Tria saputri simamora
Tria saputri simamora Mahasiswa

Suka menulis tetapi bukan penulis, hanya mencoba merawat ingatan lewat tulisan

Selanjutnya

Tutup

Cerpen headline

Cerpen | Kisah Koin Seribu

14 Juli 2017   14:16 Diperbarui: 17 Juli 2017   01:49 313 13 3
Cerpen | Kisah Koin Seribu
ilustrasi: pxhere.com

Ada yang tidak beres dalam perjalananku menuju rumah. Sudah hampir satu jam aku dalam bis, tetapi buku yang kubaca tak lebih dari 10 lembar. Entah mengapa tingkat konsentrasiku selalu buyar dan berdampak pada bacaanku. Tidak jarang pula aku mengulang bagian yang sudah kubaca  dan mencoba memahami kembali. Padahal buku yang kubaca terbilang ringan, tidak membutuhkan otak seorang insinyur atau ahli ilmu untuk memahaminya. Akhirnya kututup buku yang kubaca, aku mencoba mengamati  kondisi di dalam bis. 

Aku lihat kondisi dibalik kaca bis, macet. Aku menarik nafas dan berpikir sama saja menolak "takdir" jika macet jadi alasan kegelisahanku, aku tak ambil pusing. Mataku mulai menilik ke sekitar dalam bis. Yang kulihat tinggal sedikit kursi-kursi bis yang belum terisi, sambil kulihat jam tanganku dan kumaklumi karena memang saat ini adalah waktunya orang-orang kantoran pulang kerumah. 

Dan sudah tentu ini sudah menjadi pemandangan setiap aku pulang. sesekali banyak pedagang-pedagang masuk kedalam bis dan menawarkan bermacam-macam produk. Dari mulai Koran, permen,kacang , tahu, koyo herbal, buku menggambar, macam-macam lem, pisau multiguna, senter, sampai alat sulap hampir mencuri perhatian penumpang karena tiap penjual memiliki khas tersendiri dalam menjajakannya, apalagi  barang-barang tersebut sangat jarang ditemukan ditoko-toko  manapun, sehingga cukup menarik perhatian penumpang bis.    

Akhirnya aku kembali membaca buku mencoba tidak memperdulikan sekitar. Bahkan untuk menghilangkan bosan sekaligus meredam kebisingan diluar, aku mencoba mendengarkan musik dengan earphone, dan ternyata itu cukup membantu mengembalikan kenyamananku untuk membaca. Tidak sampai 15 menit kondisi "ketidakberesan" kembali aku rasakan. 

Kututup bukuku dan melihat kembali kondisi. Ternyata di bagian belakang bis berdiri seorang pria dengan gitar okulele dengan senar warna-warni sedang bernyayi, kulepas headset dan kuambil uang koin seribuan dalam dompet recehku dengan niat akan kuberikan kepada pengamen tersebut, dengan santai aku mencoba menyaksikan penampilan pengamen tersebut. Suaranya melengkit ditelinga, ketinggian suaranya melebihi knalpot racing,  sungguh sangat mengganggu. Dengan kekesalan aku tunggu sampai dia selesai sebut saja "bernyayi". Aku yang berpikir dia tak akan mendapat banyak uang dari penumpang ternyata salah, bungkusan permen yang dia sodorkan diisi banyak oleh penumpang. 

Bagaimana tidak, kata-kata penutup yang dia ucapkan  seolah-olah dirinya sedang menyandera seluruh penumpang dan akan membunuh bagi siapa saja yang tidak memberi dia uang. Sebenarnya aku selalu menyiapkan uang-uang recehan untuk sekedar memberi pengamen dan peminta-minta, dan aku ingin memberikan seribu perak yang aku pegang sedari tadi dengan alasan agar ia pergi dengan cepat tanpa harus meminta dengan unsur pemaksaan, tetapi karena kekesalanku dank arena dia telah mengganggu kenyamananku, maka saat diriku saat disodorkan bungkusan permen itu aku langsung melambaikan tangan dengan suara kecil "maaf", dengan wajah kekesalan pengamen itu berlalu. Didalam benakku aku berpikir badan mereka yang masih muda, tenaga mereka yang masih kuat tetapi sudah menjadi preman yang bertopeng pengemis, akhirnya uang receh yang kusiapkan tak jadi kuberikan. Belum kekesalanku selesai sudah ada pria yang kupikir adalah penumpang ternyata dia juga mencoba mengais rejeki di dalam bis. 

Anehnya dia tak membawa alat musik, kupandangi dia dengan penasaran, pikirku dia akan mengamen bermodalkan tepuk tangan namun ternyata salah. Ternyata dia mengeluarkan kertas dari sakunya dan meminta ijin untuk membacakan sajak. Aku yang mendengar itu tertawa kecil seolah meremehkan, lalu kututup bukuku dan kudengarkan puisinya. Kuamati dari gaya membacanya tampak cukup baik, isi puisinya bak naskah orasi dengan isian curhatan rakyat kecil kepada pemerintahan dari mulai segi kesejahteraan, korupsi sampai masalah toilet yang berbayar diungkitnya. Entah darimana ia mendapat data itu, yang jelas jika dia bacakan di depan istana aku yakin itu dapat membangkitkan semangat para demonstran tetapi jika dibacakan di dalam bis yang notabene adalah orang-orang pekerja dengan wajah lelah, teriakan-teriakan itu hanya jadi dongeng penikmat tidur. 

Sebenarnya aku ingin memberi dia uang receh yang masih kuapit ditanganku, karena teknik membacanya yang cukup baik dan isi puisinya yang cukup berani tetapi kemudian  ada yang mengganggu pikiranku. Aku mulai berpikir jika memang dia jengah dengan orang-orang pemerintahan mengapa dia malah memilih berdiri dan berteriak-teriak, bukankah dengan dia berteriak -- teriak disini tidak akan memperbaiki keadaan.

Aku simpulkan sendiri bahwa tujuan dia bukan apa yang dia sampaikan melainkan hanya uang semata. Tanpa berpikir panjang aku langsung mengeluarkan jurus " maaf" kepadanya juga. Tidak cukup lama dari orator jalanan berakhir, seorang ibu-ibu tua dengan badan cukup gemuk dengan membawa alat yang aku sebut kecekrekkan, jalannya terlihat sulit karena dia harus menjaga keseimbangan tubuhnya dalam bis, karena tidak jarang bis ngerem mendadak. 

Rasa ibaku mulai muncul dan terbesit dipikiranku, mengapa orang setua itu harus hidup dari bis ke bis, dalam hati aku menghakimi keluarganya yang tega membiarkan ibu itu mengamen. Aku dengarkan dia menyanyi, dengan suara pas-pas'an ia menyanyikan lagu-lagu lawas yang mungkin hanya itu lagu yang dia ingat dan hafal. Aku tidak menikmati apa yang ibu itu nyanyikan, aku hanya sibuk memperhatikan raut mukanya, rambutnya yang setengah memutih, dasternya yang lusuh, kulitnya yang legam. Selesai dia menyanyi seperti biasa, kata-kata terakhir adalah bagian yang menyentuh, dengan tujuan dapat menggerakkan hati para penumpang untuk memberikan uang. Begitupun diriku, kutunggu ibu untuk sampai di kursiku, agar aku dapat memberikan koin seribuku. 

Kursi demi kursi ibu itu lalui dan betul juga tidak banyak yang memberi uang, karena sebagian besar penumpang sudah pasti tertidur dan penumpang lainnya mungkin tidak tersentuh untuk memberi. Melihat cukup banyak yang tidak memberi, wajah ibu itu terlihat kesal, mulutnya komat-kamit memarahi penumpang meluapkan kekesalannya, tidak berhenti disitu karena tak dapat koin -- koin ia malah meminta rokok kepada penumpang pria dengan nada memelas. 

Sontak saja aku terkejut dan tertawa kecil tak menyangka dengan apa yang kusaksikan, rasa iba hilang seketika karena merasa tertipu. Dengan wajah datar aku tak jadi memberikan koin seribu yang ada di genggaman tanganku. Ibu itupun berlalu, dan aku kembali membaca buku yang tertunda cukup lama. Koin seribu yang sedari tadi kupegang, ingin kusimpan kembali ke dompet, belum sempat aku simpan, aku terdiam merenung, mungkin seperti ini rasanya orang yang menemukan hidayah, secepat mungkin muncul beberapa kata-kata memenuhi  pikiranku,

"Apa susahnya memberi, toh itu hanya koin seribu!"

"Memangnya kamu bisa menolong lebih dari itu"

"Ingin mencoba menolong orang saja mesti banyak pertimbangan?"

"Memangnya kamu siapa? Bisa menilai orang lain?" dll

Semua kata-kata itu muncul dan memenuhi isi kepalaku, yang dirasa hanya antara marah dan malu pada sendiri . Masih ku genggam koin itu sampai aku terngiang akan kata seseorang yang selalu mengajarkan aku tentang kebaikan katanya " Bagaimana bisa kita mengasihi Tuhan yang tidak terlihat, jika yang jelas terlihat tidak kita kasihi".