Mohon tunggu...
Thamrin Sonata
Thamrin Sonata Mohon Tunggu... Penulis - Wiswasta

Penulis, Pembaca, Penerbit, Penonton, dan penyuka seni-budaya. Penebar literasi.

Selanjutnya

Tutup

Lyfe Artikel Utama

Anak-anak Presiden, Kita Belajar Apa?

25 Februari 2016   11:33 Diperbarui: 25 Februari 2016   15:21 9366
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

[caption caption="Kaesang Pangarep, humoris dan aktif di medsos" /foto: heloo.pet][/caption]

Anak-anak Presiden, masih ada. Ya, anak-anak presiden sejak proklamator hingga wong Solo biasa saja. Mereka, anak-anak itu, bukan anak-anak biasa. Lha, anak orang nomor satu dari sebuah negeri berpenduduk terbesar keempat di dunia, lho.

Apa kita bisa ikut nunut belajar dari anak-anak presiden itu? Mestinya, jawabannya: ya. Belajar dari yang baik dari buah yang jatuh dari pohon orang berkuasa dalam suatu kurun waktu. Apakah itu? Ternyata beragam dari anak-anak presiden itu. Dan semalam, Rabu (24/2) saya belajar dari Gibran Rakabumi dan Kaesang Pangarep dari sebuah layar televisi: Mata Najwa.

Anak Presiden Sebelumnya

Pastilah anak-anak presiden-presiden sebelumnya punya sisi baiknya. Meski lebih banyak yang tidak kita ketahui. Dan, itulah yang membuat kita tak bisa belajar dari anak-anak presiden itu. Apalagi, ketika era media dibungkam dengan bahasa yang kedengaran bagus: bebas bertanggung jawab. Contoh kecil saja: memberitakan pacar dari “Si Anak” pun ndak boleh. Meski di sisi lain, di sisi “positifnya” kita dengar: pacarnya banyak, cantik-cantik dan senang gonta-ganti.

Lalu, kita dengar yang lainnya lagi. Bahkan ia mesti menjadi menteri atau jabatan mentereng, mungkin mendesak kepada orangtuanya, selain punya pemasukan materi yang bisa tak terhingga. Entah dengan cara apa pun. Akibatnya, “anak polah bapak kepradah”.  Anak nakal bapake kena getahnya.

Eh, semalam sebuah tontonan ger-geran tapi membuat saya mikir beneran. Ini anak-anak presiden atau bukan? Kok acap kali menjawab, “Ah, biasa saja.” Atau, “Ayah orangnya maunya melucu. Tapi ndak lucu. Orang tertawa, mungkin karena kasihan”.

Kayaknya ini bukan dagelan a la Srimulat, yang kebetulan ngetopnya dari Bale Kambang, Solo yang pernah saya sambangi. Tapi beneran. Meski semacam guyon pari keno, humor yang asal dan bisa benar. Lha, si anak malah membuka rahasia ayahnya yang sukanya main kecebong, anak katak. Bahkan, hingga ketika Si Anak diajak ke Raja Ampat, pas jelang Tahun baru 2016. Tentang kecebong.

Jualan Kemandirian

Anak paling kecil, Kaesang belajar di Singapore, sudah banyak yang tahu. Termasuk kerap main di medsos, dan entengan gayanya. Juga membuka rahasia di semalam itu tentang kebiasaan bapaknya suka kecebong.

Lalu Si Sulung yang sudah menikah, Gibran, yang sedikit lebih serius daripada sang adik. Ia, salah satu usahanya, jualan martabak. Markobar namanya. “Kan ini promosi gratis,” sebutnya ketika ia bersedia tampil di Mata Najwa. Cerdas.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Lyfe Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun