Kasus pluralisme,ada apa diceramah agama TV One (2)

20 Juni 2017 04:41:53 Diperbarui: 20 Juni 2017 06:06:51 Dibaca : 33 Komentar : 2 Nilai : 2 Durasi Baca :

Setelah pada artikel sebelumnya saya mengungkap perasaan heran, marah serta sedih sebagai reaksi atas pernyataan bernada pluralistik dari sang 'kyai' maka sebagai kelanjutannya pada artikel ini saya merasa berkewajiban merekonstruksi secara ilmiah faham pluralisme keagamaan yang memandang agama agama secara sepintas dari permukaan dan lantas menyamaratakan serta mensejajarkan semua agama sebagai 'sama baik dan sama benar' tiada lain untuk menunjukkan bahwa faham demikian itu sama sekali tidak memiliki dasar ilmu pengetahuan yang konstruktif dan hanya sekedar sebuah pemikiran spekulatif belaka sebagai respon atas adanya agama yang berbeda beda

Tetapi faham pluralisme keagamaan itu harus dibedakan dengan prinsip pluralisme sosial yang mengajarkan : kerukunan, toleransi, saling menghormati.artinya prinsip demikian jangan menjadi landasan serta bibit dari lahirnya faham pluralisme keagamaan serta jangan dijadikan pembenaran atas eksisnya faham pluralisme keagamaan

Artinya prinsip toleransi serta saling menghormati misal jangan disertai tuntutan untuk saling membenarkan satu sama lain sebab itu ada pada dua dimensi yang berbeda.saya menghormati dan toleran dengan kepercayaan tuan X tetapi bukan berarti saya harus membenarkan apa yang dipercayainya itu

Untuk langsung ke inti perkara yang sesungguhnya maka di awal harus saya nyatakan bahwa prinsip pluralisme keagamaan sebagaimana yang saya ungkap diatas itu adalah suatu faham yang keliru-salah dan sesat secara keilmuan maupun bila dilihat dari kacamata agama karena berlawanan dengan :

1.prinsip tauhid

Prinsip tauhid yang dibawa oleh semua para nabi-rasul menyatakan bahwa 'tiada Tuhan selain Allah' dan itu merupakan pokok-inti-landasan dasar dari iman dalan agama Ilahi. dimana bila tauhidnya rusak maka rusak pula iman serta agamanya.contoh bila seorang beriman menyatakan bahwa penyembahan kepada selain Allah juga adalah kebenaran maka akan rusaklah imannya

2.prinsip hukum identitas

Prinsip pluralisme berlawanan dengan prinsip hukum identitas karena menyatakan bahwa hal hal yang essensinya berlawanan itu semua sama saja. kaum pluralis mungkin melihat bahwa semua agama mengajarkan moralitas-kebaikan yang sama seperti : melarang berbuat jahat-menyuruh berbuat baik pada sesama dlsb. tetapi ajaran moral demikian sebenarnya bukanlah inti dari agama sebab inti dari agama sebenarnya adalah terletak pada apa dan siapa yang disembah. dan sebab kalau sekedar ajaran moral maka siapapun dapat membuat dan memproklamirkannya

Prinsip hukum identitas menyatakan bahwa dua atau lebih hal yang essensinya berlawanan mustahil semua sama benar. nah sebagaimana kita ketahui para penganut agama yang berbeda beda menyembah Tuhan yang berbeda beda dan sebab itu menyatakan 'semua agama benar' sama dengan menyatakan bahwa Tuhan yang berbeda beda itu ada semua,suatu yang mustahil secara logika mengingat logika menyatakan bahwa ketertataan alam semesta hanya mungkin dikendalikan oleh satu Tuhan

prinsip hukum identitas akan memuarakan persoalan ilmu dan kebenaran pada adanya hanya satu kebenaran tunggal, sebab itu realitas yang yang beragam yang essensinya berbeda beda satu sama lain termasuk agama-kepercayaan mustahil melahirkan banyak kebenaran hakiki yang berbeda essensinya satu sama lain.itu secara prinsip hukum keilmuan walau dalam kenyataan tentu suatu biasanya dianggap sebagai 'kebenaran' itu karena demikianlah klaim penganutnya

Hukum identitas yang meniscayakan adanya kebenaran tunggal itu melahirkan dualisme logika benar-salah,disebut benar apabila paralel dengan konstruksi kebenaran yang dinyatakan dan disebut salah apabila tidak sesuai-tidak paralel atau berlawanan dengan konstruksi kebenaran yang dinyatakan

Bagi penganut Agama Ilahiah penyembahan kepada selain Allah mau tak mau harus dinyatakan sebagai salah sebagaimana demikian menurut aturan hukum identitas sebab bila tidak atau bila dibenarkan maka disamping merusak prinsip hukum identitas juga merusak komitmen mengimani satu Tuhan

Hukum identitas itu ada di semua cabang ilmu pengetahuan dan konsekuensi dari adanya hukum identitas disemua cabang ilmu pengetahuan itu bisa kita alami di sekolah misal, dimana dalam semua cabang ilmu pengetahuan ada prinsip benar-salah.dalam ujian di sekolah maka dari seluruh materi ujian dan lalu jawaban yang diberikan ada yang dibenarkan dan ada yang disalahkan.mustahil semua jawaban yang berbeda beda semua dibenarkan. contoh lain, bila guru memberi pilihan jawaban antara pilih :a-b-c-d maka jawaban yang akan dibenarkan hanya satu mustahil semua pilihan jawaban yang berbeda beda semua dibenarkan

Bila seorang murid memilih salah satu jawaban diantara pilihan jawaban lainnya, kita tak boleh berkata kepadanya 'jangan merasa benar sendiri ya karena yang memilih jawaban yang berbeda denganmu juga sama benar'..sebab sesuai dengan hukum ilmu pengetahuan-prinsip identitas maka yang akan dibenarkan sang guru pasti hanya satu,dan bila sang murid memilih salah satu berdasar keyakinannya itu disamping hak nya juga merupakan hal yang baik dan benar terlepas dari apakah pilihannya nanti dibenarkan sang guru, ketimbang meragukan semuanya atau membenarkan semuanya yang pastinya tidak akan memperoleh nilai sama sekali

Nah prinsip logika benar-salah itu harus pula digunakan ketika kita berbicara tentang berbagai hal-permasalahan termasuk kajian yang berkaitan dengan madalah agama agar melahirkan konsep benar-salah yang terang benderang, tidak abu abu, sebab kita harus menggunakan prinsip ilmu pengetahuan ketika kita membahasnya,jangan berdasar atau bersandar pafa perasaan atau prinsip kemanusiaan semata misal

......

Tetapi hadirnya artikel ini jangan sampai merusak prinsip kerukunan, saling menghormati antar sesama pemeluk agama yang berbeda.artikel ini dihadirkan tiada lain untuk membabat habis prinsip keagamaan yang keliru-yang sesat baik secara hukum keilmuan dan apalagi apabila dilihat dari kacamata sudut pandang agama Ilahiah,yang bila dibiarkan bisa merusak iman maupun logika akal fikiran

Jangan sampai prinsip kerukunan, saling menghormati itu dijadikan dalil-landasan bagi lahirnya prinsip keagamaan yang salah

Biarlah masing masing nemegang keyakinan itu dalam hatinya tanpa harus memprovokasi yang lain dan tanpa menyatakan sebagaimana dinyatakan 'kyai pluralistik' itu di TV one

Jaga iman dan tegakkan hukum ilmu pengetahuan diberbagai bidang termasuk pada masalah yang berkaitan dengan agama tanpa merusak suasana kedamaian tentunya

....

Ujang Ti Bandung

/ujangbandeung

Mencoba membingkai realitas dengan bingkai sudut pandang menyeluruh
Selengkapnya...

KOMPASIANA ADALAH PLATFORM BLOG, SETIAP ARTIKEL MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.

NILAI :

Daftarkan email Anda untuk mendapatkan cerita dan opini pilihan dari Kompasiana