Unnu Hartomo
Unnu Hartomo Wiraswasta bidang engineering

Design engineer with mechanical engineering background.

Selanjutnya

Tutup

pilihan

Perlukah Peran Pemerintah dalam Pembentukan Mental Penduduknya?

17 Mei 2017   07:21 Diperbarui: 17 Mei 2017   17:12 71 1 0

Judul artikel ini mungkin agak membingungkan para pembaca untuk memahami maknanya. Namun secara umum saya ingin mengajak para pembaca untuk membandingkan, antara salah satu negara maju dan negara Indonesia, khususnya berdasarkan kebiasaan dan bagaimana mengontrol suatu isu atau rumor yang berkembang di masyarakat agar tidak semakin membesar yang pada akhirnya bisa saja membahayakan kelangsungan kehidupan dalam negara bersangkutan. Apalagi dalam negara Indonesia yang populasi penduduknya termasuk 5 besar terbanyak di dunia, setiap isu atau rumor yang beredar di masyarakat bisa saja memicu kekacauan karena melibatkan massa yang besar. 

Ini hanya perbandingan dengan salah satu negara maju, berdasarkan pengalaman saya selama tinggal di Jerman antara tahun 2003-2013. Saya hanya akan menuliskan kasus per kasus tanpa waktu kejadiannya. Sebernarnya banyak sekali kasus yang saya temui selama di Jerman, tapi di sini saya akan menguraikan beberapa saja. Namun dari perbandingan rangkuman kasus-kasus ini, semoga bisa diperoleh pelajaran berharga untuk kita semua, bagaimana peran pemerintah Jerman untuk mengontrol dan membentuk mental penduduknya. 

Mengapa saya menekankan ini merupakan "pembentukan mental penduduknya"? Hal initidak terlepas dari segala kasus atau kebiasaan yang terjadi di suatu negara, kalau tidak dihadapi dengan hati-hati dan bijaksana akan menyebabkan chaos, karena bisa mengacaukan mental penduduknya menuju kebingungan, yang pada akhirnya bisa menimbulkan tindakan-tindakan anarkis.

Dari sekian banyak hal atau kasus yang saya temui, saya akan tulisakan beberapa rangkuman contoh kasus saja yang bisa dibandingkan antara Negara  Jerman dan Negara Indonesia adalah sebagai berikut:

 

I.                  Supremasi Hukum

Pemerintah Jerman sangat memperhatikan kelangsungan kehidupan masyarakatnya, hal ini bisa dilihat bagaimana semua hal diatur dengan hukum-hukum yang sangat rapi dan ketat, dengan aturan yang jelas dan sangsi yang tidak memihak, semua sama di hadapan hukum tanpa terkecuali. Sangat terlihat hukum di Jerman sebagai kekuasaan tertinggi. 

Banyak contoh-contoh sederhana, di mana pejabat tinggi sekalipun yang melanggar hukum pasti akan terkena sangsi hukum sesuai perbuatannya. Hukum dan sangsi pelanggarannya sangat nyata penerapannya di Jerman. Siapapun pasti akan berusaha taat hukum, sehingga secara umum kehidupan di Jerman sangat tertib dan rapih. Bahkan ada orang Jerman yang bisa seenaknya di negara lain, seperti di Indonesia, akan kembali taat hukum lagi ketika telah sampai di Jerman.

Bandingkan dengan di Indonesia, pelanggaran hukum banyak terjadi di mana mana. Hal ini karena kurang kuatnya supremasi hukum. 


II.               Standar Kehidupan “Berdasarkan ISO”

Ini hanyalah suatu simbolisasi saja. Maksudnya berdasarkan ISO adalah secara umum, aspek kehidupan di Jerman adalah bagaikan berdasarkan sistem ISO, yaitu suatu standar internasional acuan yang dipakai dalam dunia industri.

Orang Jerman sangat terkenal tertib, rapi dan prosedural dalam berbuat apapun juga. Semua yang dikerjakan adalah berdasarkan yang tercatat/tertulis dan semua yang telah dikerjakan harus dicatat/ditulis. Inilah yang menyebabkan sangat luar biasanya sistem dokumentasi di Jerman. Rekam jejak semua kejadian bisa ditelusuri. Sistem dokumentasi di Jerman pada umumnya sangat canggih dan mahal, namun sangat rapi dan tertib. 

Orang Jerman umumnya sangat anti pada segala hal yang non-prosedural, bahkan sampai hal yang sekecil apapun juga. Semua harus jelas dan sesuai aturan baku yang berlaku. Mereka secara umum,sangat anti terhadap manipulasi dan penyimpangan dari prosedur resmi. 

Berbeda dengan di Indonesia, segala sesuatu sangat rawan manipulasi, banyak jalur prosedural resmi dipotong,dilewati, ditiadakan atau dibolak balik seenaknya. Bila hal ini terjadi di banyak sektor dan bidang, tentu akan menjadi suatu awal kekacauan sistem. Contoh-contoh sederhana:

Ketika di Jerman dulu,saya pernah memfotocopy kumpulan berkas yang akan saya jilid pada salah satu tempat fotocopy. Pada daftar harga tertulis 3 jilid seharga sekitar 5 euro-an. Saat itu saya hanya butuh 1 jilid copian saja dan sangat terburu-buru karena deadline, sehingga saya meminta 1 jilid saja. Secara teori sebenarnya sangat mudah, yaitu tinggal membagi 3 saja untuk 1 jilid copian. Namun pekerja di toko fotocopy itu tetap bersikeras harus 3 jilid sekaligus, karena bos tempatnya bekerja sudah menuliskan demikian. Kalau di Indonesia mungkin akan mudah saja langsung dibagi 3;

Di Jerman jumlah warga muslimnya termasuk besar, karena banyak komunitas Turki dan Maroko yang ada sejak selesai perang dunia kedua. Mesjid pun sangat mudah ditemui. Bahkan dikampus saya juga ada. Dulu pernah ada seseorang, saya tidak tahu dari mana asalnya akan menyampaikan kotbah di mimbar masjid. Namun dicegat oleh sekelompok jamaah dan ditanyakan apakah dia punya sertifikat kelulusan sebagai seorang pengotbah di masjid? Ternyata tidak ada dan akhirnya tidak diperkenankan berkutbah. 

Saya juga menanyakan mengapa dia tidak boleh khutbah. Informasi yang saya dapat adalah di Jerman semua profesi ataupun keahlian harus ada standarnya, harus ada sertifikat yang membuktikan orang tersebut telah mengikuti proses pendidikan resmi dan lulus di Jerman untuk menjadi seorang ahli kutbah. Malah saya diberitahu, sebelum bisa jadi pengutbah seutuhnya harus magang dulu 2 tahunan dari masjid ke masjid di bawah pengawasan ahli kutbah. Berbeda dengan di Indonesia tanpa bukti keilmuan dan standar apapun juga seseorang bisa berkutbah, yang penting kelihatan sangat ahli di bidang agama;

Di Jerman, ketika akan membuka suatu restauran atau rumah makan, maka orang tersebut harus mengikuti pendidikan khusus tentang proses penanganan bahan pangan yang benar dan higienis. Biasanya harus di-training dan magang dulu selama 2 tahunan. Berbeda dengan di Indonesia, kapanpun kita mau bisa langsung buka rumah makan dengan ijin-ijin yang relatif mudah dan tanpa standar pengolahan pangan yang jelas.


III.            Kebebasan Media Massa yang Terbatas

Dulu sebelum saya ke Jerman, saya selalu beranggapan bahwa kehidupan orang barat, entah itu di Eropa ataupun di Amerika adalah super bebas. Saya waktu itu malah merasa senang bisa pergi ke salah satu negara maju tersebut yang tentunya lebih bebas, maksudnya bukan dalam hal free sex-nya, tapi lebih luas lagi, bebas berekspresi dalam segala hal. Namun ternyata kenyataannya ketika di Jerman sangat bertolak belakang dari yang saya bayangkan. 

Di Jerman kita memang bisa bebas berekpresi dalam segala hal, namun harus tetap bertanggung jawab dengan apa yang sudah diperbuat dan harus sesuai aturan hukum, malah terasa sangat ketat.Orang Jerman selalu tahu kapan dan di mana untuk berbuat sesuatu apapun juga. Kita bebas berekspresi tapi tidak boleh melanggar aturan hukum dan kepentingan orang lain alias harus selalu peduli dengan orang lain. Media massa pun pada saat itu sangat dikontrol oleh pemerintah. Beberapa contoh yang saya alami selama 2003-2013:

Pernah ada kejadian di salah satu kota di Jerman serangan terhadap kelompok tentara militer, serangan ini termasuk brutal dan dilakukan oleh kelompok minoritas dari kawasan penduduk dengan agama tertentu. Paginya beberapa saat setelah kejadian beritanya begitu gencar di semua media massa. Namun menjelang siang dan seterusnya, beritanya tidak semakin diperbesar malah hilang sama sekali. Bisa dibayangkan jika terus diberitakan oleh media massa, maka bisa saja terjadi kerusuhan antar kelompok.Padahal serangan ini dilakukan oleh kelompok minoritas di Jerman. Jika pemerintah Jerman membiarkan sebenarnya tidak masalah juga karena ini dari kelompok minoritas bukan penduduk Jerman asli yang merupakan mayoritas;

Kejadian berikutnya adalah pembunuhan terhadap wanita dari kelompok minoritas dengan agama tertentu yang diserang oleh sesorang dari kelompok mayoritas Jerman. Sama seperti sebelumnya awalnya beritanya begitu gencar dan dengan cepat hilang sama sekali bak ditelan bumi.

Dan masih banyak lagi kejadian lainnya yang tidak dituliskan di sini. Hal ini tidak lepas dari peran pemerintah yang sangat mengontrol pemberitaan media massa yang mungkin bisa menjadi suatu provokasi untuk menggerakan massa yang lebih besar ke suatu arah kerusuhan SARA. 

Berbeda dengan di Negara Indonesia. Isu dan rumor yang awalnya merupakan hal kecil yang bahkan tidak pasti kebenarannya, bisa dengan cepat berubah menjadi hal yang sangat besar, bahkan bisa menjadi provokasi untuk suatu kerusuhan SARA. Media massa begitu bebasnya memberitakan hal apapun di Indonesia, malah terlihat seperti tanpa filter atau pengawasan, bak penyemangat untuk suatu perpecahan.

Di Jerman, walaupun hal-hal pornografi atau vulgar bisa diulas secara bebas oleh media massa, namun tema yang dapat menjadi penyulut kerusuhan oleh massa yang besar, biasanya sudah berusaha diredam atau dicegah sejak awal oleh pemerintahnya. 

  

IV.            Pembentukan Mental yang selalu “Peduli Orang Lain”

Pemerintah Jerman adalah suatu contoh pengabdi masyarakat yang sangat peduli kepada warganya. Pemerintah Jerman selalu berusaha melayani warganya dengan sebaik mungkin. Tidak ada pengecualian. Kepentingan warganya adalah yang utama. Beberapa contoh di bawahini membuktikan:

Saya pernah kuliah di salah satu universitas di Jerman dan kebetulan halte bus di kampus saya ini terletak di basement yang harus melewati tangga. Pada saat itu ada salah satu mahasiswi difabel harus naik bus pada jalur tertentu. Beberapa lama kemudian dibangun fasilitas lift dan jalan khusus untuk difabel hanya pada satu jalur bus di mana mahasiswi difabel tersebut harus menaiki bus sesuai tujuannya. Hanya 1 jalur tersebut saja yang dibangun pemerintah;

Berikutnya saya pernah berkunjung ke apartment teman saya yang kebetulan gedung bertingkat cukup tinggi. Beberapa lama kemudian dibangun jalan khusus di apartment tersebut untuk difabel. Ternyata saya mendapat informasi, ada orang tua yang tinggal dilantai tingkat atas, tidak bisa jalan lagi dan kebetulan di gedung apartment itu tidak mungkin dibangun lift. Akhirnya pemerintah pun membangun suatu inovasi jalan khusus dengan bantuan mesin listrik untuk kemudahan orang tua difabel itu,bisa naik ke apartment-nya;

Pernah lewat jalan umum yang rusak berlubang, saat itu ada kolega saya yang melaporkan kerusakan jalan tersebut pada instansi pemerintah. Tidak menunggu lama-lama, hari itu juga diperbaiki jalan itu oleh instansi terkait pemerintah. Saya sangat kagum begitu cepatnya respon pemerintah melayani keluhan warganya. Saya sempat bertanya kok bisa ya, pemerintahnya begitu tanggap? Ternyata warga bisa menuntut secara hukum dan ganti rugi jika timbul korban karena kerusakan jalan tersebut. Pemerintah sangat serius sebagai pengabdi masyarakat.  

Sikap kepedulian pemerintah Jerman ini ternyata juga sama dengan warganya. Orang Jerman pada awalnya saya kira termasuk orang yang kaku bahkan sombong. Namun ternyata dibalik kekakuannya, mereka sangat peduli dengan orang lain. Semua yang mereka lakukan selalu diawali pemikiran: “Yang saya lakukan ini,  akan berpengaruh apa untuk orang lain?”. 

Orang Jerman walaupun kelihatan perhitungan dalam segala hal, tapi ringan tangan menolong orang lain, baik secara finansial ataupun langsung. Saya sering melihat orang Jerman suka sekali membantu orang lain, contoh sederhana kalau ada orang yang membawa barang cukup banyak, biasanya ada saja orang yang menawarkan bantuan untuk membawakan atau ketika terjadi bencana alam di negara lain, biasanya orang Jerman akan cepat memberikan bantuan yang tidak sedikit, baik secara financial maupun tenaga ahli untuk pemulihan bencana.

Bandingkan dengan di Indonesia, kebanyakan lebih mengutamakan kepentingan pribadi atau golongannya, semuanya bisa didapat dengan cepat secara instant. Contoh sederhana saja: ketidak sabaran dalam mengantri, main serobot dalam banyak hal dan sebagainya. Mungkin cara pemikiran orang kebanyakan di Indonesia adalah “Apakah yang saya lakukan ini sudah memberikan keuntungan untuk saya secara pribadi atau golongan saya?” 


V.               Pembentukan Mental Pemenang/Juara

Saat saya di Jerman, peran media massa cukup berpengaruh pada pembentukan “mental pemenang” orang Jerman kebanyakan. Begitu banyak pemberitaan atau acara televisi yang umumnya sangat membentuk mental orang Jerman untuk selalu menjadi juara dengan menghasilkan suatu mahakarya berkualitas, bukan sekedar teori atau angka-angka di atas kertas belaka. Contoh sederhana beberapa kasus adalah sebagai berikut:

Pada saat saya diJerman dulu, media massa, terutama media elektronik, sangat jarang menyajikan tayangan atau lagu bertema kesedihan ataupun balada cinta yang dapat mematikan semangat juang. Beda sekali dengan di Indonesia, terutama televisi. Acara TV dan lagu dengan tema kesedihan adalah acara rutin harian, yang tentunya bisa mematikan semangat juang pemirsanya melalui pengaruh alam bawah sadar;

Ketika team olahraga kesebelasan Jerman kalah bertanding di kancah internasional, biasanya pemberitaannya sangat minim dan akan cepat menghilang. Namun sebaliknya jika team Jerman yang meraih kemenangan, maka beritanya sangat heboh dan luar biasa, beritanya akan sering muncul. Berbeda dengan di Indonesia, kekalahan team olahraga kita di kancah internasional bisa muncul dalam berita dengan berbagai macam bumbu tambahan, bahkan saling tuduh mencari kambing hitam;

Di Jerman rasa nasionalisme warga negaranya sangat tinggi. Bahkan suatu pertandingan olahraga yang tidak ada unsur Jermannya akan sepi penonton Jerman. Namun jika ada unsur Jerman di dalamnya, maka mereka akan dengan sukacita menonton. Bahkan saya ingat, dulu pernah sewaktu final piala Eropa antara Yunani dan Spanyol, saya bingung mengapa mereka banyak yang menonton, padahal bukan team Jerman. Setelah saya tanyakan, ternyata pelatih team Yunani adalah orang Jerman;

Orang Jerman punya rasa percaya diri yang tinggi. Mereka selalu merasa sangat superior dari ras lainnya. Namun bukan untuk tujuan negatif, tapi untuk membentuk karakter positif mereka. Orang Jerman selalu ulet dan konsisten mengerjakan segala hal.

Jiwa pemenang telah mempengaruhi alam bawah sadar orang Jerman sehingga mereka punya karakter untuk selalu menghasilkan karya berkualitas.

 

VI.            Fokus ke Masa Depan

Karakter orang Jerman adalah selalu melihat jauh ke depan. Mereka tidak hanya fokus pada saat sekarang, tapi segala hal selalu diperhitungkan apa pengaruhnya di masa depan. Contoh sederhana:

Jerman banyak menggunakan tenaga nuklir untuk pembangkit tenaga listriknya. Namun akhir-akhir ini pemerintah Jerman mulai mencanangkan penghapusan tenaga nuklir ini secara bertahap dan menggantikannya dengan sumber energy yang lebih ramah lingkungan. Hal ini karena dapat berpengaruh buruk untuk anak cucu mereka di masa depan;

Penelitian-penelitian teknologi di segala bidang di Jerman sangat gencar dilakukan, baik lewat lembaga pemerintahan ataupun univeritas, sebagai modal untuk mempertahankan statusnya sebagai penghasil produk teknologi berkualitas tinggi di masa depan.

Banyak sekali contoh lainnya yang tidak dituliskan di sini, namun secara umum keadaan ini sangat berbeda dengan di Indonesia, di mana fokus warga negaranya kebanyakan di masa sekarang dan lebih ke urusan materi. Kita banyak berkutat dengan hal-hal kecil yang dibesar-besarkan, baik lewat media massa, media social, internet ataupun dalam masyarakat sendiri, sehingga susah menentukan visi dan misi masa depan.

 

VII.         Pembentukan Karakter Innovator melalui Dunia Pendidikan

Pemerintah Jerman sangat peduli dengan proses pendidikan setiap warganya. Tiap warganya akan dididik dengan sebaik-baiknya dan tidak dengan paksaan sampai punya satu keahlian khusus dibidang yang diminati.  Pembentukan karakter innovator sangat sistematis, konsisten dan tidak berubah-ubah di Jerman. 

Pada tingkatan level setingkat TK sampai level setingkat SMA, pendidikan kepada warga Jerman tidak terlalu dipaksakan, semuanya diusahakan berlangsung secara alami. Siswa siswi di sana tidak harus belajar dengan hapalan dan materi seberat  seperti di Indonesia. Siswa siswi akan ditempatkan pada tipe sekolah-sekolah sesuai dengan kemampuannya. 

Siswa siswi di Jerman malah terlihat sangat menikmati masa sekolahnya ini.  Mungkin ini dilakukan untuk membentuk mental innovator, di mana perkembangan otak mereka dibiarkan sealami mungkin tidak harus dengan proses yang kaku melalui materi yang berat yang tentunya dapat mempengaruhi kesempatan mereka untuk melatih kreativitasnya. Pada level SMA juga diberikan pilihan bagi yang lebih memilih cepat kerja bisa masuk sekolah kejuruan seperti STM, di mana magang di dunia kerja lebih diutamakan untuk mengasah kemampuannya dengan praktek langsung.

Pada level TK sampai SMA, terlihat kemampuan siswa siswi Jerman yang biasa-biasa saja. Namun ketika mulai kuliah di universitas, kemampuan warga Jerman ini akan lebih digembleng sehingga menjadi ahli dibidangnya. Mungkin karena pendidikan yang tidak terlalu dipaksakan sebelum kuliah, pikirian warga Jerman ini masih segar dan ketika kuliah baru mulai dipaksakan untuk menjadi seorang yang ahli dibidang yang dipilihnya, sehingga banyak maha karya teknologi berkualitas diJerman dihasilkan di universitas-universitas.

Berbeda dengan sistem pendidikan di Indonesia, pada tingkatan TK sampai SMA terlalu dipaksakan harus paham ini-itu dan setelah kuliah biasanya kreativitasnya sulit berkembang. Di mana,di Indonesia nilai adalah segalanya, siswa siswi dididik menjadi pemenang dengan pengakuan melalui angka-angka ataupun piala piala, bukan mahakarya nyata yang berkualitas. Contoh sederhana yang menunjukan pendidikan yang tidak dipaksakandi tingkat TK sampai SMA di jerman adalah sebagai berikut:

Dulu ada anak teman saya yang baru pindah dari Indonesia dan ketika di Indonesia masih sekolah ditingkatan SMP. Dari cerita orang tuanya, kemampuan dan nilai anaknya biasa-biasa saja ketika di Indonesia, namun setelah pindah sekolah di Jerman ,anaknya selalu juara. Ternyata pendidikan dasar di Jerman tidak seberat di Indonesia;

Kalau kita lihat kompetisi internasional matematika, fisika, kimia dan mata pelajaran lainnya ditingkatan SMP-SMA, maka team Indonesia sering memperoleh kemenangan. Sebenarnya ini tidak bisa dijadikan patokan sebagai petunjuk kemampuan lebih baik dibandingkan siswa siswi negara maju. Ini hanyalah sekedar angka-angka atau piala-piala.  Jika memang ingin berkompetisi harusnya di tingkatan universitas, di mana warga Jerman digembleng untuk menjadi kreatif menghasilkan karya berkualitas tinggi di level ini.

 

VIII.      Exploitasi Semua Potensi untuk Menghasilkan Karya Berkualitas “Made in Germany

Jerman merupakan salah satu negara dengan sumber daya alam yang sangat terbatas. Salah satu sumber devisa negara Jerman adalah dari industry teknologi berkualitasnya. Untuk mempertahankan posisi ini maka Jerman harus konsisten menghasilkan produk-produk teknologi berkualitas,mulai dari produk sederhana sampai produk yang rumit. 

Berbagai cara dilakukan untuk mempertahankan kondisi ini, di mana peran pemerintah dan pendidikan,terutama tingkat universitas sangat diperlukan. Untuk itu negara Jerman selalu menciptakan kerjasama dan kondisi yang sangat kondusif antara berbagai pihak terkait, terutama dalam kerjasama berbagai riset sehingga bisa menghasilkan beragam teknologi baru berkualitas tinggi secara kontinyu.

Tidak hanya potensi dari dalam negeri Jerman saja yang dimanfaatkan, namun juga potensi external. Negara Jerman adalah negara maju yang memberikan kemudahan dan subsidi pendidikan kepada para mahasiswa/mahasiswi dari dalam dan luar negeri, yang ingin menempuh studi di Jerman. Sebenarnya ini adalahs strategi Pemerintah Jerman untuk juga menjaring dan memanfaatkan potensi external, di mana biasanya para pelajar dari luar Jerman ini juga diharapkan bisa mengerjakan bagian-bagian tertentu dari riset besar yang terkadang hanya diketahui secara utuh oleh professor di institut bersangkutan. 

Walaupun bagian-bagian dari riset utama dikerjakan oleh berbagai kalangan, baik warganegara  Jerman ataupun orang asing dari berbagai disiplin ilmu, namun produk teknologi yang dihasilkan tetap diproduksi di Jerman atau lisensi dari Jerman dan selanjutnya menjadi sumber devisa negara melalui pemasaran secara global.

Berbeda dengan di Indonesia, di mana jumlah kelulusan mahasiswa/mahasiswi perguruan tinggi dan nilai index prestasi adalah yang lebih utama,  sedangkan di Jerman lebih menitik-beratkan pada penciptaan suatu produk berkualitas dan bernilai jual tinggi di segala bidang. 

     

Demikian tulisan ini.  Sebenarnya banyak sekali point positif di negara Jerman yang belum diuraikan, tetapi point-point di atas sudah bisa dijadikan pembanding dengan keadaan di Indonesia. Namun dari semua point di atas, ternyata masih sangat kurang penerapannya di Indonesia. Padahal sangat penting untuk menyukseskan program “reformasi mental”. Jika salah satu saja dari point di atas sudah dijalani dengan sepenuh hati dan konsisten, tentunya akan mengubah mental orang Indonesia menjadi lebih baik dan berkualitas.