Menikah Adalah Hak Bukan Kewajiban

06 April 2012 01:33:31 Diperbarui: 13 September 2015 02:38:03 Dibaca : 0 Komentar : 0 Nilai : 0 Durasi Baca :

Allah menganjurkan umatnya untuk menikah, sifatnya disini adalah anjuran bukan mewajibkan. Ada kalanya seseorang itu tidak ingin menikah, misalnya karena merasa bahwa hidupnya lebih berharga jika dapat menyerahkan hidupnya bagi kemaslahatan umat contohnya seperti Nabi Isa, merasa tidak mampu membahagiakan pasangan, atau alasan lainnya. Kalau sesuatu yang wajib saja bisa menjadi tidak wajib ketika kewajiban itu tidak dapat dilaksanakan karena sesuatu dan lain hal, contohnya: wajib berpuasa kecuali kalau tidak sehat, wajib berhaji kecuali kalau tidak mampu, wajib jangan membunuh kecuali kalau terpaksa, wajib jangan memukul kecuali kalau terpaksa dan lain2nya. Maka saya rasa tidak ada dasarnya bagi seseorang untuk mengatakan bahwa menikah itu sebagai suatu kewajiban yang harus dilakukan tanpa ada pengecualian, aku rasa kawan2 setuju?


Menikah atau tidak menikah adalah pilihan hidup, bagian dari hak azasi, tidak ada keharusan bagi seseorang untuk menikah begitu juga tidak ada keharusan bagi seseorang untuk tidak menikah. Tetapi untuk menikah ada aturan yang harus dipenuhi, misalnya: pernikahan tersebut harus didasarkan atas rasa suka sama suka tanpa paksaan, sudah mencapai umur yang dianggap siap untuk menikah, dan didasarkan pada saling menghargai satu sama lain dalam hubungan yang sejajar antara pria dan wanita. Kalau seorang wanita dinikahkan dengan seorang pria yang sang wanita tidak menyukainya, maka ini adalah pemerkosaan namanya.


Tauladdan Rasul yang menikahi Aisyah sewaktu Aisyah berusia 7 tahun dan hanya tidur dengan Aisyah pada waktu Aisyah berusia 9 tahun adalah tidak manusiawi dan tidak boleh ditauladanin di zaman ini. Perlu diketahui bahwa Rasul menikahi Aisyah itu karena konteks budaya pada waktu itu membolehkannya. Menurut saya, kita tidak perlu meniru Rasul dalam hal ini karena ini contoh yang tidak benar dan tidak manusia. Walaupun mungkin dari kita masih menganggap bahwa apapun tauladdan yang diberikan Rasul adalah baik, tetapi untuk tauladdan yang satu ini adalah kekhususan bagi Rasul semata yang tidak boleh ditiru oleh manusia biasa.


Tauladdan Rasul yang punya banyak istri juga adalah sebuah tauladdan yang tidak boleh ditiru karena tauladan ini tidak lagi sesuai dengan zaman, atau sudah ketinggalan zaman. Tauladdan yang diberikan Rasul dalam hal poligami terjadi karena konteks waktu itu menghendaki demikian, yaitu supaya kaum wanita itu bisa terangkat derajatnya. Janganlah kita menjadikan perbuatan Rasul sebagai alasan untuk berpoligami, karena jelas2 contoh yang diberikan oleh Rasul ini sudah tidak tepat lagi di zaman sekarang. Rasul itu hidup di zaman di mana kaum wanita itu masih dianggap sebagai manusia kelas dua, sementara di zaman sekarang antara pria dan wanita itu adalah sejajar.


Bercerai adalah juga perbuatan yang sangat dibenci Allah karena Nabi Isa mengajarkan bahwa apa yang sudah dipersatukan tidak boleh dipisahkan oleh manusia. Walaupun pada masa Rasul hal ini dibolehkan, hal itu karena konteks ayat2 tersebut dibuat pada saat Rasul masih dalam proses untuk mengambil hati kaum Quraish, jadi untuk mengakomodir keinginan biologist hal tersebut Rasul masih membenarkan umatnya untuk kawin cerai seenak pria semata. Sekarang suku Quraish sudah tidak ada lagi, jadi ayat2 tersebut sudah tidak berlaku lagi. Kita juga harus ingat bahwa Rasul tidak pernah sekalipun menceraikan istri2 beliau.


Di zaman Rasul dulu, berpacaran itu tidak diperbolehkan padahal berpacaran itu perlu untuk saling mengenal satu sama lain. Rasul di zamannya masih muda dulu tidak mengenal yang namanya berpacaran. Di zaman Rasul, kalau beliau ingin menikahi perempuan, beliau tinggal tunjuk saja dan pasti perempuan itu mau dinikahi. Perlu diketahui bahwa konteks ayat2 tentang berpacaran antara pria dan wanita itu kini sudah berbeda, jadi ayat2 yang menentang berpacaran itu sendiri dapat dibatalkan. Sekarang ini jangankan orang biasa, para ustadz saja perlu waktu untuk saling mengenal terlebih dahulu sebelum menikah. Untuk menentukan teman hidup, kita tentuj tidak boleh seperti membeli kucing dalam karung.


Kita harus ingat bahwa Allah SWT dapat menarik apapun ayat2 yang menurutNya tidak lagi sesuai dengan zaman, baca juga tulisan saya tentang tarik ulur ayat2 Qur’an. Banyak dari kita yang hanya sekedar ngebaca Qur’an tanpa mau tau apa makna tersirat di dalamnya. Maka dari itu mulai sekarang, marilah membaca Qur’an dan pahami artinya dengan baik dan benar.


Islam adalah Rahmatan Lil’alamin,

Ibrahim Shihab

/syihabibrahim

Pengagum Ulil Abshar Abdalla, sang penegak HAM yang berdasarkan Islam sejati.
Selengkapnya...

KOMPASIANA ADALAH PLATFORM BLOG, SETIAP ARTIKEL MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.

NILAI :

Daftarkan email Anda untuk mendapatkan cerita dan opini pilihan dari Kompasiana