Tabrani Yunis
Tabrani Yunis pegawai negeri

Tabrani Yunis adalah Direktur Center for Community Development and Education (CCDE) Banda Aceh, juga sebagai Chief editor majalah POTRET, menerbitkan majalah Anak Cerdas. Gemar menulis dan memfasilitasi berbagai training bagi kaum perempuan.

Selanjutnya

Tutup

Ekonomi highlight headline

Agar Bank Syariah Tidak Setengah Matang

3 Juni 2017   05:58 Diperbarui: 5 Juni 2017   10:55 217 2 1
Agar Bank Syariah Tidak Setengah Matang
Ilustrasi: print.kompas.com | Hendra A. Setyawan

Pernah dengar kata orang “setengah matang” bukan? Bagi para penggemar telur, biasanya juga sering mengonsumsi telur setengah matang. Setengah matang, berarti memang belum matang, belum masak. Ini menjadi ungkapan banyak orang tentang sesuatu hal yang kondisinya masih belum ideal, masih belum sempurna, masih belum sampai pada tahapan akhir yang diharapkan. Lalu, bagaimana pula kaitannya dengan bank syariah yang disebutkan tidak setengah matang, seperti judul tulisan ini? Apakah bank syariah yang kini sedang menjadi tren dalam dunia perbankan dan keuangan di tanah air masih belum seperti yang diharapkan, atau diidamkan?

Nah, menilik judul tulisan di atas, ketika judulnya berupa rekomendasi, maka banyak kemungkinan bahwa fenomena atau realitas setengah matang itu ada. Ya potensinya ada. Kalau tidak ada, mengapa masih banyak orang yang belum mau secara sungguh-sungguh dan jujur mengoperasikan dan menggunakan bank syariah. Oleh sebab itu, selayaknya kita melihat semua hal itu dari berbagai sudut pandang atau perpesktif, baik sejarah berdirinya, maupun dari sudut motivasi dan perkembangannya hingga saat ini.

Bila kita melihat latar belakang ( background) lahir atau hadirnya bank syariah di Indonesia itu tidak sama. Artinya, lahir dari background yang berbeda. Paling tidak, ada dua latar belakang yang berbeda. Pertama, ada bank syariah yang lahir dan berdiri sejak awal sebagai bank syariah, dengan sistem yang sudah sesuai dengan konsep bank syariah. Bukan hanya konsep dan sistem yang mereka sudah siapkan, tetapi juga sumber daya manusianya, mulai dari yang paling tinggi, para direksi, hingga pada tataran staf yang paling rendah sudah memiliki mindset yang sama dalam menjalankan bank syariah tersebut.

Bukan hanya pada pihak owner atau pemilik modal dan para direksi dan staf, para nasabah yang menggunakan jasa bank syariah pun harus memiliki mindset yang sama. Semua ini sudah disiapkan dari awal secara matang. Sehingga, tidak ada praktek yang hipokrit alias munafik. Jadi semua harus berjalan sejalan dan seiring. Sesuai antara konsep teori dan praktek. Dengan demikian, para pengguna jasa bank juga memiliki mindset yang sama, dengan motivasi yang sama, bahwa membuka bank syariah untuk menjalankan aktivitas bank dan keuangan yang sesuai dengan ajaran atau syariah Islam. Tujuan akhirnya untuk membersihkan harta, aman dan halal.

Kedua, tentu banyak bank syariah di Indonesia yang lahir dan berdiri menjadi bank syariah. Bank syariah ini, tidak langsung disiapkan sebagai bank syariah, tetapi konvensional. Lalu, dalam perkembangannya kemudian, entah atas dorongan kepentingan menarik minat konsumen yang mayoritas muslim, maka pihak pemilik bank konvensional melihat ini sebagai sebuah kesempatan untuk menggaet nasabah dari kaum muslim yang jumlahnya sangat besar tersebut. Jadi, dari perspektif ini, banyak bank syariah bukan lahir dengan konsep bank syariah dari awal, tetapi entah karena apa yang mendorongnya, kemudian melakukan konversi dari bank konvensional ke bank syariah. Lalu, apa masalahnya?

Tak dapat dipungkiri bahwa semua personal bank konvensional yang sudah sangat lama beroperasi dengan system konvensional, dalam konsep dan perilakunya, sudah sangat nyaman dengan system kovensional tersebut. Konsep dan praktek tersebut sudah mengkristal dan menjadi mindset mereka, mulai dari atasan hingga pada bawahan. Dengan demikian, tentu saja, bank-bank yang sudah sangat lama beroperasi secara konvensional tersebut, mindset semua orang adalah mindset bank konvensional. Maka, dikhawatirkan ketika bank–bank konvensional tersebut banyak yang melakukan konversi ke bank syariah, kondisi bank syariah setengah matang akan masih sangat banyak.

Dikatakan demikian, secara naluri bagaimana orang yang selama ini secara konsep, sistem dan SDM yang sudah kovensional minded, bisa langsung secara kaffah berubah menjadi bank syariah. Pasti dalam melaksanakan pola bank syariah, dalam pikiran, kata dan perbuatan masih sangat sulit untuk menyariahkannya. Secara internal bank, ini tetap masih menjadi dilemma. Karena ketika melakukan konversi ke bank syariah, para pemilik modal, direksi dan staff yang sudah nyaman dengan model konvensional, banyak yang tidak setuju atau tidak rela untuk melakukan perubahan tersebut. Artinya ada dualism dan ambigu dalam pelaksanaannya kemudian. Jadi, ini yang kita sebut dengan setengah matang. Kondisi ini adalah kondisi yang tidak sehat dan tidak boleh terjadi, karena akan merusak hakikat dari bank syariah itu sendiri.

Selain persolaan tersebut di atas, faktor motivasi para banker dan para nasabah bank syariah, sesungguhnya juga masih banyak yang belum lurus, belum menyatu atau lahir dari sebuah proses internalisasi bahwa menjadi mengoperasikan bank syariah dan menjadi nasabah bank syariah secara kaffah itu, tujuannya adalah menjalankan sesuai syariat islam. Bukan untuk meraup keuntungan dengan cara-cara yang konvensional yang menyatakan bunga bank itu haram dan bahkan banyak praketk yang sangat memberatkan konsumen dan sebagainya.

Pendek kata, harusnya motivasi kedua pihak bank dan nasabah adalah mencari ridha Allah dengan sistem syariah. Jadi, sebagai nasabah, tidak lagi bertanya, kalau saya menabung di bank syariah, atau kalau saya buka deposito di bank syariah, berapa bunga yang saya dapat. Ini artinya, cari untung dengan cara konvensional. Ini juga tidak sehat, karena nasabah masih setengah matang. Bila ini masih berlansung, ini membuktikan bahwa masih banyak bank syariah dan nasabah yang setengah matang. Padahal, bank syariah dan nasabahnya tidak boleh setengah matang.

Oleh sebab itu, agar bank syariah dan nasabahnya tidak setengah matang, bank syariah dan nasabahnya harus meninggalkan atau menanggalkan semua istilah, produk dan praktek dengan mindset bank konvensional ke istilah, produk dan praktek yang sesuai syariah. Pertanyaannya adalah bagaimana hal itu dilakukan?

Tentu perlu kajian lebih dalam, bertanya mengapa hala tersebut masih terjadi, melihat faktor-faktor penyebab dan merujuk kepada semua aturan hukum yang ada, baik hukum formal, hukum nasional, dan apalagi hukum Islam. Hal, yang harus dilakukan adalah pihak bank dan nasabah harus benar-benar meluruskan niat atau motivasi. Pihak bank, selain secara internal terus meluruskan dan menanamkan konsep dan praktek secara syariah mulai dari pemilik, direksi hingga pada staf. Begitu pula halnya dengan nasabah, bahwa sesungguhnya menggunakan bank syariah, bukan karena didorong oleh keinginan mengejar keuntungan besar dari bunga bank, tetapi agar uang yang dimiliki dikelola dengan aman dan halal.

Kiranya, selain dari meluruskan hal tersebut, banyak hal atau kegiatan yang bisa mengedukasi para nasabah bank syariah tersebut. Bank harus melakukan kegiatan-kegiatan edukatif lewat berbagai media. Bank harus melakukan orientasi dan sosialisasi ke masyarakat tentang konsep, sistem dan cita-cita bank syariah tersebut. Agar lebih mudah dalam melakukan edukasi dan sosialisasi tersebut, pihak bank perlu menggaet atau melibatkan tokoh-tokoh agama, seperti ulama, ustad dan ustazah untuk memberikan pencerahan tentang bank syariah. Insya Allah, dengan cara-cara ini, bank syariah akan bisa berjalan di track yang benar. Tidak lagi setengah matang. Semoga hal itu bisa dilakukan.

Oleh Tabrani Yunis