S Aji
S Aji lainnya

Pinggiran, Udik, Berbahaya!

Selanjutnya

Tutup

Cerpen highlight headline

Cerpen | Orang Luar

17 Juli 2017   16:52 Diperbarui: 18 Juli 2017   00:41 394 16 9
Cerpen | Orang Luar
Ilustrasi: Digital Guardian

Konon, dia sendiri tak bisa lagi menghitung atau mengingat dengan terang seberapa lama ia hidup di tempat ini. Satu-satunya yang ia ketahui, ia tak memiliki sejarah di tempat lain yang bisa diceritakan. Karena itu, sia-sia saja bertanya asal-usul, seperti misalnya, sejak kapan Anda datang ke sini? Atau, apa yang membuat Anda merancang tradisi-tradisi baik itu?--pesan seperti ini yang dititipkan kepadaku.

"Mengapa tak boleh?"

Tak ada yang menjawab. Mereka hanya mengangkat bahu. 

"Kalian pernah mencoba?"

Mereka hanya menggeleng.  

"Kami segan. Tabu." 

"Tabu?"

Aneh, batinku. Bagaimana mungkin mereka bertahan hidup tanpa tahu asal-usul tempat hidupnya yang sekarang?

Perkembangan seperti ini jelas menyulitkan kepentinganku. Aku disergap cemas, deadline sudah dekat. Terbayang gagal. Sementara keputusan untuk memilih tema sudah disetujui dan aku kini memiliki surat izin yang memudahkan mengakses dokumen-dokumen resmi. Tapi ini baru pintu masuk. Sumber dataku adalah wawancara yang dalam dan terfokus.

Sudah lima bulan, dari kunjungan bolak balik yang intens, aku membangun kontak dengan warga di pemukiman. Aku sudah tahu, jika ibu penjual gorengan di ujung gang, datang dari desa yang berantakan karena gempa. Ia kehilangan keluarga dan harta. Aku pun sudah tahu, lelaki 60an tahun yang menghabiskan waktu di langgar datang dari desa yang mendadak berubah menjadi tempat tinggal buruh pabrik. Ia kehilangan tanah dan gedung pengajian anak-anak warisan buyutnya.

Aku juga tahu, anak muda yang disepakati sebagai kepala lingkungan dulunya tinggal di sebuah kota yang butuh pelayaran laut selama seminggu. Di ujung timur negeri. Dia pernah menjadi mahasiswa dan terlibat huru-hara kecil yang membuatnya menjadi buronan politik. Ia itu sebabnya ia harus mencari pelarian yang menghindarkannya dari penuntutan.

Dan, terakhir, perempuan yang menjadi satu-satunya pemilik kios sembako itu pernah menjadi piaraan tuan tanah di kampungnya. Dari situ, ia memiliki modal untuk berdagang. Namun alasan ia datang kesini karena menghindari kemungkinan menjadi saksi. Tuan tanah itu terbunuh dengan leher yang hampir putus sesudah setahun menjaga rahasia kumpul kebo mereka.

Mereka semua, ibu penjual gorengan, lelaki yang terusir karena pabrik, kepala lingkungan yang lari dari huru-hara politik, dan perempuan pemilik kios sembako itu, sudi menceritakan masa lalunya. Peristiwa dan kenangan kelam tak membuat mereka menutup diri. Bahkan, menurutku, mereka berbagi asal-usulnya sering menceritakan kembali drama India yang baru saja disaksikan. 

Maksud saya, terhadap masa lalu sendiri yang getir, mereka sudah boleh menjadi penonton. Sudah menjadi tuan atas nasibnya.

Tetapi, mengapa lelaki itu tidak? Mengapa dia tak bisa sebagai penonton terhadap nasibnya.

Dari dokumen-dokumen yang kuteliti, baik dari studi-studi mau pun laporan-laporan pemerintah, satu hal yang membuat pemukiman itu menarik secara akademik, adalah karena tidak ada yang bercerita dengan lengkap tentang sejarah atau masa lalu warga yang bermukim di situ. 

Seolah saja, perkampungan itu tiba-tiba ada. Entah bagaimana, ketika kota sedang merancang dirinya, pemukiman itu mendadak muncul dan tampil berbeda. Seolah saja, dia hadir untuk mengatakan, tidak semua hal dapat menjadi kota. 

Di perkampungan itu, beberapa kebiasaan memang seperti counter-culture terhadap yang disebut gaya hidup kota.

Warganya masih memiliki tradisi arisan barang, kebiasaan yang kini bisa dihitung dengan jemari tangan di desa-desa. Misalnya, jika salah satu dari mereka ada yang hendak memperbaiki rumah, mereka akan patungan untuk menyediakan bahan dan tenaga. Sesudah ada petunjuk hari baik dari pengasuh langgar, maka pengerjaan akan dilakukan bersama. Memelihara praktik arisan barang inilah yang membuat hampir semua penduduknya boleh memiliki rumah semi permanen.

"Bagaimana kebiasaan ini dimulai?" tanya saya kepada kepala lingkungan. 

"Ketika saya kesini, praktiknya sudah dimulai. Saya hanya pendatang generasi keempat yang dipercaya dan diperintahkan untuk meneruskan dan merawatnya."

"Bapak tahu siapa yang menginisasinya?"

Kepala lingkungan itu hanya berkata pelan, "Bapak itu." Tatapannya mengarah ke sesosok 70an tahun yang hidup sendiri di deret belakang pemukiman yang sudah berbatasan dengan dinding sebuah kompleks superblok. 

Atau, misalnya 'Kebersamaan Duka'. 

Ini lebih berurusan dengan kematian. Setiap minggu, setiap warga akan dipunguti sumbangan sukarela yang dikumpulkan oleh si pemilik warung sembako. Sumbangan ini akan dibagi peruntukannya untuk membeli peralatan yang berkaitan dengan penguburan, baik berupa kain kafan atau kayu untuk membuat peti mati. Ketika kematian itu datang, seluruh aktivitas di dalam pemukiman akan berhenti. Semua terlibat dalam prosesi pemakaman.

"Bagaimanakah kebiasaan ini dimulai?"

Dan si ibu menjawab yang sama. 

Pertanyaan siapakah tokoh atau generasi kunci di balik praktik-praktik counter-culture inilahyang menuntunku pada sosok itu, seorang tua yang didesas-desuskan tak bisa lagi menghitung atau mengingat dengan terang seberapa lama ia hidup di tempat ini. Satu-satunya yang ia ketahui, ia tak memiliki sejarah di tempat lain yang bisa diceritakan. 

Dia seperti legenda yang hidup bersama lupa dengan kebesarannya sendiri. Ini sungguh tema yang menarik untuk diungkap. Tema penting untuk menutup kepingan riwayat dari sejarah tertulis kota dari sumber-sumber resmi.

Tapi deadline itu...Aku harus merampungkan nasibku sendiri. Menelusuri inti kreator yang melahirkan komunitas seperti ini biarlah menjadi target untuk masa dan kewajiban tugas belajar yang lain.

***

Laporan penelitianku berjudul "Desa Dalam Kota: Praktik Komunalisme Counter-Culture" pada akhirnya rampung juga ku kerjakan. Inti dari laporan itu adalah dalam kebiasaan yang mentradisi, selalu ada institusi kunci yang bekerja memasok nilai pada generasi baru dan menjaganya ada pada generasi lama. Sejenis inti budaya yang dinamis dan terus menerus menyesuaikan dengan dinamika kota yang mengepung. 

Beberapa penguji mengakui bahwa, termasuk kesalahan mereka sendiri, penelitian seperti ini penting. Karena kebanyakan dari penelitian yang dipresentasi untuk mendapatkan pengakuan sarjana strata dua lebih gemar pada tema-tema masa depan atau gejala yang disebut penelitian modern tentang kota-kota. 

Tapi, yang tak mereka akui, sejujurnya penelitian seperti itu membuka kemungkinan untuk bekerjasama dengan kepentingan pemerintah atau swasta terhadap kota. Lebih parah lagi, bagiku, mereka membuat, seolah-olah, masa lalu kota hanyalah bab sosio-historis yang hanya layak dibaca kesadaran jenis SMP dan SMA. 

Kalau sudah begini, apa bedanya perguruan tinggi dengan institusi kolonial yang melayani visi ganjil pemberadaban?

"Sudahlah, kau tak perlu berjibaku dengan sinisme seperti itu.."

Lastri bilang begitu, ia memang sahabat yang pragmatis. Selalu lebih ingin fokus pada penyelesaian yang selekas mungkin. Baginya, sinisme intelektual yang salah sasaran pada akhirnya akan menemui jalan buntu di depan mazhab yang sudah menjadi otoritas tunggal di ruang belajar. Bukan saja sia-sia. Celaka.

Aku berkompri dengan peringatan Lastri.

"Las, kita ke lokasi peneltianku yuk. Aku perlu menyampaikan terima kasih sekalian pamitan."

Dalam beberapa menit, aku dan Lastri tiba di depan gang yang menjadi pintu masuk dan keluar dari pemukiman yang telah membantuku mendapatkan gelar sarjana tingkat magister. Agak lama Lastri, yang memang baru sekali kuajak kemari berdiri dan tercengang. 

"Aku tak pernah tahu ada perkampungan seperti ini. Ini menjaga ciri pedesaan yang kuat sekali."

Perkampungan itu menyerupai empat persegi yang dibentuk oleh deretan rumah-rumah semi permanen dengan halaman tanah, pagar bambu dan pepohonan rindang. Jalan utama yang menghubungka tiap hunian dari tanah, beberapa masih dilebati rumput yang rajin dipangkas. Di halaman rumah, masih disediakan gentong air dari tanah liat.

Sedang di tengah persegi empat itu, langgar dan sebuah gereja kecil berdiri. Keduanya seolah "pusat moral" yang segera menyeleksi pengaruh dari luar. Sementara itu, di sekeliling perkampungan, gedung-gedung tinggi superblok menjulang gagah, asing dan dingin. Dan rumah orang tua, yang "tabu dibicarakan masa lalunya", berdiri di deret paling belakang. Selayaknya pusat dari segala pusat. 

"Selamat sore Bu, apa kabar nih?"

Aku dan Lastri kini tiba di rumah pemilik warung sembako. Bu Marni.

"Eh, nak Maudi. Apa kabar, Nak? Kemana saja? Sebulan ini tak kelihatan. Sekolahnya sudah beres?"

Bu Marni bergegas membersihkan tangannya yang penuh tepung terigu. Lalu menjabat tanganku. Kami berpelukan. Juga terhadap Lastri. Kami seperti berpuluh tahun dipisah ruang dan waktu.

"Iyaa, Bu. Penelitianku sudah diuji, sudah selesai. Aku sekarang sarjana magister. "

Aku tersenyum. Bu Marni pun membalas tak kalah bahagia. "Wah, selamat ya Nak," sambil bergegas ke dalam rumahnya, "Ayo, masuk dulu, ibu bikinkan teh untuk merayakan kelulusan nak Maudi."

"Waduh, Bu. Gak perlu repot-repot. Kami hanya mampir untuk menyampaikan terima kasih, Bu."

Langkah gegasnya berhenti di depan pintu. "Ooh. Ya sudah kalau begitu." Ada kecewa yang disamarkan. Ia berusaha tesenyum. Lastri menatapku, ada pesan perasaan tak enak melihat ekspresi bu Marni. Tapi kita tak bisa lama-lama, pesan itu kukirim lewat tatap mata ke Lastri.

"Kami akan ke rumah Kepala Lingkungan ya Bu. Sekali lagi terima kasih, Bu."

Aku dan Lastri menjabat tangan dan memeluknya sekali lagi. Bu Marni hanya tersenyum datar. 

Pamitan, jabat tangan, dan pelukan yang sama kami lakukan kepada penjual gorengan. Kepada Kepala Lingkungan, aku menitipkan satu bundel laporan penelitian. Dan, kepada pengasuh langgar, aku hanya berpamitan dan memohon didoakan untuk masa depan yang lebih baik.

Sekarang, aku dan Lastri harus kembali ke rumah masing-masing. Sepanjang langkah keluar dari perkampungan, Lastri mengajukan protes.

"Caramu pamitan sungguh buruk. Buruk, Maudi."

Aku tak menanggapi. Lastri tidak akan mengerti. Tidak boleh mengerti. Aku tidak pernah bisa menembus inti moral yang melahirkan sekaligus menjaga keberlangsungan hidup juga ritus sosial di sini. Aku ingin segera berlalu dari kunjungan terima kasih ini.

Aku merasa sepasang mata yang sepuh namun selalu waspada terus menatap punggungku sejak pertama kali datang. Mata yang tak pernah bisa kuajak bicara.

***