Suzash  Gribisy
Suzash Gribisy Mahasiswa

Mahasiswa semester 5, Sastra Indonesia UGM 2014. Mahasiswa biasa-biasa saja tapi ingin mencoba menghasilkan sesuatu yang luar biasa. Penerima Beasiswa Karya Salemba Empat 2015-2016 Ambassador BPJS Ketenagakerjaan 2016

Selanjutnya

Tutup

Humaniora

Pisau Bermata Dua: Mari Mendekatkan yang Jauh, Jangan Menjauhkan yang Dekat

17 Agustus 2017   16:00 Diperbarui: 17 Agustus 2017   20:07 1501 0 0

Dewasa ini, zaman sudah mulai masuk ke era global. Untuk dapat bersaing di dunia global dan serba maju ini, seseorang perlu membekali diri dengan pendidikan yang cukup sehingga punya bekal wawasan dan pengetahuan. Orang tua pun sudah banyak yang menyadari pentingnya pendidikan bagi anak-anaknya. Oleh karena itu, semua orang tua ingin anak-anaknya mendapatkan pendidikan yang baik. Tidak jarang orang tua yang menyekolahkan anaknya ke daerah yang berbeda demi mendapatkan pendidikan yang baik.

Tentu saja, melepaskan anak merantau ke daerah yang berbeda bukan hal yang mudah bagi setiap orang tua. Jauh secara jarak dan waktu merupakan kenyataan yang harus dihadapi. Melepas anaknya pergi merantau juga bukan berarti orang tua melepas anaknya untuk hidup bebas. Meskipun gaya asuh setiap orang tua berbeda, tapi pasti semua orang tua ingin anaknya dalam keadaan baik-baik saja walau jauh di sana. Oleh karena itu, berkomunikasi menggunakan gadget menjadi pilihan terbaik masa ini. Orang tua berusaha sebaik mungkin untuk menjaga komunikasi dengan putra putrinya yang sedang berjuang menempuh pendidikan di luar daerah.

Karena zaman sudah semakin modern, sekarang ini banyak orang tua yang juga mulai menggunakan media sosial. Ini dibuktikan dengan banyak orang tua yang membuat akun facebook dan instagram. Selain untuk keperluan pekerjaannya, media sosial itu juga digunakan untuk mencari kabar dan menghubungi putra-putrinya yang berada jauh di luar daerah. Banyaknya terbentuk grup whatsapp keluarga pun sekarang sudah mulai menjadi hal yang lazim. Grup-grup whatsapp keluarga menjadi wadah berbagi informasi dan kabar antar anggota keluarga.

Akan tetapi, di balik semua akses yang mudah untuk mendapatkan kabar sang anak malah justru tidak jarang berlaku sebaliknya. Sang anak yang aktif di kampusnya, sibuk ambil kegiatan ini-itu, melakukan kegiatan sosial di sana-sini, tentu membanggakan hati orang tua. Namun, fenomena yang kerap ditemui oleh para orang tua adalah kepasifan anak ketika dihubungi; entah telfon yang tidak terangkat, entah pesan yang tidak terbalas. Sering ditemui pula sang anak aktif di berbagai sosial media, namun sulit merespon jika dihubungi orang tuanya. Padahal, ketika di rumah, orang tua selalu melihat gadget sang anak tidak pernah lepas tangan mereka. Entah medsos apa yang mereka buka, orang tua tidak pernah tahu. Entah sang anak sibuk menjadi youtuber, selebgram, fangirl idol luar negri, atau sang asyik dengan teman-temannya di dunia maya. Hal ini justru menjadi pahit untuk para orang tua karena adanya sosial media malah menjauhkan mereka dengan sang anak, bukannya mendekatkan. Tak jarang orang tua menjadi super posesif dan menjadikan anak tidak suka.

Bahkan ada fenomena sang anak yang memblock akun media sosial orang tuanya karena takut dipantau. Hal ini mengakibatkan sang anak menjadi jauh dari orang tua dan orang tua juga susah memantau sang anak dari kejauhan.

Lalu, apa yang bisa dilakukan orang tua untuk anak yang sedang menginjak dewasa dan jauh dari orang tua? Tentu akan menyenangkan jika orang tua menghubungi sang anak, baik itu melalui telfon maupun media sosial, hendaknya orang tua tidak melulu merongrong anak untuk menceritakan keadaannya. Coba sesekali orang tua lebih dulu menceritakan keadaan rumah lebih dulu. Sang ayah bisa menceritakan lebih dulu sedang sedang sibuk apa dengan pekerjaannya, Mungkin ibu menceritakan hari itu masak apa untuk memancing kerinduan sang anak akan rumah. Bisa jadi menceritakan sesuatu yang baru dibeli di rumah, tentangga baru, bangunan toko baru, atau apapun yang baru di lingkungan rumah dan keluarga. Dengan hal tersebut, siapa tahu anak juga terpancing untuk menceritakan keadannya juga secara jujur tanpa dipaksa.

Menunjukkan dukungan dan memberikan semangat untuk sang anak melalui media sosial juga akan berdampak positif bagi sang anak. Anak yang didukung penuh dan diapresiasi kegiatannya akan lebih tertarik menggunakan sosial media untuk berhubungan dengan orang tuanya. Selain lebih responsif dalam berhubungan dengan keluarga dan orangtuanya, sang anak akan lebih giat mengepost konten-konten positif di media sosialnya. Selain itu, mendapat apresiasi dan dukungan dari orang tua juga akan mengurangi minat anak untuk melakukan block akun media sosial orang tuanya.

Sikap tidak posesif dari orang tua dan membiarkan anak menggunakan media sosial sesuai dengan masanya merupakan kepercayaan yang akan dihargai oleh sang anak. Sang anak tentu akan merasa diberi kepercayaan untuk bertindak apa saja di sosial media, asal tidak melewati batas. Jika sang anak sudah melewati batas, berikan nasihat sesekali dengan cara yang baik. Akan bagus bagi orang tua bila dapat mengenal teman-teman sang anak melalui sosial media. Dengan begitu diharapkan, orang tua dan keluarga dapat memantau dan membantu anak untuk bijak dalam bermedia sosial.

Sang anak dapat lebih dekat dengan keluarga dan menghasilkan karya berupa konten-konten yang positif di sosial medianya. Keluarga yang kompak dan memiliki banyak karya yang positif tentu akan memiliki kontribusi lebih untuk kemajuan bangsa Indonesia.

Link twitter : https://mobile.twitter.com/suzaashh/status/898115411908087808?p=v