Thamrin Sonata
Thamrin Sonata wiraswasta

Freelance writer

Selanjutnya

Tutup

Wisata highlight

Nangkring di Bandung (2)

20 Oktober 2016   03:41 Diperbarui: 20 Oktober 2016   06:25 511 15 11
Nangkring di Bandung (2)
Sambil makan malam, diiringi unplug Bandung-an (foto Ikhwanul Halim)

Jujur, nangkring di Museum baru kali ini. Selama ini kalau Kompasianer nangkring ya di cafe atau hotel. Tapi apa mesti mundur? Ndaklah. Sudah jauh-jauh menempuh perjalanan, Jakarta-Bandung dengan bis pakai macet di pintu keluar tol kan akan bertemu dengan berbagai makhluk, bukan makhluk geologi, hehehe.

“Sudah mulai?” tanya saya kepada seorang yang kuduga pegawai Museum Geologi yang terletak di Jalan Diponegoro, Bandung itu. Setelah selfie bareng Isson yang hari itu menyerupai seorang camera person sebuah stasiun TV. Apa saja dipotret. Apalagi kalau wanita muda – padahal baru kali itu ditemuinya. Dua, tiga sampai empat kaliia jepret. Seraya diatur-atur: Ya, senyum dikit. OK. Liat ke arah saya! Lebay....

“Coba lihat di dalam saja,” sahut lelaki muda itu. Seraya memberi petunuk jalan ke dalam, dan berbelok ke kanan.

Gedung Museum Geologi plus X banner
Gedung Museum Geologi plus X banner

Masuklah TS. Namun sebenarnya yang dicari ...toilet, kebelet pipis, sepanjang jalan diguyur hujan tanah Parahyangan. “Waktu Tuhan tersenyum, lahirlah Pasundan,” kata M.A.W Brouwer. Entah kotaku terlahir ketika Tuhan sedang apa? Lha, pantas saja kalau dibandingken dengan mojang-mojangnya, kalaaaaah jauh.

Ketika mendaftar, nah bener kan. Disambut penjaga kelas Bandung. Adem rasanya. Disambut wajah muda cantik berjilbab. Di sebelahnya, lebih bening, tak berjilbab. “Siapa namanya?”

“TS, TenggoSera ...!” jawabku sok biasa kalau nangkring di kawasan Jakarta dengan inisial. Siallah, tentu. Kalau ia tak kenal namaku. Sehingga kami berdua merunut daftar – telunjuk jarinya dan telunjuk jari saya di kertas berderet nama – hadir nangkring “Tambang untuk Kehidupan”, bukan untuk menjerat leher, tentu.

“O, ini ...Thamrin Sonata!”

 Iyalah ngaku saja. Sebab segera tanda tangan. Dan, segera menyeruput teh hangat, dan gula diguyurtaburkan ke dalam cangkir. Lalu tolah-toleh. Ada lelaki gondrong berambut putih tinggi. Bang Syaiful, ada Mbak Muthiah, ada ah ...Prof Pebrianov, Bang Bo, Syantrie Aliefya, sampai Mas Sugiyanto Hadi yang baru ke Jakarta di Ngoplah Fiksi di kandang Kompasiana dan dilanjut Kompasianival di Smesco, Jakarta. Plus ketemu Okti Li yang dari Cianjur bareng anak dan suaminya.

“Luana tinggal di mana?”

“Taman Sari ....” Lengkapnya ndak usah ditanya dan ada yang tau, biar TS saja yang nyimpen, hehehe.

COO Kompasiana dan Luana.
COO Kompasiana dan Luana.

Nurul Emang Gitu

Nurulloh memperkenalkan diri sebagai moderator – yang udah kerja di K delapan tahun, mbuka rasia, nih. Lalu ia nanya-nanya alias ngetes pada peserta – sebagian besar, tentu dari Bandung: Apa kalau terhubung dengan geologi? Atawa tambang? Jawabannya, hm ....lumayan.

Lalu para nara sumber pun berguliran menjelaskan sesuai dengan latar belakang dan permintaan ngomong soal yang umumnya gunung dan seisinya. Termasuk mempertontonkan film tentang proses dan sejarah tambang di Endonesah.

Para Kompasianer, usai paparan Narsum. (foto IH)
Para Kompasianer, usai paparan Narsum. (foto IH)

Untuk urusan ini, bisa ada yang serius. Ada yang pura-pura ngantuk, sehingga ngeloyor nyari doping: kopi, hehehe.

Nangkring, emang gitu. Tapi kalau kali ini soal-soal yang sesungguhnya kekayaan negeri ini, paslah untuk diketahui. Sebab, memang tambang semestinya bisa untuk kehidupan kita semua. Walau, kata Nara Sumber yang ada yang profesor – lha kompasianer hari ini ada kok: itu Prof Pebrianov – kalau soal tambang selalu “merusak”. Ya membongkar-bongkar isi perut bumi di Nusantara.

Sungguh, saya tercengang-cengang. Ketika nonton film tentang Freeport, yang dimulai sejak tahun 1936 itu. Betapa sangat sulit untuk mengolah Gunung di Tanah Papua itu. Ya, nggempur gunung, dan cuaca ekstrim, jelasnya dalam narasi itu (ada artikel khusus, ah di bagian ketiga, ya? Hahaha).

Acara standar nangkring ala Kompasiana pun rampung, setelah Kang Pepih yang dateng sama anak dan istri memberi plakat kepada tiga Narsum. Foto sana-sini pun, dan dilanjutkan wisata petang di dalam Gedung kukuh peninggalan Belanda terjadilah. “Pak TS, ayo ikut!” sebut Raja, admin K.

Tukang potonya lagi action.
Tukang potonya lagi action.

Wah, jadi membayangken film Museum yang para penghuni hidup. Lha, di situ saja ada kerangka dinosaurus berbelai. Siapa tahu bangkit dan ngejar-ngejar.

Ternyata ndak, kok. Di lantai satu, saya mengelus-elus batu aneka rupa dan warna. Itulah kekayaan negeri ini dalam soal tambang. “Bisa untuk cincin berapa, nih?” celetuk temen-temen K.

Wisata nan menarik. Gimana, ndak? Lha, Kang Pepih yang kuliah di Unpad pun baru ngaku kali ini. Kampusnya kan hanya sepelemaran batu dari Museum Geologi,  kalau, “Saya baru sekali ini dateng dan ngeliat ke sini, hehehe!”

Makanya, anak perempuannya yang berjilbab pun enggan naik stimulator tentang gempa yang bisa “mencapai kisaran 7 skala reicher”. Ndak berani. Dirayu-rayu, akhirnya mau sambil masuk ke kotak keranjang besi bertiga: setelah istrinya mendampingi. Bergoyang-goyang!

Prof Peb dan Syantrie Aliefya. Serius, nih?
Prof Peb dan Syantrie Aliefya. Serius, nih?

Acara tak kalah seru adalah makan. Inilah acara ala Kompasianer nangkring. Sambil suap-suap – bukan suap nyogok, lho! – nasi atau lontong dan dibafengi lauk-pauknya, ngobrol. Di sinilah acara saling mengenal sesama Kompasianer – Bandung dan Jakarta – plus admin menjadikan Kompasiana sebagai media warga yang sesungguhnya: berbagi dan tersambung.

“Mau ikut nongkrong, Rul” ajak saya yang akan diajak Luana, satu-satunya mojang, Bang Bo, Prof Peb, Pak Teha, Syantrie Aliefya, Mas Sugiyanto Hadi, dan Isson yang dari Jkt.

“Masih hujan gini ...!” sahutnya.

Ya, memang. Bandung kalau ndak pakai hujan, ndak seru. Apalagi kalo ngobrolnya di Pasar Cisanguy yang hanya seratus meteran dari gedung yang menyimpan fosil-fosil itu. Hmmmm ...! ***

Bersambung

foto-foto: Ikhwanul Halim