Melihat Yahudi Lebih Dekat

18 Juni 2017 22:44:31 Diperbarui: 18 Juni 2017 22:55:43 Dibaca : 160 Komentar : 4 Nilai : 4 Durasi Baca :
Melihat Yahudi Lebih Dekat
Dokumen pribadi

Apa yang terbayang dalam pikiran anda ketika mendengar kata "Yahudi"?. Bagi saya Yahudi adalah manusia zaman dulu yang jahat banget sama Umat Islam, yang kafir banget pokoknya. Itulah kesan yang saya dapat dari keterangan guru Agama kami ketika beliau menerangkan dari Hadis dan Sunah serta Al Qur'an.  Di fikiran saya, Yahudi itu udah nggak ada lagi di zaman ini. Nggak tahu kenapa kok saya mikirnya itu cerita sejarah aja. Yahudi yang ada di pikiran saya waktu itu adalah ras manusia, sekumpulan ras manusia.

Sampai ketika tinggal di Amerika saya baru tahu kalau Yahudi yang saya dengar di kampung lewat ajaran agama itu beda dengan Yahudi aslinya.  

Ya, tinggal di Amerika membuat saya melihat lebih dekat apa itu Yahudi.  Dokter-dokter di Rumah Sakit dimana suami bekerja kebanyakan adalah Yahudi. Menurut saya rata2 orang Yahudi disini punya pekerjaan yang bagus seperti dokter2 spesialis itu. Setidaknya orang2 itulah yang saya tahu, karena belum pernah sih lihat Yahudi yang berinteraksi dengan kami adalah Yahudi tidak berada. Mereka sepertinya peduli dengan pendidikan tinggi jadi tak heran mereka mempunyai pekerjaan yang bagus2.

Yahudi taat juga sama seperti Muslim atau pemeluk agama lainnya, mereka peduli dan memperhatikan apa yang mereka perbuat sesuai dengan ajaran agamanya seperti makan tidak boleh sembarangan makan, makanya mereka punya pelabelan khusus pada makanan yaitu "Kosher". Label Kosher ini mungkin mirip label Halal bagi makanan umat Islam.

Kalau dalam Islam, yang punya kewenangan dalam pelabelalan Halal  adalah para Ulama, dalam Yahudi yang punya kewenangannya ya ulama Yahudi yang mereka sebut Rabi. Saya sendiri tidak tahu persis apa dan bagaimana kriteria makanan yang layak diberi pelabelan Kosher ini.  Yang jelas, bagi Yahudi taat sepertinya mereka menjaga banget apa yang mereka makan. Pernah kami memberi hadiah kepada salah seorang co-worker suami dan hadiah itu dia kembalikan dengan alasan tidak memiliki label Kosher.

Saat Natal tiba, sering kami menerima hadiah dari rekan kerja suami juga berupa minuman seperti Anggur dan anggur2 yang datang dari co-worker itu selalu berlabelkan Kosher.  Jangan salah, Natal disini lebih merupakan budaya menurut saya daripada ritual keagamaan. Ya, seperti Lebaran aja di kita. Ritual agamanya kalah sama budaya belanja dan hura2nya. Hal ini menjadikan Lebaran dinikmati dan dirayakan bukan cuma oleh umat Muslim tapi juga oleh sodara2 kita yang non Muslim.

Hal sama berlaku dengan Natalan disini walaupun kami tidak merayakannya tapi suka kecipratan hadiah2nya walaupun pada akhirnya hadiah2 seperti minuman anggur itu harus kita kasihkan lagi sama yang lain karena kami tidak mengkonsumsi anggur.  Bukan apa2, tidak suka saja karena menurut lidah kampung saya, anggur itu rasanya biasa2 aja sih, mungkin karena tidak terbiasa. 

Tapi beneran, rasa anggur itu yang di film2 kayak minuman apa begitu, rasa aslinya di lidah saya, it's not like you miss something big-lah, kalau kita gak pernah mencicipinya.  Enakan Bajigur, itu minuman jahe dicampur gula merah di kampung. Ya, nggak apa2 ya nggak suka minuman orang, karena orang lain juga belum tentu suka minuman Bajigur saya. Saya nggak mau pura2 suka anggur hanya demi pergaulan biar kelihatan keren dan cool, padahal habis nenggak itu anggur, muntah2 sempoyongan. Mending muntahnya duit, lha ini pasti muntahnya isi perut yang jejay berejay. 

Lupakan Bajigur, kembali ke label Kosher. Saya sering lihat aja di produk2 yang beredar disini label Kosher ini, bahkan di beberapa supermarket ada lorong khusus produk2 Kosher. Ketika suatu waktu kami berada di salah satu jaringan rumah sakit Mount Sinai, saya menemukan kantin khusus "Kosher" yang terletak di sebelah kantin biasa. Saya sampai kaget. Oh ternyata sampai segitunya ya mereka sama  penjagaan makanan mereka. 

Dulu, ketika saya pergi ke tempat kursus menjahit setiap akhir pekan; Sabtu dan Minggu, kami harus melewati jalan dimana saya sering melihat para umat Yahudi ini berjalan menuju Sinagog.  Mereka berpakaian khusus, yang laki2 memakai seperti peci kecil itu, dan wanitanya memakai baju yang sopan2.

Mereka berjalan ada yang bersama keluarganya atau hanya bersama pasangan dan atau anaknya aja. Saya heran kenapa mereka berjalan menuju Sinagog. Ternyata hal itu berkaitan dengan ajaran agama mereka juga yang pastinya saya tidak tahu. Intinya sih dalam jarak tertentu menuju rumah ibadah mereka harus berjalan kaki tanpa bantuan mesin seperti mobil. Jalan menuju tempat kursus menjahit itu juga, kami melewati sekolah swasta Yahudi serta Sinagog.

Didepan Sinagog ada beberapa bangunan dengan didepannya ada tulisan2 yang tidak saya kenali yang kemudian saya baru tahu, itu tulisan Ibrani. Jadi ingat bahasa dan tulisan dalam Islam kan Bahasa Arab. Jadi mereka juga punya bahasa dan tulisan khusus ya, Ibrani atau Hebrew itu.

Cerita co-worker yang Yahudi sih, kalau Yahudi taat, mereka bakal milih jodoh juga sesama Yahudi. Ya, kayak orang Muslim kali dan bagi pemeluk agama lainnya yang berfikir lebih mudah berurusan sama orang yang memiliki keyakinan yang sama.

Dari semua hal yang dilihat tentang Yahudi di Amerika sini, akhirnya saya berkesimpulan kalau Yahudi ya agama kayak Islam, Kristen dan agama2 lainnya di dunia, mereka punya aturan khusus, mengajarkan hal yang baik2, sesimpel itu aja. Hilanglah pikiran kalau Yahudi itu orang jahat di kepala saya. Jahat atau tidak, itu tergantung orangnya, tidak bisa dipastikan yang jahat itu agama A atau agama B. Semua orang berpotensi jadi baik dan jahat, tak terkecuali agamanya apa.  

Amerika seperti negara lainnya yang tidak sempurna, hanya hidup di Amerika dengan multi kultur, multi agama, membuat saya lebih faham tentang ajaran agama orang lain dan belajar menghormati perbedaan yang ada. 

Tak ada salahnya mengetahui ajaran agama dan budaya orang lain untuk membuka wawasan kita.

 

 

 

KOMPASIANA ADALAH PLATFORM BLOG, SETIAP ARTIKEL MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.

NILAI :

Daftarkan email Anda untuk mendapatkan cerita dan opini pilihan dari Kompasiana