Penerapan Metode Make A Match dalam Pembelajaran Matematika

12 Agustus 2017   22:55 Diperbarui: 12 Agustus 2017   23:27 128 0 0

ABSTRAK: Penulisan ini bertujuan untuk penerapan metode make a matchdalam pembelajaran matematika. Penulisan ini menggunakan pendalaman kualitatif dengan cara kajian pustaka. Hasil penulisan ini menunjukan bahwa penerapan metode make a match dapat menghasilkanDapat memotivasi siswa untuk saling membantu pembelajaranya satu sama lain. Menumbuhkan rasa tanggung jawab terhadap kelompoknya (sebagaimana kepada diri mereka sendiri) untuk melakukan yang terbaik. Meningkatkan keterampilan sosial yang dibutuhkan untuk bekerja secara efektif. Dapat memberikan kesempatan kepada para siswa untuk menggunakan ketrampilan bertanya dan membahas sesuatu masalah. Dapat mengembangkan bakat kepemimpinan dan mengajarkan ketrampilan berdiskusi.

Tahapan Pembelajaran Metode Make A Match

Menurut Tharmizi (2010). mengemukakan langkah-langkah pembelajaran dengan menggunakan teknik make a macth sebagai berikut:

  • Membuat potong-potongan kertas sejumlah siswa yang ada dalam kelas.
  • Mengisi kertas-kertas tersebut dengan jawaban atau soal sesuai materi yang telah diberikan.
  • Mencocokan semua kartu sehingga akan tercampur antara soal dan jawaban.
  • Membagikan soal atau jawaban kepada siswa
  • Memberi setiap siswa satu kertas dan menjelaskan bahwa ini adalah aktivitas yang dilakukan berpasangan. Separuh siswa akan mendapatkan soal dan separuhnya akan mendapatkan jawaban.
  • Meminta semua siswa menemukan huruf U atau berhadapan.
  • Meminta siswa menemukan pasangan mereka. Jika ada yang sudah menemukan pasangan, minta mereka untuk duduk berdekatan, terangkan juga agar mereka tidak memberi tahu materi yang mereka dapatkan kepada teman yang lain.
  • Menambahkan langkah-langkah model Make A Match yaitu setiap siswa menerima potongan kertas, mereka diberi waktu untuk memikirkan jawaban atau soal dari kertas yang diterimanya. Setiap siswa yang dapat menemukan pasangannya dengan tepat sebelum batas waktu diberi poin atau nilai.
  • Setelah satu babak, kartu dikocok lagi agar setiap siswa mendapat kartu yang berbeda dari sebelumya.
  • Mendiskusikan soal yang telah diterima dengan kelompok pasangan.
  • Kesimpulan / penutup.

 

Kata Kunci: Make A Match, Pembelajaran Matematika

Pendahuluan

Matematika ialah ilmu pasti yang berkenaan dengan suatu penalaran. Perkembangan ilmu matematika tidak pernah berhenti, hal ini karena matematika masih dibutuhkan dalam kehidupan manusia. matematika memiliki keterkaitan dengan dengan konsep abstrak. Segala hal yang bersangkutan dan berhubungan dengan matematika disebut sebagai matematis. Matematis juga di gunakan untuk menyebut sesuatu secara sangat pasti dan sangat tepat. Matematika merupakan salah satu ilmu yang banyak di manfaatkan dalam kehidupan sehari-hari. Baik secara umum maupun secara khusus. 

Secara umum matematika digunakan dalam transaksi perdangangan, pertukangan, dll. Hampir di setiap aspek kehidupan ilmu matematika yang di terapkan. Karena itu matematika mendapat julukan sebagai ratu segala ilmu. Matematika juga mempunyai banyak kelebihan dibanding ilmu pengetahuan lain. Selain sifatnya yang fleksible dan dinamis, matematika juga selalu dapat mengimbangi perkembangan zaman. Terutama di masa sekarang ketika segala sesuatu dapat di lakukan dengan komputer. Matematika menjadi salah satu bahasa program yang efektif dan efisien.

Menurut Riedesel (1996: 13-15) matematika atau pelajaran matematika adalah matematika bukanlah sekedar menghitung, pembangkitan masalah dan pemecahan masalah, kegiatan menemukan dan mempelajari pola serta hubungan, sebuah bahasa, cara berpikir dan alat berpikir, bangunan yang terus berubah dan berkembang, bermanfaat bagi semua orang, matematika bukan sekedar mengetahui pelajaran matematika tetapi terutama untuk melakukan matematika, dan suatu jalan untuk berpikir merdeka. Sedangkan menurut Prof. Dr. Nasution (2009: 8) menyebutkan bahwa matematika adalah ilmu struktur, urutan (order), dan hubungan yang meliputi dasar-dasar penghitungan, pengukuran, dan penggambaran bentuk objek. Dan menurut Susilo (1998: 227-228) Matematika bukanlah kumpulan angka, simbol, dan rumus yang tidak ada kaitannya dengan dunia nyata. Justru sebaliknya, matematika tumbuh dan berakar dari dunia nyata.

kesulitan merupakan kondisi tertentu yang ditandai dengan adanya hambatan-hambatan dalam kegiatan untuk mencapai suatu tujuan, sehingga memerlukan usaha yang lebih berat lagi untuk dapat mengatasinya. Kesulitan belajar dapat diartikan sebagai suatu kondisi dalam proses belajar yang ditandai oleh adanya hambatan-hambatan tertentu untuk menghasilkan hasil belajar. Kesulitan-kesulitan tersebut dapat disebabkan oleh masalah karakteristik Matematika, masalah siswa, ataupun masalah guru. 1. Karakteristik Matematika yaitu objeknya abstrak, konsep dan prinsipnya berjenjang, dan prosedur pengerjaannya banyak memanipulasi bentuk-bentuk. Siswa memerlukan waktu dan peragaan dalam menangkap konsep yang abstrak itu. 

Siswa akan mengalami kesulitan dalam mempelajari konsep berikutnya, jika konsep yang sebelumnya tidak terbentuk dengan benar. 2. Masalah siswa Setiap siswa mempunyai kecepatan belajar yang berbeda-beda dan gaya belajar yang berbeda pula. Mereka mempunyai kecenderungan untuk membentuk konsep sendiri yang akhirnya membentuk miskonsepsi. Selain itu, mereka juga kurang dalam latihan mengerjakan soal-soal Matematika. 3. Masalah guru setiap guru mempunyai persepsi sendiri tentang Matematika, hakekat belajar, dan mengajar. Mereka mempunyai gaya mengajar atau metode mengajar sendiri.

Pembelajaran terpusat pada guru sampai saat ini masih menemukan beberapa kelemahan. Kelemahan tersebut dapat dilihat pada saat berlangsungnya proses pembelajaran di kelas, interaksi aktif antara siswa dengan guru atau siswa dengan siswa jarang terjadi. Siswa kurang terampil menjawab pertanyaan atau bertanya tentang konsep yang diajarkan. Siswa kurang bisa bekerja dalam kelompok diskusi dan pemecahan masalah yang diberikan. 

Mereka cenderung belajar sendiri-sendiri. Pengetahuan yang didapat bukan dibangun sendiri secara bertahap oleh siswa atas dasar pemahaman sendiri. Karena siswa jarang menemukan jawaban atas permasalahan atau konsep yang dipelajari. Untuk memperbaiki hal tersebut perlu disusun suatu pendekatan dalam pembelajaran yang lebih komprehensip dan dapat mengaitkan materi teori dengan kenyataan yang ada di lingkungan sekitarnya dengan mengembangkan pembelajaran menggunakan metode Make A Match.

Teknik metode pembelajaran Make A Match atau mencari pasangan dikembangkan oleh Lorna Curran (1994). Salah satu keunggulan tehnik ini adalah siswa mencari pasangan sambil belajar mengenai suatu konsep atau topik dalam suasana yang menyenangkan. Kegiatan yang dilakukan guru ini merupakan upaya guru untuk menarik perhatian sehingga pada akhirnya dapat menciptakan keaktifan dan motivasi siswa dalam diskusi. Hal ini sejalan dengan pendapat Hamalik (1994:116), "Motivasi yang kuat erat hubungannya dengan peningkatan keaktifan siswa yang dapat dilakukan dengan strategi pembelajaran tertentu, dan motivasi belajar dapat ditujukan ke arah kegiatan-kegiatan kreatif. Apabila motivasi yang dimiliki oleh siswa diberi berbagai tantangan, akan tumbuh kegiatan kreatif."

Selanjutnya, penerapan metode Make A Match dapat membangkitkan keingintahuan dan kerja sama di antara siswa serta mampu menciptakan kondisi yang menyenangkan. Hal ini sesuai dengan tuntutan dalam kurikulum tingkat satuan pendidikan (KTSP) bahwa pelaksanaan proses pembelajaran mengikuti standar kompetensi, yaitu: berpusat pada siswa; mengembangkan keingintahunan dan imajinasi; memiliki semangat mandiri, bekerja sama, dan kompetensi; menciptakan kondisi yang menyenangkan; mengembangkan beragam kemampuan dan pengalaman belajar; karakteristik mata pelajaran.

Make A Match

Pengertian

Model pembelajaran merupakan suatu teknik pembelajaran yang digunakan guru dalam mengajarkan suatu pokok bahasan (materi) tertentu dan dalam pemilihan suatu model harus disesuaikan terlebih dahulu dengan materi pelajaran, tingkat perkembangan kognitif siswa, dan sarana atau fasilitas yang tersedia sesuai dengan tujuan pembelajaran sehingga model pembelajaran yang diterapkan dapat tercapai. Dalam interaksi belajar mengajar terdapat berbagai macam model pembelajaran yang bertujuan agar proses belajar mengajar dapat berjalan baik. 

Hal ini juga bertujuan untuk menciptakan proses belajar mengajar aktif serta memungkinkan timbulnya sikap keterkaitan siswa untuk mengikuti kegiatan belajar mengajar secara menyeluruh. Proses pembelajaran yang baik adalah yang dapat menciptakan pembelajaran yang efektif dengan adanya komunikasi dua arah antara guru dengan peserta didik yang tidak hanya menekan pada apa yang dipelajari tetapi menekan bagaimana ia harus belajar.

Salah satu alternatif untuk pengajaran tersebut adalah menggunakan model pembelajaran Make-A Match (Mencari Pasangan). Menurut Rusman (2011: 223-233) Model Make A Match (membuat pasangan) merupakan salah satu jenis dari metode dalam pembelajaran kooperatif. Sedangkan menurut Anita Lie (2008: 56) menyatakan bahwa model pembelajaran tipe Make A Match atau bertukar pasangan merupakan teknik belajar yang memberi kesempatan siswa untuk bekerja sama dengan orang lain. Dan menurut Wahab (2007: 59) Model pembelajaran Make A Match adalah sistem pembelajaran yang mengutamakan penanaman kemampuan sosial terutama kemampuan bekerja sama, kemampuan berinteraksi disamping kemampuan berpikir cepat melalui permainan mencari pasangan dengan dibantu kartu.

Berdasarkan konsep diatas dapat disumpulkan bahwa metode pembelajaran Make A Matchitu merupakan pembelajaran yang yang menekankan pada kerja sama atau kelompok agar tertanam kemampuan bekerja sama dan berinteraksi. Dalam metode pembelajaran ini sangat terlihat bahwa siswa tidak akan merasa jenuh karena siswa tidak mengerjakan soal atau permasalahan sendiri, tetapi dibantu dan saling bertukar pikiran untuk suatu soal atau permasalahan, sehingga menimbulkan rasa senang tehadap pelajaran.

Tahapan Pembelajaran Metode Make A Match

Menurut Tharmizi (2010). mengemukakan langkah-langkah pembelajaran dengan menggunakan teknik make a macth sebagai berikut:

  • Membuat potong-potongan kertas sejumlah siswa yang ada dalam kelas.
  • Mengisi kertas-kertas tersebut dengan jawaban atau soal sesuai materi yang telah diberikan.
  • Mencocokan semua kartu sehingga akan tercampur antara soal dan jawaban.
  • Membagikan soal atau jawaban kepada siswa
  • Memberi setiap siswa satu kertas dan menjelaskan bahwa ini adalah aktivitas yang dilakukan berpasangan. Separuh siswa akan mendapatkan soal dan separuhnya akan mendapatkan jawaban.
  • Meminta semua siswa menemukan huruf U atau berhadapan.
  • Meminta siswa menemukan pasangan mereka. Jika ada yang sudah menemukan pasangan, minta mereka untuk duduk berdekatan, terangkan juga agar mereka tidak memberi tahu materi yang mereka dapatkan kepada teman yang lain.
  • Menambahkan langkah-langkah model Make A Match yaitu setiap siswa menerima potongan kertas, mereka diberi waktu untuk memikirkan jawaban atau soal dari kertas yang diterimanya. Setiap siswa yang dapat menemukan pasangannya dengan tepat sebelum batas waktu diberi poin atau nilai.
  • Setelah satu babak, kartu dikocok lagi agar setiap siswa mendapat kartu yang berbeda dari sebelumya.
  • Mendiskusikan soal yang telah diterima dengan kelompok pasangan.
  • Kesimpulan / penutup.

Kelebihan Metode Pembelajaran Make A Match

  • Siswa terlibat langsung dalam menjawab soal yang disampaikan kepadanya melalui kartu.
  • Meningkatkan kreativitas belajar siswa.
  • Menghindari kejenuhan siswa dalam mengikuti kegiatan belajar mengajar.
  • Pembelajaran lebih menyenangkan karena melibatkan media pembelajaran yang dibuat oleh guru.

Sedangkan Kekurangan Metode Pembelajaran Make A Match

  • Sulit bagi guru mempersiapkan kartu-kartu yang baik dan bagus sesuai dengan materi palajaran.
  • Sulit mengatur ritme atau jalannya proses pembelajaran
  • Siswa kurang menyerapi makna pembelajaran yang ingin disampaikan karena siswa hanya merasa sekedar bermain saja.
  • Sulit untuk membuat siswa berkonsentrasi.

Tahap Pendahuluan

Guru masuk kedalam kelas, siswa memberi salam hormat dan bedoa agar pelajaran dapat berjalan dengan baik dan agar materi yang disampaikan dapat terserap hingga siswa menjadi bisa dan mengerti pada materi yang diajarkan guru, setelah itu guru menyampaikan metode pembelajaran yang akan digunakan untuk pertemuan pada saat itu yaitu "Metode Make A Match." Setelah itu, guru mengabsen siswanya secara satu persatu, bagi nama yang dipanggil harap mengacungkan tangan. Ditengah-tengah mengabsen, guru pun menyelingi absen dengan sedikit candaan agar siswa tidak merasa tegang. Setelah itu guru memulai pembelajaran.

Guru memberikan semangat dan motivasi kepada siswa terutama kepada siswa yang terlihat psimis bahwa dirinya tidak bisa agar timbul rasa percaya diri dan menanamkan pada diri siswa bahwa mereka akan bisa selagi dia mau mencoba dan berusaha. Selain itu guru juga menayangkan video motivasi agar siswa dapat semangat dan termotivasi ingin belajar.

Pembelajaran ini bertujuan agar siswa dapat meningkatkan aktivitas belajar, baik secara kognitif maupun fisik karena ada unsur permainan, dapat meningkatkan pemahaman siswa terhadap materi yang dipelajari, siswa dapat meningkatkan motivasi belajar, terutama jika efektif sebagai sarana melatih keberanian siswa untuk tampil presentasi efektif melatih kedisiplinan dan menghargai waktu untuk belajar.

Tahap Inti

Langkah-langkah Kegiatan Pembelajaran Matematika Menggunakan Metode Make A Match

  1. Pertama-tama pecahlah siswa menjadi 2 kelompok, misalnya kelompok A dan kelompok B. Mintalah mereka berhadap-hadapan.
  2. Bagikan kartu pertanyaan kepada kelompok A dan kartu jawaban kepada kelompok B.
  3. Sampaikan kepada siswa bahwa mereka harus mencari/mencocokkan kartu yang dipegang dengan kartu kelompok lain. guru perlu menyampaikan batasan maksimum waktu yang diberikan kepada mereka.
  4. Mintalah semua anggota kelompok A untuk mencari pasangannya di kelompok B. Jika mereka sudah menemukan pasangannya, mintalah mereka melaporkan diri kepada guru. Catatlah mereka pada kertas yang sudah dipersiapkan.
  5. Jika waktu sudah habis, sampaikan kepada mereka bahwa waktu sudah habis. Bagi siswa yang belum menemukan pasangan, mintalah mereka untuk berkumpul tersendiri.
  6. Panggil satu pasangan untuk presentasi. Pasangan lain dan siswa yang tidak mendapat pasangan memperhatikan dan memberikan tanggapan apakah pasangan itu cocok atau tidak.
  7. Terakhir, guru memberikan konfirmasi tentang kebenaran pasangan tersebut.
  8. Panggil pasangan berikutnya, begitu seterusnya sampai seluruh pasangan melakukan presentasi.

Catatan:

  • Guru bisa memberikan hukuman yang mendidik pada siswa yang tidak menemukan pasangan atau menemukan pasangan ternyata salah.
  • Guru juga dapat memberikan skor pada pasangan yang berhasil menemukan pasangan.
  • Dan bagi pasangan yang benar, bisa diberi penghargaan atau rewards.

Tahap Penutup

Setelah semua pasangan telah selesai berpresentasi, guru memberi arahan pada siswa yang tidak mendapat pasangan dan siswa yang mendapatkan pasangan tetapi salah. Selain itu, guru juga memberi kalimat motivasi pada kelompok tersebut agar siswa tidak pantang menyerah, lebih giat lagi mencoba dan lebih teliti lagi bila melakukan kegiatan apapun.

Setelah semua kegiatan selesai, guru meminta kepada siswa untuk duduk kembali pada tempat duduk masing-masing dan berdoa untuk mengakhiri pembelajaran.

Kesimpulan

            Pembelajaran menggunakan metode make a match, siswa dapat aktif dan pembelajaran tidak membosankan, selain itu dengan menggunakan metode make a matchdapat memberi manfat pada siswa, yaitu:

  • Dapat memotivasi siswa untuk saling membantu pembelajaranya satu sama lain.
  • Menumbuhkan rasa tanggung jawab terhadap kelompoknya (sebagaimana kepada diri mereka sendiri) untuk melakukan yang terbaik.
  • Meningkatkan keterampilan sosial yang dibutuhkan untuk bekerja secara efektif.
  • Dapat memberikan kesempatan kepada para siswa untuk menggunakan ketrampilan bertanya dan membahas sesuatu masalah.
  • Dapat mengembangkan bakat kepemimpinan dan mengajarkan ketrampilan berdiskusi

Saran

Agar proses pembelajaran seperti ini dapat terus berlangsung dan hasil belajar peserta didik dapat terus meningkat, maka pihak sekolah dan pendidik perlu melakukan:

Pendidik selalu membantu dan memotivasi peserta didik untuk terbiasa membuat fariasi dan inofasi dalam pembelajaran, agar paserta didik tidak bosan dalam pembelajaran, dan timbul rasa senang serta percaya diri, juga tidak malu dan takut dalam berinteraksi dengan sesama peserta didik

  • Pendidik harus memiliki sikap keterbukaan, kesediaan menerima kritik dan saran terhadap kelemahan-kelemahan dalam proses pembelajaran.
  • Pihak sekolah agar mendukung para pendidik untuk mengembangkan macam- macam model pembelajaran dalam proses pembelajaran agar selalu ada peningkatan kualitas pembelajaran baik dalam proses maupun hasil belajar peserta didik.

DAFTAR PUSTAKA

Anita Lie. 2008. Cooperative Learning: Mempraktikkan Cooperative Learning di Ruang-Ruang Kelas. Jakarta: Grasindo.Prof. Dr. S. Nasution. M.A, Berbagai Pendekatan Dalam Proses Belajar Mengajar, (Jakarta: Bumi Aksara, 1992).

Hamalik, Oemar. (1994). Kurikulum dan Pembelajaran.Bandung: Bumi Aksara.

Lorna Curran. 1994. Metode Pembelajaran Make a Match. Jakarta: Pustaka Belajar.

Rusman. (2011). Model-Model Pembelajaran Mengembangkan Profesionalisme Guru. Jakarta: PT. Rajagrafindo Persada.

Riedesel, C. A. Et al. (1996) Teaching Elementary School Mathematics.MA: A Simon Schuster Company.

Susilo, Herawati, et. al., 2009, Lesson Study Berbasis Sekolah, Malang: Bayu Media.

Tarmizi, 2010. Kandungan Bawang Merah dan Khasiatnya. UI, Jakarta.

 Wahab. 2007. Metode dan Model-Model Mengajar. Bandung: Alfabeta.