Tabrani Yunis
Tabrani Yunis pegawai negeri

Tabrani Yunis adalah Direktur Center for Community Development and Education (CCDE) Banda Aceh, juga sebagai Chief editor majalah POTRET, menerbitkan majalah Anak Cerdas. Gemar menulis dan memfasilitasi berbagai training bagi kaum perempuan.

Selanjutnya

Tutup

Humaniora highlight

Hikayat Negeri Kopi dan Secangkir Kopi Arabika Gayo

14 September 2017   06:42 Diperbarui: 14 September 2017   06:57 763 1 1
Hikayat Negeri Kopi dan Secangkir Kopi Arabika Gayo
Foto Koleksi Pribadi

Oleh Tabrani Yunis

Kemarin Sore, Rabu 13 September 2017, usai mengantarkan anak ke masjid Albadar, Lampineung untuk belajar mengaji, saya terasa ingi menyuruput segalas alias secangkir kopi Arabika Gayo, di warung favorit saya, Gerobak Arabika. Ketika baru masuk di pintu depan Gerobak, saya melihat tiga lelaki yang sedang duduk di meja sebelah kiri. Satu di antaranya adalah teman yang selalu saya jumpai di warung itu, Joe Samalanga. Seperti biasa, kala bertemu teman, saya saling sapa dengan mengucapkan salam dan bersalaman. 

Saya bersalaman dengan ketiganya, namun belum mengetahui nama dua orang yang selama ini belum pernah bertemu. Sambil bersalaman, saya memperkenalkan nama dan kemudian duduk di meja sebelahnya. Namun, Joe Samalanga,berinisiatif memperkenalkan sekali lagi saya kepada lelaki yang duduk di sebelahnya, seraya berkata, " Ini bang Tabrani Yunis, yang sejak 15 tahun lalu menerbitkan majalah POTRET". Sontak saja, lelaki itu menjulurkan lagi tangannya, menyalami saya sambil ia menyebutkan lagi namanya. " Saya Syukri Muhammad Sukri" ujarnya.

Nah, mendengar nama itu, saya juga langsung ingat. Wah, ini rupanya bung Syukri Muhammad Syukri yang saya kenal lewat tulisan-tulisannya di Kompasiana. Ya, saya baru hanya mengenalnya lewat Kompasiana. Jadi wajar saja, kalau tadi sore, saat bersalaman dan berkenalan itu adalah kali pertama saya bertemu penulis yang saya kenal sangat produktif menulis di Kompasiana itu. 

Pertemuan saya dengan bung atau Pak Syukri Muhammad Syukri tadi sore itu adalah pertemuan yang bagi saya sebagai pertemuan yang istimewa. Betapa tidak,  selama ini saya hanya mengenal namanya di Kompasiana. Ya, belum pernah bertemu selama ini. walaupun secara geografis, kami tinggal di satu provinsi, yakni Provinsi Aceh. Namun jarak tempat tinggal kami jauh berbeda. Saya di kota Banda Aceh, sedangkan pak Syukri Muhammad Syukri di  dataran tinggi Gayo, Aceh Tengah yang bisa ditempuh  sekitar 7 jam dari kota Banda Aceh. Saya sendiri berdomisili di kota Banda Aceh. Jarak yang begitu jauh, membuat kami tidak pernah bertemu, walau sudah mengenal nama lewat sarana kampung Kompasiana. Ya, ternyata Kompasiana sudah membuat warganya bisa saling bertemu dan berbagi.

img-1790-jpg-59b962eeab12ae0ebe087392.jpg
img-1790-jpg-59b962eeab12ae0ebe087392.jpg

Maka, pertemuan hari ini sekali lagi sangat penting dan bermanfaat. Pertemuan perkenalan langsung, bisa sekali gus mengenal lebih jauh, bahkan bisa saling berbagi. Benar lho. Pertemuan kemarin sore itu membuat kami terlibat diskusi panjang. Diawali soal media cetak yang susah hidup di Aceh dan minat baca masyarakat Aceh yang kami klaim rendah dengan menggunakan indikator minat baca di tingkat mahasiswa, hingga pada persoalan budaya minum kopi dan lain-lain. 

Nah, perbincangan mengenai media masa cetak di Aceh bermula kala ditanyakan bagaimana kondisi dan perjalanan hidup majalah POTRET dan majalah Anak Cerdas yang saya terbitkan sejak 15 tahun lalu itu. Perbincangan itu terus berlanjut dengan melihat pertumbuhan dan perkembangan media cetak di Aceh sejak 20 tahun lalu hingga saat ini. Banyak media cetak, seperti surat kabar yang muncul, namun dalam waktu yang tidak lama, kembali tenggelam dan mati. Namun majalah POTRET yang bukan berorientasi bisnis, bisa bertahan hidup hingga 15 tahun, walau dalam kondisi seperti kerakap tumbuh di batu.

Selain berbicara soal media dan minat baca, kesempatan yang sempit ini kami gunakan juga untuk berbicara soal pentingnya membangun gerakan menulis di sekolah-sekolah di Aceh. Pertimbangan kami, ketika aktivitas menulis menulis dilakukan di sekolah-sekolah, atau menjadikan ranah menulis sebagai salah satu keunggulan sebuah sekolah, maka secara simultan akan membangun kebiasan membaca di kalangan peserta didik. Sekolah-sekolah memang selayaknya memikirkan soal itu. Ya, begitulah diskusi kami kemarin sore, sambil menyeruput segelas kopi Arabika Gayo itu.

Pertemuan kami sore kemarin itu, bukan saja melibatkan kami dalam sebuah diskusi atau perboncangan mengenai beberapa hal. Tetapi semakin terasa istimewa karena Bung Syukri Muhammad Syukri memberikan sebuah hadiah yang sangat berharga dan istimewa. Sebuah buku hasil karya Syukri Muhammad Syukri, " Hikayat Negeri Kopi" dengan tebal sekitar 306 halaman itu yang  sangat kaya dengan cerita dan disajikan dengan gaya yang sangat menarik. Buku itu ternyata juag sangat istimewa karena ada kata pengantar Pepih Nugraha yang membuat racikan diksi dank gaya hidup di kota Istanbul dalam buku itu menjadi cerita awal untuk melihat bagaimana kekayaan budaya minum kopi dan lainnya di tanah Gayo dan Aceh selama ini menjadi sebuah sumber kekayaan yang sangat potensial.

Ya, saya sangat tersanjung dan terhormat, ketika menerima hadiah buku itu. Saya beberapa kali mengucapkan Alhamdulilah, saat menerima hadiah buku itu. Bukan hanya itu, saya sendiri menjadi cemburu dan merasa kecil, ketika saya mengingat diri saya yang hingga kini belum melahirkan atau menerbitkan satu buku pun, walau saya sudah mulai menulis opini di media sejak Juni 1989 hingga kini. Saya merasa terpicu, namun apakah akan mampu menerbitkan buku sendiri. Ternyata hingga saat ini saya hanya mampu menyediakan ruang menulis bagi orang lain dengan menerbitkan majalah POTRET, majalah Anak Cerdas dan sebuah media online, Potret Online

img-7956-jpg-59b9c1ea2d622c064e340412.jpg
img-7956-jpg-59b9c1ea2d622c064e340412.jpg

Waktu sudah menunjukan pukul 17.45, saya harus menjemput anak saya Ananda Nayla. Ananda Nayla seperti saya sebutkan di awal tulisan sedang belajar mengaji di masjid Albadar. Saya pun pamit sejenak untuk menjemput anak, lalu bergegas berjalan kaki ke POTRET Gallery yang hanya sekitar 50 meter dari Gerobak Arabika tersebut untuk mengambil mobil. 

Dalam perjalanan pulang ke toko POTRET Gallery tersebut, tiba-tiba saya teringat dan berkata, mengapa saya tidak memberikan bung Syukri Muhammad Syukri majalah? Maka, sepulang menjemput anak, saya langusng mengembil sekitar 5 majalah masing-masing majalah POTRET dan majalah Anak Cerdas, lalu bergegas menuju Gerobak. Alhamdulilah mereka masih di sana dan saya langsung memberikan dua terbitan yang saya punya dengan harapan bisa menjadi bahan bagi bung Syukri Muhammad Syukri. 

Pertemuan boleh yang pertama dan belum tentu bisa bertemu lagi karena faktor jarak, namun sejuta cerita yang ada di buku Hikayat Negeri Kopi itu adalah pertemuan panjang yang sangat beguna. Tidak salah kalau disebutkan Hikayat Negeri Kopi dalam secangkir Kopi Arabika Gayo.