Mohon tunggu...
Topik Irawan
Topik Irawan Mohon Tunggu... Full Time Blogger - Full Time Blogger

Full Time Blogger

Selanjutnya

Tutup

Humaniora Pilihan

Merenda Toleransi di Gang Tepekong Pasar Lama Cikarang

29 Februari 2016   04:32 Diperbarui: 29 Februari 2016   07:09 193
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

[caption caption="Gerbang Tepekong Tek Seng Bio dari sisi jalan K.H Fudholi(dokpri)"]

[/caption]Meski tinggal di kawasan Cikarang telah lama tapi baru kali ini bisa menjejakan kaki di sebuah rumah ibadah bernama Tepekong, padahal sering kali tempat ini di lewati saat melakukan aktifitas saat pulang balik kerjaan. Sebuah rumah ibadah yang akan terlihat lebih ramai dari biasanya ketika ada perayaan tahun baru Imlek dan juga kirab ketika ada acara Cap Go Meh, tak kepalang meriahnya suasana kota Cikarang iring iringan Jolly atau tandu dewa dengan di lengkapi atraksi Barongsay, kota Cikarang saat Cap Go Meh sering macet total, namun tak ada yang marah, tak ada yang misuh misuh nggak karuan, menikmati Barongsay dan Liong serta dentuman mercon merupakan atraksi tersendiri, apa lagi kalau ada angpao maka suasananya pun begitu meriah.

Di sebuah jalan bernama K.H. Fudholi, di sebuah gang bernama Tepekong, berdiri dengan gagah sebuah kelenteng bernama Tek Seng Bio, bangunan dengan dominasi warna merah dan juga motif naga seakan menyambut pengunjung, beruntung saya di terima dengan sangat baik oleh Bang Yudi yang bertugas di kelenteng Tek Seng Bio, seusai pulang kerja mampir dulu di kelenteng yang baru saja menyelanggarakan acara Cap Go Meh.

Dengan antusias bang Yudi menceritakan bahwa kelenteng ini di peruntukan untuk tempat ibadah umat Kong Hu Cu, Taoisme dan juga Budha, namun yang lebih menarik lagi meski berada di tengah tengah perkampungan yang di dominasi oleh para penduduk yang beragama Islam namun toleransi terasa indah sekali, bahkan letak kelenteng Tek Seng Bio sangat berdekatan dengan masjid Nurul Huda. Tahun 1998 di mana kerusuhan yang melanda sebagian besar kota kota di Jabodetabek saat itu yang juga melanda Cikarang, hebatnya para penduduk yang rata rata muslim menjaga tempat ibadah ini sehingga tak ada pengrusakan sama sekali.

Menurut Bang Yudi, harmonisasi antara warga sekitar sangtlah kondusif, jauh sebelum negeri ini merdeka, toleransi telah berlangsung lama semenjak kelenteng ini di dirikan pada tahun 1852.


Petilasan di Sebuah Ruang Kelenteng Tek Seng Bio

[caption caption="Petilasan di sebuah ruangan Tepekong, mereka penyebar agama islam dari etnis Tionghoa(dokpri)"]

[/caption]Karena diizinkan memasuki ruangan dalam, maka dengan langkah antusias saya pun mengikuti langkah Bang Yudi menuju bagian belakang kelenteng, di ruang tengah terlihat aneka lilin yang di biarkan terus menyala, ada kue keranjang yang di susun seperti kerucut. Dan akhirnya saya terus berjalan dan masuk di sebuah ruangan, menurut Bang Yudi bahwa ruangan ini sering di kunjungi oleh warga yang ingin melihat petilasan, di sebuah ruangan berbentuk empat persegi inilah setiap malam Senin dan Kamis, warga yang beragama Islam menyempatkan untuk panjatkan do’a. Ada empat sekat dengan masing masing nama yang tertera, yaitu Embah Raden Surya Kencana, Aki Jenggot, Imam Soedjono dan Embah Sabin, menurut penuturan Kang Yudi, beliau-beliau ini adalah penyebar agama Islam di kawasan Cikarang pada abad ke 17, 18.

Ini sebuah keunikan dari artikulasi budaya yang merupakan harmoni dan benar-benar ada, toleransi bukan sebuah pepesan kosong, jauh beberapa abad lampau ternyata sesepuh bangsa ini telah mengajarkan betapa saling menghormati meski berbeda kepercayaan adalah sebuah keniscayaan.

Saya jadi teringat akan sebuah cerita tentang salah satu isteri Sunan Gunung Djati yang berasal dari Tiongkok, nama Sunan Gunung Djati merupakan salah satu wali songo yang menyebarkan agama Islam di pulau Jawa, khususnya untuk wilayah Cirebon dan pada umumnya wilayah Jawa bagian barat. Ulama besar ini pernah menginjakan kaki di negeri Tiongok dan bahkan memperisteri seorang puteri dari bangsawan kekaisaran Ming bernama Puteri Ong Tien.
Sampai saat ini pun komplek pemakaman Sunan Gunung Djati sering di ziarahi, termasuk makam Puteri Ong Tien dan para pengunjung non muslim dari etis Tiongkok kerap pula berkunjung ke makam sang puteri, diantara lantunan zikir para peziarah, ada pula asap dari pembakaran hio dari pengunjung etnis Tiongkok, tak ada keributan, tak ada gontok gontokan, kedewasaan berbudaya pula yang membuat penziarah menerima dengan tangan terbuka para pengunjung yang non muslim.


Belajar Berbudaya dengan Toleransi, Indonesia Bisa!

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Humaniora Selengkapnya
Lihat Humaniora Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun