Perempuan yang Merendahkan Perempuan

22 Mei 2012 03:04:38 Dibaca :

Pada Paskah bulan April lalu, seorang pendeta mengkhotbahkan tentang betapa spesialnya perempuan yang cenderung menjadi warga kelas dua di dalam lingkungan masyarakat, secara terkhusus dalam suku Batak. Dalam suku Batak yang menganut sistem patrilineal maka posisi perempuan sering sekali dipandang sebagai yang lebih rendah dari pria. Yang menarik adalah pernyataan beliau bahwa, belakangan ini tidak hanya pria yang merendahkan perempuan namun, sesama perempuan jugalah yang merendahkan sesamanya. Saya sangat setuju dengan pernyataan beliau.

Beliau mengambil contoh perendahan yang dilakukan mertua perempuan terhadap menantu perempuannya, dan ipar perempuan terhadap ipar perempuan yang lain. Beliau benar, bukankah kejadian ini yang umum terjadi di kalangan kita perempuan? Seorang ibu sering memperlakukan menantu perempuannya sebagai saingan dalam proses interaksinya dengan sang anak dan sebaliknya.

Saat begitu banyak perempuan yang berjuang untuk mendapatkan kesetaraan bagi sesama kaumnya, kita tidak bisa memungkiri bahwa kita sebagai perempuan sering sekali malah menjadi orang yang sering mematahkan semangat dan merendahkan kaum kita seperti yang pendeta gereja kami katakan.

Kakak saya yang seorang sarjana yang dulunya bekerja, harus rela melepaskan pekerjaannya demi membesarkan ketiga orang anaknya setelah para asisten rumah tangganya selalu berulah. Pilihannya dianggap sebagai suatu kesalahan oleh teman-teman perempuannya atau ibu-ibu tetangga. Seorang ibu muda yang melanjutkan studinya sampai ke jenjang S-2 dan pada akhirnya melepaskan mimpi-mimpi untuk menjadi seorang notaris demi memastikan keselamatan anaknya dari penjagaan seorang babysitter yang ternyata diam-diam mencubit dan mengancam sang anak, akhirnya mendapat komentar pedas, “buat apa menjadi sarjana S-2 kalau hanya menjadi ibu rumah tangga saja?”. Inipun dilakukan sesama kaum perempuan.

Bagi para perempuan, sering sekali pilihan seseorang menjadi seorang ibu rumah tangga penuh waktu lebih rendah dibandingkan pilihan seorang ibu rumah tangga  yang sekaligus bekerja. Kita cenderung berpikir bahwa bila seorang ibu adalah sarjana, seharusnya dia tidak menjadi ibu rumah tangga,seharusnya dia menjadi perempuan yang berkarir dan menyewa asisten rumah tangga untuk mengurusi pekerjaan rumah. Sementara para pria menganggap keputusan-keputusan para perempuan yang sebelumnya bekerja dan akhirnya memutuskan menjadi ibu rumah tangga penuh waktu sebagai keputusan yang mulia.

Saya belum menikah dan belum menjadi seorang ibu dan saya bukan perempuan yang berharap semua ibu akan menjadi ibu rumah tangga dan tidak bisa berkarir. Setiap perempuan memiliki pilihan sendiri yang dianggap baik. Saya tahu banyak perempuan yang bekerja yang ingin menjadi ibu rumah tangga penuh waktu, namun kondisi keluarga mengharuskan mereka bekerja. Saya hanya berharap bahwa setiap kita perempuan, belajar untuk menghargai perempuan lain dengan menghargai keputusan-keputusan mereka. Bukannya balik menjadi kaum yang memang tetap mengijinkan kaum perempuan di tempatkan sebagai warga kelas dua. Penghargaan atas perempuan, harus dimulai dari para perempuan sendiri maka para kaum lelakipun akan menempatkan perempuan sebagai rekan bukan bawahan.

Salam semangat perempuan.

Tryastuti I.B.Manullang

/trymanoellang

Perempuan Indonesia yang mengimpi dunia pendidikan yang lebih baik ^^
Selengkapnya...

KOMPASIANA ADALAH MEDIA WARGA, SETIAP KONTEN DIBUAT OLEH DAN MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.
FOKUS TOPIK KOMPAS WOMEN FIESTA

Siapa Yang Menilai Tulisan Ini ?