DAMASKUS SATU KETIKA-Cerpen Amar Ar-Risalah

13 Mei 2013 04:23:20 Dibaca :

Malam tiba, pertempuran untuk sementara dihentikan. mengikuti turunnya matahari yang melelahkan panca indra. Siang tadi, belasan tentara yang mati. Ya, pertempuran menderu dengan keras. Peluru-peluru tak lagi mengenal tuan atau lawan. Selain tentara, puluhan orang sipil mati terinjak-injak menghindari roket dan kejaran anjing-anjing yang dilepaskan tentara pemerintah Suriah.


Semua tentara yang mati dikumpulkan, dijejerkan di pinggir tenda utama pasukan pemerintah. Bendera besar dan sebuah pigura bergambar Bashar tergantung di kain dinding. Ada satu jenasah berlumur darah.


Satunya kehilangan tangan dan kaki.


Yang lain beku, darahnya habis tertelan mortar yang ia lemparkan sendiri.


Ditutupi kain putih.


Sebagian menyiapkan kantong jenasah merah. Ambulan meraung-raung mencari orang sipil, tetapi yang ia dapatkan hanya jenasah tentara. Yang sipil dibawa keluarganya, atau membusuk tanpa dikenali lagi.


Di tengah reruntuhan kota, seorang kolonel menembak seorang militan siang tadi. Menembus liang matanya. Peluru berdentingan, jatuh ke balik reruntuhan batuan.


Tangan sang pejuang, tanpa disadari oleh kolonel, memegang sebatang bunga putih kecil padang pasir, yang rencananya ia akan berikan kepada ibunya: tanda ia siap menerima perang dan kematian tanpa ragu-ragu.


Dan peluru itu menemukan sebilah pisau yang diliputi darah bekas luka seorang anak muda.


Didekatnya, senapan kecil sang militan terjatuh dan berbaring. Menyimpan sebuah peluru lain yang belum sempat ditembakkan.


Malam bertambah hening, perang dengan khidmat dan tenang menelusup ke setiap butir pasir dan debu. Menyusup jauh kedalam malam.


“Malam tiba,” Peluru mencoba berkata-kata. memecah keheningan.


“Seharian para pengungsi kehilangan jalan, jalan yang tersisa ditutupi barikade” Sahut Pisau sekenanya.


“Aku belum tahu, kenapa aku ditembakkan” Keluh Peluru. Terdengar suara tangis diselingi jerit sayup-sayup meruah di udara.


Di kejauhan sana, seorang ayah menemukan anaknya tertimpa reruntuhan rumah yang diledakkan siang tadi.  Orang-orang Bashar mendeteksi, rumah itu markas oposisi.


“Bashar masih ingin hidup lebih lama” Senapan sang militan membuka mata. Menemukan kesadaran.


“Sebagaimana yang lain, ia menggunakan kita untuk memanjangkan umurnya” sambung Senapan.


“Kita tidak tahu apa-apa” tutup peluru.


Sementara itu, pagi kembali tiba. Terbitnya lebih merah, ketika sekelompok militan lain menemukan jasad temannya tadi, yang ditembak sang kolonel tadi siang. Darahnya merah. Memerahkan mata mereka, yang setengah tergetar mencoba mengangkat tubuh itu. Tubuh temannya sendiri, yang sangat mereka kenal sedari kecil.


Dan bunga putih kecil padang pasir itu, yang masih digenggam sang jenasah, bunga yang sama yang mereka berikan kepada ibu-ibu mereka di pengungsian beberapa hari yang lalu


****


“Allahu Akbar! Surga semakin dekat!” Belum sempat mereka membawa jasad temannya, sebuah panser memasuki jalan. Dari sudut 15, bekas rumah seorang nenek tua.


Para militan bersiap, mereka tiarap di balik dinding-dinding yang sudah hancur. Mengambil posisi bertahan, karena mereka bukan militan garis depan. Mereka hanya berjaga tanpa mengenakan rompi pengaman, atau senapan kaliber besar.


Bau perang semakin kuat. Bau darah. Bau peluru tajam yang hampir ditembakkan. Tiba-tiba, bercampur bau kerinduan pada masa sebelum perang, muncul di udara.


“Perang akan kembali dimulai” Bisik senapan, yang masih memperhatikan keadaan. Bergidik ngeri.


“Peluru di dalam senjata tak tahu apa-apa, mereka ditembakkan begitu saja” Pisau menutup wajahnya. Entah kenapa.


Senjata diletuskan kedua belah pihak, keadaan berkecamuk dan terjadi tembak-menembak yang lumayan besar. Peluru para militan tak mampu menembus baja panser, tetapi sebuah granat menggelinding tepat kearah mereka.


Granat, yang mengakhiri konsep-konsep yang diperbincangkan para militan hampir setiap hari.


****


“Dua hari, teman. Dua hari yang lalu ia mati. Tuanku memancarkan wangi, tidak seperti mayat-mayat lainnya” ujar Senapan.


“Itu aroma yang biasa muncul hanya ketika darah, mesiu, dan debu jalanan bercampur di kota ini” jawab Pisau. Tetapi Pisau sempat melihat bunga putih, yang koyak dilebur granat.


“Kapan perang ini berhenti?” sambung Senapan.


“Ketika hanya ada satu islam”


“Yang mana yang menang, perkiraanmu?”


“Entahlah, yang mati mempertahankan diri dan yang menyerang, tak bisa kubedakan. Tidak seperti kita, ditempa dengan fungsi yang berbeda-beda. Aku dihunus, kau diletuskan. Mereka yang bekerja” Pisau menerawang sejenak. Ia merindukan tangan yang menghunusnya bukan untuk perang.


“Rasa darahnya sama. Meski aku baru menembus satu kepala. Bukankah perang ini menuntut kepatuhan semata, lantas kenapa tidak ada yang mematuhi Bashar?”


“Tuhan memerintahkan kita untuk mematuhi-Nya”


“Dia adalah pemimpin negeri ini. kau digerakkan oleh pemberontak”


“Begitulah, Tuhan telah menciptakan manusia yang menumpahkan darah”


“Kita tidak tahu apa-apa” Senapan ikut merenung.


“Dulu sekali, aku adalah sebilah pedang kepunyaan Imam Ali. Betapa gemuruhnya, ketika seratusribu pedang lain tunduk pada perintahku. Sasaranku satu: membuat Muawiyah Ibn Abi Soufyan, yang kala itu menjadi wali daerah ini, tunduk. Ia mengaku khilafah”


Ia mengingat-ingat peristiwa seribu empat ratus tahun yang silam. Pertempuran Shiffin, sembilan puluh ribu lawan delapan puluh ribu. Pertempuran dahsyat terjadi antara dua teman. Ammar Ibn Yasir tewas. Perang berhenti ketika Amru Ibn Ash melakukan muslihat, mengikatkan al-qur’an pada ujung tombak-tombak dan berseru: mari kembali para Kitab Allah!


Tentu saja, seluruh tentara Ali, yang islam, goncang kepatuhannya pada sang Imam.


Mari kembali pada Kitab Allah!


Dan enampuluh ribu diantara mereka berdua mati.


Tetapi, tuntutan mereka satu: bela darah atas Utsman, yang dibunuh tanpa tahu apa-apa mengenai kesudahan peristiwa sepeninggalnya. Mengenai perang, yang menimpa Khalif setelahnya.


“Dua sahabat Rasul yang agung pun berperang. Bukankah kesudahannya salah satu diantara mereka mati?”. Ya. Ali, akhirnya dibunuh seorang khawarij, yang merasa Sang Khalif tak becus menyelesaikan kasus pembunuhan Utsman.


“Ali tidak tahu apa-apa tentang masa ini. begitu pula Muawiyah”


“Pisau,” sambung peluru.


“Dulu aku adalah tameng yang digunakan Muawiyah. Belum pernah sekalipun aku diliputi darah orang muslim, kecuali saat Muawiyah mesti tergores duri kecil di pinggiran bukit dekat Damaskus”


“Saksikanlah: bukankah mereka berdua tidak pernah melukai siapa-siapa?” Pisau mengingat-ingat masa lalu. Tepat seribu empat ratus tahun yang lalu. Ketika perang bukan untuk melukai, tetapi untuk mencari kebenaran. Perang hanya antara prajurit dan prajurit. Pedang dan pedang. Dan semuanya mempertahankan kebenaran.


Kebenaran.


Kebenaran!


Tiba-tiba, jenasah sang militan bangkit, hidup kembali di hari keempat. Tubuh mati itu pelan-pelan berdiri, membelakangi pisau, peluru, dan senapan. Kebangkitan agung, tepat ketika para militan menghadang iringan kendaraan militer. Ia terlihat bercahaya, mengenakan kafiyeh dan jubah kekuningan. Gading. Menghunus sebilah pedang, yang sangat dikenal Pisau.


Ikat kepalanya berkibaran di udara.


Tubuhnya harum sekali, seperti aroma bunga-bunga sahara. Tetapi, ketika tubuh sang militan menoleh, dan wajahnya terlihat sempurna, wajah yang sangat dikenal Pisau dan Peluru mengguratkan kewibawaan:


“Imam Ali?” Kata peluru.


“Ya, ia Imam Ali!”


Imam Ali seperti memandangi reruntuhan kota, dan menyaksikan banyak pertempuran, perampasan, dan penelanjangan dengan mata batinnya. Ia seperti terlempar kembali pada masa lalu yang menyakitkan, ketika Aisyah, Ibunda Orang Muslim, mengangkat pedang kepada dirinya.


Harbul-Jamal.


“Jangan kejar mana yang lari! Jangan lakukan perampasan!” tiba-tiba, ia berseru. teriaknya tergema membahana. Imam ali mendadak disertai kemunculan ghaib puluhan ribu orang lain dibelakangnya. Pisau dan yang lain hanya bisa terpana. Peristiwa ghaib apa yang tengah terjadi dihadapan mereka?


Itu Ahnaf Ibn Qays. Panglima besar Tamim.


Itu Asytar An-Nakhi. Pewaris Khalid Ibn Walid.


Itu Malik Ibn Asytar.


Itu Ammar Ibn Yasir! Yang hanya akan dibunuh oleh para pendurhaka!


Kuda-kuda mereka mencetuskan debu, namun wajah-wajah mereka tidak mencerminkan ketakutan atau kejenuhan. Imam Ali dengan tenang, tetap berjalan kaki. Membiarkan debu-debu jalanan melekati kakinya. Ratusan tentara pemerintah Bashar dan para militan yang memang akan saling serang dan telah tiba disana, terkejut sekaligus terpana, ada ribuan orang datang secara ghaib dari kematian, dan itu adalah para sahabat  nabi! mereka keheranan. Kenapa bisa para Shahabi agung ini berkumpul, dari kematian mereka?


“Jangan kalian kira, kami mati. Kami dari sisi Allah, Tuhan Sunni dan Syiah” Ammar Ibn Yasir berkata dengan tenang. Panahnya, kini lahir sebagai pistol yang menembuskan peluru ke mata sang militan. Ia seolah tahu, keheranan akibat kebangkitan mereka yang ghaib dan mengejutkan.


“Perang ini bukan urusan kalian, bukan?” Kata Imam Ali.


“Bashar hanya ingin mempertahankan kekuasaannya. Orang-orang Farisi disana, hanya menginginkan tersebarnya keyakinan mereka kepadaku, tidak lebih”


“Tubban laka’ Bashar. Ia menjual dirinya seharga gunung di Golan! Ia menyebabkan banyak kehancuran!”


“Asytar, hadapi tentara Bashar. Kau, Ahnaf, hadapi para militan! Kita menangkan dulu kota ini!”


Tiba-tiba, orang-orang sipil yang bisa mengenali mereka berkumpul dan mengikuti langkah tentara pimpinan Imam Ali, menghentikan gelombang para pengungsi. Mereka seperti menemukan harapan yang baru.


Mereka menemukan Imam mereka, ya, Sunni dan Syiah, akhirnya menemukan Imam Ali yang sesungguhnya, bersama-sama para shahabiyin lainnya dan ingin menghentikan perang.


****


Tepat ketika senja hampir tiba, pertempuran antara para sahabat nabi ini dengan pasukan Bashar dan para militan berhenti. Tetapi, tak ada yang terbunuh atau terluka. Semuanya menjadi bunga padang pasir kecil berwarna putih ketika tertembus pedang para shahabiyin itu.


Tepat, ketika pedang orang-orang ghaib itu menyentuh kulit para tentara dan militan, ada getaran misterius yang mengingatkan mereka kepada sesuatu.


Mengingatkan mereka pada bunga putih kecil ukhrawi, yang pernah mereka tanam di masa kecil mereka, jauh di dalam hati.


Sangat-sangat jauh di dalam hati setiap mukmin.


Kemunculan mereka, dan sabetan pedang yang lembut, menumbuhkan kembali bunga-bunga putih padang pasir. Yang ramah. Yang bermadu. Yang bergoyang pelan diterpa angin sahara.


Ya, Damaskus dan sekitarnya kini dipenuhi bunga putih kecil. Seperti ladang bunga tempat para gembala bermain bersama domba dan untanya. Bunga putih, yang mendaifkan wujud jasmiyah para tentara, militan, dan kolonel.


Imam Ali yang agung lalu berhenti, di sebuah jalan besar. Asap masih mengepul di sekitarnya. Namun dipenuhi bunga-bunga putih, yang menggambarkan keriangan.


Ia memetik satu bunga putih itu, dari pinggir jalan. Ia lalu menciumnya dalam-dalam, seperti menemukan sesuatu yang mungil namun ia rindukan.


“Pertempuran sudah berhenti! Sunni, Syiah, hanya sekelompok orang yang mencari kebenaran, namun dijadikan alat pembenaran oleh mereka yang sesat!”


“Tak ada perang kecuali Perang, tak ada cinta kecuali Cinta! Kota ini adalah kota tempat para raja-raja Umayyah dilahirkan dan berkuasa. Kota ini juga tempat Umar, kekasihku, mendapatkan kehormatannya. Juga Utsman Ibn Affan, Muawiyah, Shalahuddin!”


“Tak ada tepat buat darah mengalir di kota ini! tak ada darah kecuali Darah!” Imam Ali lantang berpidato. Yang hadir setengah menangis, bisa melihat wajah junjungannya ini.


“Manusia! Ayahmu satu. Sedangkan ia dari tanah: di tanah kita berperang, di tanah pula kita mati”


Angin menggerak-gerakkan bunga-bunga putih kecil. Harumnya mewarnai kota Damaskus. Tiba-tiba, Imam Ali seperti diliputi cahaya, dan ia membuka kafiyehnya:


“Akulah Bashar Al-Asad!”


Yang hadir terkejut, lalu memandang Imam Ali yang baru saja berkata secara mencengangkan itu.


“Aku juga syuhada yang mati digilas tentara Bashar!” sambungnya.


“Aku adalah tentara, yang mati ditembak para militan!”


“Aku adalah pasir dan debu-debu kota Damaskus, aku juga gedung yang hancur diterpa ledakan. Aku adalah Ali, Muawiyah, Ammar, Asytar, Ahnaf. Aku adalah orang-orang sipil yang tak tahu apa-apa”


“Orang sipil yang tak pernah tahu apa-apa!”


“Ya! Akulah orang sipil yang tak pernah ingin tahu apa-apa!”


Segenap yang ada disana terhenyak. Menundukkan kepala. Seperti disadarkan kembali oleh kata-kata Imam Ali, negarawan besar junjungan mereka.


“Aku adalah gunung-gunung yang menyaksikan pertempuran, selama ribuan tahun di dataran ini. aku adalah Golan. Aku adalah Syiria. Aku adalah Syam. Akulah yang kalian perebutkan!”


“pertempuran ini, sesungguhnya terjadi dalam pikiran kalian saja, tanah ini tetap dengan tenang berdiri. Dataran Tinggi Golan yang bijaksana tetap ada di tempatnya!”


“Maka, jangan berpikir tentang pertempuran! Sunni, syiah, aku Imam Ali telah mati. Lalu kalian mau mempertahankan apa kecuali tiada cinta kecuali Cinta? Pada masaku, perang hanya untuk menegakkan perjanjian damai antara Utusan Allah, manusia, dan juga antara masyarakat”


“Tiada cinta kecuali Cinta, tiada damai kecuali Damai! Bashar, para militan, pisau, peluru, senapan, bendera, darah, adalah satu kesatuan, semuanya dari bumi, dan tak pantas diantara anak cucu bumi saling membenturkan diri”


Tubuh itu, seorang militan yang bangkit lagi menjadi Imam Ali, yang kini menahbiskan dirinya adalah saksi segalanya, memandang satu-satu sahabiyin yang bangkit mengikutinya.


Ia membayangkan masa kecil yang indah bersama mereka di Makkah. Ia membayangkan penyiksaan yang datang bertubi-tubi dari para penentang ketika sama-sama mempertahankan keyakinan. Ketika belum ada prasangka diantara mereka tentang siapa yang salah, dan siapa yang lebih salah.


Ingatannya pindah ke Madinah Al-Munawwarah, ketika bersama-sama nabi memerangi kebatilan, bukan memerangi rakyat sendiri.


Tetapi ini: darah keyakinan yang sama, mesti jatuh seperti gerimis ketika salah seorang dari mereka ingin mempertahankan umurnya lebih lama.


Mendadak, Imam Ali, diiringi ribuan tentara para shahabiyin mengangkat tangan kelangit dan terdengar suara dzikir yang membahana, memenuhi gurun dan lembah, memenuhi kota-kota, dan memenuhi segala ruang yang menjadi medan pertempuran. Memanggil-manggil nama Tuhan.


Memanggil-manggil rahmat yang lama terhenti. Memanggil-manggil yang maha Penyayang.


Pisau, Peluru, dan Senapan hanya bisa diam. Mereka tetap hanya benda mati, yang dipengaruhi kehendak pemiliknya. Tanpa bisa berkata-kata lagi, mereka hanya saling menggumam dalam hati.


Tentang perang.


Tentang jalannya perang.


Tentang Imam Ali yang tiba-tiba muncul, dan memberikan harapan baru bagi tegaknya kedamaian di Suriah, Iran, Iraq, Afghanistan, Sudan, Indonesia, dan segenap kantong-kantong perang lainnya yang terpendam namun menjadi bisul yang menyakitkan hati setiap orang.


Mereka akhirnya berhenti menggumam. Mereka memilih dengan syahdu mengikuti suara dzikir yang terbang di udara seperti kupu-kupu, dan satu-satu menghinggapi bunga-bunga putih kecil yang tumbuh memenuhi kota.


Seluruh kota, yang diselimuti bunga-bunga putih kecil, kini juga dipenuhi kupu-kupu dzikir para shabiyin itu, dipimpin Imam Ali. Seperti musim semi sehabis kemarau panjang yang diciptakan Bashar.


Bunga-bunga putih kecil, yang berasal dari para militan dan tentara, mekar dengan sempurna, dan menyambut matahari dengan lebih terbuka. Lalu ikut pula berdzikir, hingga dzikir itu kini aromanya seperti bunga putih kecil padang pasir.


Dan kupu-kupu terbang diantaranya, terus keatas, hingga jauh, jauh menuju ketinggian, tempat Tuhan betul-betul berada.


Dzikir mereka diikuti segenap orang-orang sipil yang hadir, dan dari menara putih Damaskus, menara sebuah masjid tua tempat di ibukota tempat Bashar mengatur jalannya perang, mendadak sebuah cahaya terang menyala lembut lalu orang-orang berteriak:



“Isa Al-Masih Ibn Maryam, Rasulullah telah nuzul kembali!"

Risalah Amar

/vladitelite

Penulis Lepas, dan Melepas Tulisan.
Selengkapnya...

KOMPASIANA ADALAH MEDIA WARGA, SETIAP KONTEN DIBUAT OLEH DAN MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.

Siapa Yang Menilai Tulisan Ini ?