HEADLINE FEATURED

Natal Terindah adalah Ketika Merayakannya di Tengah Keluarga

24 Desember 2015 09:39:23 Diperbarui: 24 Desember 2016 23:08:49 Dibaca : Komentar : Nilai : Durasi Baca :
Natal Terindah adalah Ketika Merayakannya di Tengah Keluarga
Ilustrasi: Shutterstock

Natal yang terindah adalah ketika merayakannya ditengah-tengah keluarga. Pesta besar-besaran di restoran mewah, sama sekali tidak ada hubungannya dengan arti dan makna Natal yang sesungguhnya. Perayaan Natal hanya dimanfaatkan sebagai sarana promosi dan bahkan menjadi salah satu komoditas dagang, yang sangat laris setiap tahunnya.

Inti dari Natal adalah:” Kasih” dan kasih itu adalah berbagi terhadap sesama yang tentu saja diawali dengan menerapkannya terlebih dulu dalam keluarga sendiri Karena keluarga adalah prioritas pertama dalam menapaki hidup di dunia ini.

Alangkah ironisnya, merayakan Natal besar-besaran diluar sana bersama orang lain, sementara dalam keluarga sendiri tidak ada kedamaian. Natal sudah dimaknai secara keliru dan naïf.

Aplikasikan Natal dengan Hidup Berbagi

Hampir setiap tahun, kami merayakan Natal secara sederhana. Diawali dengan terapkan berbagi didalam keluarga .Yakni dengan saling bertukar kado. Dan setiap anggota keluarga membeli kado sesuai isi dompetnya. Termasuk cucu-cucuyang berkerja part timer. Mereka tidak minta kado kepada orang tua, melainkan membeli dengan uang hasil kerja sendiri dan bagi yang belum bekerja, membeli kado dari menabung sebagian dari uang jajan.

Saat saat seperti ini adalah saat terindah dari perayaan Natal setiap tahunnya, diluar perayaan Natal dalam ritual keagamaan di gereja. Menyumbangkan sebagian dari uang atau pakaian layak pakai, untuk orang-orang yang tidak mampu, agar mereka juga dapat merasakan sepotong kasih dalam perayaan Natal.Tanpa memilah, mereka itu beragama apa ataupun mungkin tidak beragama. Beginilah kami memaknai Natal secara universal.

Sepotong Barang Tak Berarti Bagi Kita, Bisa Jadi Sesuatu yang Ditunggu Orang Lain

Jaket atau pakaian hangat, yang mungkin bagi kita sudah tidak digunakan lagi, bisa jadi bagi orang lain ,justru merupakan sesuatu yang sudah lama di dambakan. Terobsesi untuk terapkan hidup berbagi ,sungguh merupakan obsesi yang sangat manusiawi.

Atau mungkin juga ada beberapa buah jam tangan, yang sudah lama tidak dipakai dan hanya jadi pajangan dalam laci selama bertahun tahun,.Mengapa tidak dibagikan saja kepada orang lain.yang mungkin selama ini memimpikan untukmemiliki sebuah jam tangan?

Hidup berbagi,memang tidak dapat secara serta merta atau spontan terwujud, karena harus melalui proses purifikasi atau penjernihan hati kita masing masing.

Terapkan Natal Dengan Hidup Berbagi

Tidak ada salahnya, bila memang keuangan mengijinkan untuk merayakan Natal di restoran mewah atau shopping besar-besaran di akhir tahun, selama jangan lupa bahwa diluar sana, ada banyak orang yang sedang menunggu uluran tangan tangan kita.

Percayalah bahwa hidup berbagi itu sangat indah, tanpa membedakan kepada siapa kita berbagi. Karena kasih itu tidak terbatas. Kasih itu memaafkan dan kasih itu tak pernah mengijinkan hati menyimpan kemarahan ,apalagi dendam dan kebencian.

Kasih itu murah hati dan kasih itu penuh dengan belas kasih terhadap sesama, apapun sukunya, apapun agamanya. Karena kasih adalah tanpa sekat dan pagar.

Selamat Natal! Semoga Damai sejahtera bagi kita semuanya.

Musim Panas, 24 Desember, 2015

Tjiptadinata Effendi

KOMPASIANA ADALAH MEDIA WARGA, SETIAP KONTEN DIBUAT OLEH DAN MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.
FOKUS TOPIK PERAYAAN NATAL 2015

NILAI :

Daftarkan email Anda untuk mendapatkan cerita dan opini pilihan dari Kompasiana