HEADLINE HIGHLIGHT

Tradisi "Gadaikan Anak" di Minangkabau

01 November 2012 11:55:37 Dibaca :
Tradisi "Gadaikan Anak" di Minangkabau
-

Tradisi "gadai anak" acap ditemui dalam beberapa suku atau etnis di Indonesia, tidak terkecuali etnis Minang. Anak yang "digadaikan" tetap dalam pengasuhan orang tua kandung si anak. Tradisi ini lebih kurang bermakna, orang tua "menggadaikan" anaknya (biasanya balita), yang diikuti menyerahkan anak secara simbolis ke pihak penerima gadai, biasanya keluarga dekat atau orang yang dikenal lainnya, yang diikuti pemberian sejumlah benda gadai---uang, kelapa dan beras---oleh si penerima gadai pada pemberi gadai. "Gadai anak" ini akan ditebus pada saat si anak kelak tumbuh dewasa dan akan kawin. Benda gadai---uang, kelapa dan beras tadi---akan ditebus kembali sesuai permintaan atau sekerelaan penerima gadai. Penebusan gadai bisa dilakukan ke ahli waris andai penerima gadai semula meninggal dunia. Pada saat penebusan itulah "gadai anak" berakhir. Bagaimana jika gadainya tidak ditebus? Konsekuensinya ternyata menarik. Si anak yang "digadaikan" akan menjadi "anak" dari si penerima gadai. Tentu saja tidak setiap anak memenuhi kriteria layak digadaikan. Yang digadaikan hanya anak lelaki yang wajahnya mirip bapaknya atau anak perempuan yang wajahnya mirip ibunya. Adapun tujuan digadaikan adalah, supaya salah satu dari yang memiliki kemiripan wajah tersebut tidak "diambil" (baca: meninggal dunia) dan supaya tidak selalu berlawanan/bertengkar. Sebagian orang masih mempercayai sepenuhnya tradisi "gadai anak" ini. Sebagian lagi tidak mempercayai tapi tetap menjalankan sekedar penghormatan tradisi saja. Selebihnya sama sekali tidak lagi menjalankan tradisi ini.(*)

Sutomo Paguci

/sutomo-paguci

TERVERIFIKASI (HIJAU)

Menulis sebagai rekreasi
Selengkapnya...

KOMPASIANA ADALAH MEDIA WARGA, SETIAP KONTEN DIBUAT OLEH DAN MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.

Siapa Yang Menilai Tulisan Ini ?