FEATURED

Pedagang Petualang, dari Terompet Hingga Cangkul

31 Desember 2010 14:28:24 Diperbarui: 30 Desember 2016 00:02:12 Dibaca : Komentar : Nilai : Durasi Baca :
Pedagang Petualang, dari Terompet Hingga Cangkul
Ilustrasi: kfk.kompas.com

Wajahnya terlihat lusuh dan gelap. Kumisnya agak lebat tak tertata rapi. Kepalanya tertutup sebuah topi kumal berwarna merah. Demikian juga kemeja putih gombrongnya, sudah jauh dari kesan bersih. Pria itu beranjak berdiri dari posisi duduknya di tanah ketika aku datang menghampirinya.

“Berapa harga terompetnya, Pak?” tanyaku.

“Yang mana Mas? Yang itu lima ribu, yang ini sepuluh ribu...” jawabnya menunjuk terompet kertas berbentuk memanjang.

“Kalau yang bentuknya seperti keong ini?”

“Oh, yang itu dua puluh lima ribu, coba saja ditiup Mas, nyaring kok... atau kalau mau yang paling bagus ada juga kok, nih... lima puluh ribu saja.” Tangannya kemudian lincah membuka-buka plastik pembungkus terompet. Sebuah terompet pendek terbuat dari pipa dan karton tebal, ia sodorkan kepadaku.

Sore itu, Rabu (29/12/2010), di pinggir Teluk Kendari, Sulawesi Tenggara, memang mulai terlihat beberapa pedagang terompet memajang dagangannya. Namun, entah kenapa aku lebih tertarik menghampiri pria dengan kisaran umur 40 tahunan ini. Mungkin karena gerobaknya yang unik, atau mungkin karena rasa iba muncul melihatnya duduk lesehan di atas tanah tanpa alas.

“Buatan mana Pak ini?” tanyaku.

“Dari Jawa Mas, langsung dari pabriknya..” jawabnya cepat.

“Lho, berarti Bapak dari Jawa juga? Bisa bahasa Jawa dong?”

“Saget Mas.. nggih...” (Bisa Mas... iya...)

Kemudian Sahir, nama pedagang itu, bercerita bahwa ia berasal dari Kabupaten Jepara, Jawa Tengah. Sahir termasuk dalam 30 orang pedagang yang berombongan membawa ribuan terompet untuk dijual di Kota Kendari dan sekitarnya, menyambut tahun baru 2011. Mereka naik kapal laut dari pelabuhan Semarang menuju Bau-Bau dan berlanjut ke Kendari dalam perjalanan yang memakan waktu empat hari.

Di Kendari mereka menyebar di setiap sudut kota, memajang terompet-terompet beraneka bentuk dan warna. Meski tak memiliki modal tempat dan peralatan, mereka tak kehilangan akal. Sahir bahkan menyewa gerobak yang sehari-hari digunakan oleh pemulung dengan ongkos sewa lima ribu rupiah per harinya. Ia menatanya sedemikian rupa sehingga tak nampak bahwa gerobak beroda dua itu setiap hari akrab dengan sampah.

Menurut Sahir, berjualan terompet hingga ke luar Jawa selalu ia lakukan setiap menjelang pergantian tahun. Sedangkan untuk sehari-harinya, Sahir sering berganti-ganti jenis dagangan dan menjualnya di provinsi atau pulau yang berbeda pula.

“Pekerjaan kami memang berdagang sampai ke pulau-pulau yang jauh dari kampung kami. Jenis dagangan pun macam-macam, bisa kaos, topi, hiasan dinding, tergantung peluang di daerah itu. Bahkan cangkul pun bisa kami jual kalau memang di daerah itu butuh,” tuturnya.

Sahir mengaku hampir seluruh kota-kota besar di Indonesia telah ia datangi, kecuali di Pulau Papua. Kapal laut adalah transportasi andalan untuk melompat dari satu pulau ke pulau lain. Meski begitu, Sahir dan kawan-kawan tidak begitu saja datang ke suatu daerah sebelum ada salah satu dari mereka telah melakukan survey kecil-kecilan di daerah tersebut guna menentukan jenis dagangan apa yang cocok untuk dijual.

“Setelah jualan terompet di sini, kami pulang ke Jepara dan berangkat lagi ke daerah Kalimantan Tengah untuk jualan mainan kitiran.”

Melihat penampilannya yang terkesan dekil, orang pasti hampir tidak percaya jika Sahir mampu bercerita fasih tentang daerah-daerah di nusantara seperti Bali, NTB, NTT, Pontianak, Medan, Makassar hingga ke Ambon. Sahir bahkan mampu menyerap kebudayaan setempat, termasuk bahasanya.

“Terkadang saya mengaku orang asli sini kalau ditanya orang, itu salah satu trik jualan,” ucapnya.

Hebat, bahkan aku yang sudah tinggal setahun lebih di Kendari, hampir terkecoh menganggapnya sebagai bukan pendatang. Awalnya Sahir mencoba berbicara denganku dengan logat yang dimiripkan dengan logat penduduk Kendari.

Sahir lalu bercerita bahwa paling lama ia hanya berada di rumahnya di Jepara selama empat hari. Setelah itu ia pergi lagi merantau membawa dagangan. Namun, biasanya tak lebih dari satu bulan bertahan di suatu daerah, lalu Sahir dan kawan-kawan kembali lagi ke Jepara. Kegiatan seperti itu telah dilakoni Sahir selama kurang lebih dua puluh tahun.

Berpetualang keliling Indonesia sebagai pedagang kecil juga menyisakan pengalaman kurang mengenakkan bagi Sahir. Namun, dipalak preman dan dipungli oknum petugas lama-lama menjadi hal yang biasa dialami. Hanya saja satu hal yang dihindari Sahir dan kawan-kawan, yakni sakit. Kondisi kontrakan yang biasa mereka tempati beramai-ramai biasanya kumuh dan banyak nyamuk, yang akhirnya rentan memunculkan penyakit. Tapi di saat salah satu kawan sakit, para pedagang perantau itu selalu kompak untuk membantu.

“Di saat ada yang sakit, kami saling bantu menjaga dan memberi makan. Kami juga sepakat iuran misalnya sepuluh ribu tiap orang untuk beli obat.”

Rasa kebersamaan inilah yang membuat Sahir selalu bersemangat untuk berdagang. Ia tidak takut meski merantau ribuan kilo meter dari kampung halaman dan mesti beradaptasi dengan lingkungan yang baru.

Bagi Sahir, keuntungan dari cara berdagang yang ia lakukan memang tak seberapa. Keuntungan itu telah diperhitungkan dengan ongkos perjalanan, biaya makan dan biaya sewa kontrakan. Terkadang ia pulang hanya membawa keuntungan dua ratus ribu, empat ratus ribu atau lima ratus ribu rupiah. Keuntungan itu Sahir berikan ke istrinya untuk biaya hidup sehari-hari serta untuk biaya sekolah kedua anaknya yang masih duduk di bangku SMP dan SD.

Kehidupan Sahir di Jepara memang jauh dari kata mewah. Bahkan ia menggambarkan dirinya sebagai orang kere (miskin) meskipun telah bekerja keras selama bertahun-tahun.

Modal yang ia miliki untuk berdagang hanyalah modal kepercayaan dari pabrik atau distributor pemasok barang. Kadang kala Sahir terpaksa berhutang dahulu dan ia akan membayar setelah barang dagangan laku dijual.

“Foto saya sudah disimpan sama yang punya pabrik Mas, lagi pula saya sudah dikenal, jadi mereka percaya saja kalau saya yang ambil barang untuk dijual lagi.”

Saat ini Sahir tidak berpikir ia akan buka usaha sendiri di kampung halamannnya. Ia lebih nyaman dengan pekerjaan yang dilakukan sekarang.

“Banyak saingan di Jawa, modal puluhan juta juga tidak cukup Mas, apalagi kayak saya yang tidak punya apa-apa seperti tanah atau sawah, bank tidak akan mau ngasih saya modal banyak,” keluhnya.

Sebuah keluhan jujur yang membuatku termenung sejenak. Betapa di negeri ini aset seperti tanah, yang menguasai sekian ratus atau ribuan hektar, hanyalah segelintir orang-orang berduit dan dekat dengan kekuasaan. Di tangan merekalah perputaran uang negeri ini dikendalikan. Lalu untuk rakyat kecil seperti Sahir? Mungkin hanya ampasnya yang didapat.

Bisa saja Sahir tetap hidup di desanya dan menjadi buruh tani untuk menyambung hidupnya. Tapi jiwa petualang sekaligus jiwa pedagangnya terlalu kuat. Ia juga telah menemukan kebahagiaan dalam kebersamaan bersama rekan-rekan sesama pedagang.

“Yang penting saya bisa bekerja Mas, halal. Saya lebih senang begini karena saya bisa punya pengalaman lebih daripada orang lain. Mungkin keuntungan kerja di sawah di kampung sendiri sama dengan yang saya lakukan sekarang. Tapi saya suka pengalamannya Mas, bisa untuk bahan cerita... Lagi pula sekarang toh banyak yang sekolah tinggi-tinggi tapi malah nggak dapat kerja atau nggak mau usaha.”

Tak terasa langit di atas Teluk Kendari sudah mulai gelap. Perbincangan kami sudah panjang rupanya. Aku pun memilih sebuah terompet dan membayarnya.

“Terima kasih Mas, ini terompet kedua yang laku hari ini, padahal saya sudah dua kali makan di warung itu, sekali makan lima belas ribu Mas...”

Jika hari itu adalah hari pertama Sahir berjualan terompet, masih ada dua hari dan dua malam lagi kesempatan Sahir untuk meraup untung.

“Saya yakin kok Mas, malam tahun baru pasti laris,” ucapnya menutup pembicaraan.

Sebuah semangat optimistis dari pedagang sekaligus petualang. Malam ini, ketika dunia bersiap merayakan pergantian tahun, aku membayangkan terompet-terompet Sahir laris diserbu pembeli.

Widi Kurniawan

/widikurniawan

TERVERIFIKASI

"Aku tidak menyebut saya dengan gue"

-------------- www.cintalorenz.com

--------------Follow @maswidik

Selengkapnya...

KOMPASIANA ADALAH MEDIA WARGA, SETIAP KONTEN DIBUAT OLEH DAN MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.

NILAI :

Daftarkan email Anda untuk mendapatkan cerita dan opini pilihan dari Kompasiana