Novel

Novel | Perempuan dari Blambangan (2)

12 Agustus 2017   08:45 Diperbarui: 12 Agustus 2017   09:02 124 9 8

-----Dendam Masa Lalu -----

"Lepaskan cincin ini," ibu menarik tanganku dan melepas cincin yang ada di jari manisku 

 "Pakai ini, ibu ganti dengan cincin yang baru," lalu memberiku sebuah cincin yang lain. 

Mataku terpaku menatap ibuku, berlompatan tanda tanya di benakku. Aku masih  belum memahami maksudnya. 

Kuamati cincin baru itu, persis sama dengan yang dilepas dari jariku.  Tetapi  polos, tidak ada sebuah nama yang terukir di situ. Apa apaan ini, pikirku. Aku bingung, kembali kupandang ibuku. Dingin, bibirnya terkatup rapat menahan perasaan.

Pagi itu aku baru sampai di rumah ibuku. Naik kereta api malam dari Surabaya ke Banyuwangi. Ibu meneleponku kemarin, sebelum jam pulang kerja, menyuruhku pulang. Penting! Katanya, tidak bisa dibicarakan lewat telpon. 

Pulang kerja, kebetulan hari jumat tidak ada kuliah. Aku pulang ke rumah ayah untuk pamit tapi ayah masih di kampus, mengajar. Kutitip pesan pada ibu tiriku. Lalu pamit kepada Mas Kendar tunanganku dan diantar ke stasiun Gubeng. Seharian itu aku sangat letih berkejaran dengan waktu. 

Dan fajar telah menyingsing ketika sampai di rumah. Inginku segera merebahkan badan membuang lelah. Tetapi baru saja kepalaku mendarat di atas bantal, ibu masuk dan tergesa  mengunci pintu kamar. Aku sudah merasa aneh. Apalagi kemudian setengah memaksa melepas cincin pertunangan yang kupakai. 

"Tapi kenapa, Buk?" Tanyaku penasaran.

"Ibunya Kendar sudah membatalkan pertunangan kalian, dan cincin serta semua barang dalam kotak peningset akan ibuk kembalikan." Tegas suara ibu. Agak keras. 

"Apa?" Aku melonjak bangkit, terduduk membeku. Panas mukaku.Serasa ada merah  lidah api menjilat-jilat wajahku. Dan.asap pekat terhirup menyesakkan napasku. 

"Tapi kenapa? Aku dan Mas Kendar tidak ada masalah. Dia semalam mengantarku ke stasiun dan tidak berkata apa -apa, " ada rasa yang campur aduk di dadaku. 

Membayangkan terpisah dari laki-laki yang sangat kucintai Mengerikan! Akan sanggupkah aku melanjutkan hidup tanpa dirinya? 

"Ibunya yang bermasalah. Calon mertuamu itu merasa  tahu diri. Menyadari anaknya yang bukan sarjana dan bukan PNS tidak pantas bersanding denganmu. Dan dia yang hanya pedagang kecil di pasar tak sebanding berbesan dengan ibumu ibu guru yang terhormat, terpandang, disegani masyakat hingga pejabat di kota ini, "astaga ibuku. 

"Benarkah itu,Buk ?" tanpa sadar aku bersuara sedikit keras. Lalu kubekap mukaku dengan kedua belah tanganku. Ya Tuhan. 

"Benar! Itu yang dikatakannya kemarin. Nenekmu ikut mendengarkan!" wah wah. .

"Pasti ada sebabnya mengapa ibunya Mas Ken berkata begitu  Sulit kupercaya, Buk! " mataku mulai terasa panas. Jantungku berdetak kencang. 

"Kenyataannya begitu. Berani -beraninya dia mempermainkan anak gadisku, memutuskan sepihak, mempermalukan keluarga besar kita . Ini penghinaan!  Memangya siapa mereka? Ibuk malu, Vinaaa...!"suara ibuk bergetar, dadanya naik turun. Sebelah tangannya mengusap pipinya yang basah air mata. 

Astagaa....sudah lama aku tidak melihat ibu muntah amarah. 

Wajah ibuku yang biasanya lembut, sekilas tadi kulihat  mengeras.

Tutur kata ibuku yang biasanya halus, tadi sempat  terdengar kasar. Aku tidak mengenali ibuku yang ini. Seperti induk singa yang terluka sedang  mendekap bayinya. 

Aku takut penyakit darah tnggi ibuku kumat. Bisa gawat. 

Perlahan kuturunkan kakiku memijak lantai. Duduk mendekat kupeluk ibuku. Kusandarkan kepalaku di pundaknya. Dapat kurasakan, ibu menarik napas panjang dan perlahan menghembuskanya. 

"Istighfar, Buk, " bisikku lirih. 

Sesaat sunyi, kami sama terdiam membisu. Sekian jeda. Pikiran berjalan sendiri -sendiri. Aku tidak berani membuka kata lagi. 

Lalu, lembut kurasakan usapan di puncak kepalaku. Aku lebih erat memeluknya. Napas ibu sudah mulai teratur normal lagi.

"Bersabarlah! Seperti kesabaran matahari. Yang berlindung ketika mendung menutupi dan akan bersinar lagi ketika mendung pergi. ," lirih suaranya seakan berbisik. 

Aku menyimak nasehat bijaknya. 

"Tabahkan hatimu seperti ketabahan bumi. Yang menunggu hujan di musim kemarau. Untuk menyuburkan berjuta harapan, " lalu tangan halus ibu menyentuh daguku, aku agak mendongak, netra teduhnya menatapku. 

Sejuk kurasakan menyelimuti hatiku. Seperti sejuknya pagi hari, udara berganti ketika jendela dibuka. 

"Kamu mengerti? "

"InsyaAllah,"

Kalau ibuku sudah begitu, kasih sayang dan cinta yang mana lagi yang kuragukan. Tidak mungkin kutukar dengan cinta yang lain. 

Aku percaya Takdir Tuhan. Dengan keyakinan itu, telah kujalani beribu hari dengan langkah ringan. Walau kenyataan seringkali berlari dari angan -angan. 

***

Aku masih penasaran, akan kucari sebab mengapa calon mertuaku memutuskan sepihak. Aku yakin anaknya belum tahu sebelumnya. 

"Sebenarnya ibuk Mas Kendar kenapa? "

Kepada Bu Lekku aku bertanya. Dia dulu teman sekolah Mas Ken dari SD sampai SMP. Mereka sangat akrab. 

"Entah mulut siapa yang menebar gosip. Tahu sendiri kamu, ini di kampung, omongan dari mulut ke mulut cepat sekali menyebar."

"Gosip tentang apa? "

"Katanya ibumu pernah ngomong, Kendar tidak sepadan denganmu, kamu sepantasnya memilih suami yang sarjana, dari kalangan terpelajar. Dan ibunya Ken sangat tersinggung."

Sudah pasti. Dalam hatiku. 

"Bu Lek, pernah dengar ibuku bicara begitu? "

"Walaupun misalnya aku dengar, aku juga tidak mungkin mbeber urusan keluarga ke luar. Aku ini kan adik kandungnya, mungkin saja ada ipar yang ngember, "

"Bener juga," tukasku. "Aku nanti malam mau pulang, menurut, Bu Lek, aku harus bagaimana kalau ketemu Mas Ken?"sambungku. 

Bu Lekku diam sebentar, berpikir. 

"Kamu yang lebih tahu. Tapi aku tahu Ken sangat berbakti kepada ibunya. Apapun perintahnya akan dilakukan."

Benar sekali, Ken anak yang sangat berbakti. 

"Tapi, Vin, kalau melihat cinta Ken sama kamu, bisa jadi kamu diajak kawin lari,"

"Ah, Enggaklah!"sergahku. 

"Jadi kamu diam saja, terima nasib, ,begitu? "

"Bukan begitu. Aku lebih menjaga perasaan ibuk. Sampean gak tahu, tadi ibuk marah-marahnya hueboh banget, "senyumku tipis saja. 

"Ha ha ha. .awas kualat, ngerasani ibune dhewe, " Bu Lekku ngakak. 

***

Palaros dan Kendar. 

Surabaya yang macet di akhir pekan. Panas,.bising, motor dan mobil memenuhi jalan panjang Raya Darmo. Knalpot bus kota yang mencemari udara dan menyesakkan dada.Menyebalkan!  

Aku akan ke acara pertemuan Palaros-Paguyuban Lare Osing. Kalau tidak jeli menangkap peluang. Menyelipkan motor matic-ku  di selah-selah mobil yang berjejer, mengular di perempatan di depan Masjid Al-Falah menunggu lampu hijau menyala. Aku bisa terlambat sampai di tempat. . 

Di sebuah rumah di Jl. Diponegaro, aku berbelok, perlahan memasuki halaman.Beberapa mobil dan motor sudah terparkir berhimpitan.

Acara sudah dibuka. Terdengar dari salon kecil di depan rumah. Gegas aku masuk, menulis namaku di daftar hadir. Kukira aku sendiri yang terlambat, ternyata di belakangku masih ada yang antri mengisi absen. 

"Novina?"

Suara panggilan membuatku balik badan. 

Pria berkulit hitam yang terbakar panasnya kota buaya. Badannya keras berotot seperti binaragawan. Mengenakan celana jeans biru yang mulai pudar menjadi abu-abu. Hem bergaris yang lengannya dilipat sampai di bawah siku. Seulas senyum manisnya  sangat simpatik.

"Lupa. ..ya? Aku juga pangling kalau tidak membaca namamu,"

Dia mengulurkan tangannya. Begitu saja kami saling menatap lekat. Matanya, aduuh matanya. Sepersekian detik aku terpana. 

"Kendar, rumahku yang di sebelah SMP. Dan kamu kalau jam istirahat atau membolos nge-posnya di warung sebelah," sambil tertawa geli. 

Aku jadi malu diingatkan masa -masa itu. 

"Ooh, ya ya. .aku ingat, jadi selama ini Mas Ken kerja di Surabaya?  tapi baru sekali kita ketemu di Palaros. Aku jarang bisa datang sih," 

Sambil berjalan menuju ruang acara kami terus saja bertanya jawab. 

"Baru setahun aku di sini, yang lama di Bali. Kudengar kamu mengajar sambil kuliah?"

"Iya, belajar mandiri, Mas. Kuliahku kan malam. ,"jelasku. 

Palaros adalah Paguyuban Lare Osing alias tempat berkumpulnya orang-orang dari Banyuwangi yang ada  di Surabaya. Pelajar, mahasiswa, pekerja dan apapun status serta profesinya. 

Orang Osing  (suku asli Banyuwangi ) atau bukan.  jika ber-KTP Banyuwangi bisa bergabung di Palaros. Seperti aku yang bukan orang Osing, hanya kebetulan numpang lahir saja, ikut bergabung untuk meluaskan pergaulan dan menimba pengalaman dari orang -orang yang lebih senior dan sukse. Kami juga saling terbuka bila ada masalah dan saling membantu. 

Kumpul -kumpul rutin minimal sebulan sekali yang lebih bersifat kekeluargaan. Tapi kadang jadi ajang para jomblo ketemu jodoh. 

Sejak bertemu di Palaros itu ,berlanjut ke kunjungan Ken ke tempat kosku. Dan disusul ketemuan berikutnya dan selanjutnya.

Tidak sulit bagiku untuk menangkap gelagat yang tersirat. Dari tatap matanya, bahasa tubuhnya, dan tutur katanya. Semua menunjukkan satu hal. Hati kami saling terpaut tanpa banyak kata. Proses kedekatan berjalan alami di sela rutinitas kerja, dan tugas -tugas kuliahku yang melelahkan. Satu tahun pacaran lalu 4 bulan sudah cincin pertunangan melingkar di jari manisku. 

Pada ditinya, ada sesuatu yang membuat laki-laki itu berbeda di mataku. Bukan laki -laki yang suka bicara manis, pamer kesuksesan atau membanggakan pencapaiannya demi  mendapat kesan sebagai laki-laki hebat untuk memikat perempuan yang didekati. 

Ken lebih banyak bercerita tentang pahit getir kehidupan yang menderanya. Bagaimana rasanya mempunyai ayah seorang bekas tapol dan meninggal di penjara. Lalu sang ibu bekerja keras menghidupi lima orang anak yang masih kecil -kecil. 

Jangankan bermimpi tentang kuliah, untuk menamatkan SMK, ibunya terpaksa menyewakan tiga kamarnya untuk anak kos. Jadilah satu keluarganya tidur dalam satu kamar berdesakan. 

Tamat SMK kala itu, Ken merantau ke Bali. Itupun berangkatnya menumpang truk yang mengangkut kelapa. Bekerja apa saja dijalani untuk bertahan hidup. Dan selalu menyisihkan sebagian hasil kerjanys untuk dikirim ke Ibunya, membantu biaya sekolah adik-adiknya. 

Dia laki-laki pejuang. Matang ditempa kerasnya kehidupan. 

Ketika akan melamarku ,  ia berkata, "Hanya Cinta dan semua tanggung jawab yang menyertainya yang kupunya. Bukan segepok rupiah dan dolar apalagi tabungan tambun di Bank. Bila kau mau hidup bersamaku, bukan di sebuah rumah yang megah. Tetapi hanya di sebuah gubuk cinta. 

Dan akupun menerima lamarannya. . Lamaran yang unik, sederhana. Menyedihkan! ( kedengarannya ) tapi bagiku sangat istimewa, karena aku ikhlas menerima dia apa adanya

Dengan kekuatan cinta apapun bisa dilakukan. 

Tapi kini apa yang terjadi? Tiba-tiba saja badai menerpa dari arah yang tak terduga. Dan entah masih apalagi yang akan kuhadapi. 

Jadi, aku harus bagaimana? Ya Allah. 

"Vina, kamu kenapa? Jadi pulang malam ini? "

Panggilan ibuk membuyarkan lamunanku. Sedikit gugup aku menjawab."Ya jadi lah, Buk," tergesa aku masuk ke kamar, berkemas. 

"Bagaimana seandainya, kamu diajak Ken kawin lari, Vin?" 

"Belum tahu Vina, Buk. Ketemu orangnya saja belum," kataku asal jawab. Aku tahu ibuk cuma mancing. 

"Yang pasti, Vina tidak akan menikah tanpa restu orang tua dari kedua belah pihak. Ibu tidak perlu kawatir Vina akan bertindak bodohari, "kuyakinkan ibuku. 

"Bener?"

"InsyaAllah, Buk. Vina sudah belajar dari pengalaman orang lain yang rumah tangganya cuma seumur jagung karena kawin lari, "

"Bagus! Ibu terharu mendengarnya. Ibu senaang sekali, gadisku sudah dewasa.Trimakasih, sayang, " 

Ibuk bangkit dari duduknya. Menubrukku . Mendekapku. Menciumiku. Air matanya membasahi pipiku. Akupun ikut larut dalam tangisnya.


Bersambung. 

Nb. entah kenapa tidak bisa pasang gambar.