HIGHLIGHT

Perkembangan Sosial dan Kepribadian Anak

14 Desember 2010 11:05:17 Dibaca :


Untuk dapat memahami perkembangan Sosial dan kepribadian anak secara lebih mendalam maka harus mengetahui perkembangan emosi dan pertemanan pada anak,perkembangan identitas diri,perkembangan kesadaran identitas jenis kelamin pada usia anak ,perkembnagan moral anak,serta lingkungan belajar yang mendukung perkembangan social dan pastinya lingkungan itu baik.


Yang harus dipahami pertama adalah perkembangan sosio emosional .Di dalam perkembangan ini ada beberapa pandangan .Pandangan yang pertama yaitu teori ethologic menerangkan bahwa kasih sayang merupakan dasar dari perkembangan emosi.Jadi anak harus mendapat kasih sayang yang penuh dari orang tua tetapi tidak boleh berlebihan .Menurut teori yang kedua yaitu teori belajar social disini menerangkan interaksi antara anak dengan lingkungan sosialnya akan mempengaruhi emosional anak ,dan lingkungan sosialnya harus bisa menjadi contoh yang baik pada anak misalnya lingkunan keluarga yang demokratis dan lingkungan keluarga yang tempramental akan mencetak anak yang berbeda,anak dari keluarga yang demokratis akan mempunyai tingkat emosi yang stabil dapat mengendalikan diri,sabar,toleransi,bersahabat,sedangkan pada anak dari keluarga yang tempramental akan cenderung pemarah,tidak sabaran,maunya menang sendiri,tidak bersahabat jadi anak yang kekurangan kasih sayang akan berbahaya bagi perkembangan emosionalnya.


Pandangan yang ketiga yaitu pandangan yang dibidik dari sudut kognitif teori ini berpendapat bahwa kemampuan berpikir anak adalah yang mendasari perkembangan social emosi menurut saya ini juga benar karena tanpa kemampuan berpikir yang memadai orang tidak dapat berinteraksi dengan lingkungan sekitar dan tidak dapat membedakan mana yang baik dan mana yang buruk .Kemampuan berpikir merupakan factor pembawaan sejak kecil yang dipengaruhi dari orangtua .Kami akan memaparkan tentang proses perkembangan dan perbedaan emosi pada anak lebih jelas lagi seperti menurut pendapat Bridges[Conny Semiawan,1999: 153]


Pada saat lahir,bayi sudah memiliki seperangkat kepekaan umum terhadap rangsangan –rangsangan tertentu.Ia memiliki kepekaan terhadap suara,cahaya,temperature,dan sejenisnya.Bayi mungkin menggigil disaat kedinginan,terkejut di saat mendapat cahaya yang kuat,atau tersentak di saat mendengar suara yang keras.Kepekaan – kepekaan umum ini merupakan dasar bagi proses diferensiasi dan perkembangan emosi – emosi lainnya.


Misalnya pada bayi perkembangan sosioemosi akan sangat dipengaruhi cara pengasuhan dari orang tua ,kecocokan dengan pengasuhnya,dan tempramen bayi itu sendiri unsur turunan dari orangtua.


Setelah dapat memahami perkembangan sosioemosi pada anak lalu kita mempelajari perkembangan identitas diri [self identity].Self identity merupakan keseluruhan persepsi atau pandangan seseorang tentang dirinya –abilitas,perilaku,harga diri,dan kepribadiannya.konsep diri seseorang akan sangat mempengaruhi yang bersangkutan melihat dan memperlakukan dirinya sendiri,serta mempengaruhi kemampuannya dalam berinteraksi dengan lingkungan.Dalam pembahasan kali ini dibatasi pada penjelasan tentang identitas diri dari Erikson.


Menurut penjelasan Erikson identitas diri seseorang terbentuk melalui perkembangan proses krisis psykososial.Jadi menurut beliau setiap individu dihadapkan pada krisis-krisis kehidupan dalam fase perkembangannya.


Krisis-krisis yang dihadapi dari bayi hingga massa anak-anak ada 4 antara lain:


v Kepercayaan lawan Ketidakpercayaan


Maknanya adalah kepercayaan yang sifatnya fundamental [dasar] pada diri bayi kepada orang lain dan lingkungannya.Apabila lingkungannya dapat memenuhi keinginannya maka ia akan cendrung percaya namun apabila lingkungan tersebut tidak bisa memenuhi keinginannya maka ia amat sangat susah untuk dapat percaya kepada orang lain.


v Kemandirian lawan Malu dan Keraguan


Anak mengalami krisis ini pada usia 2-3 tahun karena pada usia ini anak mulai dapat berjalan,berbicara,mengambil sesuatu,dan melakukan hal-hal lainnya.Kemampuan –kemampuan tersebut membuat anak memiliki peluang-peluang baru untuk mengembangkan kepribadian.Misalnya tidak kencing di celana,mulai bisa makan sendiri,mulai belajar berpakaian,mulai bersosialisasi lebih luas,keberhasilan dalam menghadapi fase ini akan membuat anak dapat mengembangkan kemandiriannya karena pada usia ini anak mengalami perkembangan otak yang sangat pesat jadi harus benar – benar mendapatkan perhatian khusus.Namun sebaliknya apabila tidak dapat mengatasi krisis ini maka anak akan pemalu dan penuh keraguan.



v Inisiatif lawan Berdosa


Krisis ini dialami anak usia 4-5 tahun ,anak pada usia ini harus mendapatkan arahan ingin menjadi orang seperti apa di kemudian hari.Karena minat harus di tumbuhkan sejak kecil agar mereka mempunyai konsep dalam hidup yang akan mendukung anak untuk berinisif,membentuk dan mencapai tujuan serta kemampuan untuk berkompetisi.Kemampuan inisiatif didukung peningkatan kemampuan mobilatas,kecakapan fisik,bahasa,kognisi,dan imajinasi anak kreatif.Anak harus di asuh secara demokratis karena akan mengembangkan sikap inisiatif atau kemampuan membuat gagasan atau ide-ide.Sebaliknya anak yang dikekang akan merasa serba salah dan sikap berdosa yang akan berlebihan yang akan menghambat perkembangan.


v Mampu Berkarya lawan Inferioritas


Kemampuan ini dimulai pada usia 6 tahun hingga remaja,karena anak mulai masuk sekolah sebagai lingkungan pendidikan formal,pengalaman-pengalaman dalam pendidikan akan mengantarkan anak agar dapat berkarya dan menghasilkan sesuatu yang akan membuat bangga diri,dan keluarganya.Sebaliknya anak yang gagal dalam menghadapi fase ini akan cenderung berperasaan bahwa dirinya lemah [inferior]



Selanjutnya akan memahami perkembangan kesadaran identitas jenis kelamin


Kesadaran ini merupakan kesadaran anak tentang konsep peran pria dan wanita dalam kehidupan .Perkembangan jenis kelamin anak dipengaruhi oleh sejumlah faktor antara lain :


1) Faktor biologis


Factor ini terletak pada perbedaan anatomi dan hormon antara pria dan wanita.


2) Faktor social


Anak mempelajari peran jenis kelamin melalui peniruan dan observasi terhadap perilaku orang lain misalnya cara berbicara,car berpakaian,cara makan,cara berjalan dan masih banyak yang lain itu semua antara pria dan wanita berbeda.




3) Media massa


Media massa merupakan faktor terbesar pada era globalisasi ini misalnya tayangan-tanyangan tentang peran menjadi ibu,menjadi ayah,serta gambar-gambar dari media massa yang dapat mempengaruhi peran antaraa pria dan wanita.


4) Pengaruh perkembangan Kognitif


Perkembangan kognitif sangat mempengaruhi peran jenis kelamin karena dengan pikiran anak dapat membedakan mana yag baik saya lakukan dan mana yang tidak baik saya lakukan sesuai dengan status saya sebagai pria dan begitu juga pada wanita.Perkembangan kognitif ini akan efektif pada anak yang mengalami perkembangan normal.


Pembentukan tipe peran jenis kelamin


Pembentukan ini dimulai sejak lahir antara bayi laki-laki dan bayi perempuan.Dari cara berpakaian,dari mainan yang di bedakan,cara interaksi,Setelah bayi laki-laki tumbuh menjadi besar dan masuk tahap anak-anak maka anak laki-laki tersebut lebih suka bermain di tempat yag terbuka dan teman-temanya banyak baik yang sebaya maupun yang di atasnya.Sedangkan anak perempuan cenderung bermain di lingkungan rumah misalnya bermain boneka,masak-masakan,bersolek,menjahit dan lain-lain.Sebaiknya dalam proses pembentukan ini harus didukung oleh lingkungan yang kondusif.


Klasifikasi jenis kelamin yang lazim diterima di masyarakat ,laki-laki sebagai sosok yang maskulin sedangkan wanita sebagai sosok yang feminim.Study klasik tahun 1970-an Vasta, et, al, 1992[dalam Conny Semiawan,1999: 179]menyatakan bahwa karakter pria dan wanita dibagi dalam 2 gugus:


a. Trait Instrumental [pria sebagai pencari nafkah]


b. Trait Expresive [tanggung jawab wanita sebagai pengasuh]


Akibat dari 2 pernyataan di atas sekarang lahirlah suatu konsep yaitu androgini.Konsep ini merupakan pria atau wanita yang androgini memiliki sifat dominan maskulin tapi juga sensitive [feminim] orang yang androgini digambarkan lebih fleksibel dan bermental kuat.



Perkembangan yang harus dipahami dan tidak kalah penting adalah perkembangan moral.Anak dalam hidupnya akan bertemu dengan norma-norma yang berlaku di masyarakat.Norma-norma inilah yang biasanya dikaitkan dengan moral,jadi moral adalah penilaian tentang perilaku seseorang dalam kehidupan baik buruknya sikap seseorang dan penilaian berdasarkan pada norma-norma yang berlaku dalam masyarakat.Perkembangan moral menurut pandangan kognitif yang dipelopori oleh Piaget dan Kohlberg.


Perkembangan moral menurut Piaget


v Heteronimus


Pada tahap perkembangan moral ini,menganggap keadilan dan aturan sebagai sifat-sifat dunia yang tidak berubah dan lepas dari kendali manusia.Dan biasanya tahap ini menjadi sudut pandang dari anak usia 4-7 tahun.


v Moralitas otonimus


Pada tahap ini anak sudah menyadari bahwa hukum dan aturan-aturan itu diciptakan oleh manusia bahwa menilai tindakan seseorang harus mempertimbangkan maksud si pelaku dan akibatnya.Anak mengalami fase ini pada usia 7-10 tahun.




Menurut Kohlberg berbeda ddengan Piaget beliau berpendapat bahwa proses perkembangan dari satu tahap penalaran moral ke tahap berikutnya tidak terjadi secara mendadak,melainkan secara gradual.


Penerapan dalam kehidupan sangat mendukung apabila sudah dapat memahami perkembangan-perkembangan anak secara benar,Penerapannya dalam kehidupan sekolah kalau di SD juga perlu bimbingan konseling,agar anak-anak yang mempunyai masalah dapat menyelesaikan masalah tanpa mengganggu perkembangan anak tersebut.Semoga tulisan ini dapat bermanfaat bagi kita semua.

KOMPASIANA ADALAH MEDIA WARGA, SETIAP KONTEN DIBUAT OLEH DAN MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.

Siapa Yang Menilai Tulisan Ini ?