PILIHAN

Quarterly Preview: Investor Optimis Terhadap Perekonomian Indonesia

12 April 2017 13:46:04 Diperbarui: 12 April 2017 13:58:31 Dibaca : Komentar : Nilai : Durasi Baca :
Quarterly Preview: Investor Optimis Terhadap Perekonomian Indonesia
carptoons.com

Sebelum memasuki tahun 2017, investor telah terkejut setelah kemenangan Trump dalam pemilu presiden Amerika Serikat. Dia menang 304 suara electoral college dibandingkan Hillary Clinton yang hanya meraih 227 suara. Sebelumnya, malah banyak investor memprediksi Hillary Clinton yang akan memenangkan pemilu presiden Amerika Serikat.

Kemenangannya telah mengguncang pasar global. Banyak investor mengkhawatirkan terhadap apa yang telah dia janjikan pada masa kampanye. Dia dapat mengancam ketahanan perdagangan global. Setelah dia memasuki Gedung Putih pada 20 Januari 2017, dia benar-benar mengimplementasikan apa yang telah dia janjikan pada masa kampanye. 

Dia telah menandatangani perintah eksekutif untuk menegoisasi ulang atau menghentikan perjanjian perdagangan bebas antara Amerika Serikat dengan negara-negara lain, seperti: North American Free Trade Agreement (NAFTA) dan Trans Pacific-Partnership (TPP). Dia mengklaim bahwa perjanjian tersebut telah merugikan ekonomi Amerika Serikat. Selain itu, dia ingin mengganti Obamacare dan juga berusaha untuk melarang kedatangan pengungsi dan imigran dari beberapa negara mayoritas muslim masuk ke Amerika Serikat. Alhasil, ratusan ribu warga Amerika Serikat memprotes kebijakan-kebijakan tersebut.

Kebijakan-kebijakan Trump menunjukkan proteksionisme dan populisme, sama halnya seperti Inggris yang ingin memisahkan diri dari Zona Eropa. Kedua fenomena tersebut sangat mengancam stabilisasi perdagangan global. Di samping itu, The Federal Reserve telah menaikkan Fed Fund Rate (suku bunga acuan Amerika Serikat) menjadi sebesar 0,75 persen sampai 1,00 persen pertama kali dalam tahun 2017, yang menunjukkan ekonomi Amerika Serikat semakin membaik dengan pertumbuhan yang moderat. Menurunnya tingkat pengangguran dan konsumsi dan bisnis yang mulai mengalami peningkatan.

Namun demikian, peristiwa-peristiwa tersebut tidak begitu berpengaruh signifikan terhadap stabilisasi ekonomi Indonesia. Tercermin, IHSG tumbuh moderat sebesar 5,12 persen ke 5.568,1 pada 31 Maret 2017 dari 5.296,7 pada akhir tahun 2016 (Lihat Gambar 1). IHSG sempat menyentuh ke level paling tinggi yakni 5.593,0 sejak rilis. Year-to-date (YTD), sektor industri yang tumbuh paling tinggi, di antaranya: pertambangan (+10,08 persen); industri dasar (+9,45 persen); dan keuangan (+7,43 persen), sementara hanya properti dan real estate turun sebesar -1,44 persen (lihat Gambar 2). Adapun, investor asing membukukan net buy sebesar Rp7,60 triliun selama kuartal pertama tahun 2017.

idx.co.id
idx.co.id

idx.co.id
idx.co.id

Dibandingkan dengan Emerging Markets Asia (EMA) indeks, pertumbuhan IHSG lebih baik dibandingkan dengan SSEC dan SET Index (lihat Gambar 3). Year-to-date (YTD), indeks yang tumbuh paling tinggi, di antaranya: Nifty500 (+14,50 persen ke 7.995,05); PSEi Comp. (+6,89 persen ke 7.311,72); dan KOSPI (+6,60% ke 2.160,23).

investing.com
investing.com

Demikian, IHSG menghasilkan tingkat imbal hasil yang positif sebagai hasil dari stabilisasi ekonomi dan politik Indonesia yang didukung oleh kestabilan makroekonomi dan kedisiplinan kebijakan fiskal. Selain itu, Moody’s dan Japan Credit Rating Agency masing-masing telah mengganti outlook rating Indonesia menjadi positif dari stabil. Ini mengindikasikan ekspektasi pertumbuhan ekonomi Indonesia yang optimal dalam beberapa tahun yang akan datang yang didukung juga oleh harga beberapa komoditas yang mulai merangkak naik dan stabilnya nilai tukar rupiah terhadap dollar Amerika Serikat.

KOMPASIANA ADALAH PLATFORM BLOG, SETIAP ARTIKEL MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.

NILAI :

Daftarkan email Anda untuk mendapatkan cerita dan opini pilihan dari Kompasiana