PILIHAN

Revolusi di Nusa Damai (1 Buku, 1 Cerita)

17 Februari 2017 22:55:18 Diperbarui: 18 Februari 2017 08:45:43 Dibaca : Komentar : Nilai : Durasi Baca :

Siang sudah lewat, tetapi sore belum menjelang. Panas adalah kondisi yang sangat biasa di kota Semarang, apalagi di pasar Johar. Namun, panas itu tidak berarti apa-apa selain surga, buat pecinta buku berada di pasar buku. Meskipun bukan Franfurt books fair, tetapi ribuan buku itu sudah cukup meniupkan angin surga. Ya, saya ada di pasar Johar, pasar buku loak.

Ribuan, bertumpuk-tumpuk, bersampul plastik, coklat, berdebu, sampul robek, tebal tak ketulungan, tipis, semua ada. Dan mencari satu judul buku, berasa seperti mencari jarum di tumpukan jerami. Bertanya pada penjaga toko pun, seperti menanyakan getuk lindri di Jakarta. Kebanyakan, satu toko buku dengan yang lain hanya dibatasi oleh beda tumpukan saja, karena buku-buku ditumpuk di alas papan kayu.  Alas kayu yang ditaruh di lantai ini kira-kira setinggi setengah jengkal jari saja. Di selasar, dari ujung ke ujung pemandangan hanya buku saja yang menumpuk sampai setinggi dengkul. Di ruang yang tidak terkena tempias hujan, buku menumpuk sampai bisa setinggi manusia. Beberapa bahkan lebih.

Bersyukur bila mendapatkan buku yang dicari. Dan bila tidak bertemu, setidaknya toko buku sudah ketemu lebih dulu. Beberapa toko, lazim sekali memiliki ciri khas. Misalnya buku teknik, buku sejarah politik sangat mencolok dipajang oleh toko yang berbeda.

Dan kadang keisengan, ketidaksengajaan itu penting. Atau sebenarnya mengikuti kata hati? Rasanya kata hati itu seperti nyanyian rumput di padang, tak ada lagu, tak ada gending, hanya kresek-kresek saja. Dengan berjalan santai, tak berniat segera pulang, hanya menikmati wajah buku yang kusam berdebu, di selasar lantai dua pasar. dari bawah depan terdengar bisingnya jalan raya di depan pasar oleh angkutan, klakson, manusia, segala macam. Tak disangka, tak ingin menduga, seperti yang saya lihat, buku itu sudah berwarna coklat. Cover terlihat vintage daripada klasik, pinggir buku terlihat kusam. Tampak dibuang sayang tapi kenyataan tak diperhatikan, tergeletak di lantai. Sendirian, tercecer dari tumpukan sekawanan.

Warna cover didominasi oleh warna abu-abu dengan gambar hitam. Gambar terlihat seperti gambar kobaran api berwarna merah dan kuning, persis warna firefox mozilla, dan pura di Bali dengan warna hitam.  Judul buku ditulis dengan warna merah muda transparan, Revolusi di Nusa Damai. Dan nama penulis Ketut Tantri dengan warna yang sama. Penerbit Gunung Agung. Saya berpikir, tidak mau tertarik dengan judul, juga dengan nama penulis. Maklum si penulis bukan Dee, yang bukunya dibeli Mister Presiden Jokowi. 

Tetapi melihat tahun terbitnya, saya tidak lagi peduli dengan semua itu. Silakan tebak kira-kira tahun berapa atau tanya eyang gugel saja. Yang jelas saya pikir, tahun itu jaman bung karno masih berkuasa. Dan dari sejarah saya pelajari politik di saat itu begitu riuh. Jadi lah, saya samber buku. O, ya, lupa belum saya tulis; sudut-sudut buku itu benar-benar sudah reyot, remuk, tak lagi bersudut siku seperti buku di toko buku ber-AC.

Saya berpikir tidak perlu membacanya. Saya sudah puas punya buku diterbitkan tahun antah berantah, bahkan saya belum dipikirkan Tuhan kapan akan dilahirkan di dunia. Ejaan lama ternyata membuat membaca terasa asyik juga, meskipun berasa aneh awalnya; yang ditulis jang, cara ditulis tjara. Dari awal membaca, sudah berasa harus selesai, dikarenakan ada hal aneh. Kisah awalnya menceritakan seorang perempuan dari New Zealand pergi ke Amerika Serikat. Tetapi kenapa ada gambar pura Bali?

Begitulah, ternyata Ketut  Tantri adalah nama orang bule itu. Dan hanya karena ia membaca selebaran tentang Pulau Dewata, dari Amarika ia melanjutkan perjalanan ke Pulau Bali tersebut. Ya, begitu sampai di sana, ia tak mau pergi lagi. Bahkan ikut berjuang semampu dia. Ya, berjuang di perang kemerdekaan Indonesia. Meskipun semampunya.

KOMPASIANA ADALAH PLATFORM BLOG, SETIAP ARTIKEL MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.

NILAI :

Daftarkan email Anda untuk mendapatkan cerita dan opini pilihan dari Kompasiana