HEADLINE

Kondom dan Perilaku Seks Bebas pada Remaja

08 April 2011 01:42:05 Dibaca :
Kondom dan Perilaku Seks Bebas pada Remaja
Ilustrasi/Admin (Shutterstock)

Menurut data BKKBN 2010, 51 persen remaja di Jabotabek telah melakukan hubungan layaknya suami istri. Selain di Jabodetabek, di wilayah lain seperti Surabaya mencapai 54 persen, di Medan 52 persen, Bandung 47 persen, dan Yogyakarta 37 persen. Data tersebut menunjukkan bahwa gaya pacaran remaja sekarang sudah menyimpang jauh dari makna dan hakekat pacaran itu sendiri. Berita bahwa pergaulan anak baru gede (ABG) jaman sekarang ini, demikian bebas, sebebas-bebasnya, membuat orang tua harus memberi perhatian ekstra kepada anak-anak mereka. Mengapa harus? Karena bila kita sempat menyaksikan video mesum mereka yang ada di youtube, mereka bukan hanya lihai berciuman, namun juga berhubungan seks di luar nikah. Malah anak SMP pun diketahui sudah mahir melakukannya. Mereka terjerumus dalam kehidupan seks yang bebas, yang berbahaya dan merugikan masa depan mereka. Di rumah, sikap remaja tampak sangat baik dan penurut. Namun ternyata di luar sana, siapa menduga bahwa mereka sudah terlalu jauh melangkah di luar batas norma kesusilaan. Pacaran seperti suami-istri, kalau tidak ML atau make love, dianggap ketinggalan jaman. Seks dalam pacaran menjadi trend yang lazim berlaku sekarang. Begitu mudahnya remaja mengakses pornografi, baik lewat DVD, BBM, majalah, buku dan situs porno, serta game online, membuat terperangkap dalam candu seks. Ada juga yang sikapnya berubah drastis, mulai pulang malam, sering keluyuran tidak jelas kemana, marah bila ditanya orang tua darimana, memiliki benda-benda yang mahal seperti baju, sepatu, kawat gigi, jam tangan, tas, dan handphone, padahal bukan pemberian orang tua.Bila tidak jeli, orang tua tidak akan tahu bahwa gaya hidup anaknya telah berubah drastis. Karena tidak perhatian itulah, maka orang tua tidak bertanya darimana mereka memperoleh semuanya itu. Mereka tidak sadar bahwa anak-anak mereka di luar sana telah menjajakan seks demi memperoleh barang-barang yang mereka inginkan. Kebiasaan menikmati pornografi secara diam-diam itulah yang membuat mereka mengekspresikan keingintahuan dan gairah seksual tidak pada tempatnya. Mendapat informasi seks dari orang dan media yang salah, yang hanya bercerita tentang kenikmatan seks, tanpa membuka tentang bahaya seks bebas itulah yang membuat seks bebas makin marak di kalangan remaja. Akibatnya banyak kehamilan yang tidak diinginkan. Banyak janin yang digugurkan, atau bila terlanjur lahir, bayi tak berdosa itu dibuang dan malah dibunuh. Bagi yang sudah 'pintar', mereka akan mencegah terjadinya kehamilan yang tidak diinginkan, Mereka menggunakan kondom yang sekarang dijual bebas di pasaran. Pernahkah kita memeriksa dompet atau tas remaja laki-laki kita? Orang tua perlu juga melakukan sidak di kamar, tas dan dompet remajanya. Hal ini untuk memastikan bahwa anak-anak kita itu tidak memiliki barang-barang terlarang seperti narkoba, kondom dan barang-barang lain yang tidak pernah kita berikan kepada mereka. Penjualan kondom secara bebas, membuat siapapun, termasuk remaja kita dapat membelinya kapan saja saat dibutuhkan. Tidak butuh batasan usia dan alasan yang tepat untuk membeli kondom. Betapa berbahayanya kemudahan itu buat anak-anak kita. Mereka semakin leluasa melakukan seks secara bebas dengan pasangannya. Tidak lagi ketakutan akan hamil, karena sudah dilindungi dengan aman oleh kondom yang mereka dapatkan dengan mudahnya. Sebagai orang tua, kita harus terbuka pada anak-anak bicara tentang seks. Sudah waktunya mereka tahu, apakah seks itu. Biarkan mereka tahu dari sumber yang benar dan terpercaya, yaitu orang tuanya sendiri. Ajarkan mereka tentang pendidikan seks yang benar dan bertanggung jawab. Katakan pada mereka tentang bahaya yang disebabkan oleh perilaku seks bebas itu, seperti penyakit dan kehamilan yang tidak diinginkan. Biarkan mereka memahami dan menyadari betapa ruginya bila mereka melakukan itu sebelum waktunya, tidak pada tempatnya dan dengan orang yang tidak tepat untuknya. Pendidikan seks mutlak perlu bagi mereka, selain pendidikan moral/akhlak. Jangan biarkan mereka mendapatkan informasi tentang seks dari sumber dan media yang tak dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya. Daripada mereka mencari tahu sendiri dan salah arah, lebih baik mereka belajar langsung dari orang tuanya. Sesal dahulu pendapatan, sesal kemudian tak berguna. Jangan sungkan bicara tentang seks dengan mereka, jangan merasa tabu. Percayalah, di luar sana mereka sudah terinformasi dengan baik tentang seks itu, baik melalui pembicaraan antar teman, bacaan, tontonan maupun internet. Jangan terlambat bicara tentang seks dengan mereka.

T Eva Christine Rindu Mahaganti

/trianaevachristine

TERVERIFIKASI (HIJAU)

Memimpikan Indonesia benar-benar merdeka. Suka menuangkan semua mimpi, harap,kecemasan,keprihatinan dan gagasan dalam tulisan. Percaya bahwa menulis adalah amunisi yang ampuh untuk menggerakkan perubahan....
Selengkapnya...

KOMPASIANA ADALAH MEDIA WARGA, SETIAP KONTEN DIBUAT OLEH DAN MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.
TAG #muda

Siapa Yang Menilai Tulisan Ini ?