Tantrini Andang
Tantrini Andang

menulis itu melepaskan hal-hal yang biasa menjadi luar biasa.

Selanjutnya

Tutup

Cerpen

Mamak, Perempuan yang Tak Pernah Melahirkanku

13 September 2017   20:43 Diperbarui: 13 September 2017   20:51 49 0 0

Sebuah kopor ukuran sedang telah siap di depan pintu. Kulirik jam mungil  di pergelangan tanganku. Sopir taksi yang kutunggu akan datang sebentar lagi. Di dapur, Mamak masih sibuk membereskan meja  bekas menguleni adonan pempek. Sepertinya ia masih mau berlama-lama di belakang.

 "Mak, sebentar lagi aku berangkat," kataku setengah berteriak. Tak ada jawaban. Aku melangkah menuju dapur. Kulihat Mamak sedang berdiri mematung di depan pintu dapur yang menghadap ke arah luar. Kulihat ada sesuatu yang mengkilap di pipinya. Mungkin itu keringat, atau air mata? Entahlah.

"Mak?" panggilku ragu. Mamak menoleh cepat. Lalu ia  menangkupkan telapak tangan ke wajahnya, membuat gerakan mengusap pipinya. Ia meraih tumpukan wadah plastik berisi pempek yang tersusun di atas meja. Mamak lalu  tampak sibuk menghitung  pempek yang akan diantar ke pedagang di pasar.

"Belum datang taksinya?" tanyanya dengan nada datar. Tangan perempuan itu lalu menumpuk wadah-wadah pempek itu dalam kantong plastik besar. Kugelengkan kepalaku. 

"Sebentar lagi," jawabku. Lalu hening. Janggal sekali rasanya. Biasanya kami tak pernah kehabisan bahan pembicaraan. Namun pagi ini memang berbeda. Sangat berbeda..

*******

Semua berawal dari kedatangan perempuan itu. Seorang perempuan berpakaian necis dengan aroma parfum yang menguar ke seluruh ruang tamu. Perempuan itu wajahnya sangat mirip denganku. Ia mengaku sebagai ibu kandungku. Tak bisa kulukiskan bingung dan terpukulnya aku waktu itu.  Selama ini aku hanya mengenal Mamak sebagai ibuku. Bagaimana mungkin ada perempuan lain yang juga ibuku?

"Untuk apa kau mencarinya?" tanya Mamak. Aku duduk mendengarkan pembicaraan mereka dengan bingung. Apa yang belum kuketahui tentang jalan hidupku sendiri? Rahasia apa yang mereka simpan tentang aku?

Perempuan  itu menatap tajam pada Mamak.  Melihat wajahnya membuatku seperti sedang bercermin dan melihat diriku sedang menahan amarah. 

"Kau tak pernah tahu bagaimana rasanya saat aku dihalangi untuk melihat bayiku sendiri. Kaujuga tak pernah merasakan sakitnya merindu saat payudaraku membengkak karena air susu yang tak bisa kuberikan pada bayiku sendiri. Pahamkah kau dengan rasa sakit itu?" sanggah perempuan itu dengan suara keras. Mamak  terdiam. Aku tercenung.

"Bisakah kalian bercerita dari awal? Jangan membuatku semakin bingung," seruku menahan tangis. Lalu perempuan itu mengelus lenganku lembut. Ditatapnya aku dengan pandangan yang dalam.

"Namaku Rosita." Ia mulai bercerita.  "Dulu, pergaulanku terlalu bebas hingga aku hamil. Meskipun begitu aku tetap berpegang pada ajaran gereja yang berpihak pada kehidupan. Aku ingin merawatmu. Namun nenekmu melarangku. Dia juga menolak lamaran ayahmu sebagai bentuk pertanggungjawabannya.  Nenekmu mengirimku bersekolah ke Australia. Sekeras apapun aku memohon untuk bisa melihatmu, nenekmu tidak pernah mengijinkan. Kau telah dilenyapkan dari hidupku." Rosita berhenti sebentar. Diambilnya sehelai tissue dari tasnya yang terlihat mahal. Diusapnya air mata yang mengalir di pipinya. Aku  diam, sementara Mamak  menghela nafas panjang berkali-kali.

"Bertahun kemudian, nenekmu sakit dan memintaku untuk pulang. Awalnya aku menolak pulang. Aku telanjur membencinya. Setelah ia menjanjikan akan memberi informasi tentang keberadaanmu, baru aku  mau pulang. Ternyata kau dititipkan pada seorang pembantu yang pernah bekerja di rumahku, perempuan tukang pempek ini." Rosita menunjuk pada Mamak.

"Tukang pempek ini yang kukenal sebagai ibuku," tukasku cepat. Perempuan bernama Rosita itu menatapku dengan pandangan tidak suka. Ia lalu memalingkan wajahnya pada Mamak.

"Jadi kau tak pernah bercerita tentang siapa dia sebenarnya? Kau juga tak pernah bercerita tentang aku?" tanyanya. Mamak mengeraskan rahangnya.

"Ibumu yang menghendaki demikian. Beliau melarangku menceritakan semuanya." Lalu Mamak menoleh padaku. Ada warna kemerahan di kedua matanya.

"Maafkan Mamak, Ning. Kau harus mengetahui semuanya dengan cara seperti ini." Suara Mamak mengandung penyesalan. Aku diam, tak mampu menyalahkan. Bagaimanapun posisi Mamak pasti sangat sulit waktu itu. Ia hanya menjalankan amanat dari seseorang yang dihormatinya.

Rosita, ibu kandungku itu lalu bercerita bagaimana ia mencari informasi melalui tetangga dan saudara yang lain. Namun hasilnya nihil. Nenek langsung meminta Mamak untuk pulang ke kampungnya di Palembang  untuk merawatku hingga kini.

Kami bertiga menangis bersama, meskipun dengan alasan berbeda. Ibu menangis terharu karena menemukanku. Mamak menangis karena tahu akan kehilangan aku. Sementara aku menyesali jalan hidupku yang menyimpan masa lalu yang buruk.

  Lalu ibu memintaku untuk pulang bersamanya ke Yogyakarta, sebuah kota yang seumur hidup hanya kudengar namanya saja. Aku meminta waktu untuk berpikir.

"Aku telah lama menghabiskan malam-malamku dengan doa novena. Kini aku menemukanmu. Tidakkah kau ingin membayar kebersamaan kita  yang telah hilang?" tanyanya.

"Jangan bersikap egois. Kau harus memahami bahwa Ning masih terpukul  setelah mengetahui jati dirinya secara tiba-tiba. Ning butuh waktu," kata Mamak membelaku. Ibu membelalakkan matanya. Bibirnya bergetar seakan ingin mengucapkan sesuatu, namun kemudian ia urungkan saat melihatku terisak. Ia lalu memelukku erat sambil menangis. Tubuhku meregang kaku. Aku masih merasa canggung.

"Pulanglah ke rumah. Aku menunggumu." Ibu lalu menyodorkan sebuah kartu nama padaku. Tertulis di sana nama, alamat lengkap serta nomor telpon. Aku hanya menganggukkan kepalaku tanpa menjanjikan apa-apa. Aku belum  bisa membayangkan harus memulai hidupku bersama seseorang yang baru saja kukenal. Meskipun ia adalah perempuan yang melahirkanku. Dalam beberapa saat yang singkat aku dipaksa untuk melihat  potongan hidupku yang lain. Serupa menemukan kepingan  puzzle yang hilang dan harus kususun sendiri dalam gambar yang belum kumengerti.

*****

Setelah kedatangan ibu kandungku, Mamak menyerahkan sebuah buku tabungan kepadaku. Katanya itu adalah gajinya yang diberikan oleh nenek selama merawatku.   "Bagaimana mungkin aku memakan uang dari merawatmu? Aku sangat bahagia dengan kehadiranmu. Itu sudah lebih dari cukup," ucapnya  membuatku terharu. "Gunakan saja uang ini untuk keperluanmu." Mamak tidak ingin menggunakan uang itu untuk kebutuhannya sendiri. Malam itu hatiku semakin berat meninggalkan Mamak. Tak bisa kubayangkan bagaimana aku hidup berjauhan dengan perempuan yang telah bersamaku selama dua puluh tahun ini.

"Maafkan Mamak yang tak pernah memberitahumu tentang asal-usulmu. Selain karena pesan nenekmu, aku sudah lupa bahwa kau bukan anak kandungku. Aku sangat menyayangimu seperti anakku sendiri." Mamak memelukku erat. "Pulanglah pada ibumu. Ia sudah cukup menderita karena kehilangan waktu bersamamu selama ini," lanjut Mamak. Kami pun berpelukan dan bertangisan malam itu.

*****

Suara klakson taksi yang berhenti di depan rumah menyentakkan lamunanku. Mamak  menghentikan kesibukannya membungkus wadah-wadah pempek. Ia mendekatiku dengan bibir gemetar.

"Baik-baiklah kau bersama ibumu. Mamak doakan kau sukses di sana."

"Maaakk..." Aku menghambur dalam pelukan Mamak. Dia seorang tukang pempek yang telah merawatku. Perempuan ini tidak pernah melahirkanku, namun ia mengajariku tentang  kasih sayang seorang ibu. 

"Aku akan sering-sering menengok Mamak." isakku. Mamak mengelus rambutku. Tak  ada suara isakannya, namun aku merasakan kedua pipinya membasah. Mamak sangat menyayangiku. Aku tahu pasti itu.

Cerpen ini dimuat di Hidup edisi 32, 6 Agustus 2017