Human Hub (Manusia Penghubung)

15 September 2012 03:36:02 Dibaca :

HUMAN HUB (MANUSIA PENGHUBUNG)



„Inspirasi Harian“ oleh Wikan Danar Sunindyo



Six degrees of separation (enam derajat pemisahan) adalah suatu ide atau teori bahwa jarak yang dibutuhkan untuk menghubungkan antara satu manusia dengan manusia lain di belahan dunia yang lain rata-rata tidak lebih dari enam langkah. Artinya, jika saya ingin menghubungi orang di suatu tempat (di Timbuktu, Afrika, misalnya), yang mana saya tidak kenal sebelumnya, saya bisa mempunyai teman, yang mempunyai teman, yang mempunyai teman, yang mempunyai teman, yang mempunyai teman, yang mempunyai teman dengan orang tersebut.



Teori menarik ini dikemukakan pada tahun 1929 oleh Frigyes Karinthy, seorang penulis asal Hungaria yang mengamati perkembangan penyebaran hubungan dan pertemanan di dunia seiring dengan perkembangan teknologi informasi dan komunikasi. Tempat yang dahulu susah dijangkau dan orang yang dulu susah untuk dikontak atau dihubungi, semakin mudah untuk dijangkau dan ditemui dengan adanya penemuan-penemuan teknologi transportasi seperti kereta api dan pesawat terbang yang „memperkecil“ jarak antara tempat yang jauh dan mempercepat perjalanan secara revolusioner. Penemuan teknologi informasi seperti telegram, radio, telepon, dan kemudian satelit dan internet, membuat orang menjadi makin mudah terhubung dan membuat dunia „menyempit“.



Teori „six degrees of separation“ inilah yang mendasari penelitian-penelitian selanjutnya di bidang sosial dan psikologi, namun terus berkembang juga di bidang informatika dan menghasilkan fenomena baru berupa social media, seperti facebook, twitter dan sebagainya.



Jika dirunut dan diteliti lebih lanjut, konsep six degrees of separation ini tidak sepenuhnya berlaku merata untuk semua orang. Penelitian yang dilakukan oleh Stanley Milgram, seorang psikolog sosial pada tahun 1967 membuktikan bahwa terdapat orang-orang atau sosok-sosok tertentu yang mempunyai tingkat keterhubungan lebih tinggi daripada orang lain. Penelitian ini melibatkan 160 mahasiswa di Nebraska yang diminta untuk mengirimkan surat kepada orang-orang yang diasumsikan mempunyai kedekatan secara sosial kepada seorang pialang di Boston yang mereka belum kenal sebelumnya. Surat-surat itu dilewatkan melalui orang lain, demikian seterusnya sampai mencapai sasaran. Temuan menunjukkan bahwa separuh dari surat itu dikirimkan melalui tiga orang teman dari sang pialang. Artinya ada orang-orang tertentu yang mempunyai tingkat keterhubungan lebih tinggi daripada orang lain, dan orang ini disebut sebagai human hub, atau manusia-manusia yang mempunyai tingkat hubungan yang (sangat) tinggi.



Dalam pergaulan, kita bisa mengamati ada orang-orang yang mempunyai teman lebih banyak daripada kita, ada orang yang lebih mudah bergaul, disukai oleh orang lain, dan bisa menghubungkan antara satu orang dengan orang lain. Orang itu tidak harus selalu seorang yang berkuasa atau mempunyai kedudukan yang tinggi, bisa juga seorang yang mempunyai kedudukan yang biasa-biasa saja. Bukan berarti dia kenal semua orang, tapi semua orang bisa kenal dia dan tahu kepada siapa mereka mencari tahu untuk menghubungkan kepada orang lain.



Jika dalam bisnis kita kenal ada yang namanya makelar atau broker sebagai profesi, seorang human hub adalah seorang konektor yang natural dan tulus, tidak mengambil keuntungan finansial secara pribadi dengan kemampuannya yang lebih itu, tapi dia bisa mendapatkan keuntungan melalui orang-orang yang dibantunya tanpa menetapkan tarif.




***

BERTINDAKLAH! Jalinlah silaturahmi dengan orang lain, jadilah human hub yang menghubungkan antara satu manusia dengan manusia yang lain. Cara untuk menjadi human hub yang dicari oleh orang lain adalah (1) dengan meningkatkan kompetensi kita (melalui belajar, berlatih, mencoba, berusaha, dan lain-lain, dan (2) dengan memperluas wawasan dan pergaulan kita dengan orang-orang dari berbagai latar belakang, bidang dan kemampuan. Tidak ada orang yang bisa menguasai seluruh kemampuan saat ini, maka cara yang terbaik untuk meningkatkan efisiensi dan kompetensi adalah dengan bekerja sama dengan orang-orang terbaik di bidangnya, dan rizki akan mengalir melalui tali-tali silaturahmi yang dihubungkan oleh orang-orang yang terbaik yang menjadi pakar di bidangnya.

Wikan Sunindyo

/wikan

Wikan Danar Sunindyo, seorang pembelajar, saat ini tinggal di Wina, Austria.
Selengkapnya...

KOMPASIANA ADALAH MEDIA WARGA, SETIAP KONTEN DIBUAT OLEH DAN MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.

Siapa Yang Menilai Tulisan Ini ?