Ahli Gizi Indonesia adalah Kita

20 Juni 2017 07:32:48 Diperbarui: 20 Juni 2017 07:37:27 Dibaca : 2668 Komentar : 0 Nilai : 0 Durasi Baca :
Ahli Gizi Indonesia adalah Kita
dok.pribadi

“Let your food be your medicine and your medicine be your food” Hippocrates.

Seberapa pentingkah peran Profesi Ahli Gizi dalam dunia kesehatan?. Bila anda masih memberikan pandangan sebelah mata terhadap Profesi ini, maka anda termasuk orang  yang belum di berikan rasa di Profesi ini.

Jika Profesi ini dianggap tidak penting?. Lalu kenapa saat ini, ada salah satu Profesi yang kita tahu sebagai salah satu Profesi urutan teratas.  ingin dan sudah menjadikan “Gizi” ini sebagai salah satu profesi untuk salah satu bidang spesialisasi mereka. hal ini menjadi sebuah fakta baru bahwa Profesi Ahli Gizi sedikit demi sedikit telah mendapatkan ruang.

Fakta ini telah terjadi, yang bisa kita lakukan sekarang adalah menunjukan kembali integritas profesi Ahli Gizi. Bisa jadi ini merupakan sebuah teguran karena selama ini kita terlena di zona nyaman. Padahal ilmu pengetahuan dan sistem terus berubah dengan dinamis.

Bila kita mengingat kembali, Profesi Ahli Gizi dilindungi oleh payung hukum yang berlaku, yaitu UU no 36 terkait tenaga kesehatan dan Permenkes no 374 tentang Standar Profesi Tenaga Gizi. Ada banyak cara yang bisa kita lakukan untuk mempertahankan profesi kita ini, meskipun kita bukan orang yang memiliki kedudukan penting di Profesi Ahli Gizi, tapi yakinkan diri bahwa kita seperti bata-bata merah kecil yang menopang sebuah rumah agar tegak berdiri. Meskipunyang akan di puji adalah rumahnya. tapi percayalah tanpa anda , rumah ini tidak akan bisa berdiri kokoh.

Dan rumah ini adalah PERSAGI ( Persatuan Ahli Gizi Indonesia) sebuah rumah yang menaungi semua Ahli Gizi indonesia.  Mari bersama-sama kita memperkuat organisasi kita ini, karena mereka adalah ujung tombak dalam memperjuangkan Profesi ini. jangan pernah berpikir untuk membuat tandingan bagi organisasi PERSAGI, karena itu  hanya akan membuat kita semua terpecah dan organisasi ini akan goyah. Dalam hal ini, mari merapatkan barisan hilangkan semua ego-ego pribadi. Mari menyatukan tujuan untuk memperjuangkan profesi Ahli gizi kita ini.

Bagi mereka yang berada di ujung tombak ini, jangan khawatir ataupun gentar , berbaliklah sebentar , lihatlah kami semua ada di belakang kalian berbaris rapi. Ajaklah kami, rangkullah kami , dan berikanlah arahan , apa yang harus kami lakukan untuk membantu perjuangan kalian.

MARI BERGERAK,  lakukan apapun yang kita bisa lakukan. Bila anda mahir di bidang gizi klinik, maka lakukan disana, jika anda mahir di bidang SPMI maka bergeraklah disana, jika anda mahir dibidang gizi masyarakat maka teruslah berjuang disana, bila anda mahir menulis maka menulislah,  jika anda mahir dalam IT dan penelitian maka buatlah karya-karya terkait Gizi, dan bila anda dalam dunia pendidikan maka bantulah dengan mencetak generasi penerus tenaga gizi handal dan berintegritas yang memiliki semangat untuk bisa melampaui para pendahulunya.

Dan Untukmu yang mulai jenuh di profesi ini dan pernah berfikir untuk pergi. Bertanyalah pada hati, “jika bukan kita yang berjuang , lalu siapa lagi ?”. Bangunlah wahai pejuang Gizi, siapapun anda , bekerja dimanapun anda,  tunjukan integritas dan eksistensi kita, bahkan Ahli Gizi yang menjadi ibu rumah tangga pun adalah bagian dalam pembangunan Gizi bagi seluruh rakyat Indonesia.

“Profesi Ahli gizi tidak menjanjikanmu kekayaan, ketenaran ataupun kekuasaan. Karena berada di profesi ini adalah masalah hati, orang yang tidak di beri rasa di profesi ini tidak akan pernah tahu sebahagia apa jadi Ahli Gizi”.  Suratman Abdillah Fajar (SAF)

Suratman Abdillah Fajar

/suratman13

saya hanyalah pemuda sederhana yang berusaha menjadi luar biasa dengan doa, tekad, dan usaha . Ahli Gizi di Unit Gizi RS Muhammadiyah Bandung. InsyaAllah calon ahli Gizi pertama yang menjadi Menteri Kesehatan RI :) Amin
Selengkapnya...

KOMPASIANA ADALAH PLATFORM BLOG, SETIAP ARTIKEL MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.
LABEL kesehatan

NILAI :

Daftarkan email Anda untuk mendapatkan cerita dan opini pilihan dari Kompasiana