Supartono JW
Supartono JW

Perbuatan baik selalu datang dari hati yang bersih dan pikiran yang cerdas.

Selanjutnya

Tutup

Kotak Suara

Djarot-Sandi Pelukan, Masalah Ya?

15 April 2017   18:00 Diperbarui: 15 April 2017   18:24 93 0 0

Janganlah Anda terlalu yakin merasa dekat dengan seseorang, karena seseorang itu belum tentu merasa dekat dengan Anda!

(Supartono JW. 28062016)

Mengapa heran, gaya pelukan Djarot-Sandi dan Anies-Sandi menjadi viral dan cibiran netizen? Apakah benar itu terjadi karena tuntutan peran atau keihklasan?

Setiap kali bercengkerama dengan murid di kelas saat berbagi materi pelajaran, saya selalu memberikan gambaran nilai-nilai apa yang terkandung di dalam materi tersebut sesuai dengan tujuan mengapa materi tersebut harus diajarkan dan nilai pendidikan apa yang harus diserap anak didik. Mengingat apa yang saya sampaikan adalah tentang ilmu dan pendidikan keterampilan berbahasa, maka seusai belajar materi, saya mengharapkan anak didik saya dalam kehidupan sehari-hari dapat menjadi aktor sejati yang memerankan dirinya sendiri. Bukan memerankan kepentingan orang lain atau golongan lain.

Sebetulnya, kita ini aktor sungguhan, atau aktor bohongan? Lalu para artis yang memerankah tokoh orang lain  dalam sinetron, film, atau pentas teaternya, mereka itu aktor betulan atau aktor bohongan? Bagaimana dengan pemimpin bangsa ini, pemimpin di setiap provinsi, kabupaten, kota, kecamatan, kelurahan, rukun warga, rukun tetangga, hingga kepala rumah tangga? Tentu semua pemimpin itu, termasuk diri kita adalah aktor asli, aktor sesungguhnya, aktor sejati karena memerankan sesuai fungsi dan tugas kita masing-masing, tidak bersandiwara, karena job deskriptionnya jelas.

Namun, faktanya, dalam realitas kehidupan, peran sandiwara yang dimainkan aktor-aktor bayaran yang berlabel artis, kini banyak diadopsi oleh pemimpin-pemimpin kita. Para pemimpin ini, justru lebih piawai memerankan tokoh sejati dirinya terselubung  dengan peran titipan sesuai kepentingan partai dan golongannya.

Saya selalu bertanya pada anak didik di kelas. Apakah kalian percaya pada teman atau sahabat yang selama ini benar-benar kalian percaya? Apakah mereka benar seperti yang kalian pikirkan, benar-benar dapat dipercaya sebagai teman atau sahabat? Bukankah banyak kejadian yang justru mengakibatkan teman makan teman atau sahabat makan sahabat?

Janganlah Anda terlalu yakin merasa dekat dengan seseorang, karena seseorang itu belum tentu merasa dekat dengan Anda!

Banyak kehidupan seseorang hancur atau dihancurkan justru oleh orang yang kita anggap paling dekat, paling mengerti kita, paling memahami persoalan kita, dan kita anggap dapat menjadi dewa penyelamat setiap kesulitan kita dan menjadi solusi ampuh masa depan kita. Tapi faktnya, justru orang-orang terdekatlah, orang-orang yang justru seharusnya menlindungi kita, mengayomi kita, justru menjadi pemicu malapetaka hidup kita, kehancuran kita karena kita percaya pada mereka. Sebaliknya kita juga dapat menjadi sutradara agar teman/sahabat serta pengayom yang kita percaya, memercayai bahwa apa yang terjadi pada kita seolah benar dan apa adanya, padahal itu hanya skenario kita, sandiwara kita. Jadi kita dapat bermain sandiwara di atas sandiwara yang telah teman/sahabat kita lakukan pada kita.

Saya selalu mengatakan pada anak didik saya, sadarkah bahwa hanya berjabat tangan saja, sudah ada unsur politis, taktik, dan intrik di dalamnya. Kepada mereka, saya praktikan dua model berjabat tangan. Seluruh murid saya minta menyaksikan model jabat tangan pertama dan kedua. Seorang murid saya jadikan patner jabat tangan saya.

Model jabat tangan pertama, saya contohkan kasusnya adalah, murid yang saya jadikan contoh, telah mendapatkan prestasi mengagumkan untuk sekolah. Maka saya lalu memberikan ucapan selamat atas prestasi yang diraih murid tersebut dengan antusias. Dengan tatapan mata yang sangat bersahabat dan bangga, dan jabat tangan yang cukup erat bahkan sambil menggoyangkan tangan sebagai bukti bahwa saya sangat bangga dan senang atas prestiasi dia.

Model yang kedua, dengan kasus yang sama, saya jabat tangan murid tersebut dengan sekedarnya, tanpa erat dan tanpa tatapan mata yang mendukung, dan jabatan tanganpun cukup cepat.

Lalu saya tanyakan kepada murid lain. Model berjabat tangan mana yang mendukung dan ikhlas? Secara spontan semua murid menjawab, model jabat tangan pertama.

Pertanyaan selanjutnya, saya sampaikan kepada murid, sejujurnya saya benci sekali sama murid ini, saya juga tidak senang dia juara. Apa yang saya lakukan dengan model jabat tangan pertama tadi, itu hanya sandiwara saya saja saya tidak iklhas, bahkan tidak suka. Tapi anak yang berprestasi kan jadi bangga karena saya mendukungnya, padahal itu hanya taktik dan intrik saya. Sementara model jabat tangan kedua, baik yang dijabat maupun yang melihat, tentu langsung dapat menilai apa yang terjadi dengan model jabat tangan tersebut.

Bagaiman dengan kalian yang selama ini percaya pada teman dan sahabat. Bahkan sepenuhnya memercayakan rahasia kalian? Yakinkah, bahwa teman atau sahabat kalian suatu saat tidak akan menusuk kalian? Apakah selama ini kalian yakin, teman atau sahabat kalian dapat dipercaya, padahal salaman/jabat tangan  model satu yang saya contohkan tadi hanya sandiwara agar orang lain yang melihat percaya dan murid yang saya jabat juga percaya saya mendukung dia?

Pelukan Djarot-Sandi

Model pelajaran yang hanya jabat tangan model satu dan model dua di kelas, nyatanya cukup menyadarkan anak didik saya, bahwa dunia ini memang panggung sandiwara. Tinggal bagaimana kita aktor sejati dapat memerankan tokoh sesuai karakter atau karakter pesanan sesuai tujuan lain. Belum model keaktoran lain yang lebih rumit.

Maka pantaslah bila hanya sekedar pelukan Djarot-Sandi saja menjadi viral dan cibiran netizen. Terlebih, perseteruan para tim sukses paslon gubernur DKI ini sudah terjadi sejak awal dimulainya Pilkada hingga meretas isu intoleransi dan disintegrasi bangsa.

Ada netizen yang mendukung Sandi, mengungkap bahwa pelukan antara Djarot dan Sandi, menganggap pelukan mereka berbeda, canggung kontaknya. Sebaliknya pendukung Djarot mengungkap bahwa Sandilah yang canggung memeluk Djarot. Malah ada netizen yang mengajari bahwa pelukan itu pipi ketemu pipi, bukan kepalanya yang miring. Sementara netizen yang berpikir positif menimpali, segala pelukan saja dikomen, apa tidak bisa berpikir positif thinking?

Pelukan Anies-Sandi

Dalam debat Pilkada pamungkas yang berlangsung di Hotel Bidakara, Jakarta Selatan, pasangan calon gubernur dan wakil gubernur Jakarta Anies-Sandi juga membuat pemandangan lain. Sandi memeluk erat Anies di atas panggung usai acara debat. Foto pelukan merekapun  menjadi viral di media sosial.

Yang menarik, menyaksikan cara Sandi memeluk Anies, yang terkesan mereka berdua begitu menikmati,  paslon Ahok-Djarot  yang berada di dekat mereka terlihat senyum-senyum menonton aksi Anies dan Sandia. Menanggapi aksinya disorot publik, Anies menjelaskan itu bukan aksi yang pertama. Setiap kali selesai mengikuti acara debat, mereka berpelukan. Bahkan, di berbagai acara pun sudah biasa.

"Kami memang sering pelukan kan? Ya itu sudah menjadi kebiasaan kami. Kami juga ingin menunjukkan bahwa kami ini memiliki kedekatan secara emosional," kata Anies di Utan Kayu, Matraman, Jakarta Timur, Kamis (13/4/2017).

Masih penjelasan Anies, aksi pelukan sekaligus untuk memberikan gambaran bahwa sesama anak bangsa harus saling merangkul. Membangun kedekatan dari sisi emosional. Dengan begitu rasa persaudaraan antar sesama akan terbangun. Kita semua bersaudara. Kita tidak mau terpecah-pecah satu sama lain. Kita ini satu rumpun. Pesan persaudaraan itulah yang selalu kita sampaikan ke publik.

Semoga aksi pelukan Djarot-Sandi, apapun cibiran netizen, benar menandakan isi hati mereka bahwa baik Djarot dan Sandi adalah gambaran awal persatuan di antara mereka terlepas siapa yang nanti terpilih menjadi wakil gubernur. Boleh saja ada publik yang menyangsikan bahwa pelakuan Djarot atau Sandi yang canggung atau bersandiwara pura-pura saling mendukung padahal di hati mereka saling berseteru dan saling benci. Atau sebaliknya, pelukan itu hanya soal bahasa tubuh, namun hati mereka tetap menyatu. Apakah publik juga wajib langsung percaya bahwa pelukan Anies-Sandi yang terlihat mesra, fakta isi hati Anies dan Sandi seperti yang digambarkan oleh Anies?

Dunia ini panggung sandiwara. Yang tahu betul isi hati sesungguhnya menyoal pelukan mereka yang menjadi viral dan jadi perbincangan netizen, hanya mereka yang tahu. Waktu akan membuktikan bahwa pesan yang mereka sampaikan benar-benar bukan taktik dan intrik.

Jadi, ingatlah model salaman/jabat tangan model pertama dan kedua, seperti yang saya contohkan dan maknai kepada murid saya, karena justru teman/sahabatlah yang sangat mudah memangsa kita. Merekalah pemengang kunci kelamahan dan kekuatan kita. Waspadalah.

Meski tertatih, banggalah atas jerih langkahmu, bukan karena orang lain.

(Supartono JW. 12072016)