Puasa Lahir Atau Puasa Batin??

31 Juli 2012 15:21:32 Dibaca :

Aku menulis judul itu karena teringat guyonan teman beberapa tahun lalu waktu duduk di bangku kuliah. Waktu itu aku punya teman cowok sebut saja Andi. Si Andi ini kalau bulan Ramadhan gak pernah puasa. Bahkan hampir selama sebulan dia gak pernah puasa. Tapi aku disini gak mau bercerita tentang dirinya yang gak pernah menjalankan puasa. Karena bagiku itu adalah urusan dirinya pada Tuhan. Aku hanya ingin bercerita tentang guyonannya saat ditanya temannya yang juga temanku dalam satu kampus.

Waktu itu kami bertiga sedang berada dirumahnya. Kebetulan aku, Andi dan Bagus termasuk teman dekat. Hampir setiap pulang kuliah kami selalu mampir dan rehat sejenak di rumah andi untuk sekedar santai melepas lelah. Apalagi waktu itu bulan puasa, siang teras panas. dan karena dia tinggal sendiri dalam satu rumah, maka kamipun gak terlalu risih dan bisa santai. Begitupun Andi gak rikuh ataupun malu-malu untuk minum maupun merokok karena gak ada keluarganya. Meskipun aku dan bagus sedang puasa.

Sampai akhirnya Bagus gak kuat menahan tanda tanya besar dalam benaknya. Mungkin dalam hatti bagus bertanya "nie orang gak takut sama adzab Tuhan apa sich?!! Bukannya puasa itu wajib di bulan Ramadhan?". Seperti itu mungkin dalam hati Bagus sampai akhirnya Bagus melayang pertanyaan pada Andi.

Bagus: "Ndi, kenap sich kamu gak pernah puasa?" tanyanya.

Andi: "Siapa bilang??. Aku puasa kok. tapi puasaku gak seperti puasa kamu" jawab Andi tanpa beban..

Sementara aku hanya mendengarkan diskusi(percakapan) sambil tiduran di sofa.

Bagus: "Maksudnya?. Gak sama gimna?"

Andi: "Ya iyalah" ucap Andi sambil senyum tanpa dosa.. "Gini brow... Kalau puasa kamu itu puasa dhohir. hanya fisiknya saja yang puasa, tapi batinnya tidak. Kalau aku, batin (ruh)nya yang puasa. Tapi dhohirnya tidak".

Masih bingung????" tanya Andi balik masih dengan senyumnya setengah meremehkan karena bagus terlihat bengong dengan apa yang di ucapkan Andi.

Bagus: "Ah kamu tuh. bisa aja. Ada puasa ruh puasa fisik." jawab bagus kesal.

Andi: "sekarang gini" lanjut andi. Kali ini dengan bahasa serius dan merubah tempat duduknya kayak ustad mau ceramah.

"Gini Gus.....bagus. Sekarang dengarkan baik-baik ya... Puasa itukan menahan lapar dan haus dari terbit fajar hingga magrib. Tidak boleh makan dan minum atau melakukan hal-hal yang membatalkan puasa. ya gak?"

Bagus: "Iya...." bengong tampang serius.

Andi: "sekarang gini. kamu mungkin bisa menhana lapar dan haus dengan tidak makan dan minum secara harfiah. tidak makan nasi maupun minum es atau yang lainnya selama batas waktu tertentu. Sedangkan ruh atau jiwamu kekenyangan dengan segala makanana seperti nggunjing, ngrasani, dan banyak hal lainnya. Harusnya ruh, jiwa tau hati kamu juga puasa dari hal-hal itu"

Bagus: " Kata siapa?. Ah kamu buruk sangka berarti"

Andi: "Nggak gitu. ini bener. Yang hidup dalam diri kita kan ruh, bukan badan. Badan akan rusak,tapi ruh abadi. Sekarang banyak orang berpuasa dengan tidak minum dan makan, mereka menahan haus dan lapar tapi gak pernah menahan rasa lapar dan haus dari hatiĀ  mereka untuk berpuasa. Kamu lupa, tadi kamu waktu di kampus melihat Ririn waktu lewat didepan kita. Apa yang kamu katakan?. Cara pandang mata kamu juga lain. Cara pandang mata kamu tidak memperlihatkan kalau kamu sedang berpuasa. Mata kamu melotot melihat kecantikan dan leguk bodynya Ririn yang sedang jalan. Kamu juga tanpa sadar menggoda dia sampai dia menabok pundak kamu. Ya wajar sie... itu naluri lelaki melihat wanita cantik. Tapi bukankah puasa itu tidak hanya menahan lapar dan minum dalam bentuk dlohir. Batinmupun harus menahan lapar dan haus yang tak telihat yaitu dalam bentuk menahan nafsu. Jadi fisik itu untuk menghantarkan ruh ataupun hati. Kita jangan samapi meninggalkan yang hakiki". Jelasnya serius. baguspun semakin bengong.

Suasan berhenti sejenak. Semua terdiam. Bagus hanyabengong manggut-manggut. Sepertinya bagus sedang mencerna penjelasan dari Andi kata demi kata. Sementara Andi juga terdiam, sepertinya Andi sedang memberikan jeda agar penjelasan atau doktrinnya masuk ke pikiran Bagus.

Melihat kekonyolan Bagus yang jelas memperlihatkan kebodohannya di depan Andi. Akupun nyeletuk.

"Tapi ya gak gitu juga dong Ndi..." ucapku memecah keheningan siang itu.

"Semua harus berjalan beriringan dan bersamaan. Puasa itu menahan lapar dan haus serta segela sesuatu yang membatalkannya dari terbit fajar sampai magrib. dan segala sesuatu yang membatalkan tersebut juga termasuk nafsu didalamnya" selorohku.

Andipun tertawa terbahak-bahak.... hahahahahahhhhhaaha..... Akupun ikut tertawa. Tawa yang keluar karena melihat kebengongan Bagus yeng terlihat bodoh.

Syareef Uddin

/syareefwartapantura

Aku bisa menangis sedih hanya karena membaca. Aku bisa tersenyum hanya dengan membaca. dan aku bisa tertawa terbahak-bahak hanya dengan membaca. Dan aku jadi tahu alasan kenapa wahyu yang pertama diturunkan pada Nabi muhammad SAW adalah perintah untuk membaca.
Selengkapnya...

KOMPASIANA ADALAH MEDIA WARGA, SETIAP KONTEN DIBUAT OLEH DAN MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.

Siapa Yang Menilai Tulisan Ini ?