Sumpah Kami Bagi Pemuda-Pemudi - Sebuah Catatan

25 Oktober 2012 04:33:15 Dibaca :

Di Indonesia, di Belanda, di Jepang, dan bahkan di mana saja di seluruh dunia, 28 Oktober akan selalu diperingati sebagai hari ’sumpah pemuda’ dan ini tentu tidak apa-apa. Yang menjadi apa-apa jika hari ini hanya diperingati saja. Diperingati tentu saja bagus – bahkan sangat bagus – tetapi jika diperingati saja, tidak lebih dan tidak kurang, maka betapa konyolnya peringatan ini. Mengapa? Karenanya umurnya paling lama tiga hari. Ya, hanya tiga hari saja. Hari yang pertama untuk menyiapkan upacaranya. Hari kedua upacara dan ramah-tamahnya. Sedangkan hari ketiga untuk menikmati kenangan yang mungkin masih tersisa. Benar-benar sebuah bencaNa jika ’peristiwa yang begitu luar biasa eh ... umurnya hanya tiga hari saja. < ?xml:namespace prefix = o ns = "urn:schemas-microsoft-com:office:office" />

 

Sumpah Pemuda adalah sumpah yang luar biasa. Sumpah yang tidak hanya menjadi cikal bakal bersatu dan merdekanya ini negara, tetapi juga ’soko guru’ yang membuat negara bangsa ini tetap kokoh tegak berdiri dan berdarma di tengah percaturan dan perubahan dunia. Walau seandainya Sumpah Pemuda tidak ada, negara ini memang akan tetap merdeka juga, tetapi faktanya Sumpah Pemuda itu ada. Sumpah Pemuda itu nyata. Pencetus dan para pelakunya memang telah berpulang semua, tetapi semangat dan tujuannya tetap abadi sepanjang masa, dan semangat ini terus akan menjadi warna ini negara, warna para pemuda, warna kami semua.

 

Catatan ini dibuat tahun-tahun sebelumnya dan telah dikibarkan di dunia maya untuk mengobarkan semangat kaum tua untuk menjaga apa yang sebenarnya milik kaum muda. Nah, sekarang, menjelang peringatan hari Sumpah Pemuda, 28 Oktober 2012, dan dari negara yang warna dan bentuk benderanya sama dengan negara kita – kecuali letaknya terbalik saja – kembali catatan pengobar semangat untuk mereka yang tua-tua

akan dikibarkan. Harapannya tidak hanya di dunia maya tetapi juga di dunia nyata, catatan ini tidak hanya menggetarkan jiwa tetapi juga mampu mengubah paradigma jiwa.

 

Paradigma berkarya dalam semangat menyala-nyala, jujur, lurus dan terbuka, memang milik semua. Paradigma berkarya yang bernas dan cerdas, lugas dan tuntas, pikiran terbuka dan hati nurani luas, juga milik siapa saja. Pemuda memilikinya dan yang tua-tua juga punya. Karenanya silahkan saja wahai pemuda, teruskan langkahmu, gapai cita-cita, sejahterakan bangsa dan negara, karena harapan memang milikmu juga.

 

Tetapi hari ini ijinkan kami yang tua-tua melangkah lebih cepat, berjalan dengan dada lebih membusung, kepala lebih tengadah, mata lebih berbinar, dan tekad lebih membaja. Bukan kami ingin mengambil alih peranmu anak muda – apalagi itu memang tidak bisa – tetapi karena kami ingin berjanji pada diri kami sendiri, bahwa sudah tiba masanya kami lakukan apa yang kami bisa untuk kalian para remaja dan pemuda. Biarkan kami yang ucapkan sumpah itu sekarang, dan biarkan juga kami yang menjalankannya.

 

Dusta tuna etika adalah sumber bencana yang melanda ini negara. Dan kami yang tua-tua tentu saja pantas menyandang dosanya. Semoga saja dengan tekad yang ada dalam catatan mulia, kami tidak hanya mampu menggetarkan angkasa persada manakala upacara mencapai puncaknya, tetapi gaung dan gemanya akan terus berkumandang dan membahana di hari-hari selanjutnya. Kami akan jaga dan wariskan ini negara pada kalian semua. Dan itu hanya bisa dilakukan jika mulai sekarang dihentikan semua kebiasaan berdusta tuna etika. Salam sejahtera untuk kalian semua remaja dan pemuda. Kami pastikan bahwa sumpah kalian adalah sumpah kami juga. MERDEKA ... MERDEKA ... MERDEKA ...!  

 

http://forum.kompas.com/nasional/45251-janji-kami-bagi-pemuda-pemudi.html

Tri Budhi Sastrio

/tribudhis

SENANTIASA CUMA-CUMA LAKSANA KARUNIA BAPA
Selengkapnya...

KOMPASIANA ADALAH MEDIA WARGA, SETIAP KONTEN DIBUAT OLEH DAN MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.

Siapa Yang Menilai Tulisan Ini ?