutiara dari pelupuk mata indahnya itu.

Setelah agak reda. Alevtina mengelap air matanya dengan syal. Alevtina memegang tanganku. “Win,hal apa lagi yang harus kulakukan agar kamu yakin akan cintaku?’, tanyanya. Kami bertemu pandang kembali.

“Tidak ada!. Tidak ada lagi yang perlu kamu buktikan Alevtina”, tegasku. “Aku percaya akan rasa cintamu. Seperti juga perasaanku padamu. Aku sudah membaca perasaanmu padaku dari semua email yang kamu kirim. Seperti tentang lelaki di kotamu yang kamu benci karena suka minum-minuman beralkohol sampai mabuk dan lupa diri dan bisa berbuat apa saja”, kataku sambil berdiri.

Aku memantik api dan membakar rokok kretekku. Aku juga tahu perasaanmu saat kamu ceritakan tentang Ekaterina, sahabat karibmu yang menikah dengan David dari Canada. Aku paham bahwa kamu ingin mengatakan bahwa perkawinan beda negara, ras dan agama bisa bahagia. Walau perkenalannya hanya lewat dunia maya.

“Alevtina, tahukah kamu, aku lelaki paling bahagia saat ini. Kenapa?. Karena ada seorang perempuan cantik Rusia yang mencintai seorang kampung seperti. Aku tidak tahu apa yang menarik dariku sehingga membuatmu jatuh cinta”.

Inilah yang sesungguhnya sangat kutakutkan. Ada orang jatuh cinta padaku. Aku tahu, aku rasakan semua makna bahasa yang digunakan Alevtina . Bahasa seorang perempuan yang kasmaran. Tidak peduli lintas batas negara. “Yang kamu rasakan, sama dengan yang aku rasakan. Aku juga jatuh cinta padamu.Sejak awal perkenalan kita”, tegasku sambil kembali duduk didekat Alevtina.

“Aku lelaki normal Alevtina. Sangat normal. Aku juga memendam rasa untukmu hingga kau tiba di Aceh. Betapa bahagianya aku. Apalagi bisa dekat denganmu. Ingatkah kamu waktu kita naik becak Bang Din. Aku mencuri-curi pandang darimu. Seakan tak yakin kamu yang menaiki becak itu. Padahal sebelumnya kamu di Rusia sana”, cetusku.

“Alevtina, kamu tahu aku seorang Muslim. Jika menuruti nafsuku, aku tidak tahu apa sudah terjadi dan kulakukan padamu. Atas nama cinta, aku bisa saja sudah mengawinimu tanpa menikah. Alevtina, jika mengikuti pikiranku, aku tak ingin juga melepaskanmu.Tapi sebagai Muslim, ada batasan yang tidak bisa kulakukan padamu meski sangat ingin. Seperti kisah cinta di dunia yang berakhir hingga hubungan badan. Kemudian berpisah dengan mudah. Seperti dilakukan hewan”, ucapku memegang kepala Alevtina . Aku menutup rambutnya dengan tudung tipisnya kembali setelah ditiup angin.

“Tadinya aku ingin menapikan Ada batasan yang harus kulakukan. Kecantikanmu menggairahkanku. Meledakkan nafsuku hingga ke ubun-ubun. Aku tak mematikan nafsu itu. Tapi mengendalikannya hingga sampai waktunya. Cinta tidak buta. Cinta juga bukan nafsu belaka. Meski nafsu dijadikan alasan cinta sehingga ada pembolehan. Cinta yang sesungguhnya dalam agamaku, tercurah dan penuh setelah ijab qabul. Setelah menikah”, .

Aku memegang kedua lengan Alevtina dan memandang kedua bola matanya hingga menembus sanubarinya. Dia tertunduk tak kuat menatapku. Aku benar-benar ingin menegaskan padanya tentang cinta yang kupahami.

“Itulah sebabnya , sepanjang waktu bersamamu di Banda Aceh, di angkutan dan bahkan disini, pernahkah engkau ingat aku melakukan perbuatan buruk dan tercela. Sesungguhnya itu bisa kulakukan. Ada waktu dan kesempatan. Dan aku yakin kamu juga tidak akan menolak. Karena bahasa sukamu padaku sudah kubaca sejak awal. Dan mungkin dalam kamus cinta di tempatmu hal itu biasa dilakukan”,.

“Tapi semuanya tidak kulakukan. Karena alasan itu tadi.Cinta sepenuh hati, jiwa dan daya upaya itu baru dibuktikan setelah menikah. Diluar itu, aku takut karena sangat kuat ancaman hukumannya’.

“Ama dan Ine sengaja menyekolahkanku di sekolah agama. Meski aku bisa merantau kemana saja, tapi soal tindakan, do’a Ama dan Ine, harus selalu dijalur hukum yang kuyakini. Aku sadar, berduaan saja denganmu disini, orang ketiganya adalah syetan”, terangku.

Aku tidak peduli apakah Alevtina mengerti tentang syetan, alam akhirat kelak, soal dosa dan pahala.Surga dan neraka. Inilah kesempatan bagiku untuk menegaskan keyakinanku sehingga tidak timbul persepsi ganda dibenaknya tentang aku dan agamaku yang sering dicap negatif kaum barat. Aku juga ingin mengatakan bahwa cintanya tidak bertepuk sebelah tangan. Dan seolah tidak peduli dengan cintanya setelah semua pengorbanannya untukku.

“Begitu rumitkah Win?”, tanya Alevtina memelas. Aku membersihkan sisa air matanya. Menggunakan syalnya. Aku tersenyum untuknya. “Please, smile for me before i answer your question”, harapku.

Dia tersenyum. Kali ini lebih ikhlas tampaknya.sudut bibirnya naik keatas beberapa centi.Aku membidik kamera ke wajahnya. Tidak lagi minta ijin dan krek.krek.krek..., beberapa frame foto kuambil tepat diwajahnya.

Mesi dia berusaha mengelak dan menutup wajah sembabnya dengan syal.Terlambat sudah. “Alevtina, sebenarnya tidak rumit. Hanya saja orang tidak terbiasa dengan itu. Meski kuakui juga banyak muslim yang melakukan percintaan layaknya yang kalian lakukan di Barat sana. Bahkan mereka juga ‘mba’ (married by accident)”. Atau kawin terpaksa karena sudah hamil. Mereka salah mengartikan cinta dengan nafsu seks”, aku mengulas yang terjadi. Fakta.

“Sebagai lelaki normal. Betapa bergairahnya aku melihat wanita cantik sepertimu. Kata cintamu adalah modal bagiku untuk bisa berbuat apa saja. Termasuk soal sex. Bisa jadi aku mengatakan itu adalah cinta. Dan aku percaya , kamu akan memberikan semua yang ada pada dirimu.

Cinta yang kupahami bukan seperti itu. Aku akan berikan semua yang kumiliki untukmu. Cintaku ,sayangku, perlindungan, usaha dan termasuk kebutuhan biologis. Dan keturunan. Yang paling penting adalah membawamu bersama menuju surga. Dunia ini bukan akhir. Tapi permulaan hidup abadi nantinya...Insya Allah”.

“Aku semakin tidak paham Win”, balas Alevtina. Aku tersenyum kembali.Mengucek-ucek tudung tipisnya. “Kamu tidak perlu paham sekarang. Tidak perlu. Bagiku, inilah alasan mengapa aku seolah cuek dan tidak peduli padamu. Karena aku takut mengikuti nafsuku yang kusembunyikan atas nama cinta.

Alevtina, betapa bahagianya aku saat ini, ada orang yang menangis untukku. Terima kasih.....”. Aku menjauh darinya. Aku memang terharu dan bangga. Ada perempuan yang menangis untukku. Bangga sekali.

Hening beberapa saat, matahari semakin tinggi. Dari jauh aku memandangi Alevtina yang masih memeluk lututnya. Diam seribu bahasa. Entah apa yang dilamunkannya. Mungkin dia merasa pengorbananya yang datang dari jauh , Rusia-Aceh sia-sia. Tapi aku berharap, penjelasan tadi merubah persepsinya.

Itu pula yang kukagumi dari kebanyakan orang-orang dari Barat yang pernah berhubungan denganku. Komitmen dan melaksanakan komitmen. Tak peduli aral melintang. Kalau komitmen sudah dipancangkan, resiko bukan halangan.

Aku kembali ke tempat duduk Alevtina dan meraih tangannya untuk berdiri. “Kita duduk disana. Dibawah uyem besar itu”, kataku mengajaknya. Dia menurut. Karena kulihat matahari begitu kuat menyengatnya .

Cahaya matahari pagi menerpa wajahnya. Membuatnya sedikit terlihat merah dibalik syal. Aku mulai membuka pembicaraan kembali. Sisa penganan dan kopi kuhidangkan diatas tumpukan daun pinus yang berubah coklat. Dimakan usia.

Kakiku kuselonjorkan, demikian juga dia. Menyindirkan badan di pinus mercusi yang kutebak sudah berumur puluhan tahun. Kekayaan alam gayo yang tidak dimanfaatkan setelah berbagai perusahaan hph hengkang diusir konplik.

“Semuanya kini terserah padamu. Apa yang kamu rasakan sama dengan apa yang kurasakan. Tapi cinta sepenuhnya baru kuberikan dan kutunjukkan setelah menikah...”, ucapku lembut menoleh padanya.

“Haruskah aku juga mengikuti keyakinanmu, sebelum semua itu terlaksana?’, tanyanya. “Iya”, tegasku. “Tapi, aku tidak mau engkau memilih keyakinan itu karenaku. Karena cintamu padaku. Atau alasan lain hanya agar kita bisa bersama .Tapi karena kesadaran. Untuk itu, ambillah waktu dan pikirkan. Mungkin termasuk berkonsultasi dengan keluargamu”, balasku.

“Alevtina, bukan itu saja. Kamu juga harus memikirkan bagaimana hidup di Aceh setelah itu. Perbedaan kebudayaan,hidup, cara pandang hingga mungkin makanan. Semuanya harus disesuaikan. Karena bisa jadi itu persoalan baru nantinya. Dimana keinginanmu tidak bisa kupenuhi.Kuatkah kamu untuk semua itu..?”, ujarku berharap agar wanita Rusia yang renah rembune ini benar-benar berpikir secara ilmiah tanpa beban perasaan.

Termasuk perasaan cinta yang seringkali membuat orang tidak lagi berpikir ilmiah tapi dipenuhi emosi, emosi perasaan dan cinta sehingga melupakan fakta setelahnya yang terjadi. Baru menyesal kemudian.

“Apakah ini penolakan Win”. “Bukan, kamu salah Alevtina. Aku tak menolakmu. Aku menerimamu dan bahkan kalau mungkin menjadikanmu istriku. Agar cintamu dan cintaku sempurna. Dalam ikatan suci pernikahan”.

“Oke beautiful .Let us back home”, ajakku.”I don’t know Win. Everything feel so hard”, balasnya. “Seberat apapun, tidakkah lagi ada senyum untukku?”, candaku . Alevtina tersenyum . “It make world better “, tambahku mengucek rambutnya. Aku kemudian berlari dan Alevtina mengejarku. Pulang melewati keindahan Bur Gayo yang dipenuhi pinus berjalan kaki.”Win.........................”, pekiknya melengking.

-----

Sepekan setelah pulang kembali ke Rusia, sebuah surat elektronik kuterima dari Alevtina, alevtina@mail.ru. Aku sudah menduga-duga, apa yang akan dikatakan gadis berpostur sedang dan berhidung mancung ini. Dia akan mengatakan bahwa terlalu rumit dengan aturan hukum dari keyakinan yang kupegang. Karena tidak bisa mengikuti kehendak nafsu atas nama apapun. Cinta terhalang keyakinan.

Sehingga dia tidak mendapat peluk dan ciumku. Bukan cinta yang biasa dan tidak menarik. Tapi dugaanku meleset jauh. Surat itu begitu indah dan penuh makna. Tentang awal sebuah pemahaman dan kesadaran.

Inti suratnya kira-kira seperti ini...

“Win, saat bersamamu adalah saat-saat yang paling indah dalam hidupku. Awalnya pertemuan itu seperti mimpi. Tapi nyata. Yang menurutmu itu adalah takdir dan ada kekuatan yang Maha Besar dibelakang semua skenario yang terjadi.

Tadinya aku membayangkan pertemuan kita akan menjadi sesuatu yang indah dan penuh cinta. Berdua-duan dan bebas melakukan yang kita sukai. Menurutku itu adalah cinta. Meski itu tak kudapatkan, tapi aku menemukan banyak hal baru. Yang selama ini luput dari perhatian, pemikiran dan perasaanku.

Bukan saja tentang cinta tapi juga kekayaan makna tersembunyi dari sesuatu yang tampak. Aku belajar tentang hakikat. Entahlah win, aku terkadang masih mencampur semuanya menjadi satu.

Aku bertanya pada bapak tentang nama Ruslan dan keyakinan bapak sebelumnya. Menurut bapak, saat kecil, dia masih belajar tentang Islam dari kakek yang masih menjalankan syariat. Tapi aturan pemerintah Rusia Raya kala itu melarang semua keyakinan kecuali komunis. Di semua negara bagiannya yang kemudian pecah menjadi negara sendiri.

Bapak masih ingat beberapa ayat di memorinya. Ketika aku menyebut tentang hubunganku denganmu yang Muslim, bapak menyerahkan sepenuhnya pilihan padaku. Tapi ibu menolak dan merasa berat kalau harus berpisah dengannya. Bukan soal agama. Karena agama disini hanya dicatatkan, tidak dilaksanakan. Dan tidak masalah dengan itu.

Ibu membayangkan bagaimana hidup diluar Rusia. Dengan kebudayaan hingga makanan yang berbeda. Ibu kuatir sekali. Bahkan ibu sempat menangis. Aku mengatakan kepada ibu bahwa semua itu masih cerita dan aku masih bersama ibu disini. Ibu tersenyum dan memelukku. Seolah tidak ingin melepasku.

Win, cinta yang kupahami sangat berbeda dengan bahasa cintamu. Cinta dan kasih sayang hanya ada setelah menikah. Sementara disini, bila sudah ada kecocokan, apapun bisa dilakukan. Termasuk hidup bersama dan memiliki anak tanpa ikatan.

Disini, kami terbiasa dengan hidup sesuai keinginan dan akal. Agama tidak masuk dalam ranah ini. Selama perbuatan itu tidak menganggu orang lain, biasanya tidak ada yang peduli. Minum – minuman keras adalah kebiasaan dan gaya hidup.

Aku juga sering minum, meski tidak sampai mabuk berat. Pesta selalu diwarnai dengan minuman keras dan sex. Seperti yang pernah kuceriterakan bahwa banyak teman lelaki yang doyan mabuk dan tidak bertanggungjawab terhadap perlakuan setelah mabuk.

Sungguh aku tidak suka semua itu. Aku ingin hidup normal. Berkeluarga , memiliki anak dan masa depan yang jelas. Meski pemahamanku tentang hidup dan cinta berubah setelah bertemu denganku.

Hidup terasa berat disini jika tidak memiliki pekerjaan. Semuanya serba mahal. Itulah sebabnya berkeluarga menjadi hal yang sulit dilakukan disini. Banyak orang yang hidup tanpa berkeluarga hingga ajal menjelang.

Mengisi liburan dan mencari tempat berlibur diluar Rusia, merupakan semacam ‘ibadah’ yang wajib dilakukan. Hanya saat liburanlah saat yang indah dan ditunggu. Selebihnya adalah rutinitas yang membosankan sepanjang tahun. Kecuali musim salju, dimana aktipitas terhenti dan makan apa yang ada.

Biasanya dimusim salju inilah liburan dilakukan ke negara lain yang tidak memiliki musim salju seperti kawasan Asia. Dimusim salju, kebutuhan hidup sedikit lebih banyak karena harus menghidupkan pemanas sepanjang waktu.

Win, aku percaya bahwa ada cintamu untukku. Aku percaya itu. Matamu tidak akan pernah menipu dan berbohong. Sungguh aku bahagia mengetahui itu. Apalagi kemudian ada pengakuanmu perasaanmu yang sama denganku. Entah mengapa , meski tak menyentuhku, aku merasa senang dan damai.

Awalnya aku membayangkan akan mendapat peluk ciummu. Meski tak kuterima, tapi ada keindahan rasa disana. Aku coba memahami itu meski awalnya aku sangat kecewa. Tapi penjelasanmu tentang cinta yang engkau pahami, sungguh sangat berbeda.

Win, aku lupa, apakah aku sudah mengatakan cintaku padamu. Aku tidak perduli berapa kali sudah kunyatakan. Aku memang mencintaimu. Meski secara fisik kamu tidak kumiliki. Tapi secara perasaan , aku merasa kamu sudah menjadi milikku.

Win, aku pernah mendengar ungkapan cinta tidak harus memiliki. Apalagi kita dipisahkan ruang dan waktu. Tapi aku ingin itu sempurna. Cintamu ingin kumiliki. Kamu harus kumiliki. Itu tekadku.Tapi aku tidak tahu bagaimana caranya, tapi ada keinginan yang kuat untuk itu.

Saat ini aku sedang galau. Aku masih terkooptasi antara kebiasaanku dengan pemahaman dan kebiasaanku. Aku belajar dan coba membuka ruang untuk itu. Ruang yang lebih mendepankan perasaan dan hal yang bukan rasional.

Win, aku sedang berada di internet cafe, tidak jauh dari tempat kerjaku. Membuka foto dan semua hal tentang Aceh dan Gayo. Kotamu memang indah. Like a paradise. Tidak banyak kota serupa ini. Penduduk disana harus berkomitmen untuk menjaga dan melestarikannya.

Kopimu juga enak. Meski bukan pengopi, kini aku mulai suka kopi. Masih ada stok kopi yang kubawa dari gayo yang sering kami minum bersama wine Rusia . Peluk cium untukmu selalu. Alevtina.

-----

Surat elektronik Alevtina sungguh sangat membuatku bahagia. Bahagia karena kuduga Alevtina akan segera memutuskan hubungannya denganku karena cintaku tak biasa. Tanpa peluk cium dan uraian kata indah, seperti jamaknya orang yang kasmaran.

Meski aku siap untuk kata berpisah. Tapi sesungguhnya aku sudah mencintainya. Dengan caraku. Aku begitu takut kehilangan perempuan putih Rusia yang rambutnya hitam pekat. Aku menyadari bahwa perasaanku mulai menyukainya. Membayangkan tawa dan beberapa keistimewaan wanita asing ini. Cara matanya menatapku tak berkedip ...

Apalagi aku kerap memandangi fotonya yang kubuat 24 inchi saat Alevtina di Bur Gayo dengan jilbab tipisnya sehingga tampak Alevtina seperti perempuan arab yang berjilbab. Foto itu kubuat menyamping dengan hidung Alevtina tampak lebih menonjol kedepan.

Aku berharap dan berdo’a , Alevtina “berubah”. Hingga aku bisa mewujudkan kasih dan sayangku padanya secara halal. Aku ingin membuktikan bahwa cinta itu baru diterimanya penuh setelah ijab qabul. Apalagi Ama dan Ine begitu kuatir karena umurku sudah layak berumah tangga.

Belum lagi rambut keritingki serta jambang dan jenggot yang kubiarkan tumbuh tak terurus. “Ino Win, lagu nge tulu anakmu lagu noya. A kati gere mera jema urum ko...”, ucap Ine suatu kali. Aku hanya tersenyum pada Ine. Perempuan sabar yang tak pernah marah, meski 10 anaknya bisa dikuliahkannya dengan gaji gurunya.

Aku juga masih ingat kata Ama yang parlente meski sudah pensiun dari pns dengan sepatu putihnya yang selalu disemir, “Win, gelah stedi pora yah...”, kata Ama. Tapi aku lebih suka apa adanya. Karena menurutku yang paling penting adalah apa yang dibawah rambut dan dibalik wajah.

----

Perbedaan ruang dan waktuku dengan Alevtina, membuat suasana hanya terbangun berdasarkan imaginasi masing-masing. Aku berimaginasi, layaknya imaginer. Aku tentu saja bisa membayangkan keseharian Alevtina dari bangun hingga tidur lagi berdasarkan ceritanya yang kukonstruksikan .

Keadaan ini tentu saja bernilai positip karena aku merasa dekat bersama Alevtina. Entah dengan Alevtina. Disisi lain aku juga menekuni dunia jurnalistik yang salah satu syaratnya rela bekerja dibawah tekanan. Waktu berlalu.Dua dunia.

Malam berganti. Siang menjelang. Bahasa rotasi waktu tak banyak berubah. Tidak ada kejadian luar biasa setelah tsunami, kecuali rehab dan rekon dengan dana pinjaman asing yang berarti hutang, mengalir bak air bah ke Aceh.

Bahkan dana triliunan dari apbn, banyak yang kemudian dikembalikan ke pusat karena tidak cakap merancang kegiatan dan menggunakannya. Euphoria politik baru ala Aceh mengemuka. Dimana saat tidak ada jalan menjadi ‘raja’ di Aceh, dicetuskan partai lokal dan calon independen.

Pergerakan politik senjata dengan menjual nyawa dan api digantikan style baru. Orasi basi mengobral janji dan kata mutiara. Strategi gerilya digantikan kemahiran bersiasat, bermufakat dengan kekuatan jaringan kelompok hirarki sebagai jaringan komando. Bahasa diplomasi.

Mengikat cara memasukkan racun kepentingan dalam sistim dan akses uang dimulai. Menetek pada apbn,apba, dan atau apbk. Cara legal memanfaatkan keuangan negara, dengan atas nama.Lahirlah raja-raja kecil baru bak artis dengan berbagai kemewahan dan aksesoris dunia berlabel agama.

Muncul borjuis baru dengan batas jelas dengan kaum proletar di Aceh. Jurang pemisah yang dalam. Sementara pemerintah daerah gagal menciptakan sumber keuangan baru bagi pendapatan asli daerah. Kecuali hanya bergantung pada dau dan dak plus otsus. Menetek dan terus menetek.

Hasil bumi Aceh yang dieksport harus melewati Sumatera Utara yang menjadi daerah singgahan untuk eksport. Sumut meraup banyak uang dari Aceh. Demikian juga kebutuhan sembako hingga bahan bangunan serta kenderaan. Semua berbau BK.

Sejarah emas Aceh masa lalu digantikan pengisi sejarah baru yang berorientasi uang dan haus kekuasaan. Berjamaah menebar cara dan rembukan menggunakan uang negara secara syah untuk kelompok dan atau perorangan.

Rakyat, hanya menjadi pijakan untuk semua itu. Rakyat, disibukkan membangun ekonomi setelah dihancurkan politik Aceh yang bau amis darah. Sibuk membongkar tanah yang ditumbuhi rumput dan kayu kuel menanam kopi , berkebun kopi . Atau menyiapkan gorengan menjadi pedagang.

---

Beberapa bulan berlalu. Sebuah panggilan telepon datang dari Ama. Aku sungguh takut. Tak biasanya Ama telepon kalau tidak ada hal yang penting dan wajib. Pasti ada sesuatu yang besar. Begitu pikirku.

Ama menyuruhku pulang karena ada hal penting yang akan dia katakan. Lama aku berpikir disertai dugaan dugaan hal apa yang Ama katakan. Soal warisan, tidak mungkin. Kenapa tidak mengatakannya lewat telpon?.

Aku tak berani membantah kalau Ama yang berbicara. Apalagi menatap mata elangnya. Menusuk ulu hati. Menghakimi sebelum palu dipukulkan. Akupun pulang. Setelah makan pagi, kami duduk bertiga. Duduk semile dan Ine duduk timpuh.

Menu makan pagi ini terasa nikmat. Sangat tradisional gayo. Cecah agor diberi empan. Ada dememir masam jeng dipadu terpok dan kentang berbahan depik kering. Rasa kebas dari empan masih terasa ketika Ama membuka kata.

“Begini Win. Kam sepoloh bewene. Abang urum ngimu serta aka-akamu bewene nge meh i luahi.Tareng ko serengmu simujadi kewajiben kami. Kuliahmu nge selese. Buetmupe nge ara walope nume pegawai negeri”, kata Ama sambil mengepulkan asap rokok kreteknya.

Berrrrrrrrrrrrr, hati berdebar dan memahami maksud pembicaraan Ama. Aku masih menunduk tak berani memandang kearah Ama yang leluasa menyenter kami. Aku dan Ine . Ama menyirami kami dengan pandangannya seperti rentetan senjata laras panjang buatan Rusia dan Pindad yang dulu sering kudengar sangat dekat.

Meski perokok berat, dihadapan Ama, aku tak berani menyulutnya walau sangat ingin. “Aku urum Inemu, nge sawah panggilen ari Tanoh Suci. Ton ini, Insya Allah kami berangkat urum doani kam bewene.

“Jadi, belam beloh kenake, ko nge kami luahi”, pungkas Ama , sangat tegas. Aku tersentak. Wajah Alevtina tergambar jelas di benakku. Ama pergi , aku masih menunduk. Tinggal aku dan Ine. “Noooo, bening sana ken oya Win”, kata Ine memgang kepalaku. Akh..Ine selalu ada setiap kali masalah tiba. Bahkan dulu, aku sering tidur dipangkuan Ine .

Aku merebahkan diri di pangkuan Ine. Ine paham kalau keinginan Ama begitu mendadak. Tadinya, menurut Ine, Awan Alek yang akan menyampaikan hal ini. Tapi Ama takut aku berkelit dengan berbagai alasan. Untuk itulah Ama memintaku pulang.

“ Kune pongmu si ari Rusia mane?”, tanya Ine seolah tahu aku memiliki perasaan padanya. “Gere kubeteh ilen Ne. Seni we pe nge ulak ku kamponge. Cuge kukunei mulo Ne”, kataku tak yakin. Ine hanya diam. Sunyi dan senyap.

----

Tenggat waktu singkat yang diberikan Ama membuatku gelapan menghitung hari. Harus menikah sebelum Ama naik haji. Karena kata Ama, dia tidak tahu, apakah di tanah suci nanti masih pulang atau tidak. Karena kehidupan Tuhan yang tentukan. Untuk itulah Ama mendesak menikah sebelum menunaikan Ibadah haji.

Yang terlintas dipikiranku adalah memberi tahu tentang hal ini pada Alevtina. Tapi aku juga ragu, akankah dia bisa memahami dan menerimanya. Tidak ada kepastian,sebelum dinyatakan. Kutulislah sebuah surat panjang untuknya.

“ Salam..

Alevtina, surat ini kukirim setelah aku pulang ke gayo. Kepulangan yang mendadak. Ama memintaku pulang dan memberitahukan hal yang berat. Ine menitip salam untukmu yang disebutnya,”Beberu Mampat Belangi Ari Rusia”. Beautiful Woman from Rusia.

Alevtina, aku tak pandai mengungkap kata menjadi rangkaian kalimat penuh makna. Yang aku bisa hanya menyampaikan sebuah fakta. Tentang keinginan Ama. Ama ingin aku menikah sebelum beliau menunaikan ibadah haji.

Bur Gayo adalah saksi dari perasaan kita berdua. Tapi seperti yang pernah kuungkapkan, cintaku sepenuhnya baru akan nyata setelah pernikahan. Tak perempuan lain, yang kuikat dengan perasaan, selain kamu.

Ikatan perasaan kita memang gaib. Tidak nyata. Tapi ada kepercayaan disana. Begitu Ama memintaku menikah , yang tergambar diwajahku hanya kamu. Tiga bulan kedepan Ama akan berangkat haji.

Berarti ada limit waktu sekitar dua bulan untuk menikah. Bersediakah kamu menikah denganku?”. Itu kalimat penutup. Dan kukirimlah email itu. Aku menunggu balasan email Alevtina dengan cemas dan menunggu reaksinya.

Keesokan harinya, email dari Alevtina masuk. Ada perasaan berdebar manakala membuka email tersebut. Ini soal perasaan. Cemas seolah datang tak terbendung. Lamat kubaca setiap katanya. Teliti aku membacanya dan memaknainya dengan bahasa Inggrisku yang masih payah.

Aku coba menerjemahkannya sembari membuka google translate, meski makna terjemahannya terkadang bias. Tapi aku paham maksudnya. Begini bunyi surat Alevtina.

“ Untuk Win di Aceh

Membaca suratmu, aku kaget. Sumpah. Karena tidak kuduga permintaan menikah darimu datang tiba-tiba. Entah mengapa, air mata jatuh tak bisa kubendung. Terbayang saat bersamamu di Aceh dan di Gayo. Masih terngiang ditelingaku, naik becak bersama dengan lagu dangdut Rhoma Irama yang bertema pengembaraan.

Aku memang tak paham dan tak terbiasa dengan musik dangdut. Tapi makna yang engkau terjemahkan bisa kupahami. Pengembaraan seorang manusia. Pengembaraan memang dipenuhi tantangan dan ending yang kita tidak tahu akan bagaimana. Selalu ada kejutan.

Pengembaraan di dunia maya juga membuatku bertemu denganmu. Menjadi pertemuan nyata yang yang menyenangkan. Mungkin ini pengalaman terindah dalam hidupku. Aku masih mengkaji tentang makna hidup dan religi.

Kini ada kebebasan beragama di Rusia. Bahkan di Zelenodolsk sudah dibangun sebuah Mesjid. Rasanya aku ingin segera kesana dan menikah denganmu. Tapi tentu tidak semudah keinginan. Diperlukan banyak uang untuk bisa sampai ke kotamu. Belum lagi proses lainnya seperti perpindahan warga negara dan sejumlah persoalan lain. Aku mau Win. Tapi, saat ini tidak ada cukup uang. Win,Betapa bahagianya aku jika bisa menikah denganmu. Tapi soal waktu itu, sungguh aku tak bisa. Aku masih mencoba belajar tentang agamamu.Tadinya, tahun depan kalau uang tabunganku cukup aku ingin kembali mengunjungimu saat disini musim salju.

Tapi itu tak mungkin lagi kulakukan karena kamu harus segera menikah demi membahagiakan Ama. Kupastikan aku belum bisa menikah denganmu saat ini. Win , kita harus menghadapi kenyataan ini.

Ikatan orang tua dan anak begitu kuat disana. Aku percaya kamu ingin membahagiakan Ama dan Ine. Dan itu indah sekali. Betapa berartinya hidup saat kita mampu berbuat sesuai keinginan orang tua kita. Dan aku percaya ada kebaikan disana.

Win, penuhilah keinginan Ama dan Ine. Bahagiakan mereka. Aku sudah cukup senang bisa bertemu denganmu. Banyak hal yang kupelajari diam-diam darimu.Termasuk tentang cinta tanpa sentuhan dan ciuman.Juga tentang keindahan budi dan perasaan.

Kurelakan engkau pergi dariku. Tidak ada bekas negatifmu pada perasaan dan fisikku.Aku percaya cinta seperti ini baik. Entah kalau sudah menikah. Meski berat aku ihklas melepasmu tidak kumiliki secara fisik. Tapi belum tentu secara perasaan. Aku bisa menyimpan perasaanku padamu selama aku bisa.

Salamku untuk Ama dan Ine

Your Lovely

Alevtina.

Surat Alevtina, meski berisi kepastian melepasku, tapi terasa berat. Normal, aku ingin menikah dengannya. Tapi ruang dan waktu serta uang menjadi pemutus keinginan itu. Aku menyimpan kenangan itu.Sebulan sebelum Ama dan Ine pergi menunaikan haji, akupun menikah.

Paya Tumpi , Maret 2013.

Win Ruhdi Bathin

/winbathin

TERVERIFIKASI (HIJAU)

saya seorang penulis, belajar menulis.....suka memoto, bukan fotografer...tinggal di pedalaman Aceh sana. orang gunung (Gayo). Kini coba "bergelut" dengan kopi arabika gayo olahan
Selengkapnya...

KOMPASIANA ADALAH MEDIA WARGA, SETIAP KONTEN DIBUAT OLEH DAN MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.

Siapa Yang Menilai Tulisan Ini ?