FEATURED

Curhat Kepala Sekolah di Pedalaman ketika Guru Tidak Masuk Mengajar

01 September 2015 07:59:57 Diperbarui: 02 Mei 2017 16:09:16 Dibaca : Komentar : Nilai : Durasi Baca :
Curhat Kepala Sekolah di Pedalaman ketika Guru Tidak Masuk Mengajar
anak-sekolah.jpg

Curhat kepala sekolah di pedalaman ketika guru tidak masuk mengajar.

Menjadi kepala sekolah, apalagi kepala SD di pedalaman seperti saya, selalu serbasalah. Banyak masalah yang menjadi beban pikiran. Satu sisi kita dituntut untuk mengurus sekolah yang baik seperti yang diharapkan. Di sisi lain kita berhadapan dengan beraneka masalah, terutama tentang alasan guru yang bermacam ragam.

Di kampung, terutama tempat saya bertugas, terasa sulit untuk menjadikan sekolah bermutu. Banyak hal penyebab yang menjadi kendala. Salah satu di antaranya adalah karena guru yang sering datang terlambat atau bahkan tidak datang mengajar.

Tenaga guru honorer tak ada masalah karena mereka direkrut dari warga setempat. Selain itu, mereka masih muda, baru selesai kuliah, semangat tempurnya masih tinggi. Malah guru yag berstatus PNS yang banyak bertingkah. Kebanyakan mereka berasal dari luar kampung. Itulah yang jadi masalah. Banyak alasan yang menyebabkan mereka terlambat atau tak datang mengajar. Penyebabnya menurut mereka adalah:

1. Infrastruktur Jalan

Alam pedesaan tentu lain dari kota atau daerah jalur sutra. Dari segi transportasi saja desa sangat jauh ketinggalan. Tidak ada jalan aspal. Yang ada hanya jalan setapak. Itu pun tak semua pengerasan dari batu atau semen, selebihnya dari tanah. Itu pun kondisinya rusak. Padahal, sarana jalan adalah kunci untuk memajukan suatu daerah, terutama pendidikannya. Bagaimana guru mau datang tepat waktu kalau perjalanan dari rumahnya harus melalui jalan yang rusak dan berlubang. Belum lagi kondisi jalan ketika hujan. Jalan yang berlubang penuh dengan genangan air. Tak jarang guru harus terjatuh karenanya.

Beberapa orang guru tempat tinggalnya di kota kabupaten yang jaraknya kurang lebih 15 km ke sekolah. Tak seberapa jauh sebenarnya tapi karena kondisi jalan yang kurang mendukung, jadi ditempuh terasa sangat lama, sekitar satu jam.

Suatu ketika pernah kejadian seorang guru perempuan terjebak di jalan. Karena ketika berada di jalan tanah, tiba tiba turun hujan sehingga mengakibatkan jalan becek. Karena struktur tanah lempung ketika tersiram air hujan jadi melekat ke ban motor. Alhasil, ban motor membesar karena tergulung tanah. Akibatnya, tidak bisa didorong, jadilah ibu guru itu terjebak di jalan sepi. Akhirnya melalui HP minta bantuanlah kepada guru-guru yang ada di sekolah.

2. Perumahan Guru

Ketika zaman inpres dulu,  pemerintah membangun sekolah selalu satu paket dengan perumahan guru/asrama. Guru yang bertugas tersebut lansung bisa menempati perumahan tersebut. Namun, sekarang perumahan itu sudah rusak dan tak dapat lagi ditempati. Dana perbaikan asrama tampaknya tidak lagi dianggarkan pemerintah. Itulah sebabnya kebanyakan asrama guru tidak dapat digunakan lagi. Hanya ada beberapa perumahan yang kebetulan bahan bangunannya kuat yang masih bertahan sampai sekarang. Di sekolah kami kebetulan asrama dibongkar karena akan membangun SMP satu atap. Karena lokasi sangat sempit, mau tidak mau dibongkar, padahal masih layak huni. Bukankah kalau ada tempat nenginap para guru tidak usah pulang-pergi dari rumah mereka, paling tidak ketika musim hujan. Tentu akan lebih mudah melaksanakan tugasnya?

3. Keluarga

Anak adalah segalanya bagi kita. Tak terkecuali bagi ibu guru. Ketika anak sakit, siapa yang harus mengurus mereka, padahal ibunya harus pergi mengajar. Siapa yang tega meninggalkan anak yang sedang demam panas umpamanya, walaupun pergi ke sekolah untuk mengajar melaksanakan tugas dan kewajibah sebagai pegawai negeri. Pastilah kita lebih berat kepada mengurus anak dan membawanya ke puskesmas untuk berobat.

Seorang ibu guru, anak buah saya kalau tidak datang alasannya selalu anak sakit. Itulah alasan klasik yang mudah. Memang benar sih, anaknya dua orang masih kecil-kecil. Kebetulan kondisi anaknya selalu sakit-sakitan, mungkin itulah kenyataan sebenarnya yang dialaminya. Tapi kan bisa dicarikan solusi.

Itulah beberapa alasan yang sering dijadikan kambing hitam ketika guru terlambat datang atau bahkan tidak hadir. Saya sebagai kepala sekolah sebenarnya dapat memaklumi semua itu. Itu pun kalau kejadiannya sekali-sekali. Kalau selalu begitu, itu lain lagi persoalannya. Mungkin sakitnya direkayasa. Tapi bagaimana dengan peraturan atau undang-undang yang mengatur semua itu?

Itu semua kita kembalikan kepada niat dan kesadaran kita masing-masing sebagai abdi negara. Kita harus menyadari siapa diri kita, apakah ingin menjadi pegawai yang baik atau sebaliknya. Kalau kita sadar akan tugas dan tanggung jawab, pasti kita akan bekerja dengan baik.

Apalagi kalau kita mau menghubungkannya dengan keyakinan kita dalam beragama tentang berkahnya rejeki yang kita dapatkan dengan cara yang baik dan halal. Maaf, saya tidak berani panjang lebar kalau mengaitkan rejeki yang kita dapat dengan cara curang dan tidak jujur atau malas karena hal itu sangat sensitif. Terpulanglah kepada diri kita masing-masing untuk menyikapinya.

Beberapa waktu lalu saya mengikuti pelatihan SPM (Standar Pelayanan Minimal) yang diadakan di aula Dinas Pendidikan Kabupaten. Ada 13 IP yang menjadi tanggung jawab sekolah untuk mencapainya. Ada beberapa yang menurut saya sangat sulit untuk dipenuhi. Salah satu di antaranya adalah masalah jam kerja pegawai 37,5 jam per minggu. Rencana implementasinya adalah sebagai berikut: Hari Senin sampai Kamis jam masuk kerja pukul 7.00 sampai jam pulang pukul 14.30. Hari Jumat jam pulang pukul 11.00. Hari Sabtu jam pulang pukul 10.30.

Selama ini yang sudah berjalan bertahun-tahun dan sudah menjadi kebiasaan adalah jam kerja guru mengikuti jam belajar siswa. Apabila siswa pulang, guru juga ikut pulang, yaitu masuk pukul 7.00, pulang pukul 11.30. Dengan adanya SPM, guru dituntut melakukan penyesuaian. Artinya jam kerja guru tidak sama lagi dengan jam belajar siswa. Guru harus pulang lebih lama dari siswa. Jadi, apa yang akan dikerjakan guru? Banyak. Umpamanya menyiapkan perangkat pembelajaran untuk esok hari. Menilai hasil pekerjaan siswa tadi pagi dan memasukkannya ke dalam daftar nilai dan lainnya.

Selama ini guru mengerjakan tugas hariannya di rumah. Padahal, ketika pulang ke rumah, kita selalu disibukkan dengan pekerjaan rumah tangga yang tidak pernah terselesaikan. Kalau begitu, dapatkah kita menyelesaikan perangkat pembelajaran kalau di rumah. Oleh sebab itulah, melalui SPM, kita diharapkan bekerja di sekolah untuk menyelesaikan adminstrasi kelas tersebut. Maka tak salah ketika siswa pulang, guru tinggal di sekolah untuk bekerja.

Dapatkah kita mengubah suatu kebiasaan lama yang sudah berurat berakar pada diri guru kita. Itu pasti tak mudah. Memerlukan proses dan waktu. Lakukan secara bertahap. Lama lama akhirnya menjadi kebiasaan. Guru pasti bisa. Sosialisasikan dengan guru agar mereka tahu. Lakukan rapat. Buat perjanjian dengan guru atas dasar mufakat. Lakukan tahap demi tahap. Tentukan sanksi apabila ada yang melanggar. Berikan hadiah bagi yang melaksanakan dengan baik.

Semua itu untuk kita semua, untuk anak didik kita. Siapa lagi yang diharapkan kalau bukan guru yang bisa mengubah wajah pendidikan paling tidak di sekolahnya masing masing? Marilah kita mulai dari sekarang. Tinggalkan alasan-alasan yang membuat kita malas. Marilah bersama kita bekerja membangun bangsa dan negara tercinta ini.

Salam. 

Dari pedalaman Kalimantan

 

Adam

/wahyukurniawano7

TERVERIFIKASI

Belajar menulis dan berbagi pengalaman
Selengkapnya...

KOMPASIANA ADALAH PLATFORM BLOG, SETIAP ARTIKEL MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.

NILAI :

Daftarkan email Anda untuk mendapatkan cerita dan opini pilihan dari Kompasiana