Tutut Setyorinie
Tutut Setyorinie Mahasiswa

A muslimah. Author. Novel Reader. Painter. Stargazer. And a public accountant in the future. Amen! | 🥀 @tututsety | ✉️ tututsetyorinie@gmail.com

Selanjutnya

Tutup

Cerpen | Kemarin, Malam Menangis di Pundakku

18 Juli 2017   12:06 Diperbarui: 19 Juli 2017   19:27 46 12 9
Cerpen | Kemarin, Malam Menangis di Pundakku
mnbhgf-596daaa318112a152b480942.jpg

Sebelumnya aku tak bisa tidur selama dua hari. Kepalaku pening. Hidungku mampat. Mataku perih. Kulirik jam sekali lagi: ternyata 12 malam. Entah mengapa aku ingin keluar sebentar. Kuputar kunci dan kenop pintu. Dan pusaran angin langsung menampar wajahku.

Katakan, apa yang akan kalian lakukan bila bertemu sosok wanita berpakaian serba hitam sedang menangis di tengah malam? Kabur dan menutup pintu? Atau berteriak dan ikut menangis? Aku biasanya akan melakukan kedua hal itu secara bersamaan. Namun, kini, batinku menolak untuk kabur ataupun berteriak. Kakiku justru memerintah untuk mendekati wanita yang tengah merunduk sesenggukan. Sedangkan tanganku kaku bergemetar.

"Tersesat?" begitu tanyaku pertama kali.

Ia tak menjawab, tak juga menoleh untuk memperlihatkan sopan santun.

"Di mana rumahmu?" tanyaku yang kedua.

Wanita itu tetap menangis. Aku sudah berancang akan kembali ke dalam rumah, bila ia tetap bersikukuh untuk tidak menjawab pertanyaanku yang ke tiga.

"Maaf sudah menganggumu. Ada yang bisa kubantu?"

Lagi-lagi ia terdiam. Final sudah. Aku kembali ke rumah dengan langkah gontai. Bukan membaik, justru kepalaku semakin pening. Hidungku semakin mampat. Mataku perih bukan kepalang. Tetapi kantuk tak juga datang.

Aku kembali membuka pintu dan membiarkan angin menampar wajah dan menerbangkan anak-anak rambutku. Wanita itu mulai berhenti menangis di ujung sana. Ia mulai berjalan pulang.

Tidak, maksudku, ia mulai berjalan menghampiriku.

Aku tidak dapat menahan degup jantung. Tanganku bersiap memutar kenop pintu bila mana ia ternyata makhluk astral tak berwajah atau mempunyai luka mengerikan yang berdarah-darah. Namun... wanita itu ternyata tampak sebagai gadis manis yang tak berdosa.

Aku tak mampu untuk tidak mempersilakannya masuk. Ia menggigil, kulitnya memutih, giginya bergemeretak.

"Teh hangat?" tanyaku. Kini sudah kali ke empat.

Ia menggangguk ragu.

Tak sampai lima menit, aku kembali membawakan dua cangkir teh hangat, keripik pangsit, dan kacang goreng sisa lebaran.

"Kabur dari rumah? Tersesat? Atau habis berantemsama pacar?" tanyaku blak-blakan.

Gadis manis tak berdosa itu menyeruput tehnya. Ia berdeham kecil, lalu mengucap "terima kasih."

Lama kami terdiam. Berkutat dengan teh masing-masing. Aku masih tak mengerti mengapa ia kunjung menjawab serentet pertanyaanku. Tidakkah ia mendengar? Atau pertanyaan itu yang terlalu kurang ajar untuk dilontarkan?

"Kabur dari rumah," mendadak gadis itu menjawab.

Aku terbelalak, lalu mengangguk mengerti. Kukatakan padanya, "aku juga sering kok kabur dari rumah. Pasti habis dimarahin ya?"

Gadis itu menggeleng. Lalu kami terdiam lagi.

Teh kami hampir menyisakan ampasnya. Jam menunjuk pukul 1 malam. Hujan meteor Geminid seharusnya sedang tampak paling terang.

"Hanya membenci diri sendiri," akunya sehening lirih embun.

"Nggak suka jadi diri sendiri? Semua orang pernah merasa kayakgitu. Jangan khawatir," ucapku hati-hati. Aku mulai menyadari bahwa gadis itu bukan hanya berwajah manis dan tak berdosa, tetapi juga memiliki hati selembut sutra.

Ia menggeleng mantap. Dahinya berkerut. Alisnya bertautan. "Malam punya tugas yang berat."  

Eh? Apa yang sedang dikatakannya? Kupikir ia mulai depresi.

"Ya, menjaga hari tetap gelap memang tugas yang berat," jawabku sekenanya.

Napasnya kembali sesenggukan. Air matanya tampak berbaris rapi di pelupuk, menunggu perintah diterjunkan. "Aku sudah bosan menjadi kambing hitam kejahatan. Muak menjadi pelindung nista manusia. Jenuh menjadi saksi kebiadaban. Aku... ingin sekali menjadi pagi. Ia pelita yang selalu dinantikan kehadirannya oleh semua orang."

"Kau harus istirahat," kataku final. Aku tidak mengerti lagi apa hubungannya kabur dari rumah dengan bosan menjadi kambing hitam kejahatan. Atau hubungan membenci diri sendiri dengan ingin sekali menjadi pagi. Ya tuhan, gadis ini benar-benar depresi.

Bukannya berhenti, air matanya justru turun semakin deras. Mau tak mau aku memeluknya. Membiarkan tangisnya membasahi pundakku dan wajahnya. Kutepuk punggungnya pelan-pelan. Kuusap ujung kepalanya perlahan. Kubisikkan kata-kata penenang tepat di daun telinganya.

"Jangan menangis lagi ya. Besok semuanya akan baik-baik saja dan akan kuantar kau kembali ke rumah."

"Oh, kita sampai lupa berkenalan. Aku Ranum, siapa namamu?" tanyaku, entah kini sudah yang ke berapa.

Gadis itu mengambil jeda cukup lama sebelum ia menjawab, "malam."

Aku mengangguk, berusaha mengerti. "Aku tahu kau menyukai malam," ucapku pasrah. Gadis itu benar-benar depresi. 

Lelah membawakanku kantuk. Suara tangisnya mendadak terdengar sayup.

--

"Bu, sepatuku basah," teriak Renza, adik tengahku yang selalu meracau sebelum pukul tujuh.

"Sudah berapa kali ibu bilang untuk menaruh sepatumu di dalam, Ren," balas ibuku tak kalah berteriak.

"Di mana sepatu yang satunya?"

Suasana rumah mendadak gaduh. Aku terbangun di atas kasur dengan perasaan bingung. Percayalah, ini bukan pertama kali aku lupa kapan berjalan ke tempat tidur.

Jam menunjukan pukul 7 kurang lima menit. Renza sudah mulai berteriak lagi. Sedangkan Arkan, adik bungsuku, sekarang mengeluhkan tentang jalanan yang sempit.

"Pohon mangga depan rumah pak Bambang tumbang," sahutnya. "Sepedaku nggak bisa lewat."

"Air kali bisa meluap kalau hujan sekali lagi."

"Bu, sepatuku yang satunya ternyata juga basah."

"Jalan raya depan sudah banjir."

Hujan? Banjir? Aku teringat gadis yang kutemukan tadi malam. Aku ingat tengah memeluknya dan akhirnya tertidur bersama. Aku ingat ia tidak berhenti menangis karena pundakku masih terasa basah. Dan siapa namanya? Malam? Apa ia berkata jujur? Apa ia benar-benar sang malam?

"Num, jangan lupa nanti bawa jas hujan."

Ibu kembali mengingatkan tentang hujan tadi malam yang katanya amat deras. "Musim sudah berganti. Hujan sekarang mulai turun di bulan Juli."

Aku keluar rumah. Mencari lagi sosok wanita yang berpakaian serba hitam, dan mungkin tengah menangis sesenggukan. Namun sepuluh, lima belas, hingga dua puluh menit kemudian, tak kunjung kutemukan batang hidungnya. Tak juga suara tangisnya.

Aku termenung sendirian. Jalanan becek yang dikubangi lumpur dan bebatuan menatapku hampa.

"Num, kamu habis minum apa tadi malam? Kenapa bekas cangkirnya tidak dicuci?"

Aku beringsut lari ke dalam rumah, lalu memerhatikan gelas-gelas itu dengan seksama. Sebersit senyum balas menatap kemarahan ibu yang memuncak di kepala. 

"Seseorang minta kubuatkan teh hangat, bu."

"Siapa?"

"Malam."

"Siapa, Num?"

"Malam, bu."

"Sini ibu periksa keningmu."


Seribu satu malam, 18 Juli 2017