PILIHAN HEADLINE

Satelit Telkom 3S: Tongkat Sihir bagi Impian Orang NTT

17 Februari 2017 11:21:43 Diperbarui: 18 Februari 2017 19:58:52 Dibaca : Komentar : Nilai : Durasi Baca :
Satelit Telkom 3S: Tongkat Sihir bagi Impian Orang NTT
Sumber: jelajahntt.com

Sejatinya, tidak banyak diketahui orang, Nusa Tenggara Timur itu gudang kreativitas. Berilah kami dukungan coverage jaringan telekomunikasi digital dan Anda akan terkesima.

#Kamilus Tupen di Adonara

Ketika itu Kamilus Tupen, wirausahawan sosial peraih Kusala Swadaya Award 2013 itu belum populer. Ia sedang bersama aktor perubahan sosial di Pulau Adonara, NTT mengikuti kegiatan visioning dan perencanaan. “Visioning Adonara Berdaulat” nama kegiatannya. Kelompok per kelompok mempresentasikan visi mereka. Caranya unik, ada yang dengan cara nge-rap, sambil menari, atau melalui drama singkat.

Tibalah giliran presentasi Kamilus dan kelompoknya. “Adonara Tanpa Blank Spot” judul visinya. Mereka memimpikan jaringan telekomunikasi meliputi seluruh wilayah pulau itu dan menyatukan pasar: produsen dan pembeli di Adonara dengan mudah. Orang-orang dari segala sudut Pulau Adonara tergabung di dalam koperasi. Si A membutuhkan daging babi, mengirim pesan pada group whatsapp. Si B menjual daging babi, segera membalasnya. Transaksi terjadi. Si B mengirimkan daging babi kepada A. Pada akunnya di rekening koperasi, si B mencatatkan debet, sementara si A mencatatkan kredit.

Model pemasaran yang diimpikan Kamilus ini dapat mengatasi inefisiensi pasar pangan di pedesaan. Pada sebuah survey, saya temukan sejumlah kasus, pada desa di Timor terdapat pembeli (permintaan) dan penjual (penawaran) Jagung pada saat yang sama tetapi tidak saling tahu. Si A membawa Jagungnya ke pasar di kota, belasan kilometer jauhnya dari desa. Si B juga pergi ke pasar yang sama untuk membeli Jagung. Andai saja sistem pemasaran serupa visi Kamilus berjalan di Timor, tentu si A dan si B tidak perlu memboroskan waktu dan biaya transport untuk jauh-jauh ke pasar. Cukup membuka handphone masing-masing, A dan B akan saling tahu permintaan-penawaran mereka, dan transaksi segera terjadi. Model pemasaran seperti ini bisa terwujud, kelak ketika ‘NTT tanpa blank spot’ menyata.

dokpri
dokpri

‘Adonara tanpa blank spot’ juga dapat mengatasi masalah tersendatnya remittance dari TKI asal Adonara di Malaysia atau di tempat manapun.

Pulau Adonara terkenal sebagai pusat asal TKI dari NTT. Ketika masih menjadi TKI, Kamilus sering pulang berlibur. Ia bertemu para perempuan yang suaminya bekerja juga di Malaysia tetapi tidak lancar dikirimi uang. Sebabnya para TKI kecewa karena uang kiriman mereka kerab dihabiskan untuk keperluan acara terkait adat-istiadat. Ada pula yang terhambat mengirimkan remittance bulanan karena kendala teknis di rantauan. Gara-gara itu, keluarga di kampung halaman kesulitan.

Kamilus mengambil inisiatif menyelengarakan program yang disebut Telepate. Kata Telepate berasal Tele (Inggris) yang berarti jauh, juga (Lamaholot) berarti ambil dulu dan Pate (Lamaholot) yang berarti membayar. Jadi Telepate berarti ambil dulu barang di kampung halaman, kemudian kerabat yang jauh di rantauan akan membayarnya.

Kamilus mengumpulkan para pekerja asal Adonara di Malaysia untuk membicarakan gagasannya. Mereka diminta mengumpulkan iuran setiap tanggal tertentu di dalam bulan. Di Adonara, Telepate membuka kios atau toko barang kelontongan. Di toko itu, para keluarga dari anggota Telepate dapat mengambil barang keperluan mereka. Setiap akhir bulan nilai barang yang diambil dikonversi dari Rupiah ke Ringgit. Rekening simpanan rutin para TKI yang menjadi anggota Telepate dipotong sesuai jumlah tersebut.

Dengan cara ini para TKI dapat membantu keperluan hidup sehari-hari keluarga mereka di kampung halaman tanpa kuatir terpotong habis oleh urusan adat. Sisanya dapat mereka tabung sendiri hingga besar jumlahnya sebagai modal usaha ketika kembali ke kampung halaman nanti. Keluarga di kampung halaman juga senang sebab dapat memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Sayangnya usaha ini terhenti karena karyawan Telepate di Adonara menggunakan dana modal untuk peruntukan lain. Andai saja telekomunikasi digital telah cukup berkembang di Adonara saat itu, transfer dana dari Malaysia ke pemasok di Adonara dapat dilakukan langsung antar-rekening, pembukuan dan aliran dana kas di kios Telepate dapat dikontrol dari jarak jauh untuk memperkecil kemungkinan penyimpangan.

#Geng Motor Imut

Di Kota Kupang, sekelompok anak muda yang berlatar belakang sekolah pertanian dan gemar traveling dengan motor ke desa-desa mendirikan komunitas bernama Geng Motor Imut (GMI). Imut itu singkatan dari ‘Inovasi dan mobilisasi untuk transformasi.’ Selain bertamasya ke desa-desa untuk berbagi ilmu pertanian dan peternakan ramah lingkungan, GMI kini mengembangkan aktivitas baru yang mereka namakan Kotak (Koperasi Produsen Tapaleuk). Tapale’uk dalam bahasa Kupang berarti jalan-jalan, pelesiran.

banner info produk GMI. Sumber: Facebook GMI
banner info produk GMI. Sumber: Facebook GMI

Melalui Kotak, GMI membuat inovasi rekayasa pasar produk pertanian untuk membudayakan produksi dan konsumsi pangan sehat organik. Mereka mendorong petani di desa-desa memproduksi pangan dengan input alami, tanpa bergantung pada produk kimiawi buatan pabrik. Untuk jaminan pasar, Kotak mengembangkan pemasaran dengan aplikasi whatsapp.

Kotak menawarkan keanggotaan kepada rumah tangga di kota yang menghendaki konsumsi pangan organik. Setiap ada produk pangan organik dari petani di desa, mereka kabarkan di grup WA. Rumah tangga yang berminat menyampaikannya di grup. Para personel GMI atau pengurus Kotak akan menjemput produk dari petani di desa dan mengantarkannya ke rumah konsumen di kota. Dengan cara ini, produk-produk pangan organik selalu tiba di rumah konsumen di dalam kondisi segar. Tidak ada persediaan yang membusuk oleh lamanya penyimpanan.

Konsumen sering bertanya atau mengusulkan jenis-jenis pangan yang mereka inginkan. Kotak akan mencari petani yang memproduksinya. Lama kelamaan, jumlah konsumen di kota kian banyak, demikian juga jumlah petani pangan organik di desa-desa.

Jika sudah semakin luas jaringan telekomunikasi menjangkau desa-desa di pedalaman Kabupaten Kupang, tentu akan semakin banyak petani menjadi produsen pangan organik yang tidak lagi kerepotan dengan pasar. Petani tidak perlu lagi membawa produksinya ke kota atau melepasnya kepada pedagang pengepul yang sering membeli dengan harga murah. Melalui teknologi telekomunikasi, para petani dapat bertemu produsen yang telah pasti. Orang tidak harus ke pasar dan mencari-cari barang yang diinginkan. Cukup dari beranda rumah, seorang ibu dan bapak tinggal mengeluarkan handphone, mengetik produk pangan yang dikehendaki dan kapan ia mau tiba di dapurnya. Urusan menjadi sedemikian mudah.

#Sejumlah Hal Baik dari Jawa

Di Jakarta dan kota-kota besar di Jawa sudah dikembangkan banyak aplikasi digital yang akan sangat membantu kemajuan masyarakat pedesaan di Nusa Tenggara Timur jika saja coverage telekomunikasi digital luas menjangkau seluruh pelosok NTT yang berpulau-pulau ini.

TVisiKita

Pada Festival Destika 2016 di Papua, Budiman Sujadmiko dkk meluncurkan aplikasi android TVisiKita. Aplikasi ini mirip YouTube tetapi diperuntukan ‘khusus’ bagi masyarakat pedesaan karena dirancang dapat berjalan pada kecepatan internet 70 Kbps. Dengan aplikasi ini diharapkan pemerintah desa serta komunitas dan kelompok usaha di desa dapat membuat channel video sendiri untuk mempromosikan produk usaha dan potensi sumber dayanya.

sumber: TVisiKita / play.google.com
sumber: TVisiKita / play.google.com

LimaKilo

Jika Geng Motor Imut mengkreatifkan cara dagang produk pertanian organik, maka anak-anak muda di dalam PT Limakilo Majubersama Petani menciptakan produk industri kreatif terkait pemasaran produk pertanian. Para anak muda anggota komunitas Code4Nation ini menciptakan aplikasi digital yang memungkinkan petani dan konsumen akhir terlibat transaksi secara langsung. Aplikasi ini dinamakan  LimaKilo karena basis terkecil transaksi adalah lima kilogram.

Berbeda dengan GMI yang fokus pada produk pertanian organik, Limakilo menyasar semua produk pertanian. Kepedulian utama keduanya serupa, yaitu bagaimana meningkatkan kesejahteraan petani dan –sekaligus— meningkatkan akses konsumen terhadap produk pangan melalui pemangkasan rantai distribusi. Melalui aplikasi digital Limakilo, petani dapat memasarkan langsung produk pangan kepada konsumen dan sebaliknya konsumen dapat membeli pangan langsung dari petani.

capture laman Limakilo
capture laman Limakilo

Sikopdit Connect

NTT itu provinsi koperasi, terutama koperasi kredit (credit union). Ada ratusan credit union yang tumbuh subur, beberapa termasuk dalam jajaran koperasi terbesar nasional.

Saya terlibat di dalam beberapa credit union sebagai bentuk dukungan terhadap solidarity economy (ekonomi gotong royong). Cukup merepotkan untuk memastikan selalu up-date perkembangan koperasi, baik kelembagaannya pun kondisi rekening. Beruntunglah saat ini telah dikembangkan aplikasi digital yang dapat berjalan di platform android yang disebut Sikopdit Connect. Sikopdit singkatan dari ‘Sistem Informasi Keuangan Koperasi Kredit.’

Aplikasi ini memudahkan anggota memantau informasi rekening dan melakukan transaksi sehingga tidak perlu repot lagi untuk sering-sering mengunjungi kantor credit union untuk mengecek atau menyetorkan simpanan dan kewajiban.

Tampilan aplikasi sipkopdit connect. Dok pri
Tampilan aplikasi sipkopdit connect. Dok pri

Well, saya senang sekali. Aktivitas berkoperasi akan semakin modern dan mudah. Ini akan membuat banyak orang kota dan generasi muda masa kini yang melek teknologi termotivasi untuk bergabung di dalam ekonomi gotong royong ini. Mental menabung dan berinvestasi secara gotong royong akan berkembang.

Beberapa credit union yang berkantor pusat di Kota Kupang sudah mulai menggunakan aplikasi ini. Sayangnya karena keterbatasan jangkauan jaringan telekomunikasi digital, koperasi yang berkantor pusat di wilayah pedesaan belum bisa memanfaatkannya.

***

Perkembangan teknologi digital akan sangat bermanfaat bagi provinsi saya, Nusa Tenggara Timur. Berbagai bentuk usaha tradisional akan dijalankan dengan cara kreatif, sebagaimana impian Kamilus Tupen dan karya GMI. Generasi muda akan termotivasi untuk terjun dalam industri kreatif dan menghasilkan berbagai aplikasi digital yang bermanfaat bagi pengembangan ekonomi masyarakat seperti TVisiKita,  LimaKilo, dan Sipkopdit Connect.

Saya sudah tidak sabar menunggu terbukanya kesempatan-kesempatan ini di Nusa Tenggara Timur. Semoga peluncuran satelit Satelit Telkom 3S #JelajahAngkasa pada 15 Februari lalu dapat segera mewujudkan harapan saya dan jutaan penduduk NTT. Yakinlah, ia akan jadi tongkat sihir di tangan kami, mengubah keluh kesah jadi tawa bahagia.

***
Tilaria Padika
Timor, 17/2/2017

Arsip: PUISI Padika | CERPEN Padika | CATATAN Padika


Tilaria Padika

/tilariapadika

TERVERIFIKASI

tilariapadika.wordpress.com | Berdiam di Kupang, Timor. Hanya versi lain Alberto Knox, tercipta dari tangan diri lain Jostein Gaarder, pada lain masa. Abaikan saja Albert Knag.
Selengkapnya...

KOMPASIANA ADALAH PLATFORM BLOG, SETIAP ARTIKEL MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.

NILAI :

Daftarkan email Anda untuk mendapatkan cerita dan opini pilihan dari Kompasiana

Featured Article