Wido Cepaka Warih
Wido Cepaka Warih Pekerja sosial

Saat ini belajar di Pokja Papua. Suka bertualang, pembelajar, pernah menjadi guru setahun di pelosok, pemerhati masyarakat dan sosial, pernah berkecimpung dalam pendampingan pulau terluar, mendampingi kelompok pengelola desalinasi RO, kelompok usaha ekonomi produktif dan kelompok masyarakat dalam mengelola pembangkit listrik tenaga surya di Pulau Larat, Maluku Tenggara Barat. Mengisi dan mengabarkan hal positif melalui laman widocepakawarih.com

Selanjutnya

Tutup

Puisi

Sore Itu Dua Ribu Enam Belas

18 Februari 2017   01:02 Diperbarui: 18 Februari 2017   02:20 96 1 0

Kepada sang pencumbu negeri

Sore itu dua ribu enam belas

Kami dipertemukan dalan suasana ceria

Tanpa tahu kamu sapa aku siapa


Sore itu dua ribu enam belas

Kami mulai menyapa, entah siapa yang memulai


Sore itu dua ribu enam belas

Kami disatukan dalam wadah untuk menyelami sendi pulau terdepan

Menjadi keluarga dan sahabat tangan mulia


Sore itu dua ribu enam belas

Kami melewati masa kebersamaan yang begitu singkat

Tapi kami saling mengerti arti kebersamaan

Toh nanti akan datang masanya


Sore itu dua ribu enam belas

Satu persatu mulai masuk ke peraduan, menelusuri jejak matahari terbenam

Menuju titik kisaran 1 cm di peta skala 1: 2.500.000


Sore itu dua ribu enam belas

Tidak terasa kami melalui ragam purnama dengan beragam cerita

Ketahuilah sahabat, hal apa yang paling membahagiakan sore itu

Ya, mendengar kabar dari kalian semua

Ada yang sedang menikmati senja di rumah peraduan di kota

Ada yang membersamai sabuk nusantara

Ada yang sedang menunggu datangnya si kapal putih

Sore itu dua ribu enam belas

Kami akan segera mencumbui pulau kami lagi

Doa dan izinkan kami membersamai tanah ini

Dalam cerita dan jejak ukiran masing-masing


Sore itu dua ribu enam belas

Ditutup senja merah menawan dalam titipan Merkurius