Tatkala Jenuh Menggoda

23 September 2010 04:25:00 Diperbarui: 26 Juni 2015 13:02:36 Dibaca : Komentar : Nilai : Durasi Baca :

Hari-hari yang ku lalui pada hari senin sampai jum'at, cenderung stagnan. Bagaimana tidak? Pukul setengah 5 pagi aku bangun tidur, melakukan aktivitas rutin sebelum berangkat bekerja, seperti beribadah dan bersih-bersih. Pukul setengah 8 pagi, sudah harus berangkat ke kantor, kerja sampai pukul 16.00 WIB (Itu pun kalau langsung pulang). Biasanya, sekitar pukul 17an, aku sudah di rumah. Lalu makan, mandi, kemudian segera berangkat ke kampus yang memakan waktu perjalanan antara setengah sampai 1 jam menggunakan sepeda motor (sendirian, lho!). Sesampainya di kampus, aku biasakan mampir sebentar ke papan pengumuman, berharap ada informasi yang berarti, seperti Bea Siswa atau perlombaan. Puas memperhatikan isi mading, langsung masuk kelas, mengikuti mata kuliah yang berlangsung.

Pukul 22.00 WIB, waktunya pulang ngampus. "Hooaaammb.... ngantuk sekali aku!" gumaman seperti ini lah yang paling sering aku ucapkan. Tapi mau bagaimana lagi? sudah tuntutan peran! haha. Keluar dari kelas, aku biasakan lagi menuju papan pengumuman, berharap ada informasi yang lebih menggembirakan. Setelah melihat-lihat isi mading yang biasanya sama saja dengan isi mading saat datang tadi, aku langsung ke halaman parkir menghampiri motorku yang teronggok diantara ratusan motor lainnya. Ku hidupkan motorku, lalu langsung melesat ke rumah, berharap segera memeluk bantal kesayanganku, lalu bermimpi indah.

Diperjalanan pulang dari kampus, ku nikmati sepinya jalanan yang ku lalui setiap malam, ku rasakan kesendirianku dalam keheningan, terkadang ditemani melodi para jangkrik atau kodok yang bernyanyi anggun di sepanjang jalan. Angin yang sesekali meniup kencang ke arahku, buatku bergetar. Bbbrrrr..... dingin!

Sampai juga aku di rumah. Wah, sudah hampir jam 11 malam (tapi sering kali lewat jam 11 malam saat sampai di rumah). Aktivitas yang ku lakukan setelah itu adalah ganti baju, cuci muka, cuci tangan dan kaki, ke dapur, ambil piring, makan. Setelah makan, lalu kuhidupkan komputer di kamarku, mengerjakan tugas kuliah, atau menulis artikel lalu ku masukkan ke kompasiana atau cuma di save saja dalam folder aneka tulisan, atau mengetik proposal dan surat untuk kepentingan organisasiku, atau sekedar berselancar di dunia maya (buka facebook, twitter, yahoo, google, dan lain-lain).

Pukul 01an dini hari. "Hoaaaammbb.... ngantuk!" itu lagi yang terucap. Ku shut down-kan komputerku, lalu ku peluk bantal kesayanganku, tidur.

Alarm-ku berbunyi tepat pukul 04.35 WIB. Sengaja ku lewatkan 5 menit agar punya waktu tambahan tidur, setidaknya 5 menit. hehe... Kemudian ku lakukan lagi lah aktivitas yang sama, seperti yang terurai di atas. Begitu terus berulang-ulang dari hari Senin hingga Jum'at. Hanya hari Sabtu dan Minggu saja yang sedikit berdinamis ria.

Hari Sabtu dan Minggu, biasanya ku habiskan untuk kepentingan organisasiku. Seperti menghadiri undangan, rapat, silaturahim, pengajian, dan lain sebagainya. Tergantung jadwal yang telah dibuat sebelumnya. Sangat jarang sekali aku menjadwalkan acara jalan-jalan atau setidaknya bersantai di rumah tanpa dibarengi dengan kesibukan kerja, kuliah dan organisasi. Sangat jarang sekali.

Sehingga, aku menjadi anak muda yang jarang berada di rumah. Seakan-akan, rumah hanya menjadi tempat untuk makan, mandi dan tidur. Untung saja keluargaku tidak banyak berkomentar mengenai aktivitasku itu. Semua maklum, malah mendukung.

Tapi terkadang, menyadari aktivitasku yang sebenarnya itu-itu saja, membuatku jenuh. Maka tatkala kejenuhan menggodaku, aku jadi malas melakukan apapun. Aku jadi mudah emosi. Jadi labil. Aku menjadi seseorang yang sebenarnya bukan Aku. Ketika ada orang berkata kasar padaku, aku langsung down. Langsung merasa bahwa aku lah makhluk ciptaan yang paling malang. Rasa syukur yang selama ini aku patrikan dalam diriku, langsung buyar seketika. Aku menjadi sosok yang merendahkan diri ku sendiri di mata orang lain.

Kejenuhan yang sebenarnya hanya mampir sebentar, mampu meruntuhkan apa yang aku bangun dengan susah payah, mampu menghancurkan apa yang aku bentuk sedemikian rupa.

Tapi adalah hal yang wajar kiranya kita sebagai manusia biasa, dilanda kejenuhan.

Apakah kamu pernah merasakan rasa malas melakukan apapun? Apakah kamu pernah tiba-tiba menjadi sosok yang emosian, labil, dan ber-negative thinking karena merasa lelah menjalani aktivitas selama ini? Apakah kamu pernah merasa apa yang kamu lakukan selama ini adalah perkara yang sia-sia? Jika pernah, maka kejenuhan sedang menggodamu.

Mari cegah kejenuhan itu menggoda kita (lagi)!

Caranya?

Mari patrikan dalam diri kita, kalimat-kalimat kebalikan dari pertanyaan-pertanyaan di atas, menjadi:

Aku pernah merasakan rasa malas melakukan apapun, tapi sudah kubenahi. Aku selalu bersemangat!

Aku pernah tiba-tiba menjadi sosok yang emosian, labil, dan ber-negative thinking, tapi sudah kuperbaiki. Aku stabil! Aku selalu positive thinking! Apapun itu!

Aku pernah merasa sia-sia, tapi sekarang aku merasa lebih berarti.

Jika sudah kita patri, maka kita lah yang 'menggoda' si-jenuh!

Good Bye, Jenuh!

Susanna Bahri

/susannabahri

Public Relations - Aktivis - Muda, Berkarya, Berjaya | @susanbahri
Selengkapnya...

KOMPASIANA ADALAH PLATFORM BLOG, SETIAP ARTIKEL MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.

NILAI :

Daftarkan email Anda untuk mendapatkan cerita dan opini pilihan dari Kompasiana

Featured Article