Wahyu Sapta
Wahyu Sapta karyawan swasta

Menyatulah dengan alam, bersahabatlah dengan alam, ikuti alirannya, lalu kau rasakan, bahwa dunia itu indah, tanpa ada suatu pertentangan, damai, nyaman, teratur, seperti derap irama alam berpadu, nyanyian angin, nyanyian jiwa, beiringan, dekat tapi tak pernah berselisih, seimbang, tenang, alam, angin, jiwa, mempadu nyanyian tanpa pernah sumbang...

Selanjutnya

Tutup

Cerpen highlight

Aku, Pemilik Hati yang Beku #2

9 September 2017   13:34 Diperbarui: 9 September 2017   15:15 734 12 5
Aku, Pemilik Hati yang Beku #2
Ilustrasi: pixabay.com

Sebelumnya:

Oh, aku tak mengerti, entah tempat apa ini! Tetapi yang jelas, tempat ini seperti sebuah ruangan, tanpasatupun jendela. Terkunci rapat dari luar. Aku tersekap! Bersama yang lainnya. Di sini telah banyak anak-anak perempuan seumurku, menangis dan berteriak meminta keluar ruangan.

Sedangkan aku, hanya terdiam membisu, tanpa satu patah katapun dan tanpa setetes air mata yang menggenang. Hatiku datar, juga membeku!

***

Suasana ruangan menjadi hening. Sesekali masih terdengar isakan tangis dari beberapa anak perempuan yang tersekap. Aku hanya bisa terdiam. Kupandangi mereka dengan tatapan dingin. Beberapa wajah mereka terlihat pucat dan tak sehat. Entah berapa jam mereka berada di ruangan ini.

Aku sendiri, tak tahu, berapa lama berada di tempat ini. Yang kutahu, sejak aku mengikuti ibu yang aku temui di stasiun kereta saat itu, aku sempat tak sadarkan diri. Kemudian ketika aku sadar, aku telah berada di tempat ini. Tanpa tas ransel, yang menyimpan laptop, handphone dan beberapa bajuku.

Tak kusangka, ibu yang aku temui itu ternyata jahat dan tak lebih baik dari tante Devi. Hatiku terasa pias, datar dan tak bisa merasakan kesakitan. Aku bahkan merasa biasa saja.

Klek!

Terdengar suara pintu membuka dari luar. Seseorang membuka pintu. Seorang pria berbadan kekar dan bertatto hampir di seluruh lengannya.  Segera saja, beberapa anak perempuan seumurku, berlari menuju pintu.

"Keluarkan saya... Keluarkan saya....!" teriak mereka. Tetapi pria kekar yang membuka pintu itu berteriak lebih lantang, membentak mereka agar jangan gaduh dan berhenti berteriak. Ia membawa beberapa kotak makanan untuk kami. Menaruhnya di lantai dan berlalu.  Kemudian mengunci ruangan  kembali.

Telah hilang rasa laparku. Sama sekali tak kusentuh makanan yang diberikan oleh pria tadi. Beberapa teman yang lain mulai makan dan beberapa lainnya seperti aku, yang tak berselera untuk makan.

Aku terdiam. Duduk di pojok ruangan tanpa jendela. Hanya sebuah ventilasi yang letaknya tinggi sebagai lobang udara. Sebelah kiri ruangan, tersekat sedikit untuk kamar mandi. Benar-benar pengap ruangan ini. 

***

Wajahku penuh jegala. Ini memang disengaja. Atas saran bu Een. Setelah kejadian tersekap di ruangan, kami dikeluarkan, untuk kemudian menempati sebuah ruang yang lebih luas. Ada beberapa kamar yang bisa ditempati. 

Setelah keluar dari penyekapan, beberapa penjaga terlihat cukup ramah. Bahkan ada yang sengaja merias wajah kami agar terlihat cantik. Ada penjaga yang tampak baik hati, mengajak ngobrol dan memuji kecantikan kami. Diajarkan olehnya cara bersolek.

Aku bertemu kembali dengan ibu yang aku temui di stasiun kereta saat itu. Entah kenapa, aku seperti memaafkan kesalahannya, ketika ia sepenuh hati meminta maaf padaku. Katanya, ia melakukan ini karena terpaksa. Ia mendapatkan tekanan dari seseorang yang ia panggil "Bos". Bila ia melawan, maka siksaan yang ia dapatkan. Ia tak berdaya untuk melawan. Anak buah Bos yang siap siaga, menyiutkan nyalinya. Ada banyak sekali anak buah Bos.

Tetapi untuk menebus kesalahannya, ia sengaja, berjanji menjagaku, agar aku tak tersentuh oleh penjaga yang lain. 

"Kamu boleh memanggilku bu Een, nak. Namamu siapa?" 

"Seruni," jawabku pendek.

"Baiklah, aku akan menjagamu, sebagai tebusan kesalahanku. Entah kenapa, kamu berbeda dengan yang lain. Hatiku seperti tersentuh olehmu. Kamu mengingatkan aku pada seseorang,"  

Akhirnya dibuatnya diriku terlihat jelek di mata mereka. Kulitku sengaja dibuat terlihat kusam dan wajahku hitam tak terawat. Aku terlihat jelek dan dekil.

Lalu ketika hatiku telah pias dan beku, mana peduli pada diriku sendiri? Aku biarkan bu Een membuatnya demikian. Aku tak peduli. Bahkan, bila bu Een menyakitikupun, aku tak peduli. Tetapi, saat aku melihat sorot mata bu Een yang tak sengaja bersirobok, terlihat sendu dan kelam.  Seperti membawa beban yang begitu besar. Ada sedikit rasa sayang untuknya. Mungkin ini karena aku yang merindukan sosok seorang ibu. Dan itu ada padanya. 

***

"Hei, siapa dia? Siapa namanya?" suara menggelegar bagai petir yang datang dari si Bos.

"Dia Seruni, Bos. Sebaiknya ia menemani saya untuk memasak di dapur. Saya butuh asisten. Lagian, dia tidak cantik, bos!" kata bu Een sedikit berbisik. 

Aku hanya menunduk. Terasa mual jika harus memandang wajah Bos. Apalagi saran bu Een agar aku menunduk saja. Aku patuhi sarannya. "Jangan pandangi wajahnya, matanya mengandung mantra. Kamu bisa terpedaya," kata bu Een, sebelum aku dan dia memenuhi panggilan si Bos.

"Baiklah," katanya. Lalu si Bos berlalu. Ada nafas lega, dari bu Een dan diriku.

Sejak saat itu, aku menjadi juru masak di rumah sekapan bersama bu Een. Aku tak pernah tahu, di mana tempat ini, karena tak pernah diijinkan untuk keluar. Lagian rumah ini berpagar tinggi mengelilingi bangunan, tak mungkin aku bisa lolos.

Diajarkan aku cara membuat masakan. Aku menganggap bu Een ibuku sendiri. Meski dulu aku pernah ditipunya hingga masuk di rumah ini, tetapi bu Een menyelamatkan aku dari Bos. Aku merasa prihatin dengan kondisi teman senasibku yang lain, yang pernah dalam satu sekapan. Entah bagaimana nasibnya.

Beberapa hari bersama bu Een, membuatku merasakan sedikit rasa bahagia. Sedikit senyum bisa tersungging dibibirku, saat melihat bu Een berbincang lucu. Ada rasa takut kehilangannya. Padahal ia bukan siapa-siapa. Dan mengapa aku semakin membenci tante Devi yang tak pernah baik padaku. Rasa benci ini membuncah saat aku teringat padanya. Juga ayah, yang tak berdaya di depan tante Devi. Oh, ayah, aku sayang ayah, tapi ayah tak sayang padaku. Ayah lebih sayang pada tante Devi. Hatiku terasa kelu.

Di sini, aku merasa lebih nyaman karena ada bu Een, meski cemas, karena kemungkinan kecil bisa lolos dari tempat ini. Penjagaan si Bos begitu ketat. Dan sewaktu-waktu jiwaku bisa terancam. 

***

Semarang, 9 September 2017.