Aku = Pengemis [?]

26 September 2010 05:02:00 Diperbarui: 26 Juni 2015 05:57:31 Dibaca : 152 Komentar : 1 Nilai : 0 Durasi Baca :

Pukul 01.45 WIB.
"Hooaamb... ngantuk!" Celetukku
"Ah, harus tetap semangat! ini harus segera selesai! harus!!" Aku, mensugestikan diriku sendiri, agar tetap bersemangat.

Ya, malam itu, aku sedang lembur, dalam rangka mengerjakan proposal. Bukan proposal untuk pengajuan tugas akhir atau skripsi seperti di Kampus, tapi proposal untuk mengajukan permohonan bantuan kegiatan. Dan ya, aktivitas malam itu sama dengan aktivitasku pada malam-malam sebelumnya, bahkan mungkin malam-malam selanjutnya.

"Alhamdulillah, sudah selesai, tinggal di jilid saja besok. Semoga semua lancar" harapku dalam hati sambil menutup komputerku itu. Aku beranjak ke tempat tidur, berharap bisa lekas tidur, karena nanti jam 08.00 WIB harus masuk kerja. Tapi aku malah tidak bisa tidur. Aku beradu dengan pikiranku.

Apa iya, semuanya akan lancar? Sejenak, terbersit rasa pesimis di otakku, di hatiku.
Apa iya, aku harus terus-terusan begini? Sejenak, terbersit keraguan di benakku, di nuraniku.
Bukankah aku sama saja dengan pengemis?
Meminta-minta, mengharap uluran tangan orang/lembaga lain?

Hanya saja memang, kalau pengemis yang diperempatan jalan, hanya menengadahkan tangan, lalu bilang "pak/buk, kasihani lah kami, kami belum makan seharian..."
Nah, kalau aku, versi modern-nya...
Mengemis dengan menggunakan "wacana"
Dengan lebih terstruktur dan terorganisir.

Ah, aku malu meneruskan ini!
Aku, kami, kita, bukan pengemis!
Aku, kami, kita sudah bersusah payah menyelesaikan proposal ini, berkerja keras mengumpulkan materi-materi pada proposal ini, mengeluarkan energi yang tidak sedikit, mengorbankan waktu, tapi ternyata akhirnya aku, kami, kita sama saja dengan pengemis??!

Di satu sisi, kita kekurangan dana. Walaupun sudah ditomboki dengan dana pribadi. Baik pribadi organisasi kita sendiri, maupun personal masing-masing.
Kemudian, kita tidak punya usaha sampingan yang mampu memenuhi kebutuhan organisasi kita ini.
Di sisi yang lain, kita harus melaksanakan kegiatan.

"Atau kita tutup saja buku ini?"

Ah, jangan!
Berjuang itu memang tidak mudah. Kita butuh usaha yang keras serta komitmen yang kuat. Tapi apa dengan melemahkan harga diri??

Bukan. Bukan itu. Bukan begitu.
Tapi sementara ini, kita jalani saja cara itu. Sambil kita cari solusi yang paling tepat. Sampai kita temukan cara paling jitu untuk menghentikan ini semua.
Kita bukan mengemis, susan!
Kita sedang berjuang!
Tidak ada yang ingin terus-terusan begini kok, san!
Makanya, kamu belajar yang tekun. Kerja yang rajin. Organisasi yang benar. Perbanyak jaringanmu. Manfaatkan semua yang kamu miliki!
Semua demi amar ma'ruf nahi munkar.
Kita harus tetap berlomba dalam kebaikan, ingat itu!
Lagi pula, hasil "mengemis" kita itu, bukan untuk kepentingan pribadi. Tapi untuk kepentingan bersama, terlebih-lebih ummat!

Kita bukan makhluk bayaran!
Yang berjuang demi upah...
Kita jalani ini semua dengan hati, bukan dengan uang!

Uang memang mampu membeli segalanya... Tapi tidak dengan cinta!
Kamu cinta dengan-Nya, dengan Agama, dengan Rasul-Nya, juga dengan gerakannya.
Karena kamu cinta, maka kamu rela mengemis!
Ingat, mengemis versi kita, berbeda dengan mengemis versi "oknum" di perempatan jalan!

Tapi, jangan terlena...
Kita harus tetap mencari jalan keluar. Kita harus berusaha lebih keras lagi. Kita harus menjadi pribadi yang kreatif. Yang berjiwa wirausaha!

Harus!
Harus!
Harus!

Akhirnya, aku bisa mengalahkan rasa pesimis dan raguku.
Kini, aku benar-benar bisa tidur dengan tenang, walaupun hanya tersisa waktu kurang dari 2 jam untuk bertemu dengan angka 5 pada jam dinding di kamarku itu.

---------------

Batam, 25 September 2010

Susanna Bahri

/susannabahri

Public Relations - Aktivis - Muda, Berkarya, Berjaya | @susanbahri
Selengkapnya...

KOMPASIANA ADALAH PLATFORM BLOG, SETIAP ARTIKEL MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.

NILAI :

Daftarkan email Anda untuk mendapatkan cerita dan opini pilihan dari Kompasiana