Satria Bergitar "Rhoma Irama" Senandung SARA

06 Agustus 2012 15:01:21 Dibaca :
Satria Bergitar "Rhoma Irama" Senandung SARA
Rekaman video yang didapat Panwaslu, Rhoma secara terbuka meminta warga agar tidak memilih Jokowi-Ahok. Rhoma Irama mendadak menangis saat berusaha menjelaskan duduk perkara yang membuatnya dipanggil oleh Panitia Pengawas Pemilu DKI Jakarta. Berulang kali, pria dengan baju koko putih ini menyeka air matanya (photo : kompasiana)

Egoiesme dan pelepasan SARA mengantarkan si Raja dangdut terbelit masalah. Dia adalah satria bergitar, H. Rhoma Irama. Karena egonya yang berlebihan dalam ceramahnya di Masjid Al-Isra, Tanjung Duren, Jakarta Barat, 29 Juli 2012 lalu sempat menghebohkan banyak pihak. Terlebih lagi kata-kata yang terlontar dari ucapannya sangat menyinggung perasaan banyak orang, khususnya dibarisan kubu calon gubernur/calon wakil gubernur DKI Jakarta 2012-2017 putaran kedua, Jokowi-Ahok.

Menurut Peneliti Kajian Budaya Universitas Indonesia (UI), Devie Rahmawati, menilai, isu SARA yang diduga disampaikan Rhoma Irama bisa saja membawa pedangdut itu ke meja hijau. Devie coba membandingkan dengan negara lain yang begitu tegas menerapkan sanksi terkait soal isu SARA.

Devie Rahmawati juga menjelaskan bahwa pada saat olimpiade kemarin dimana salah satu atlet mendapatkan sanksi tegas karena tersandung isu SARA. Apalagi, lanjutnya, jika Rhoma terbukti bersalah secara sengaja setelah melewati proses pemeriksaan.

Devie menilai, dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, setiap warga wajib mengedepankan Etika, moral dan taat hukum. Terkait kampanye, lanjutnya, jika ada upaya untuk menggiring opini publik dengan cara negative tentu harus ditindak tegas.

Sementara itu si raja dangdut H. Rhoma Irama harus menghadap Panwaslu DKI Jakarta untuk dimintai keterangannya. Dan Panwaslu DKI Jakarta memanggil Rhoma Irama untuk didengarkan keterangannya. Panwaslu saat ini telah mengantungi barang bukti berupa rekaman video yang diambil ketika Rhoma sedang berceramah di Masjid Al-Isra, Tanjung Duren, Jakarta Barat, 29 Juli 2012 lalu.

Selain Rhoma Irama, Panwaslu DKI Jakarta juga akan memanggil Ketua Dewan Kehormatan Penyelenggara Pemilu Jimly Asshiddiqie. Mantan Ketua Mahkamah Konstitusi ini dipanggil karena sebagian ceramah Rhoma Irama mengacu pada pernyataan yang disampaikan Jimly di media massa, bahwa kampanye dengan mengangkat isu SARA dapat dibenarkan .

Dalam rekaman ceramah berdurasi tujuh menit itu, Rhoma disangka menggunakan isu suku, agama, dan ras untuk menyerang pasangan calon Joko Widodo dan Basuki Tjahaja Purnama. Menurut Panwaslu DKI Jakarta bahwa "Dari rekaman, ia diduga melakukan penghinaan dengan isu SARA"

Panwaslu akan berhati-hati dalam menangani kasus tersebut. Panwalu juga akan berupaya melakukan mediasi dan Panwaslu telah melakukan gelar perkara bersama jaksa dan polisi.  Jika nanti terbukti, Rhoma bisa dikenai hukuman pidana karena melanggar pasal 116 ayat 1 Undang-Undang 32 tahun 2004 dengan ancaman hukuman penjara maksimal tiga bulan, karena berkampanye di luar jadwal.

-------------

Satria Bergitar "Rhoma Irama" Tidak Rela Jakarta Dipimpin oleh Cina Kafir

Sementara itu dari salah satu situs yang mengikuti perkembangan soal isu SARA yang terkait dengan si raja dangdut, tersirat didalam kutipannya melansir peristiwa 29 Juli 2012 di Masjid Al-Isra, Tanjung Duren, Jakarta Barat tersebut yang menghadirkan H. Rhoma Irama.

Dalam situs http://chtistianwarrior.blogspot.com/ melasir :

Seperti diketahui, salah satu pasangan Cagub DKI Joko Widodo alias Jokowi yang diusung oleh PDI-P adalah Basuki T.Purnama alias Ahok. Bukan rahasia umum, Ahok adalah seorang etnis Tionghoa yang beragama Nasrani. Itulah sebabnya, H. Rhoma yang didukung oleh para kiai dan ustadz dari berbagai wilayah Jakarta, tidak rela Jakarta dipimpin oleh pasangan yang tidak seiman, seperti Ahok.

"Islam itu agama yang sempurna, memilih pemimpin bukan hanya soal politik, melainkan juga ibadah. Pilihlah yang seiman dengan mayoritas masyarakat Jakarta," ujar Rhoma Irama yang saat itu dihadiri oleh Sekretaris Daerah DKI Jakarta, Fajar Pandjaitan dan Wali Kota Jakarta Barat Burhanuddin.

Senada dengan ustaz dan pengurus masjid sebelumnya yang mengajak para jamaah untuk memilih yang seiman. Bang Rhoma, begitu ia akrab disapa, merupakan tim kampanye pasangan calon gubernur DKI Jakarta Foke-Nara. Dalam ceramahnya, ia menuturkan, kampanye yang mengusung suku, agama, ras, dan antargolongan (SARA) dibenarkan. "Di dalam mengampanyekan sesuatu, SARA itu dibenarkan. Sekarang kita sudah hidup di zaman keterbukaan dan demokrasi, masyarakat harus mengetahui siapa calon pemimpin mereka," kata Rhoma Irama.

Rhoma pun menyebutkan nama Ketua Dewan Kehormatan Penyelenggara Pemilu Jimly Asshidiqie atas dasar pembenaran penggunaan isu SARA. "Saya dapat berbicara seperti ini karena memang dibenarkan Ketua Dewan, Jimly Asshidiqie," katanya.

Sementara itu di tempat yang sama, Fauzi Bowo lebih banyak mengingatkan tentang berkah di bulan Ramadhan. Dalam kesempatan tersebut, Foke memberikan sumbangan kepada anak asuh PKU yang dikelola Muhammadiyah Tanjung Duren dan Masjid Al-Isra, bantuan masjid sebesar Rp 28 juta, Al Quran, alat olahraga, dan lampu hemat energi.

Ahok dan Ceramah SARA

Ketika disudutkan wartawan soal isi ceramahnya, Rhoma, pentolan Grup Soneta itu membantah ceramahnya bermuatan SARA. Menurutnya, tidak ada yang salah dengan isi ceramah yang disampaikan di Masjid Al Isra, Tanjung Duren, Jakarta Barat, Ahad 29 Juli 2012 lalu. "Masa umat Islam mendukung Fauzi-Nachrowi dianggap SARA," ucap Rhoma, kemarin, Kamis 2 Agustus 2012.

Rhoma Irama, itu bertanya balik mempertanyakan kepada pihak-pihak yang menuduh ceramahnya berpotensi SARA dan ketentuan pemilukada itu. “Bagaimana dengan kalangan gereja dan etnis Tionghoa yang mendukung pasangan Joko Widodo dan Basuki Tjahaja Purnama (Ahok), apakah hal itu bukan termasuk SARA?” katanya balik bertanya.

Bang Haji melanjutkan, mengapa orang Kristen di Kalimantan Tengah yang secara eksplisit mendukung Agustin Teras Narang, di Kalimantan Barat mendukung Cornelis. “Itu tidak salah, tapi mengapa saya malah disalahkan?" ujarnya membela diri.

Ceramah Rhoma Irama menjadi polemik karena dituduh mendukung penggunaan isu SARA dalam kampanye. Menurut Rhoma, hal tersebut legal karena sesuai dengan kebebasan demokrasi di Indonesia."

-------------

H. Rhoma Irama menempati penjara 3 sampai dengan 18 bulan soal SARA-nya

Kalau memang benar nantinya si raja dangdut H. Rhoma Irama terbukti bersa;aj atas kasus SARA-nya, maka besar kemungkinan dirinya segera menempati ruang penjara selama 3 bulan atau bisa juga menjadi 18 bulan.

Panwaslu DKI Jakarta meskipun telah mengantungi maaf dari tim sukses Jokowi-Ahok, proses hukum kasus ini jalan terus. "Kami bukan pelapor dalam kasus ini, meski memaafkan, proses hukum diserahkan pada negara," ujarnya.

Ketua Panwaslu DKI Jakarta, Ramdansyah, mengatakan akan meneruskan proses pemeriksaan terhadap raja dangdut tersebut. Senin depan, H. Rhoma Irama dijadwalkan menjalani pemeriksaan. "Kami masih perlu meluruskan fakta hukum kasus ini," ujarnya.

Rhoma berpotensi dijerat Pasal 78 huruf (b) dan (i) serta Pasal 116 ayat 1 Undang-Undang 32 Tahun 2004 tentang Pemerintah Daerah atas ulahnya tersebut. Hukumannya minimal 3 bulan bisa juga maksimal 18 bulan penjara kalau benar terbukti kuat alasan muatan SARA yang dibuatnya. H. Rhoma Irama melanggar aturan soal kampanye di luar jadwal, menghina pasangan calon dengan isu SARA, dan berkampanye di dalam tempat ibadah.

-------------

Inilah yang seharusnya kita perhatikan bersama, betapa beresikonya kalau kita dengan gampang memiliki Egoisme yang berlebihan yang pada akhirnya kita tak sadarkan diri melakukan perbuatan SARA. Untung saja Joko Widodo dan Ahok memiliki nurani dan martabat yang tinggi. Keduanya tidak mempersoalkan SARA yang dilontarkan H. Rhoma Irama tentang ajakannya kepada masyarakat DKI Jakarta untuk bersama-sama memilih pasangan calon gubernur/calon wakil gubernur DKI Jakarta 2012, Foke-Nara.

Joko Widodo dan Ahok dengan keihklasan hatinya memaafkan H. Rhoma Irama, dan benar keduanya tidak mempermasalahkannya, namun akan tetapi H. Rhoma Irama harus bertanggung jawab atas kelakuannya diatas Hukum yang berlaku. Bersiaplah hai Satria Bergitar untuk mempertanggung jawabkan perbuatanmu..., kalau memang anda tidak bersalah coba buktikan dengan kebenaran diatas Hukum.

Hebatnya Joko Widodo (Jokowi) ketika ditanya oleh pers soal SARA yang dibawa Raja dangdut yang memojokan kubunya.

Saya sudah biasa menerima isu-isu seperti itu, bahkan sejak empat bulan lalu saya sudah menerima isu-isu seperti itu," jawabnya.

Jokowi mengatakan sangat prihatin soal Isu SARA tersebut dan dia menyerahkan semua persoalan ini kepada warga Jakarta.

"Warga Jakarta itu pinter-pinter masyarakatnya juga cerdas, dan rasional. Terserah warga Jakarta menilainya bagaimana," katanya.

Menurutnya, seharusnya dalam Pilkada DKI Jakarta, semua pihak beradu program dan visi, serta mengedepankan solusi. Bukan malah menyebarkan isu-isu SARA  yang menabrak asas-asas kesantunan bangsa dan negara.

"Bukan malah memperdaya warga Jakarta dengan isu-isu tersebut," tuturnya.

Sedangkan mengenai aktifitasnya menyongsong Putaran II Pemilu Kada, Jokowi mengatakan bahwa hal itu sepenuhnya menjadi urusan Tim Kampanye Jokowi-Basuki.

Menurut Jokowi, pihaknya tidak mempersiapkan apa-apa menghadapi putaran ke dua ini. "Saya mengalir saja, apa adanya," tutupnya

-------------

digali dari berbagai sumber terkait (dbs)

Syaifud Adidharta

/syaifud_adidharta

Hidup Ini Hanya Satu Kali. Bisakah Kita Hidup Berbuat Indah Untuk Semua ?
Selengkapnya...

KOMPASIANA ADALAH MEDIA WARGA, SETIAP KONTEN DIBUAT OLEH DAN MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.

Siapa Yang Menilai Tulisan Ini ?