HIGHLIGHT

Terompet Mampu Biayai Sekolah Enam Anak

31 Desember 2011 10:01:25 Dibaca :

Bagi Pak Maja dan keluarga, pergantian tahun adalah masa paling dinanti. Pesta malam tahun baru yang selalu dirayakan orang, menjadi lumbung rejeki baginya. Pak Maja adalah pedagang sekaligus perajin terompet. Setiap tahun ia menggelar dagangannya di atas trotoar, di pinggir Jalan Saranani, Kendari, Sulawesi Tenggara, seperti tahun ini. Tahun 2012 akan tiba dalam hitungan beberapa jam ke depan. Saat saya memilih-milih terompet di warung Pak Maja, saya bisa merasakan antusiasme dan optimisme Pak Maja dan isterinya. “Pokoknya hari ini kami di sini sampai pagi,” kata sang isteri dengan senyum mengembang. Ia terlihat sibuk memotong-motong kertas warna-warni sambil melayani pembeli. Terompet-terompet yang dijual di lapak itu memang relatif lebih murah dibanding pedagang lain, yakni di kisaran sepuluh ribu rupiah hingga dua puluh ribu rupiah. Itu karena Pak Maja dan isteri membuat sendiri terompetnya, dibantu oleh anak-anaknya. Bermacam bentuk terompet, dari mulai bentuk standar kerucut, bentuk ular naga hingga bentuk ayam, adalah hasil kreasi keluarga Pak Maja. Tak hanya terompet, Pak Maja juga memproduksi topi kerucut warna-warni yang sangat menarik. Dengan kreativitas tinggi, Pak Maja menggunakan kertas-kertas karton bekas, plastik botol susu dan tikar sebagai bahan utama terompet. Sementara untuk kertas pelapis luar yang warna-warni, ia mendatangkan dari Makassar dalam jumlah besar sehingga harganya bisa lebih murah. Produknya yang bagus, membuatnya sering mendapat pesanan untuk perayaan pesta pejabat-pejabat daerah setempat. Tak sedikit pula para pedagang lain yang mengambil produk terompet Pak Maja untuk dijual kembali di sudut-sudut jalan Kota Kendari. Pak Maja dan isteri bahkan sampai tidak ingat dari mulai tahun berapa mereka menggeluti usaha terompet tersebut. Bagi mereka, usaha terompet adalah rutinitas tahunan yang bahkan sudah harus mereka kerjakan produksinya sejak empat bulan sebelum pergantian tahun. Sementara di delapan bulan lainnya, Pak Maja hanya mengandalkan pemasukan dari kios kecil tak jauh dari ia berjualan terompet. “Anak saya ada enam, merekalah yang tiap hari membantu membuat terompet,” jelas Pak Maja. Siapa sangka apabila hasil usaha terompet tersebut mampu membiayai enam orang anak Pak Maja. Hal itulah yang menjadi kebanggaan Pak Maja, ia pun merasa terompet telah menjadi pilihan hidupnya. Bagi saya, sosok seperti Pak Maja adalah sosok yang luar biasa. Keuletan, kerja keras serta kreatifitas terbukti membawa berkah. "Semoga tahun 2012 membawa keberuntungan," demikian harapan Pak Maja, yang tentu menjadi harapan saya dan setiap orang dalam menatap tahun depan.

Widi Kurniawan

/widikurniawan

TERVERIFIKASI (HIJAU)

"Aku tidak menyebut saya dengan gue"

-------------- www.cintalorenz.com

--------------Follow @maswidik

Selengkapnya...

KOMPASIANA ADALAH MEDIA WARGA, SETIAP KONTEN DIBUAT OLEH DAN MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.

Siapa Yang Menilai Tulisan Ini ?