PILIHAN HEADLINE

Menebak Arah Dukungan Parpol Islam di Pilkada Jakarta

17 Februari 2017 10:42:49 Diperbarui: 17 Februari 2017 20:19:24 Dibaca : Komentar : Nilai : Durasi Baca :
Menebak Arah Dukungan Parpol Islam di Pilkada Jakarta
Pasangan Agus-Sylvi dengan dukungan partai islam. viva.co.id

Hasil sementara perhitungan suara di Pilkada Jakarta sejauh ini tidak terdapat pasangan calon yang memenangkan secara mutlak 50 persen lebih perolehan suaranya. Suara terbanyak diraih oleh pasangan pejawat Basuki-Djarot dengan perolehan suara 43 persen, disusul pasangan Anies-Sandi pada kisaran angka 39 persen. Sedangkan pasangan Agus-Sylvi dipastikan tereliminir dari kontestasi karena perolehan suaranya terkecil, yaitu 17 persen. Dengan tidak adanya pasangan calon gubernur yang meraup suara diatas 50 persen, maka dipastikan bahwa Pilkada DKI Jakarta akan berlangsung dua putaran, walaupun ketetapan resmi dari KPU DKI soal persentase perolehan suara masing-masing calon belum sepenuhnya dipublikasikan.

Menjadi akan sangat menarik ketika kemudian Pilkada DKI Jakarta dilakukan dua putaran, karena kita justru akan melihat sebuah pertarungan politik secara demokratis yang digulirkan dengan hanya memilih dua pasang calon, head to head. Dari model pertarungan politik yang saling berhadapan ini, justru akan sangat menentukan pada akhirnya, kepada siapa suara (vote) para pemilih yang sebelumnya diberikan kepada pasangan calon yang tereliminir. Jika melihat kepada peta politik pendukung pasangan Agus-Sylvi yang meraup 17 persen suara, maka terdapat tiga partai politik (parpol) berbasis massa muslim, yaitu PKB, PPP dan PAN yang akan diperebutkan masing-masing calon dalam Pilkada putaran kedua nanti. Ketiga parpol ini justru bisa menjadi penentu yang signifikan untuk memenangkan salah satu calon kontestan di Pilkada DKI putaran kedua.

Saya kira, ditengah isu sentimen agama yang semakin menguat dan mengkristal ditengah publik saat ini, bisa saja parpol Islam ini kemudian memberikan suaranya kepada calon kontestan yang memiliki kesamaan ideologi politik. Walaupun, pada kenyataannya, kedekatan ideologi antarparpol tak selalu linier dengan pilihan masyarakat. Hal ini dikarenakan oleh kondisi masyarakat Jakarta yang heterogen dan rasional. Inilah kemudian yang membuat bahwa sekuat apapun isu-isu keagamaan yang digulirkan, tidak begitu banyak mempengaruhi voting behaviour masyarakat. Hal ini terbukti dari kepercayaan masyarakat Jakarta yang masih memilih calon gubernurnya berdasarkan pertimbangan rasionalitas dengan mengukur keberhasilan program kerja, janji politik yang tak berlebihan dan track record setiap pasangan yang sudah dievaluasi.

Namun demikian, emosi keagamaan nampaknya dapat juga dimainkan untuk membentuk opini publik, mengingat bahwa masing-masing parpol yang belum menentukan dukungannya di putaran kedua, merupakan parpol dengan basis massa muslim. Hal ini tergantung dari mesin politik pendukung masing-masing calon untuk terus menerus melakukan komunikasi secara intensif dengan parpol-parpol Islam. Pada tataran emosi keagamaan, pasangan Anies-Sandi yang didukung oleh Gerindra dan PKS nampaknya cukup mudah meraup dukungan dari parpol berbasis massa muslim jika pandai dan mampu memainkan emosi keagamaan yang ada. Namun perjuangan yang cukup berat nampaknya harus ditempuh parpol pendukung Basuki-Djarot karena dalam banyak hal tidak memiliki kedekatan ideologi. Hanya saja, ketiga parpol berbasis massa muslim, seperti PKB, PPP dan PAN semuanya adalah parpol yang tergabung dalam koalisi pemerintah, sehingga bisa saja lobi-lobi intensif dilakukan dengan mediasi jalur penguasa.

Saya berasumsi, bahwa ketiga parpol Islam ini akan menjadi kunci penentu dalam kemenangan salah satu kandidat yang akan bertarung di putaran kedua Pilkada Jakarta. Namun perlu juga dicermati, bahwa ketiga parpol Islam yang mendukung pasangan Agus-Sylvi di Pilkada Jakarta, meskipun tergabung dalam koalisi pemerintah, justru lebih memilih bergabung dengan Partai Demokrat yang notabene merupakan satu-satunya parpol oposisi yang ada dalam pemerintahan Jokowi-JK. Parpol besutan SBY ini justru terlihat pandai memainkan emosi para pendukungnya untuk selalu kritis kepada penguasa. Beberapa kali bahkan terlihat konflik politik secara terbuka yang dilakukan pimpinannya, SBY, melalui serangkaian kritik tajam yang dialamatkan kepada penguasa. Saya kira, peran SBY di Partai Demokrat yang mampu meyakinkan beberapa parpol Islam untuk berkoalisi dalam kontestasi Pilkada Jakarta ini, tidak juga dapat diabaikan.

Ini artinya, bahwa keberadaan tiga parpol Islam pendukung Agus-Sylvi yang tereliminir, kemungkinan besar masih loyal dan setia kepada koalisi, sehingga faktor penentu yang signifikan soal bagaimana suara parpol Islam ini diberikan dan kepada pasangan mana dukungannya dialamatkan tetap masih kuat dipengaruhi oleh arahan dari SBY. Apalagi jika melihat kepada para konstituen parpol Islam yang lebih didominasi oleh ormas Islam, seperti NU dan Muhammadiyah tentu akan semakin menyulitkan parpol pendukung Basuki-Djarot, karena kedua ormas ini jelas-jelas pernah mengungkapkan kekecewaannya yang mendalam kepada salah satu pasangan yang ada atas isu penistaan agama yang dilakukan salah seorang calon gubernurnya. Diakui ataupun tidak, emosi keagamaan yang semakin kental saat ini terutama jelang Pikada Jakarta, akan membuat dua pasangan calon berlomba-lomba dengan gigih memperoleh dukungannya dari parpol lain.

Hanya ada satu kemungkinan dalam memperoleh kemenangan di Pilkada Jakarta kali ini, yaitu bagaimana upaya para pasangan calon untuk lebih intensif melobi parpol-parpol Islam yang sampai detik ini masih belum menggerakkan pendulum dukungannya kepada salah satu kandidat yang bertarung. Jika pasangan Anies-Sandi mampu memainkan emosi keagamaan secara cerdik dan terukur, bisa jadi seluruh parpol Islam akan mendukung sekuat tenaga pasangan nomor urut 3 ini. Emosi keagamaan yang dimaksud adalah bahwa masing-masing pemilih sebagai penyokong utama parpol Islam akan terus menerus diyakinkan soal kedekatan ideologi, nilai-nilai, budaya yang tercermin dari masing-masing parpol pendukungnya. Saya kira, Gerindra meskipun merupakan parpol nasionalis, tetapi masih memiliki kedekatan historis dengan parpol berbasis massa muslim, hasil dari koalisi dukungan mereka pada pilpres 2014 yang lalu, sehingga mudah saja untuk menarik dukungan dari parpol-parpol Islam untuk bergabung memenangkan pasangan Anies-Sandi di Pilkada putaran kedua berikutnya.

Walaupun demikian, rasionalitas pemilih yang tercermin dalam masyarakat Jakarta tentunya juga menuntut para kontestan untuk berhitung secara tepat dalam memainkan emosi para pemilih agar mau mengalihkan dukungannya. Pasangan Basuki-Djarot yang didukung parpol nasionalis bahkan salah satu kader parpol pendukungnya saat ini lebih banyak duduk dalam pemerintahan dapat bermain pada lobi-lobi politik secara rasional yang lebih mengedepankan kalkulasi secara ekonomi-politik. Distribusi dan pemerataan kekuasaan dapat dimainkan sebagai isu penting yang lebih bernilai ekonomis dibanding sekedar memainkan emosi keagamaan. Saya kira, kedua pasangan ini akan lebih berat perjuangannya dalam memenangkan kontestasi politik di Jakarta, walaupun masing-masing mesin politik yang berada dibelakang kedua pasangan calon ini sama-sama ingin meraup keuntungan secara ekonomis di daerah yang menjadi barometer politik Indonesia. Yang pasti, bahwa publik Jakarta senantiasa berharap, siapapun yang menang nantinya akan menjadi gubernur pilihan rakyat yang mampu memberikan rasa keadilan dan kesejahteraan kepada rakyatnya. Segala kecurangan, intimidasi, politik uang, atau apapun yang dijalankan secara tidak jujur dan fair jelas akan mengingkari kedaulatan rakyat.

Wallahu a'lam bisshawab

Syahirul Alim

/syahirulalimuzer

TERVERIFIKASI

Seandainya lautan dijadikan tinta dan pohon-pohon dijadikan penanya untuk menulis seluruh kebaikan, niscaya tidak akan pernah cukup kebaikan itu ditulis
Selengkapnya...

KOMPASIANA ADALAH PLATFORM BLOG, SETIAP ARTIKEL MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.

NILAI :

Daftarkan email Anda untuk mendapatkan cerita dan opini pilihan dari Kompasiana

Featured Article