Wardah Fajri
Wardah Fajri pekerja mandiri bidang penulisan

Community Development -Founder/Creator- Social Media Strategist @wawaraji I www.wawaraji.com Bismillah. Menulis, berjejaring, mengharap berkah menjemput rejeki. Blogger yang menjajaki impian menulis buku sendiri, setelah sejak 2003 menjadi pewarta (media cetak&online), menulis apa saja tertarik dengan dunia perempuan, keluarga, pendidikan, kesehatan, film, musik, modest fashion/fashion muslim, lifestyle, kuliner dan wisata.

Selanjutnya

Tutup

Kesehatan highlight

Bukan Sekadar Slogan, Semarang "Jateng Gayeng" Dukung GERMAS

11 September 2017   13:37 Diperbarui: 11 September 2017   13:51 272 2 1
Bukan Sekadar Slogan, Semarang "Jateng Gayeng" Dukung GERMAS
semarang-foto-wawaraji-59b62cd8ab12ae74e628dea2.jpg

Gerakan Masyarakat Hidup Sehat atau GERMAS merupakan gerakan nasional yang mengajak seluruh stakeholder kesehatan Indonesia untuk berpartisipasi aktif saling menularkan hidup sehat. Kementerian Kesehatan RI (Kemenkes) boleh saja menjadi penggeraknya, namun tanggungjawab keberlangsungan gerakan ini milik semua orang Indonesia.

Mengutip dari paparan Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Tengah dalam kegiatan Kemenkes RI bersama warganet di Semarang (28/8/2017), pengertian Germas adalah suatu tindakan sistematis dan terencana yang dilakukan secara bersama-sama oleh seluruh komponen bangsa dengan kesadaran, kemauan dan kemampuan berperilaku sehat untuk meningkatkan kualitas hidup.

Germas menjadi penting melihat banyak fakta dan data kesehatan yang makin memprihatinkan. Semakin banyak data terkumpul dari masyarakat terkait penyakit. Faktanya, semakin banyak usia muda yang menderita penyakit jantung, juga Penyakit Tidak Menular (PTM)lainnya, utamanya yang dipicu faktor pola hidup tidak sehat seperti pola makan, pola aktivitas fisik, dan pengelolaan stres.  

Tolak ukur lainnya adalah laporan BPJS Kesehatan. Klaim BPJS Kesehatan menunjukkan total biaya pelayanan kesehatan BPJS Kesehatan tahun 2014 mencapai 41,6 triliun. Biaya klaim pelayanan dibandingkan premi, mencapai 104 persen. Satu sisi, masyarakat sudah mendapatkan haknya untuk memperoleh pelayanan kesehatan dengan fasilitas JKN, namun di sisi lain, jumlah warga yang sakit dan berobat juga tinggi.

Berdasarkan data dari Dinas Kesehatan Jawa Tengah, pada 2017 proporsi kasus terbaru PTM 55,76 persen didominasi penyakit hipertensi. PTM kedua terbanyak adalah diabetes melitus 20,57 sisanya penyakit tidak menular lainnya seperti Asma, Obesitas, Jantung, Osteoporosis dan lainnya.

Sumber: Website Surveilans
Sumber: Website Surveilans

Penyakit Tidak Menular ini terjadi karena beberapa faktor. Riset Kesehatan Dasar 2007 dan 2013 Kemenkes RI mencatat bahwa PTM terjadi karena perilaku tidak sehat seperti kurang aktivitas fisik (26,1 persen), merokok di atas 15 tahun (36,3 persen), kurang makan sayur dan buah di atas usia 10 tahun (93,5 persen), dan minum beralkohol untuk penduduk di atas 10 tahun (4,6 persen).

Sumber: Riskesdas
Sumber: Riskesdas

Data dan fakta bisa jadi terus bertambah atau bisa jadi berkurang jika sudah ada tindakan preventif dan promotif kesehatan. Pengobatan dengan JKN juga klaimnya tinggi, seiring dengan kesadaran masyarakat untuk memeriksakan diri dan mengobati dirinya ke fasilitas kesehatan, mulai Puskesmas hingga rumah sakit.  Lantas, apakah pengaruhnya fakta dan data ini untuk kita sebagai warga negara? Angka penyakit, angka kematian ibu dan anak, bukan untuk menjadi momok yang ditakutkan, namun untuk menjadi pengingat kita selagi sehat.

kaktusgenius.com
kaktusgenius.com

Gerakan sudah dimulai, lalu apakah kita acuh dan mendiamkan? Program sudah dirancang dan dipromosikan, lantas apakah kita acuh dan mendiamkan?

Germas harapannya bukan hanya sebagai slogan kesehatan. Jika sebelumnya, pemerintah melalui Kemenkes mempromosikan tiada henti Perilaku Hidup Bersih Sehat (PHBS) salah satunya dengan gencar mengajak warga CTPS (cuci tangan pakai sabun), maka Germas menjadi langkah pendukung bahkan sebagai penggeraknya.

Langkah sederhana dengan membangun kebiasaan kecil CTPS di rumah tangga, dan menjaga lingkungan rumah dan keluarga menerapkan PHBS, sebenarnya sudah bisa menjadi langkah preventif dari berbagai risiko penyakit. Namun itu saja tidak cukup dan butuh gerakan bersama yang terus menerus digencarkan berbagai pihak agar negara bisa sehat diawali dari rumah tangga, dari keluarga kita.

Fokus Germas 2017

Lalu bagaimana warga bisa menjalankan Germas? Pemerintah sudah memberikan panduannya, lakukan saja dengan CERDIK.

Cek kesehatan berkala: setidaknya enam bulan sekali untuk mengetahui kondisi kesehatan, selain untuk memantau kondisi fisik kita. Jika terpantau, kita dapat mengetahui sejak dini risiko penyakit yang bisa menyerang tubuh kita.

Enyahkan asap rokok: perokok aktif maupun pasif berisiko terhadap kesehatan. Dalam asap rokok, nikotin akan diserap oleh pembuluh darah  yang amat kecil  ada di dalam paru-paru, kemudian diedarkan ke seluruh  tubuh oleh aliran darah. Jadi, stop merokok dan menghindarkan bahkan enyahkan asap rokok dari keluarga kita.

Rajin aktivitas fisik:  jika jarang olahraga, detak jantung lebih cepat dan jantung bekerja lebih keras, dampaknya meningkatkan tekanan darah.

Diet seimbang: mengatur asupan tubuh perbanyak buah dan sayur, asupan yang masuk ke tubuh berdampak ke kesehatan terutama tekanan darah.

Istirahat cukup: jika kurang istirahat, sel dalam tubuh tidak punya waktu untuk meremajakan diri, akibatnya tubuh kerap tidak fit  dan tekanan darah meningkat.

Kelola Stres: tekanan darah cenderung stabil jika kita mampu mengelola dan mengendalikan stres.

Dari cara CERDIK tersebut, untuk mulai Germas  lakukan tiga hal ini yang memang menjadi fokus Germas pada 2017, yakni:

  • Perbanyak makan buah dan sayur
  • Aktivitas fisik teratur
  • Cek kesehatan berkala

kaktusgenius.com
kaktusgenius.com

Germas bukan gerakan baru, sudah berjalan sejak dicanangkan 12 November 2016 menandai puncak peringatan Hari Kesehatan Nasional (HKN) ke-52. Berbagai pihak terus menerus menggerakkan Germas, berawal di instansi pemerintah pusat dan daerah di Indonesia. Berbagai kota melalui Dinas Kesehatan juga menciptakan berbagai kegiatan mendukung Germas di daerahnya. Ada yang masih mencari bentuk ada yang sudah mulai mewujudkan hidup sehat dengan memfasilitasi warga untuk memulai kebiasaan sehat.

Prinsipnya, langkah promotif dan preventif sudah menjadi perhatian utama berbagai pihak, alih-alih kuratif atau mengobati. Inilah langkah nyata bersama berbagai pihak, pemerintah melalui Kemenkes RI dan DinKes, juga pihak swasta yang sadar dan peduli kesehatan, serta warga juga warganet yang mendukung Germas.

Jateng Gayeng

Saya bisa mengatakan bahwa daerah mencari bentuk implementasi Germas, ada yang sudah bergerak ada yang masih mencari langkah strategisnya, berdasarkan pengalaman beberapa kali mengikuti upaya promotif Germas di tiga kota. Pada 2017, saya berkesempatan mengikuti kegiatan Germas Kemenkes RI di Bandung, Mataram dan Semarang.

Angka penyakit selalu menjadi paparan awal dari Dinas Kesehatan setempat setiap kali memulai kegiatan promotif dan preventif kesehatan ini. Kemudian langkah nyata apa yang dilakukan untuk mendukung Germas, menjadi paparan berikutnya.

Seperti paparan dari DinKes Kota Semarang disampaikan oleh dan DinKes Prov, Jawa Tengah yang disampaikan oleh dalam kegiatan Temu Blogger Kesehatan di Semarang, akhir Agustus 2017 lalu.

Catatan penting yang menjadi perhatian saya adalah berbagai pihak sudah berupaya menjalankan Germas, dengan berbagai tantangan dan kendalanya. Semarang, menurut saya, membuktikan ada aksi nyatanya, untuk mengajak warga ikut bergerak aktif mendukung Germas. Bukan sekadar mendukung Germas sebagai slogan, tapi mengubah perilaku masyarakat untuk lebih peduli kesehatan pribadi. Dengan warga yang peduli kesehatan, dan pemkot/pemprov memfasilitasi, maka hidup sehat sangat mungkin perlahan muncul sebagai kebiasaan baik warga.

Tantangan atau boleh dikatakan kendala bagi pemerintah daerah dalam mengimplemenstasikan Germas adalah arahan efektif dan efisien dari pusat untuk memaksimalkan Germas. Rupanya masih banyak pengambil keputusan di daerah yang belum sepenuhnya mendapatkan arahan untuk mewujudkan Germas. Meski begitu, komunikasi terus dijalankan dari pusat ke daerah, salah satunya melalui forum dialog kesehatan melibatkan warga dan warganet.

Meski mengaku terkendala arahan implementasi Germas, Kota Semarang khususnya dan Jawa Tengah umumnya, menurut saya, sudah bergerak aktif memfasilitasi warga mendukung Germas.

Kepala DinKes Kota Semarang, dr Widoyono, MPH mengatakan pihaknya memperbanyak fasilitas untuk mendukung aktivitas fisik. Kebijakannya di antaranya 16 kecamatan harus memiliki stadion mini agar warga tergerak melakukan aktivitas fisik. Selain itu Kota Semarang juga menyediakan kawasan bebas rokok, dan menggerakkan Car Free Day di Simpang Lima dan Jl Pemuda, Kota Semarang.

Sementara di tingkat provinsi, Germas bukan hanya bicara kesehatan fisik warga tapi juga sanitasi yang baik. Gerakan ajak warga dan siswa memberantas jentik nyamuk menjadi salah satunya, selain gerakan jamban sehat. Penyelamatan ibu dan bayi, atau menurunkan angka kematian ibu dan bayi menjadi sasaran lainnya di Jawa Tengah.

Program sudah dicanangkan, komitmen tanda mendukung Germas sudah diproklamirkan, maka berikutnya adalah implementasi Germas, yang takkan berhasil jika warga tak ikut aktif bergerak menuju hidup sehat.

Sudahkah kita cek kesehatan? Makan buah dan sayur hari ini? Atau olahraga 30 menit sehari? Germas berawal dari tiga hal sederhana yang memang tak selalu mudah dijalankan, tapi kita bisa!