HEADLINE FEATURED

Kemana sih Orang Jepang Saat Hari Tahun Baru?

12 Januari 2016 09:31:09 Diperbarui: 31 Desember 2016 23:17:34 Dibaca : Komentar : Nilai : Durasi Baca :
Kemana sih Orang Jepang Saat Hari Tahun Baru?

Torii, gerbang menuju Matsudo Jinja

"Ma, nanti malam jadi kita semua pergi ke kuil?" tanya suami.

"Boleh pa, mo lihat dan merasakan suasana tahun baru juga disana ya sekali kali."

Desember 31, 23.00

"Ayok pada paket coatnya, tebukuro (sarung tangan), kupluk dan syal!" kata saya kepada anak-anak.

"Yaa..mama papa aja dehh, aku rusuban (jaga rumah) ya..dinginn" jawab si bungsu merajuk.

Di TV Jepang malam  tahun baru memang banyak acara yang menarik sampai menjelang jam 12 teng tahun baru, ada acara musik dan acara lawakan yang menyiarkan full semalaman. Malam tahun baru di Jepang adalah acara kumpul bersama keluarga, menonton TV bersama. Makanya kalau malam tahun baru bukannya hingar bingar yang dirasa tapi suasana sepi senyap mungkin karena cuaca yang semakin mendingin ketika mulai masuk bulan Januari ya.

Dan sudah bisa ditebak, anak-anak yang lagi asik nonton lawakan yang tayang tiap malam tahun baru selama 6 jam itu, waratte wa ikenai !! (gak boleh ketawa!) pada males-malesan mengeluarkan kakinya dari dalamkotatsu, meja penghangat.

Yah, karena si bungsu begitu, akhirnya suami memutuskan untuk menunda melihat kerumunan orang banyak di kuil malam itu.

Lho memang ada apa sih malem-malem ke kuil?? Untuk wilayah Jepang yang sedang dingin-dinginnya ya kok yao  pada mau menggigil di tengah gelap malam untuk melangkah kaki kesana??

Nah, ini ada satu lagi loh yang unik tentang tahun baru di Jepang.

Perayaan Tahun baru di Jepang sangat jauh dari suasana hingar bingar. Justru yang saya rasakan adalah suasana hening dan syahdu dimana-mana. Menjelang tahun barunya itulah justru yang sedikit heboh terlihat.

Ya, menjelang tahun baru yaitu sekitar bulan Desember awal, seluruh  masyarakat Jepang akan disibukkan oleh beberapa kebiasaan yang sangat menarik, yaitu bersih besar-besaran (OOSOUJI) yaitu membersihkan seluruh bagian rumah sampai ke mobilnya, lalu memasang hiasan tahun baru untuk menyilakan masuk goodluck-nya kedalam rumah kita (KAMEKAZARI), mengirimkan kartu tahun baru (NENGAJYO), dan lain sebagainya.

Setelah semuanya selesai dilakukan, malamnya istirahat bersama keluarga menonton TV bersama. Lalu saat menjelang detik-detik tahun berganti sebagian masyarakat Jepang akan bergegas menuju kuil terdekat untuk sembahyang atau memanjatkan doa. Nah ritual ini yang kita sebut dengan HATSUMODE.

Hatsumode adalah budaya tradisional Jepang untuk pergi mengunjungi kuil pertama pada awal tahun baru, agar tahun ini diberi keberkahan dan kebaikan.

Biasanya masyarakat Jepang akan berduyun duyun ke kuil pada malam hari menjelang tahun baru untuk berdoa memohon kebaikan. Pekatnya malam dan dingin yang menusuk tidak menyurutkan mereka untuk tetap bergegas menjejakan kakinya untuk berdoa.

Di Televisi akan menyiarkan pergantian tahun baru serta hatsumode ini dengan reportasenya dari berbagai daerah di Jepang. Hatsumode yang dilaksanakan dini hari itu, akan diawali dengan pemukulan lonceng besar oleh para pemuka agama yang kemudian dilanjutkan dengan menarik tali yang diiket dengan lonceng bagi para pengunjung yang ingin berdoa.

Januari 2, 2016. YASUKUNI JINJA  antri untuk melakukan hatsumode beribu ribu orang!!

Hari ke dua di tahun baru saya bersama keluarga mampir jalan-jalan untuk melakukan hatsumode di YASUKUNI JINJA (kuil yasukuni) yang sangat terkenal di daerah tokyo. Namun saat tiba disana, terbelalak saya melihat antrian manusia bermeter meter yang antri untuk melakukan ritual hatsumode. Akhirnya kami menyerah karena katanya bisa memakan waktu berjam-jam!! Ya, musim ini memang semua orang Jepang akan serempak melakukan doa di kuil, maka tak heran kalau kuil yasukuni sekarang pun sangat penuh sesak dengan para pengunjung apalagi yang ingin berdoa.

Tapi gara-gara berapa kali tertunda itulah makin penasaran saya pengen melihat dan mencoba sendiri bagaimana cara hatsumode masyarakat Jepang disini saat tahun baru.

Dan liburan akhir pekan kemarin inilah baru saya mendapatkan kesempatan untuk melakukan ritual berdoa yang sudah  menjadi budaya masyarakat Jepang saat tahun baru.

Menuju pintu masuk MATSUDO JINJA

Hatsumode bersama keluarga saya lakukan di Kuil Matsudo. Kuil ini adalah kuil terbesar di kota Matsudo.

Walau hampir dua minggu dari hari tahun baru, namun keramaian di daerah kuil ini masih terlihat jelas. Mobil-mobil yang banyak terparkir dan lalu lalang orang-orang yang tampak bersama keluarganya itu terlihat seliweran dimana mana.

Pintu masuk Matsudo Jinja (kuil Matsudo) ini dihiasi dengan TORII.Yaitu bangunan yang berupa pintu gerbang masuk kedalam kuil. Inilah pembeda antara kuil shinto dan kuil budha. Kuil  yang mempunyai gerbang seperti ini maka itu adalah kuil Shinto (神社, jinja) sedangkan kuil budha tidak mempunyai gerbang berbentuk ini.

Sebelum melakukan doa, pengunjung harus mencuci kedua tangannya dan berkumur dulu ditempat air khusus yang bernama CHOZUYA, yang sudah disiapkan lengkap dengan centong airnya.

Ngantri membasuh tangan dan berkumur, wudhu ala Jepang

Tempat menggantung omikuji dan Ema, ramalan  dan harapan.

Karena masih suasana tahun baru, tak heran di kuil matsudo ini pun kami harus mengantri dulu beberapa menit. Dan setelah tiba gilirannya kami melemparkan koin lalu menggerakkan lonceng, membungkukkan badan, lalu menepuk tangan dan berdoa, setelah selesai kembali membungkukkan badan lalu selesai acara hatsumode ini. Wahh pengalaman menarik sekali.

NGubek ngubek omikuji, ramalan ala Jepang

Setelah selesai berdoa, kami berkeliling melihat-lihat hiasan dan barang-barang khas tahun baru. Sibungsu tertarik banget dia beli OMIKUJI. Omikuji adalah ramalan yang berupa kertas atau batangan kayu yang berisi ramalan hidup, dari jodoh, keluarga, kesehatan bisnis dan lain-lain. Harganya cukup murah, cuma 100-200 yen!! Habis ubek-ubek kertas omikujinya, ternyata hasil ramalan si bungsu semuanya baik-baik...jadinya deh seharian sumringah senyam senyum sendiri karena ditulis ada temen yang diam-diam menyukainya...ciyee hahaha gawat deh kecil-kecil wkwkwk.

Habis tuntas diartikan artinya hasil omikuji si bungsu sama papanya, di lipat kertasnya dan di ikat di tali pada batang pohon yang sudah disediakan, itu dengan maksud agar semuanya tercapai pada tahun ini.

Ramalan yang hasilnya bagus dan baik disematkan di sini, agar dikabulkan

Pembelian Ema

Lalu kami melipir ke tenpat jualan OMAMORI dan EMA. Omamori adalah jimat, bentuknya kecil dan biasanya bisa digantung di tas. Saat saya hamil dulu, ibu mertua memberikan omamori yang bermaksa pengharapan akan keselamatan akan kehamilan dan kelahiran. Dan alhamdulillah doa orang tua dan mertua dikabulkan, karena saya bisa melahiran kedua buah hati saya tanpa banyak kesulitan.

SedangkanEMA adalah harapan dan permohonan kita yang ditulis di atas kayu. Biasanya setelah kita menulis di ema, digantungkan ema-nya di tempat khusus bersamaan dengan tempat penyematan omikuji itu. Tapi saya dan mertua mempunyai kebiasaan membawa pulang dan menggantungkan di dalam rumah. menggantung ema bermakna agar terkabulkan impiannya pada tahun baru ini.

Jadi kalau mau melihat orang Jepang banyak antri dan berkumpul itu ya pada tangah malam pergantian musim atau sekitar awal-awal tahun baru dan carilah di kuil kuil terdekat, mereka bukannya berisik meniup terompet, pasang petasan, membuat pesta meriah melainkan mereka sedang mengatupkan kedua belah telapak tangannya, menutup mata dan membungkukkan badannya, memohon doa disana.

Salam Hangat, wk

foto dok pri

Weedy Koshino

/weedykoshino

TERVERIFIKASI

Hallo. Ibu 2 anak yang hidup di Jepang. Ingin membagi pengalaman selama hidup di Jepang. Semoga bisa bermanfaat. Yoroshiku Onegaishimasu. Instagram : weedy_koshino
Selengkapnya...

KOMPASIANA ADALAH PLATFORM BLOG, SETIAP ARTIKEL MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.

NILAI :

Daftarkan email Anda untuk mendapatkan cerita dan opini pilihan dari Kompasiana