TJIPTADINATA EFFENDI
TJIPTADINATA EFFENDI profesional

Lahir di Padang,21 Mei 1943

Selanjutnya

Tutup

Humaniora highlight

Ada Waktunya Sinar Mentari Akan Meredup

13 September 2017   19:36 Diperbarui: 13 September 2017   19:53 596 9 3
Ada Waktunya Sinar Mentari Akan Meredup
https://depositphotos.com

Tidak Ada Popularitas Yang Abadi

Bila dianalogikan hidup itu adalah ibarat sinar mentari. Yang sangat panas dan garang disiang hari,tapi ketika senja mulai merangkul semesta, maka Sang Mentari tak mampu mempertahankan sinarnya yang perlahan tapi pasti akan meredup dan menghilang dipeluk kegelapan malam. 

Karena itu, bilamana suatu ketika kita lagi dihujani berkat, rejeki datang dari sana sini dan kemanapun kita datang, selalu disambut dengan hangat. jangan sampai membuat kita lupa diri.

Bahwa semuanya itu, suatu waktu akan surut dan menghilang. Karena itu perlu  dan penting kita selalu mawas diri. agar tidak terjerat akan pemikiran, bahwa akan selamanya kita berada diposisi sebagai orang penting. Teramat banyak contoh contoh hidup yang dapat dijadikan pelajaran hidup,bahwa tidak ada sesuatu yang abadi didalam hidup ini.

Orang orang yang tadinya memegang jabatan penting dan ditakuti semasa masih berkuasa,setelah pensiun akan dicuekin orang. Tapi orang orang yang semasa berkuasa,tetap rendah hati dan tidak menunjukkan sikap yang arogan, kelak walaupun sudah pensiun dan tidak lagi mengenakan tanda pangkat dibahunya, akan tetap dihargai dan diundang orang dalam berbagai acara.

Salah Satu Contoh

Sewaktu saya masih menjadi pengusaha,saya seorang Kakanwil,yang membawahi suatu instansi, selalu tampil sangar dan kasar. Dalam setiap kesempatan berbicara didepan publik, tidak pernah lupa menyebutkan bahwa saudaranya adalah seorang menteri. Sama sekali tidak menghargai orang yang ada dihadapannya.

Suatu waktu saya datang ke kantornya untuk menanyakan tentang izin yang sudah lama saya ajukan ,tapi belum ada kabar beritanya. Rasanya saya sudah berusaha untuk berbicara sesantun mungkin,karena sudah mendapatkan informasi dari teman teman, bahwa kakanwil yang satu ini,sangat haus akan rasa hormat, namun tidak pernah mau menghargai orang lain.

Tapi belum habis kalimat saya.sudah langsung dipotong : "Apa, anda mau tanya izin? Nanti, saya tidak bisa didesak desak. Saya Kakanwil tahu. Saudara saya menteri. Kalau anda tidak senang, silakan mengadu". Saya terpana memandangnya. Bukan karena kekaguman bahwa saudaranya menteri, tapi menyaksikan sifatnya yang sangat kekanak kanakan. Saya menahan diri untuk tidak membalas dengan kata kata kasar. karena akan sangat membahayakan kelangsungan perusahaan saya.

3 Bulan Kemudian

Dikoran lokal saya baca Headline berita : "Kakanwil Diperiksa,karena dicurigai memblow up biaya renovasi kantornya". Setelah saya baca terus,ternyata memang yang dimaksudkan adalah kakanwil,yang saudaranya menteri. Singkat cerita,karena saudaranya menteri,maka perkaranya di peti eskan. Namun sang Kakanwill dipensiun dinikan .

Karena sifatnya sangat arogan sewaktu berkuasa,maka ketika sudah dipensiun dinikan dan rumah dinas diberikan kepada penggantinya dan ia pindah ke Jakarta. Konon, walaupun sudah tidak bertugas lagi, namun setiap hari ,masih menggenakan pakaian dinas dan keluar rumah. Mungkin ingin menunjukkan kesan kepada tetangga, seakan ia masih kepala kantor.

Menertawakan Kejatuhan Orang Bukan Sifat yang Baik

Tetapi menjadikannya sebagai pelajaran berharga,agar jangan sampai kita terjerat dan melakukan kesalahan yang sama. Sehingga harus membayar uang sekolah yang teramat mahal, yakni rasa malu pada diri sendiri dan mempermalukan seluruh anggota keluarga. 

Karena apapun yang kita lakukan, walaupun atas nama pribadi, namun tidak mungkin terlepas dari membawa bawa nama keluarga kita. Bahkan akan menjadi stigma selama beberapa turunan kita. Orang tidak hanya akan menyebut nama anak cucu kita, tapi sekaligus merujuk kelakuan kita.

Tjiptadinata Effendi