PILIHAN HEADLINE

Haruskah PSSI Membatasi Kuota Pemain Senior pada ISL 2017?

11 Januari 2017 15:47:28 Diperbarui: 12 Januari 2017 11:42:55 Dibaca : Komentar : Nilai : Durasi Baca :
Haruskah PSSI Membatasi Kuota Pemain Senior pada ISL 2017?
Ilustrasi logo ISL (bolanasional.co)

Ada cukup banyak hal yang dibahas dan diputuskan pada Kongres PSSI yang baru saja berlalu. Rencana pembatasan kuota pemain senior di setiap klub peserta Indonesia Super League (ISL) 2017 menjadi salah satu kebijakan yang coba digulirkan oleh PSSI sebagai salah satu kebijakan yang disampaikan pada Kongres PSSI tersebut. Sementara kebijakan lainnya adalah penggunaan pemain asing dengan rumus 2+1 (2 pemain asing dari negara di luar Asia, dan 1 pemain harus berasal dari Asia); juga kewajiban untuk mengontrak minimal 5 pemain U-23, dengan syarat 3 pemain wajib dimainkan setiap kali pertandingan dilaksanakan. 

Selain untuk menyemarakkan kompetisi, tampaknya PSSI menginginkan agar proses regenerasi pemain dapat berjalan melalui para kontestan ISL 2017, yang nantinya diharapkan dapat meningkatkan kualitas pada pemain muda di Indonesia. Kondisi yang akan berdampak positif bagi tim nasional Indonesia, karena akan ada cukup banyak stok pemain dari usia muda sampai senior.

Nah, dari tiga rencana kebijakan yang baru dipelajari oleh para klub peserta ISL 2017, rencana pembatasan jumlah pemain berusia di atas 35 tahun. Rencana kebijakan ini menimbulkan pro dan kontra, baik dari kalangan pelatih maupun pemain, termasuk para pemain muda yang sempat diwawancarai oleh salah satu stasiun televisi nasional. Ada yang setuju, ada yang menolak, atau yang memilih untuk mengikuti saja kebijakan yang ada demi kebaikan bersama.

Perbandingan Usia para Pemain di Premier League
Saya pun coba membandingkan dengan kondisi yang terjadi pada tim-tim yang berlaga di Premier League. Mengapa bukan liga yang lain seperti Serie A, La Liga, atau Bundesliga? Saya menilai Premier League masih menjadi liga tersulit yang menuntut kondisi fisik yang prima dari para pemainnya. Alasan inilah yang membuat saya 'angkat topi' dengan para pemain yang masih aktif bermain, sekalipun usianya sudah tidak muda lagi, khususnya mereka yang berusia 35 tahun pas atau lebih dari 35 tahun.

Klub Manchester United contohnya, kalau kita menelusuri dari daftar pemain First Team yang berlaga pada musim 2016/2017, hanya ada dua pemain yang berusia uzur, yakni Zlatan Ibrahimovic dan Michael Carrick yang berusia 35 tahun, sementara yang berada pada range usia 30-34 tahun ada empat pemain, yakni Wayne Rooney, Antonio Valencia, dan Ashley Young (ketiganya lahir pada tahun 1985) dan satu lagi tercatat atas nama Bastian Schweinsteiger, pemain kelahiran 1984 ( berusia 32 tahun). Selebihnya, para pemain MU ada dalam range usia 18-30 tahun.

Secara keseluruhan, berdasarkan data yang saya himpun dari berbagai sumber, status pemain tertua yang masih aktif bermain di Premier League menjadi milik Shay Given. Kiper Stoke City tersebut mengawal gawangnya saat melawan Crystal Palace dalam usia 40 tahun lebih! Sementara nama-nama lain yang sudah cukup uzur untuk ukuran pemain yang masih aktif di Premier League antara lain: Artur Boruc (Goalkeeper/AFC Bournemouth/36 tahun), John Terry (Defender/Chelsea/35 tahun). Petr Crouch (Striker/Stoke City/35 tahun), dan Gareth Barry (Midfielder/ Everton/35 tahun). Nama yang terakhir sudah menembus pertandingan ke-600 dalam karier profesionalnya sebagai pesepakbola hingga akhir tahun 2016.

Jika ditilik berdasarkan rata-rata usia pemain dari 20 kontestan Premier League, Tottenham Hotspur layak menepuk dada karena Hotspurs memuncaki klasemen rata-rata pemain termuda, yakni 25,5 tahun. Sementara pada posisi kedua sampai kelima menjadi milik Southampton (26,1 tahun), Sunderland (26,4 tahun), Liverpool (26,4 tahun), dan Arsenal (26,6 tahun). Namun, jika dibandingkan dengan beberapa liga top lainnya, masih di Benua Eropa, 'prestasi' Hotspur masih kalah dengan Nice (Ligue 1/23,3 tahun), Freiburg (Bundesliga/24,2 tahun), dan Valencia (La Liga/ 25,0 tahun) di mana ketiga klub tadi juga memuncaki klasemen di liga masing-masing sebagai klub dengan rata-rata usia pemain paling muda di antara kontestan lainnya.

Apa yang Bisa Diharapkan dari Pemain Senior?
Menghilangkan sama sekali pemain senior (sebutan yang lebih enak dibaca daripada uzur) bukanlah keputusan yang bijak. Dalam sebuah tim, entahkah tim sepak bola, basket, atau olahraga beregu lainnya, keberadaan pemain senior sangat diperlukan. Memang, para pemain senior sudah tidak secepat ketika mereka masih muda, tetapi dari segi pengalaman bertanding, tak bisa dibantah atau diabaikan.

Para pemain senior juga dapat menjalankan fungsi sebagai panutan atau figur yang bisa 'menyatukan' para pemain yang lebih muda, yang kerap kali cenderung didominasi oleh egonya. Para pemain senior juga bisa menularkan ilmunya kepada para pemain yang masih muda, dengan harapan supaya kelak mereka jauh lebih hebat ketika mereka tiba pada masa keemasan. Tengoklah bagaimana Ibrahimovic dan Michael Carrick masih memberi pengaruh besar bagi keseimbangan dan keganasan permainan Manchester United. Jangan lupakan pula sosok John Terry yang masih berpengaruh kuat, baik di lapangan maupun di ruang ganti pemain.

Pertanyaan lain yang sering muncul, "Apakah para pemain senior tidak bisa menjadi penentu hasil akhir pertandingan?" Jangan underestimate dulu! Sejarah mencatat bahwa beberapa pemain 'berumur' terbukti menjadi penentu yang membawa kemenangan bagi tim yang mereka bela. Atau sekalipun tidak menjadi penentu, kehadiran mereka tetap berpengaruh besar dalam tim yang dibela.

Untuk menjawab pertanyaan di atas, tepat menjelang pergantian tahun 2016/2017, laman online msn.com menampilkan beberapa nama pemain yang masih menjadi sosok yang menentukan bagi hasil akhir pertandingan timnya. Frasa 'hasil akhir pertandingan timnya' tidak selalu berarti mencetak gol kemenangan. Pemain yang dimaksud bisa saja tidak mencetak gol tetapi ketidakhadirannya akan melemahkan kekuatan tim dengan sangat signifikan.

Beberapa nama yang dimaksud antara lain: Gianluigi Buffon (Juventus/38 tahun), Pepe (Real Madrid/32 tahun), Andrea Barzagli (Juventus/35 tahun), Gabi (Atletico Madrid/32 tahun), Petr Cech (Arsenal/34 tahun), Xavi Alonso (Bayern Munich/35 tahun), dan David Villa (New York City FC/35 tahun).

Kembali pada rencana kebijakan PSSI....
Nah, kesimpulan saya terkait wacana PSSI untuk membatasi jumlah pemain, secara pribadi kurang setuju jika harus dipaksakan. Biarlah 'seleksi alam' yang terjadi, ketika para pemain senior itu memang sudah tidak lagi mampu bermain (bersaing) dengan para pemain muda lainnya, toh juga akan berhenti sendiri. Mungkin klub-klub peserta ISL bisa meniru kebijakan yang sering diberlakukan untuk para senior di berbagai klub di kompetisi utama Eropa. Mereka kebanyakan diberi 'jatah' hanya 1 tahun kontrak, dan hanya sedikit yang diberi kontrak 2 tahun, dengan opsi perpanjangan melihat kondisi dan kemampuan sang pemain. 

Namun, jika akhirnya palu harus diketok dan kebijakan harus berjalan, setidaknya berilah waktu 1-2 tahun sebelum dijadikan peraturan resmi yang mengandung konsekuensi bagi yang tidak mematuhinya. Namun, langkah PSSI untuk memberi waktu para peserta ISL agar dapat mempelajari kebijakan dan diizinkan menyampaikan pendapat juga patut diapresiasi.

Semoga dalam waktu dekat, ketika keputusan harus diambil, PSSI di bawah komando Bapak Edy Rahmayadi dapat mengambil keputusan yang bijak, tepat, dan bisa diterima oleh semua pihak dengan legowo. Terlebih dari itu, kita semua berharap agar kompetisi berjenjang bisa dikelola dengan lebih profesional, dari berbagai kelompok usia, sehingga ke depan, keinginan dan impian untuk menjadi 'raja' di Asia Tenggara, dan (bukan tidak mungkin) Asia, bahkan lolos ke Piala Dunia dapat segera terwujud. Doa dan harapan saya, semoga ke depan persepakbolaan nasional menjadi lebih baik.

Bravo sepak bola Indonesia!

Widodo Surya Putra

/widodo.surya.putra

Anda bisa memanggil saya dengan "Widodo" atau "Kak Ido". Saya tinggal di Delanggu, Klaten, bekerja di Penerbit ANDI Yogyakarta sebagai EDITOR. Bersama seorang teman, saya telah menerbitkan 2 buku berjudul: Dari Jomblo Sampe Merit (2015) dan Unforgettable Jomblo (2016), diterbitkan oleh Penerbit ANDI Yogyakarta. Melalui akun di Kompasiana ini, saya hanya ingin "menyalurkan" hobi menulis, dengan harapan dapat bermanfaat bagi para pembaca (Kompasianer). Selamat membaca dan selamat berteman!
Selengkapnya...

KOMPASIANA ADALAH MEDIA WARGA, SETIAP KONTEN DIBUAT OLEH DAN MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.

NILAI :

Daftarkan email Anda untuk mendapatkan cerita dan opini pilihan dari Kompasiana