Wartawan dan Berita Bohong?

29 Mei 2012 02:10:40 Dibaca :

Wartawan dan Berita Bohong?


Oleh Tabrani Yunis



“Mulut kamu, harimau kamu, yang menerkam kepala mu”



Inilah sebuah untaian kata bijak yang penah kita pelajari di dalam buku pelajaran bahasa Indonesia sejak di sekolah Dasar dahulu. Kita tidak tahu kalau sekarang. Mungkin ungkapan ini sudah tidak pernah ada, sejalan dengan seringnya pergantian buku teks di sekolah. Ungkapan ini pun lenyap dari buku teks, namun bagi orang-orang terdahulu, ungkapan ini masih melekat erat di pikiran.



Nah, apa arti atau makna dari ungkapan itu? Paling tidak sebagai orang awam, kita diingatkan agar hat-hati dalam bertutur kata, atau juga dalam menulis, agar apa yang kita katakan atau yang kita tulis, tidak menjadi fitnah, atau berita bohong yang akan memakan kita sendiri. Dengan demikian, pepatah itu pun menjadi pengingat (warning) bagi siapa saja. Apalagi bagi para pekerja media yang menulis berita atau menulis opini, features dan sebagainya. Pepatah itu memang harus dicamkan dalam-dalam, agar tidak dikatakan wartawan bohong, media pembawa fitnah, atau berita dan tulisan yang merusak nama baik seseorang. Sungguh ini sangat berbahaya bukan?



Selama ini, seringkali terdengar di masyarakat kita ungkapan-ungkapan miris terhadap pemberitaan yang ditulis wartawan media, baik cetak maupun elektronik. Ungkapan-ungkapan itu terasa sangat melecehkan kerja wartawan atau media atas sebuah pemberitaan. Ada ketidakpercayaan orang terhadap pemberitaan itu dan menuduhnya sebagai berita bohong, berita sampah, dan bahkan dianggap fitnah. Berita yang paling actual dan mendapatkan tanggapan yang hangat adalah berita berikut ini. Berita inipun harus kita tampilkan secara utuh, agar tidak menjadi berita sepotong-sepotong.



Alumni S2 Jerman Curhat ke DPRA


Mengaku Sulit dapat Kerja




BANDA ACEH -  Sembilan alumni S2 dari berbagai Universitas ternama di Jerman menyampaikan keluh kesah mereka kepada pimpinan DPRA. Para alumni S2 ini mewakili 80 rekannya mengadukan tentang sulitnya mendapat peluang kerja di Aceh setelah mereka menyelesaikan pendidikan di Jerman. Padahal rata-rata mereka punya kapasitas keilmuan dan nilai yang cukup baik.


“Kami siap mengembangkan dan mengabdikan ilmu yang kami dapat di Jerman untuk kemajuan Aceh ke depan, tapi peluang untuk mendapatkan pekerjaan sesuai ilmu yang kami miliki masih sangat sulit di Aceh,” ungkap Muhammad Mulyawan, alumni S2 Teknik Perminyakan dalam pertemuan dengan Wakil Ketua II DPRA Sulaiman Abda, Rabu (23/5) di ruang kerjanya.




Pertemuan sembilan alumni S2 Jerman dengan pimpinan DPRA didampingi Ketua Komisi Beasiswa Aceh Dr Qismullah. Qismullah mengungkapkan, jumlah mahasiswa Aceh yang telah menyelesaikan studi S2 di Jerman hingga 2012 ini mencapai 80 orang lebih.



Sebagian dari mereka ada yang telah bekerja di berbagai perusahaan nasional dan asing sebagai tenaga ahli. Sebagian lagi karena keinginannya yang tinggi untuk mengabdikan ilmunya di Aceh. Karenanya sampai kini mereka belum menerima tawaran kerja yang datang dari luar, dan tetap ingin bekerja di Aceh.

Qismullah menyebutkan masalah yang dihadapi para alumni ini yaitu peluang kerja di Aceh, baik di perusahaan swasta maupun pemerintah sangat sempit.


“Padahal keahlian yang mereka miliki sangat bagus. Antara lain seperti tehnik perminyakan, pertambangan, arstitektur, teknologi pengolahan pertanian, perencanaan infrastruktur, global politik ekonomi, manajemen pemasaran  dan lainnya,” kata dia.


Disebutkan pertemuan tersebut dimaksudkan agar pemerintah dapat memberi perhatian kepada para alumni S2 Jerman ini agar tenaga dan kapasitas keilmuan yang mereka miliki bisa terserap untuk kemajuan pembangunan Aceh. “Baik ditempatkan di SKPA dan perusahaan swasta, BUMD, BUMN yang terdapat di daerah ini. Karena, kalau mereka tidak dimanfaatkan oleh Pemerintah Aceh setelah menamatkan studi S2 di Jerman, mereka akan bekerja di luar Aceh,” jelasnya.


“Kalau ini yang terjadi, anggaran beasiswa yang kita sediakan dalam APBA setiap tahun ratusan miliar untuk membiaya studi S2 mahasiswa Aceh di berbagai negara, yang akan menikmati nantinya daerah lain,” sebut Qismullah. (her) Editor : bakri


ketika berita ini dikonsumsi oleh para pembaca, maka berbagai interpretasi bermunculan. Berita itu bahkan menjadi inspirasi bagi munculnya berita atau tulisan maupun opini terhadap isi berita. Dalam hal ini soal alumni S2 German itu. Tentu saja reaksi yang reaksioner dari pembaca bermunculan, yang baik maupun yang mencela. Silakan buka Serambinew.com, untuk membaca bagaimana reaksi para pembaca. Tanggapannya pun sangat tergantung pada kemampuan mencerna berita tersebut di atas. Karena bisa saja pembaca salah dalam menaksirkan isi berita. Bahkan media sendiri dituduh tidak professional, seperti ungkapan berikut ini.



“Saya kira, berita di atas dibuat sedemikian rupa untuk mengangkat oplah Serambi Indonesia. Tahukah anda Serambi saat ini mengahadapi problem kesulitan penjualan? akibat situs online dan wartawannya yang cuma punya keahlian pas-pasan. Ada saatnya kita menyeleksi wartawan- wartawan pintar untuk hadir di acara tukar pendapat ke depan...hal ini berlaku untuk semua kita. Wassalam”



Nah, hebohnya reaksi masyarakat terhadap pemberitaan tentang alumni German, diharian Serambi dan kemudian berkembang di media maya ( internet) yang ada di facebook, blog dan lain-lain, dirasakan sangat merugikan pihak yang diberitakan. Hal ini membuat para alumnus Jerman menggunakan hak jawabnya di harian Serambi pada hari Sabtu 2012. Penjelasan mereka seperti berikut ini.



Penjelasan Alumnsi S2 Jerman


Sabtu, 26 Mei 2012 12:31 WIB



Kami diundang LPSDM untuk bertemu anggota dewan di Gedung DPRA. Ternyata, cuma menemui salah satu anggota dewan yaitu Sulaiman Abda, dalam asumsi kami awal adalah bertemu sejumlah anggota dewan.




Judul dan isi pemberitaan Serambi Indonesia, Edisi 24 Mei 2012, “Alumnis S2 Jerman Curhat ke DPRA’ tidak komprehensive. Tidak benar kutipan statement di bawah ini, “Kami siap mengembangkan dan mengabdikan ilmu yang kami dapat di Jerman untuk kemajuan Aceh ke depan, tapi peluang untuk mendapatkan pekerjaan sesuai ilmu yang kami miliki masih sangat sulit di Aceh.”


Justru kami paparkan tentang Program Return Expert, di mana kami membuat kerjasama dengan Pemerintah Jerman, melalui CIM dan mereka yang akan memberi gaji yang layak untuk kami. Program ini telah berjalan di Sabang, dan beberapa lainnya sedang dalam proses.


Kami juga menawarkan program yang bisa kita ajukan ke Pemerintah Jerman, yaitu program penguatan pemerintahan seperti di Yogyakarta, “Good Government Centre”, tapi hal-hal ini tidak ditulis oleh media.


Bahkan kami (saya) Muhammad Mulyawan, diusulkan oleh Pak Sulaiman Abda untuk ditempatkan di Dinas Pertambangan. Saya menolak dengan tegas usulan dari Beliau, karena saya merasa karakter dan kualitas diri saya tidak cocok ditempatkan dalam birokrasi seperti Dinas Pertambangan.


Hal-hal di atas tidak tertulis dan diungkapkan oleh media, sehingga maksud dan tujuan sebenarnya tidak tersampaikan secara utuh ke ruang publik.

Ttd
Muhammad Mulyawan. Editor : hasyim


Berita mengenai alumni German ini semakin panas, ketika sebuah media online, Lintas Aceh menulis berita berikut ini.



Sejumlah Alumni S2 Jerman Cengeng !


LINTAS ACEH – Kecaman dari masyarakat Aceh terhadap alumni S2 Jerman terus berdatangan.  Hal ini di picu sikap alumni penerima beasiswa Jerman yang ingin mendapatkan pekerjaan dari pemerintah Aceh.  Pasalnya setelah lulus dari Jerman, hingga saat ini mereka masih menggangur dan akan membebani orang tua mereka.


Kecaman datang dari akun-akun facebook dan twitter yang meminta alumni Jerman tersebut tidak cengeng dan tidak bermental PNS.  Mereka telah dibiayai dengan dana ratusan juta rupiah oleh uang rakyat seharusnya bisa kembali ke Aceh untuk membuka lapangan pekerjaan baru dan inovasi terbarukan yang diadopsi dari Jerman.


Salah satunya mengutip komentar dari akun facebook milik mantan koordinator Kontras Aceh yang sekarang menjabat Sekretaris Partai Aceh Kota Banda Aceh, Hendra Fadli yang menulis “9 pendekar alumni Padepokan Jerman merengek pekerjaan pada pemerintah,  sementara ada ribuan alumni padepokan lokal berjibaku dengan brutalnya kehidupan, tanpa keluh.. ka salah kirem ureng sang..”. ujarnya.


Komentar pedas juga diucapkan Fahmi, wirausahawan sablon yang membuka usahanya di kawasan Peulanggahan setelah membaca berita tersebut di salah satu media lokal di Aceh. ” Paleh that awak nyan, jak u Jerman kon sikula, jak wet wet, nyoe contoh  jieh. Kalau seperti ini kirimkan saja saya ke Jerman, biar saya belajar teknik sablon terbaru disana, terus saya bagikan keseluruh tukang sablon di Aceh”. ujarnya.


Dia menambahkan umumnya mereka yang kuliah S2 di luar negeri karena tidak mendapatkan pekerjaan dengan ijazah S1 di Aceh ataupun Indonesia dan tidak mampu berwiraswata, sehingga berharap dengan ijazah S2 bisa mengikuti tes CPNS karena jumlah saingan lebih sedikit. “Saya sebagai masyarakat kecil berharap nantinya pemerintahan Aceh baru melakukan seleksi sangat ketat dalam mengirim mahasiswa ke luar negeri, jangan yang bemental PNS dikirim. Udah leumak dapat uang ratusan juta dari rakyat Aceh terus pulang-pulang mau hidup enak saja.” ujarnya dengan nada tinggi.


Hal yang sama di ungkapkan Azhari, pemilik warung kopi di kawasan Peunayong ini membanting koran setelah membaca berita tersebut.  “Kureung aja awak nyan, hana dipike ka abeh peng rakyat , jinoe jieh lake lom kerja bak pemerintah, peu di peuget bak Jerman? jak meuinong keudeh ? harus jieh yang dikirem u lua nanggroe , petani , nelayan, wiraswasta bah na ilme nyang baroe, kon aneuk mit bangai nyan, bek pake alasan kontrak moral wo u Aceh, ngaku mantong memang hana skill, han jeut buka lapangan kerja “. ujarnya penuh emosi


Komentar lainnya muncul dari akun FB milik Halim El Bambi yang menulis  ‘Kok udah disekolahkan ke luar negeri pakai uang negara lalu minta pekerjaan lagi sama negara (pemerintah) ? Mengapa tidak dibuat motto seperti : lulusan sarjana mampu membuka peluang kerja, bukan MENCARI KERJA! hadeuuh.. ‘


Sementara itu salah satu alumni yang ikut mengadu ke DPRA , Muhammad Mulyawan, dalam blog nya membela diri dan menuding harian Serambi Indonesia menulis berita yang berbeda dalam kunjungan ke DPRA lalu. Dalam blog nya yang diberi judul ‘ Konsep RE yang kami tawarkan berubah jadi Curhat dalam sebuah berita media lokal’.


Sebelumnya Wakil Ketua DPRA, Sulaiman Abda mengatakan saat ini ada ribuan alumni S2 luar negeri yang sudah kembali di Aceh namun belum mendapatkan pekerjaan. (red)


Pemberitaan yang dibuat oleh Lintas Aceh ini lebih hangat, karena reaksi yang diberikan pembaca sangat menohok dan bahkan sampai pada hak yang sangat pribadi. Sehingga, kecerdasan yang dimiliki oleh masing-masing individu yang terlibat dalam diskusi atau perdebatan itu hilang. Padahal, katanya cerdas-cerdas. Nah, selayaknya hal ini tidak terjadi, kalau masing-masing kita juga cerdas dalam menyikapi setiap pemberitaan dan juga cerdas dalam mengemas berita dan sebagainya. Lalu, apakah ini yang kemudian dikatakan Bad news is Good news, atau sebaliknya good news is a bad news? Sangat tergantung dari tingkat kecerdasan kita juga.



Mari kita cermati soal pemberitaan media, sebagai bagian dari masyarakat yang cerdas dalam menyaji dan menerima informasi dari media.

Tabrani Yunis

/tabraniyunis

TERVERIFIKASI (HIJAU)

Tabrani Yunis adalah Direktur Center for Community Development and Education (CCDE) Banda Aceh, juga sebagai Chief editor majalah POTRET, menerbitkan majalah Anak Cerdas. Gemar menulis dan memfasilitasi berbagai training bagi kaum perempuan.
Selengkapnya...

KOMPASIANA ADALAH MEDIA WARGA, SETIAP KONTEN DIBUAT OLEH DAN MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.

Siapa Yang Menilai Tulisan Ini ?