Widodo Surya Putra
Widodo Surya Putra karyawan swasta

Biasa dipanggil "Widodo" atau "Ido". Arek Suroboyo asli, sekarang berdomisili di Delanggu, Klaten. Pernah ingin menjadi wartawan olahraga, tetapi nggak kesampaian, malah jadi redaktur. Belajar "orek-orek" sejak 2002 silam dan masih akan terus belajar hingga akhir hayat. Melalui akun di Kompasiana ini, saya ingin berbagi sekaligus menyalurkan pemikiran dengan harapan dapat bermanfaat bagi para pembaca (Kompasianer). Selamat membaca dan selamat berteman!

Selanjutnya

Tutup

Olahraga highlight

Nasib Olahraga Indonesia: Bangkit atau Semakin Terpuruk!

5 September 2017   17:10 Diperbarui: 5 September 2017   18:57 1229 1 0
Nasib Olahraga Indonesia: Bangkit atau Semakin Terpuruk!
Ilustrasi kampanye INDONESIA BISA (AyoIndonesiaBisa/CLEAR)

Maafkan jika saya masih menyoal jebloknya prestasi kontingen Indonesia pada Sea Games Kuala Lumpur 2017 lalu. Mengapa? Karena catatan sejarah itu akan terukir sepanjang masa, menandai periode kelam olahraga nasional yang harus dialami oleh bangsa Indonesia. Kondisi yang sekalipun bikin ngelus dada, tetapi terasa sayang sekali untuk dilewatkan tanpa adanya sedikit catatan mengenai hal tersebut. 

Oke, saya akan memulai artikel ini dengan satu pertanyaan: 

"Menurut Anda, faktor apakah yang membuat kontingen Indonesia hanya menduduki peringkat kelima dalam Sea Games Kuala Lumpur 2017 lalu? Lantas, apa yang bisa diperbaiki demi prestasi olahraga nasional pada masa mendatang?"

Budiarto Shambazy, dalam wawancara di Metro TV beberapa hari lalu, tepatnya 1 September 2017, mengatakan, "Kegagalan Indonesia dalam Sea Games 2017 adalah 'Blessing in Disguise' yang harus ditindaklanjuti."

Kegagalan prestasi sejak Sea Games 1993 di luar Indonesia, lanjut Shambazy, sepertinya sudah membangunkan semua pihak sehingga Presiden Joko Widodo pun berjanji akan mengadakan evaluasi besar-besaran terhadap olahraga Indonesia.

****

Menurut analisis saya, ada tiga faktor besar yang menurut saya menjadi penyebab merosotnya olahraga Indonesia selama beberapa dekade terakhir: PERTAMA, kurangnya minat untuk menekuni olahraga karena masa depan yang tak menentu dan range usia emas para atlet yang pendek (maks. usia 30-an). Solusi yang disampaikan oleh Imam Nahrawi selaku Menpora, pada acara yang sama, antara lain beliau menyampaikan mengenai janji untuk mengangkat para atlet peraih emas di Sea Games 2017 sebagai Pegawai Negeri Sipil (PNS). Ada pula janji untuk memberikan rumah bagi para atlet berprestasi.

KEDUA, kurangnya komitmen untuk menyiapkan para atlet sejak dini, juga kurikulum minimnya perhatian seputar olahraga prestasi di kurikulum sekolah-sekolah di Indonesia. Solusinya tak lain adalah komitmen ulang untuk memulai aksi nyata dalam menyiapkan para atlet sejak dini. Selain itu, perlunya evaluasi ulang kurikulum tentang olahraga prestasi di sekolah-sekolah. Saya setuju sekali dengan ide ini, karena sudah menjadi "rahasia umum" jika olahraga masih menjadi "anak tiri" di sekolah-sekolah, sekalipun tidak bisa disamaratakan terjadi di semua sekolah.

Pertanyaannya:

Berapa banyak sekolah menaruh olahraga sebagai "mata pelajaran" (mapel) yang dianggap setara dengan mapel lainnya? Prestasi siswa di ajang olahraga apakah sudah setara (pengakuan dan penghargaan) dengan prestasi di mapel populer, seperti matematika atau IPA? Berapa banyak sekolah atlet yang berjalan dengan sistem yang terstruktur, profesional, dengan dukungan dana kuat dan jenjang kompetisi yang jelas mulai tingkat daerah hingga pusat? Berapa banyak perusahaan juga telah memberi perhatian serius terhadap prestasi olahraga, seperti misalnya, yang dilakukan oleh Djarum Kudus dengan PB Djarum-nya?

Sekadar info, PB Djarum saja, yang sudah serius dalam membina para calon atlet daerah dan nasional pun, belum lama ini mengeluhkan kurangnya mental juara dari para calon atlet muda yang mereka bina, bagaimana yang masih asal-asalan? Silakan terka jawabannya, atau Anda mungkin sudah tahu jawabannya.

KETIGA, kurangnya perhatian pada cabang olahraga (cabor) prestasi, khususnya cabor perorangan. Jika disuruh memilih, siaran cabor mana yang akan ditayangkan langsung oleh stasiun TV nasional, jika dalam waktu bersamaan ada lima final untuk cabor sepak bola, atletik, senam, angkat besi, dan bulu tangkis, cabor pertama dan terakhir tentu akan menjadi prioritas dan tiga cabor lainnya akan diabaikan. Hal yang sama untuk porsi berita di media cetak atau media online.

Simaklah di kolom berita bagian olahraga dari media cetak atau media online, lalu cermatilah perbandingan porsi berita sepak bola, basket, balap motor (mobil), bulu tangkis, dan beberapa cabor "tak populer" seperti atletik, senam, renang, catur, atau korfbal--ada yang belum tahu korfbal itu olahraga apa?

Anda akan menemukan porsi yang "njomplang" terutama jika cabor sepak bola dibandingkan dengan beberapa cabor lainnya. Jangankan cabor renang atau korfbal, untuk cabor basket pun saya pernah "ngelus dada" karena sukar sekali mencari beritanya, bahkan di media online sekelas detik.com dan juara.net, beritanya lumayan sepi! 

Sekadar ingin cek, sejauh mana Kompasianer mengetahui bahwa pada Sea Games 2017 lalu, Timnas Bola Basket Indonesia Putera berhasil meraih medali perak (kalah dari Thailand), sedangkan Timnas Bola Basket Indonesia Puteri mendapat perunggu setelah mengalahkan Singapura pada laga terakhir? Dugaan saya, tak banyak yang tahu, apalagi menonton pertandingannya. :-) 

Semoga jika evaluasi olahraga secara nasional dilakukan, upaya perbaikan dari sisi pemberitaan olahraga juga tak luput dari perhatian--apa harus para Kompasianers yang beraksi? :-)

MENCARI SOLUSI BERSAMA, BUKAN SALING TUDING DAN SALING MENYALAHKAN

Rencana Presiden Jokowi untuk melakukan evaluasi besar-besaran terkait merosotnya prestasi di Sea Games 2017 lalu patut didukung dan ditunggu hasil dan realisasi dari keputusan-keputusan yang akan diambil. Langkah Presiden sangat tepat, untuk mencari solusi yang terbaik bagi masa depan olahraga nasional. Tentu saja, akan ada pihak tertentu yang akan dimintai pertanggungjawaban, semisal dari Kemenpora, KONI, dan Satlak Prima, sebagai mitra pemerintah dalam urusan keolahragaan nasional.

Kita berharap dalam pertemuan tersebut akan muncul solusi-solusi kreatif, terukur, dan bisa segera diaplikasikan, bukan deretan dalih dan alibi mengenai kegagalan di Sea Games 2017, lalu saling menyalahkan antar lembaga sehingga keributan justru terjadi. Setelah itu, solusi demi solusi yang muncul dapat segera disosialisasikan, lalu diwujudkan menurut kebutuhan cabor masing-masing, juga melibatkan para pengurus di tingkat pusat hingga daerah.

Jika ada pimpinan lembaga yang harus dievaluasi kinerjanya, mundur atau diberhentikan dari jabatan rasanya bukanlah kebijakan yang tepat, karena kondisi yang kita alami sekarang adalah buah dari kurang bagusnya (buruknya) manajemen keolahragaan nasional selama ini. Mengapa? Karena, jika sistemnya tak kunjung diperbaiki dan sasaran hanya jangka pendek, maka siapa pun pelatihnya, siapa pun Menpora-nya atau siapa pun Ketua KONI-nya, bahkan siapa pun atletnya, prestasi olahraga kita di tingkat internasional masih akan jalan di tempat, bahkan semakin merosot!

Harapan saya, jika nantinya evaluasi dilakukan, hendaknya ditujukan untuk jangka panjang, minimal 10-20 tahun ke depan, bukan untuk "prestasi dadakan" pada ajang Asian Games 2018 di Jakarta dan Palembang. Siapakah yang berperan dalam mewujudkan harapan ini? Semuanya! Bahkan bagi saya, peran orangtua pun juga diperlukan, guna mendampingi dan mendukung putera-puterinya agar meraih prestasi setinggi mungkin dalam cabang olahraga yang disukai oleh mereka. 

Mari doakan bersama supaya "tragedi" Sea Games 2017 lalu benar-benar bisa menjadi blessing in disguise (berkah di balik tragedi) bagi bangsa kita. Ini waktunya perbaikan serius dilakukan, demi pulihnya dan tegaknya nama baik Indonesia di kancah internasional. Sekarang atau tidak sama sekali! Bangkit atau semakin terpuruk!

Salam olahraga.

-wsp-