HEADLINE HIGHLIGHT

Keberadaan Penulis Remaja di Kompasiana

18 Mei 2012 17:18:25 Dibaca :
Keberadaan Penulis Remaja di Kompasiana
www.examiner.com

Beberapa waktu yang lalu, saya sempat berdiskusi bersama keponakan saya tentang ekskul (ekstrakurikuler) yang saat ini cukup banyak ragamnya. Kebetulan saja Natasha, ponakan saya, saat ini menempuh pendidikanya di SMA Regina Pacis Bogor. Sekolah favorit ini, menawarkan banyak sekali jenis ekskul, mulai dari seni melukis (gambar manga dan kartun), tarian daerah, tarain hip-hop, teater, orchestra, piano, biola, gitar, paduan suara, bela diri, senam lantai, basket, futsal, ping-pong, badminton, catur, renang, pecinta alaman, komputer, paskibra, KIR (kelompok ilmiah remaja), mading, English Conversation Club , bahasa Belanda, bahasa Jepang, palang merah remaja, fotografi, club matematika, club fisika, club kimia, club biologi, club ekonomi dan akuntansi, broadcast, kolintang dan robotics education.

Saking banyaknya jenis ekskul yang ditawarkan, menurutnya kadang dirinya kebingungan dalam memilih maksimal dua jenis ekskul untuk setiap semesternya. Alhasil, dia terpaksa rembukan terlebih dulu bersama sahabat-sahabatnya, mana diantaranya yang cocok untuk mereka itulah yang dipilih. "gak asik kalo gak ada temen," katanya.

Mendengar antusiasnya menjelaskan masing-masing ekskul, saya iseng bertanya mengapa gak ada ekskul menulis di media sosial atau blogging. Diapun menjawab, kalo hanya ketrampilan blogging secara langsung sih gak ada. Kalo hanya mengasah ketrampilan menulis saja, beberapa ketrampilan yang ada sudah mengajarkan teknik menulis secara khusus, sebut saja untuk club bahasa, club mata pelajaran serta KIR juga melatih siswa untuk menulis katanya.

Diapun menambahkan kalo saja ada ekskul blogging mungkin peminatnya sedikit, lantaran banyak siswa lebih senang memilih ekskul dengan jenis yang berbeda dengan pelajaran sehari-harinya di sekolah. "ini asumsi saya lho om," Katanya

Merespon penjelasanya, saya mencoba untuk menjelaskan beberapa hal seputar dunia bloging. Namun belum juga saya menjelaskannya secara panjang lebar, dia langsung menjawab, "kalo blogging curhat dan fiksi saja sih banyak teman sudah mencoba, tapi ya itu om cuman ikut-ikutan buat blog aja, belum ada yang serius."

Mendengar penjelasannya, saya coba bertanya bagaimana kalau ada kerjasama sekolah dengan para penulis atau penyedia situs untuk kegiatan ekskul blogging. Dia hanya menjawab, boleh saja dicoba kalau pihak sekolah memang mau.

Pertanyaan saya kepada Natasha tentu ada dasarnya, karena saya berusaha membangkitkan semangat menulisnya di Kompasiana. Maklum saja, ketika dulu saya bergabung ke Kompasiana, saya sempat mengajaknya bergabung. Sayangnya hanya satu tulisan dihasilkannya dengan menggunakan nama pena Rena Mikami. Sebuah fiksiserial yang tak pernah diselesaikannya hingga saat ini.

Disaat saya berusaha "merayu" Natasha agar kembali menulis, saya mencoba menunjukan kepadanya beberapa akun anak dan remaja di Kompasiana. Sebut saja Yasmin Nadhira, putri kompasianer Aulia Gurdi. Walau masih duduk di kelas 5 sekolah dasar, Yasmin yang baru berusia 11 tahun ini telah menghasilkan 11 tulisan sejak juni 2011. Tulisan terakhirnya bertema fiksi yang ditulisnya tanggal 12 Mei yang lalu, sangat baik menurut penilaian saya.

Yasmin gak selalu dituntun oleh sang bunda untuk menulis, semuanya karena niatnya sendiri. Hanya pada awal bergabung saja sang bunda mengajarinya beberapa hal termasuk mengingatkannya tentang hal apa saja yang boleh ditulis di area publik.

Kompasianer muda yang lain adalah Christoforus Dennis, 15 tahun, putra sulung Kompasianer Christie Damayanti ini telah setahun bergabung bersama kompasiana dalam rangka mendukung ibunya yang pada saat itu baru memulai terapi menulisnya.

Awalnya gak mudah "memaksa" Dennis untuk memulai tulisan perdananya. Sejak 21 Februari 2011, dia baru berani menerbitkan tulisannya pada 7 September 2011, dengan tema komputer yang kebetulan digemarinya. Sampai saat ini Dennis baru menghasilkan 3 tulisan, dimana tulisan terakhirnya telah dibaca sebanyak 5.779. Walau Dennis baru dapat menulis dengan refrensi pelajarannya di sekolah, namun kemauannya menulis terus medapat dukungan dari ibunya tercinta.

Niat menulis kompasianer muda yang lain, dapat kita lihat juga melalui karya Meisha Athaya, 15 tahun, putri sulung Kompasianer Neny Silvana ini telah menghasilkan 5 tulisan sejak 27 Maret 2011. 4 tulisan diantaranya adalah bertema fiksi, cerita bersambung dengan judul "Cinta Tak Boleh Dipaksa," yang cukup enak dibaca.

Ketiga anak muda ini menulis di Kompasiana tentu karena orang tuanya. Berbeda dengan Dwitasari dan Joshua Martin Limyadi, kedua remaja ini memang memiliki hobi dan bakat menulis yang baik. Mereka bergabung dengan kompasiana atas niatan sendiri dan mampu menghadirkan tulisan-tulisan yang berkualitas.

Kalau anda membaca tulisan Jo (panggilan akrab Joshua), anda dapat menilai sendiri kualitas tulisannya. Sebagai pendatang baru, awalnya Jo harus menyesuaikan diri dengan penulis-penulis dewasa lainnya. Menurut pengakuanya, gak  semua menyambut kehadiranya dengan hangat

Anggapan yang sama juga dirasakan oleh Dwita. Pada awalnya bergabung, penulis muda yang piawai dalam menulis Fiksi ini diuji mentalnya dengan segudang pertanyaan. Karyanya-karya fiksi buah tulisannya diragukan oleh banyak orang. Bahkan banyak juga meragukan usianya, yang kala itu baru 16 tahun.

Saya cukup mengenal kedua kompasianer muda ini. Dwita maupun Jo kini telah berusia 17 tahun. Semangat menulisnya masih tetap ada, walau gak  seperti awal-awalnya mereka bergabung.

Jo maupun Dwita pernah merasakan bagaimana berhadapan dengan kompasianer dewasa, bahkan Dwita sendiri sempat memberikan penilaian yang berbeda, menurutnya terdapat jarak antara generasi muda dan tua (senior). Sehingga penulis muda seolah-olah mendapat tempat dan perlakukan yang berbeda.

Saya gak tau apakah penulis muda yang lain memiliki anggapan yang sama. Namun yang pasti gak semua Kompasianer senior memperlakukan mereka seperti itu.

Mereka memang masih muda, kadang menulis dan berkomentar dengan emosi yang menyala-nyala. Ya seperti itulah mereka, dengan keberadaanya masing-masing.

Selain mereka di atas, mungkin masih banyak yang lainnya. Seperti beberapa siswi dari SMK Prudent School yang cukup banyak bergabung pada awal tahun 2012, antara bulan Januari dan Februari yang lalu. Mereka antara lain, Endah Fazriah, April Yanti, Adis Sastra, Ratna Sari, Indriani Sapitri, Dwi Andryati, Dhinar Dwi Putri, Putri Ayu Puspasari, Gita Ratna Cahya dan Henny Widia.

Sayangnya kebanyakan dari mereka hanya menghasilkan satu judul tulisan saja  pada awal bergabung, kemudian menghilang sampai saat ini. Mudah-mudahan ini hanya sementara, semoga suatu saat nanti mereka akan kembali lagi menulis di sini.

Di luar sana mungkin masih banyak lagi kompasianer muda yang berusia dibawah 18 tahun. Secara kualitas mungkin mereka jauh dari penulis dewasa atau senior, namun saya yakin apabila terus berlatih dan mendapat bimbigan yang baik, mereka dapat menjadi penulis-penulis yang berbakat.

Memang gak mudah bagi mereka untuk masuk dan bersosialisasi dalam komunitas dewasa. Memang gak mudah juga menjamin bahwa mereka akan betah dan rajin menulis. Semoga saja, pengelola Kompasiana dan khususnya kompasianer dewasa dapat turut mendukung dan memberikan tempat bagi mereka di sini. Paling gak, rubrik muda yang sudah ada dapat menjadi rumah mereka untuk berlatih, berkreasi, sharing and connection.

Untuk orang tua yang telah membuka jalan untuk putra-putrinya, teruslah bersemangat membimbing mereka untuk mencintai dunia menulis tanpa harus mengorbankan masa-masa remaja mereka.

------------

List Tambahan

  • Ikel Bagus putra kompasianer  Bowo Bagus yang saat ini baru berusia 7 tahun
  • Elsa Mardianita Siswi kelas 3 SMA, berkeinginan lulus UN  dengan nilai 9 dan tembus SMNPTN
  • Claudy Yusuf baru mengikuti UN. Bergabung dengan kompasiana sejak 26 Februari 2010. Sudah 134 tulisan dihasilkannya.

1337351939613789480

Tovanno Valentiino

/valentino

TERVERIFIKASI (HIJAU)

Hanya Seorang Pemimpi

Selengkapnya...

KOMPASIANA ADALAH MEDIA WARGA, SETIAP KONTEN DIBUAT OLEH DAN MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.

Siapa Yang Menilai Tulisan Ini ?