Bukik Bertanya: Bukan Super Hero Hanya Manusia Dengan Keyakinan

02 Januari 2012 09:52:39 Dibaca :

Tulisan ini ada karena tertarik dengan proyek Mas Bukik, yang akan menulis buku "Bukik Bertanya". Bagi saya tulisan ini masuk dalam buku adalah bonus, yang terpenting bagi saya adalah memulai kembali semangat menulis. Mumpung awal tahun, sekaligus menggali masa lalu untuk refleksi tujuan masa depan mau kemana. Silahkan dibaca, semoga bermanfaat.


Yayaya panggil saja Tuhu, beberapa orang agak kesulitan ketika pertama kali mendengarnya. Ada yang mengira Tugu hingga Tahu. Dulu waktu kecil suka kesel, karena nama ini sering jadi bahan olok-olokan dan permainan. Sempet bête juga kok namaku agak aneh didengar. Tapi semakin kesini makin optimis, nama yang beda maka akan mudah diingat, bagus untuk personal branding.


Nama lengkap saya Tuhu Nugraha Dewanto, Tuhu sepertinya diambil dari bahasa Jawa setyotuhu yang artinya setia dan patuh. Harapan orang tua saya, kelak menjadi anak yang patuh dan berbhakti. Tapi kenyataannya saya justru terlahir sebagai anak pemberontak hahahaha. Beberapa kali saya bersebrangan dengan orang tua, terutama terkait dengan plihan jalur masa depan. Untung sekali orang tua saya bisa memahami, impian-impian besar yang ada di dalam benak saya.


Hal yang selalu saya ingat dari Bapak adalah beliau selalu yakin pentingnya pendidikan buat anak-anaknya. Kalau urusan sekolah dan beli buku, selalu diusahakan bagaimana pun caranya. Pesan Bapak cuma satu “Saya tidak bisa kasih warisan apapun selain pendidikan, saya kasih pancingnya silahkan kalian usaha dengan pancing itu”.


Yayaya orang tua saya hanya lulusan SLTA dua-duanya. Bapak lulusan STM dan Ibu lulusan SMEA, tapi mereka selalu menitipkan impian besar, bagaimanapun anak-anaknya harus kuliah dan jadi orang sukses.Bapak dan Ibu hanya PNS sebagai staf biasa hingga pensiun. Tapi seperti halnya Bapak, Ibu selalu menitipkan pesan, sekolah yang rajin, belajarlah sungguh-sungguh, karena itu adalah kunci kesuksesan di masa depan.


Mereka pun akhirnya bertekad untuk pindah ke Jawa dari Papua,  ketika saya masih SD, karena menginginkan kami mendapatkan pendidikan yang berkualitas. Mereka mengorbankan kemungkinan berkarir dengan peluang lebih baik di Papua, demi impian lebih besar anak-anaknya mendapatkan pendidikan yang lebih baik sejak dini.


Dalam perjalanan panjang hidupku, sudah melalui beberapa kali metamorfosa, yang membentuk kepribadian yang sekarang. Setiap tahap itu kadang mengguncang, menyakitkan, tapi selalu membawa sebuah pelajaran penting.


Terlambat menulis


Ada satu masa ketika SD, saya itu terlambat dalam proses belajar dibanding teman-teman seumuran. Bayangkan udah kelas 1 SD, nulis gak bisa, miring-miring ke atas. Nangkap pelajaran lain juga gak bisa, perkalian dan lain lain super lemot.


Untung Bapak selalu rajin dan telaten ngajarin, walaupun saya yakin semua orang sepertinya sudah tidak punya harapan pada saya. Semua orang cemas, anak laki-laki dan pertama, dan seperti ini? Apa jadinya nanti? Tapi justru dari dalam diri saya, saya yakin saya tidak sebodoh ini, saya harus bisa dan pasti bisa. Lambat laun akhirnya saya bisa mengejar ketinggalan. Dan dari situ saya percaya apapun mungkin, asal kita yakin dan punya tekad yang kuat.


Hijrah ke Jatinangor


Pelajaran penting lainnya adalah ketika harus kuliah di UNPAD Jatinangor. Bagi saya ini adalah sebuah keputusan yang sangat besar. Sengaja memilih kuliah yang jauh karena ingin belajar sesuatu yang baru. Saya menghabiskan SD hingga SMA (setelah hijrah dari Papua) di kota Karanganyar, kota kecil sebelah timur Solo. Teman-teman satu sekolah akan memilih Yogya, Solo atau paling jauh Malang untuk kuliah.


Saya memberanikan diri ambil Bandung, karena saya ingin belajar mandiri dan lingkungan yang baru. Kelihatannya kok sangat seksi dan menantang. Kenyataannya sih emang menantang, tapi yang menantang itu tak semudah yang dibayangkan hahahahah.


Menjadi anak kos ternyata tidak mudah, semua harus sendiri. Jatinangor masih sebuah kampung yang mengerikan, jalanan becek, kosan di tengah rumpun bambu bersebelahan dengan kuburan. Air susah hanya ada 3 hari sekali super drama.


Di kampus juga adaptasi tidak mudah. Saya adalah manusia dari kampung, yang berasa bangga bisa masuk di jurusan Hubungan Internasional yang penuh prestise. Di jurusan HI UNPAD separuh kelas diisi teman-teman dari Jakarta, yang lebih gaul, trendi. Gegar budaya ditambah dengan adaptasi sebagai anak kosan membuat saya belajar gimana caranya bertahan, dan focus pada tujuan utama saya ke Bandung, belajar dan sukses.


Bukti carut-marutnya proses adaptasi saya ketika itu adalah, IPK semester 1 hanya 2,56. Bertambahlah depresi, untung setelah itu semester berikutnya saya bangkit, dan bisa memperbaiki keadaan. Alhamdullilah saya lulus dengan nilai yang cukup bisa dibanggakan, dan 4,5 tahun perjalanan saya di jatinangor, membuat mentalitas saya lebih terasah, tahan banting dan open minded.


Unilever Business Week


Unilever Business Week adalah program tahunan yang diselenggarakan oleh Unilever Indonesia, sebuah camp selama 5 hari, dan belajar banyak hal, dari bisnis hingga pengembangan diri. Kebetulan saya terpilih tahun 2003, bersama teman-teman yang super hebat dari berbagai universitas di Indonesia.


Ini momentum yang sangat menyentuh, saya mendapatkan wejangan yang sangat bagus dari Tante Ellen Samil, Recruitment Manager Unilever. Dia memahami bahwa ada kemarahan yang tersimpan dalam diri saya. Ada proses penerimaan diri yang belum tuntas.


Beliau yang menyadarkan, ada sesuatu yang spesial dalam diri saya, yang selama ini tidak disadari. “Cara pandang kamu terlalu jauh ke depan, tidak semua orang bisa memahaminya. Tugas kamu membuat mereka paham dan membantu mereka ke arah yang benar, bukan ngambek dan dibiarkan”, pesan ini sungguh membuat saya ternganga dan mulai bisa meraba tugas saya di dunia ini apa.


Rotaract Semanggi Jakarta


Ketika hijrah berkarir di Jakarta, saya bergabung di Rotaract Semanggi sejak 2007. Di sini saya menemukan penyeimbang dari kehidupan kerja. Rotaract mengajarkan saya banyak hal, terutama mensyukuri dan menikmati hidup dengan berbagi ke sesama.


Bertemu dengan mereka-mereka yang kurang beruntung membuat saya sadar, tidak semua orang mendapatkan kesempatan seperti yang saya punya. Kadang kan bawaannya kita selalu ngiri ama kehidupan orang lain yang lebih sukses. Di Rotaract saya belajar kebahagiaan itu datang dari dalam hati, kebahagiaan juga akan hadir ketika kita member dan merasa berguna buat orang lain. Uang dan kesuksesan tak selamanya akan membuat bahagia. Ada kebahagiaan kecil lainnya, yang kadang saya lupa.


Di Rotaract juga saya belajar mengasah interpersonal skill dan leadership, yang mungkin tidak berdampak dalam jangka pendek. Tapi saya percaya mengasah karakter saya menjadi lebih baik, dan akhirnya membuat karir saya bergerak lebih cepat.


Kalau berbicara mengenai hal yang dihargai. Banyak hal yang patut dihargai. Misalnya dari diri sendiri, saya menghargai diri saya,  karena walaupun bukan orang yang hebat dan pintar, tapi dianugerahi tekad dan semangat yang tak pernah luntur. Ini lebih dari cukup untuk mewujudkan impian-impian.


Dari keluargaselalu terngiang orang tua, yang bisa memahami pilihan-pilihan hidup yang terkadang tidak populer, dan tidak bisa dipahami oleh mereka. Misalnya memilih kuliah di jurusan HI, dibanding mengambil kedokteran atau teknik yang bagi kalayak umum, lebih menjanjikan masa depan. Kemudian sekali lagi, saya bersebrangan dengan orang tua, ketika memutuskan untuk tidak mau menjadi diplomat, dan memilih mengambil jalan sebagai seorang pemasar setelah lulus Sarjana Hubungan Internasional.


Dari orang-orang di sekitar, saya berterima kasih buat mereka yang mengolok-olok dan meremehkan di masa lalu. Karena tanpa mereka mungkin tekad saya tidak akan membara, untuk melakukan pembuktian.


Untuk kehidupan, saya berterima kasih untuk semua proses yang pernah dilalui karena dari sana belajar arti perjuangan, dan pencapaian. Dari proses itu,  belajar untuk merayakan setiap momen-momen kecil dalam hidup, dan tidak menjadi lupa diri.


Dan terakhir untuk Indonesia saya berterima kasih untuk keragaman budaya dan suku, serta keindahan alam. Kesempatan  berkeliling ke daerah-daerah eksotis di Indonesia, member pelajaran betapa kultur yang berbeda membuat cara berpikir saya menjadi lebih kaya.


Apabila kehidupan saya dilambangkan dengan sebuah simbol. Maka kupu-kupu mungkin perlambang yang paling pas, kupu-kupu melalui sebuah metamorfosis yang sangat panjang dan kadang berliku sebelum menjadi kupu-kupu yang indah. Walaupun saya tidak berani menyebut, saya sudah mencapai tahapan sebagai seeekor kupu-kupu karena bagi saya proses metamorfosis menjadi manusia yang lebih baik masih terus berjalan.


Imajinasi saya tentang Indonesia 2030, adalah sebuah Negara adidaya. Pendapatan per kapita masyarakat sangat tinggi, orang Indonesia merasa bangga menunjukkan paspor hijau. Dan budaya Indonesia menjadi pop culture yang menginvasi ke seluruh penjuru dunia.


Apa yang akan saya kontribusikan untuk mencapai itu, saya hanya bisa berkontribusi kecil ikut serta membangun SDM Indonesia yang lebih baik. Saya berharap bisa membantu melahirkan generasi pemimpin Indonesia masa depan yang lebih bijaksana, mendahulukan kepentingan bersama, bukan ingin menjadi bintang di panggung.


Apabila akan ada biografi tentang diri saya, saya lebih menyukai judulnya “Catatan Perjalanan Sutradara di Balik Layar”. Mengapa? Di Indonesia terlalu banyak pemimpin yang berhasrat untuk tampil, dan berlomba menonjol. Ini yang menyebabkan ketika ditampuk kepemimpinan lupa diri. Saya hanya ingin di balik layar, membantu Indonesia menghasilkan pemimpin masa depan yang hebat, tanpa perlu saya yang berada di depan.


Kalau soal pengalaman paling konyol, mungkin cerita terkurung di kandang ayam tetangga gak bisa terlupakan. Jadi ceritanya ketika kecil saya sangat cinta dengan binatang terutama ayam. Bahkan kala itu bercita-cita mau jadi dokter hewan. Nah saking cintanya, suka gaul di kandang ayam tetangga, karena udah gak pelihara ayam sendiri.


Di Sorong saat itu, ayam itu sangat rawan pencurian, jadi setelah Maghrib semua ayam masuk kandang, maka akan digembok. Nah pemiliknya gak sadar kalau saya masih di kandang ayam, dan digembok jadilah panik dan gedor-gedor kandang ayam. Malu juga sih tepatnya takut dikira maling kepagian hahahahaha.



Bagian dari proyek "Rubrik Kolaborasi Bukik Bertanya"

Tuhu Nugraha Dewanto

/tuhunugraha

Praktisi di bidang digital marketing sejak 2008, sekaligus trainer dan pembicara mengenai digital marketing. Sangat suka jalan-jalan untuk menggali #MarketInsight sekaligus memperluas perspektif
Selengkapnya...

KOMPASIANA ADALAH MEDIA WARGA, SETIAP KONTEN DIBUAT OLEH DAN MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.

Siapa Yang Menilai Tulisan Ini ?