HIGHLIGHT

Perempuan yang Teraniaya

20 Juli 2010 04:48:00 Dibaca :

Melihat infotainment hari ini, saya menangkap kegeraman yang dilontarkan Atta (istri Raul Lemos) kepada calon mantan suami dan juga (terutama) perempuan yang telah menyerobot suaminya itu... sang Diva, Krisdayanti. Dari sisi kewanitaan tentu saja saya pun memiliki empati padanya, wajar saja kalau dia begitu geram dan terlihat sangat menyerang KD dengan kata-kata pedas, hingga melontarkan ucapan "muntah" jika bertemu dengan kekasih baru suaminya itu. Namun kata-kata pedas itu pula yang mewakili bagaimana perasaan hatinya, pedih karena suaminya berselingkuh dan tidak setia, juga geram karena seorang perempuan lain telah merusak rumah tangganya.

Reaksi geram Atta sebetulnya mewakili reaksi beribu istri-istri yang merasakan pahit dan pedihnya ditinggalkan oleh suaminya karena sang suami jatuh cinta pada perempuan lain. Teraniaya batin dan hidupnya karena kelakukan orang yang seharusnya menjadi pemimpin, yang menyayangi dan melindungi keluarganya. Hanya kali ini seorang selebriti yang disebut "DIVA" yang telah melakukan tindakan tersebut sehingga kegeraman yang terucapkan oleh perempuan yang teraniaya ini terekam di media dan disaksikan oleh banyak pihak. Bolehkah Atta melontarkan kegeramannya karena dirinya teraniaya oleh sikap KD dan juga Raul Lemos suaminya?

Kata-kata "haram", "muntah" dan "teraniaya" yang keluar dari mulut Atta memang dirasa sangat keras memukul harga diri seorang KD. Tetapi toh, KD tidak bisa membalas balik apa yang diucapkan oleh istri kekasihnya. Yang bisa dilakukan oleh KD adalah pamer sikap mesra terhadap Raul yang sedikit banyak memang 'disengaja'  ditunjukkan oleh para pencari berita. Anehnya, panas perseteruan Atta dan Yanti sepertinya tidak menyentuh banyak pada sosok Raul sendiri. Berita tentang laki-laki yang rela meninggalkan istri dan 2 anaknya demi KD tidak banyak disorot media, hanya pada saat-saat tertentu ketika KD 'memakainya sebagai objek penderita' untuk membalas kata-kata pedas Atta. Pemikiran saya waktu itu adalah ketidak adilan bagi kaum hawa disaat seperti ini, mereka berseteru sementara sang pelaku laki-laki "adhem ayem" tenang-tenang tak terusik oleh rasa bertanggungjawab dengan keadaan panas yang diakibatkan karena  perbuatannya.

Antara Atta dan Yanti, keduanya akhirnya yang menanggung perbuatan Raul juga. Atta yang ditinggalkan demi cinta yang lain, kepedihannya dan sakit hati juga terhina oleh ketidaksetiaan sang suami yang dia curahkan dengan mencerca rivalnya. Juga Yanti, yang mendapatkan bogem bulan-bulanan kata-kata pedas Atta yang berpotensi merusak image yang dia bangun susah payah hingga diberi gelar DIVA, kata-kata 'haram' dan 'muntah' bisa berpotensi menjadi pembunuhan karakter. Kendali Yanti memang di pihak yang bersalah, tapi seharusnya dia tidak menanggung ini sendirian kan?

Perempuan yang teraniaya mungkin sudah begitu umum, hingga hampir tidak lagi menjadi suatu hal yang perlu diperhatikan. Cukup dengan simpati dan empati, kemudian mereka pasti akan bisa bertahan dalam menghadapi hidupnya yang naas dan tidak lagi berada di daftar agenda perhatian kita . Mereka mungkin tidak terluka secara jasmani, tetapi terkoyak-koyak dalam bathin. Begitu banyak perempuan teraniaya tapi tidak mendapat tempat mengadu yang cukup dan membantu, tempat yang bisa menampung kepedihan mereka.

Tetapi tetap harus diingat bagi para perempuan yang merasa teraniaya, bahwa Tuhan Maha Adil, Dia lebih sayang pada kita, dan Dia memberi lebih banyak kekuatan pada kita, oleh karena itu jadilah TEGAR. Semoga.

Theresia Kuntjoro

/thea-koen

narcis iya, lebay iya, tapi setidaknya gak munafik daaah...
Selengkapnya...

KOMPASIANA ADALAH MEDIA WARGA, SETIAP KONTEN DIBUAT OLEH DAN MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.

Siapa Yang Menilai Tulisan Ini ?